Apa Bedanya Kuliah di AS dengan di Indonesia? Ini Cerita Donna Anwar dari Oregon State University

Ilustrasi perbedaan kuliah di AS dengan di Indonesia (Chat GPT)

Brikolase.com – Perbedaan atmosfer perkuliahan di berbagai negara sering menjadi bahan diskusi.

Salah satunya mengenai mengapa mahasiswa di Amerika Serikat terlihat lebih percaya diri, aktif berdiskusi, dan berani mengemukakan pendapat.

Donna Anwar, seorang mahasiswi asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Oregon State University menceritakan pengalamannya.

Melalui akun TikTok @donnaanwar, Donna mengungkap kuncinya terletak pada perbedaan sistem pendidikan.

Di Amerika, mahasiswa tidak harus langsung menentukan jurusan saat pertama kali masuk kuliah.

“Kalau di US nih guys kalian bisa masuk kuliah tanpa tahu jurusannya terlebih dulu.

Jadi kalian bisa ambil kelas apa aja, terus nanti di tengah-tengah jalan baru decide mau major (jurusan) apa.

Kalau di Indonesia baru lulus SMA biasanya kita harus nentuin, kita tuh mau kuliah (jurusan) apa kan,” kata Donna.

Di AS, mereka diperbolehkan mengambil berbagai mata kuliah dari beragam bidang terlebih dahulu.

Setelah memahami minat dan potensi diri, barulah mereka menetapkan jurusan yang ingin ditekuni.

Pendekatan ini memberi ruang eksplorasi, sehingga mahasiswa tidak merasa terjebak pada pilihan yang belum benar-benar dipahami.

Berbeda dengan di Indonesia, sebagian besar mahasiswa harus menentukan jurusan sejak lulus SMA.

Banyak yang belum sepenuhnya mengenal kemampuan dan arah kariernya, sehingga proses belajar terkadang terasa kaku dan penuh tekanan.

Pola Belajar: Lebih Banyak Diskusi daripada Ceramah

Donna juga menjelaskan bahwa metode pengajaran di kelas menjadi faktor penting.

Di kampus-kampus Amerika, aktivitas diskusi sangat dominan. Sekitar 80 persen proses belajar dilakukan melalui percakapan, debat sehat, presentasi, dan kolaborasi kelompok.

Dosen lebih berperan sebagai fasilitator yang memandu alur pemikiran mahasiswa.

Sedangkan ceramah langsung dari dosen hanya sekitar 20 persen.

ALSO READ  Pandangan Kolonial dalam Dekolonisasi Benda Peninggalan Indonesia

“Jadi di sini tuh emang dituntut untuk think, speak and lead,” ujar Donna.

Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat, bertanya, dan memimpin jalannya diskusi.

Lingkungan ini membangun keberanian berbicara dan kemampuan analitis yang kuat.

Hubungan Mahasiswa dan Dosen Lebih Egaliter

Di Amerika, hubungan antara mahasiswa dan dosen cenderung lebih santai namun tetap profesional.

”Kalian bahkan bisa diskusi bareng sama dosen atau research bareng sama dosen.

Kalau di Indonesia, hubungannya tuh mungkin formal banget dan kadang-kadang kita tuh takut untuk ngobrol sama dosen,” ungkap Donna.

Di AS, mahasiswa bebas berdiskusi, menanyakan pendapat, bahkan terlibat dalam proyek penelitian bersama dosen.

Situasi ini menciptakan kenyamanan yang mendorong mahasiswa untuk aktif.

Sementara itu, di Indonesia, hubungan antara dosen dan mahasiswa seringkali lebih formal.

Tidak sedikit mahasiswa merasa sungkan atau takut ketika ingin menyampaikan pendapat atau bertanya di kelas.

Aktivitas Kampus yang Mendukung Masa Depan Karier

Kehidupan kampus di Amerika juga sangat dinamis. Banyak klub, komunitas, kegiatan sosial yang membantu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menghadapi dunia luar.

“Kampus di US tuh aktif banget, banyak banget events, career center, clubs yang bikin mahasiswanya  tuh bukan cuma aktif dalam organisasi tapi juga mempersiapkan kita daam dunia kerja,” ujar Donna.

Mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga membangun jejaring, kepemimpinan, dan pengalaman profesional.

Belajar di Indonesia maupun Amerika sama-sama baik. Perbedaannya terletak pada pendekatan.

Sistem Amerika cenderung mendorong mahasiswa untuk aktif berbicara, memimpin, dan mengeksplorasi diri.

Sementara di Indonesia, prosesnya lebih terstruktur sejak awal.

Yang penting di mana pun kalian menempuh pendidikan, jangan hanya duduk diam.

ALSO READ  Keluarga Korban Indonesia Menuntut Keadilan

Terlibatlah, bertanya, berdiskusi, dan benar-benar mencari ilmu.***