Brikolase.com – Dalam dunia sosiologi dan antropologi, konsep hipergami dan hipogami menggambarkan kecenderungan manusia dalam memilih pasangan berdasarkan status sosial dan ekonomi.
Meskipun terdengar ilmiah, kedua istilah ini mencerminkan dinamika yang sangat manusiawi dan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Hipergami?
Hipergami adalah praktik di mana seseorang, terutama perempuan, menikah dengan pasangan yang memiliki status sosial, ekonomi, atau pendidikan yang lebih tinggi.
Istilah ini populer digunakan untuk menggambarkan fenomena “menikah naik kelas”.
Contoh Hipergami:
1. Celine Dion dan René Angélil
Celine menikah dengan manajer sekaligus produsernya, René, yang 26 tahun lebih tua darinya dan berperan besar dalam membesarkan kariernya.
Ini adalah contoh hipergami, di mana hubungan dimulai dengan ketimpangan status yang kemudian bertransformasi.
2. Hipergami Kasta di India
Dalam budaya Hindu, banyak keluarga berupaya menikahkan anak perempuan mereka ke kasta yang lebih tinggi.
Hal ini dilakukan untuk menjaga atau bahkan meningkatkan status sosial keluarga.
Motif Hipergami bisa jadi karena tekanan budaya dan keluarga untuk menikah dengan orang “yang lebih baik”.
Ia juga punya kelebihan dalam akses ke gaya hidup dan sumber daya yang lebih tinggi, serta kesempatan ekonomi yang lebih baik.
Namun, hipergami tidak selalu membawa kebahagiaan.
Ketimpangan status seringkali melahirkan ketidaksetaraan emosional, seperti tudingan sebagai “penumpang gratis” atau “tidak cukup berharga”.
Apa Itu Hipogami?
Hipogami adalah kebalikan dari hipergami—yaitu ketika seseorang, terutama perempuan, menikah dengan pasangan yang memiliki status sosial atau ekonomi lebih rendah.
Dalam banyak budaya, hipogami sering kali mengandung stigma.
Contoh Hipogami
1. Suku Natchez (Amerika)
Di kalangan suku Natchez, perempuan dari kasta tertinggi (Sun) diwajibkan menikahi pria dari kasta terendah (Stinkard).
Meski anak-anak dari hubungan ini naik kasta, suami dalam kasus ini dianggap bawahan, bahkan harus mati apabila sang istri meninggal.
Ini adalah bentuk hipogami yang sangat ekstrem dan bersifat institusional.
2. Pratiloma di India
Dalam sistem kasta India, ketika perempuan dari kasta tinggi menikah dengan pria dari kasta lebih rendah, mereka dianggap “turun kasta” dan kehilangan kehormatan sosial.
Praktik ini disebut pratiloma dan secara historis sangat ditolak oleh masyarakat.
Hipogami Modern: Kebangkitan Hipogami Pendidikan
Dalam beberapa dekade terakhir, hipogami menjadi lebih umum di negara-negara Barat seiring meningkatnya pendidikan dan kemandirian ekonomi perempuan.
Contohnya, perempuan berpendidikan tinggi menikah dengan pria berpendidikan lebih rendah.
Ini dikenal sebagai hipogami pendidikan dan kini meningkat di Barat dan juga di India, terutama pada perempuan dari kelompok kasta atau status ekonomi yang lebih tinggi.
Dikutip dari laman Anthroholic, menurut peneliti K. Sarkar (2022), perempuan dari kasta atau status sosial tinggi yang menunda pernikahan dan memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung menikah dengan pria dari kasta lebih rendah asalkan memiliki pekerjaan yang baik.
Hipogami meskipun bisa jadi pasangan menikah karena cinta atau kecocokan pribadi tetapi juga memunculkan stigma sosial seperti ketimpangan finansial.
Dr. Sheema Patel dalam tulisannya What is Hypergamy and Hypogamy? The Psychology of Marriage menyebutkan istilah equigami yang bisa mewakili harapan pernikahan yang setara.
Dalam dunia ideal, orang menikah dengan pasangan yang benar-benar setara dalam pendidikan, ekonomi, dan status sosial.
Istilah equigami, meskipun belum resmi di kamus, bisa mewakili harapan ini.
Namun kenyataannya, pasangan seringkali berasal dari latar belakang sosial yang berbeda.
Perbedaan tersebut, jika tidak dikelola dengan dewasa, dapat menjadi sumber konflik dalam pernikahan.
Sebagaimana dikatakan oleh Ann Landers:
“Semua pasangan menikah harus belajar seni bertarung, sebagaimana mereka belajar seni bercinta. Pertarungan yang sehat itu objektif dan jujur, tidak kejam. Pertarungan yang sehat bersifat konstruktif dan membawa prinsip kemitraan yang setara dalam pernikahan.”***
Bacaan terkait
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

