Sains di Balik Cerita Pengantar Tidur, Mengapa Dongeng Malam Hari Penting untuk Perkembangan Anak?

Ilustrasi cerita pengantar tidur (Chat GPT)

Brikolase.com – Membacakan cerita sebelum tidur (bedtime stories) bukan sekadar rutinitas manis untuk menenangkan anak.

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sederhana ini memiliki efek mendalam pada perkembangan otak dan hubungan emosional antara anak dan orang tua.

Dikutip dari The Times, Dalam salah satu penelitian yang dilakukan di Institut Ilmu Perkembangan Anak dan Remaja, University of East London, seorang ibu dan bayinya dipasangi perangkat EEG yang merekam aktivitas otak saat mereka membaca buku bersama.

Hasilnya gelombang otak keduanya mulai bergerak selaras.

Profesor Sam Wass, seorang ahli saraf yang memimpin penelitian tersebut, menyatakan bahwa saat cerita dibacakan, ritme pernapasan, detak jantung, hingga pola gelombang otak orang tua dan anak mulai menyatu.

Proses ini menciptakan rasa aman, kenyamanan emosional, dan kedekatan yang kuat.

Cerita pengantar tidur biasanya dibaca perlahan, dengan intonasi yang lembut dan pengulangan pola bunyi.

Ritme ini membantu otak bayi membangun struktur awal kemampuan berbahasa.

Otak bayi secara alami bekerja tidak teratur. Dengan mendengarkan cerita yang terstruktur, ada awal, tengah, dan akhir, anak belajar mengenali pola, memprediksi alur, dan memahami sebab-akibat.

Semua ini membantu perkembangan kognitif dan kesiapan belajar.

Wass menjelaskan bahwa ketika orang tua membaca, suara mereka secara perlahan “menuntun” ritme otak anak ke pola yang lebih stabil.

Hal ini tidak dapat digantikan oleh layar digital, karena interaksi yang terjadi saat membaca bersifat responsif, mengikuti kondisi emosional anak dari waktu ke waktu.

Konten audio-visual memang dapat menghibur, tetapi sifatnya pasif dan tidak responsif.

Layar tidak menyesuaikan tempo berdasarkan reaksi anak.

Interaksi emosional yang hadir saat membaca, tersenyum, berhenti sejenak, menatap mata, memberi pelukan, tidak dapat diciptakan oleh video.

Cerita pengantar tidur adalah momen hubungan manusia hangat, ritmis, dan penuh rasa aman.

ALSO READ  Jarak yang Lebih Berjarak dari Jarak Rabu hingga Sabtu

Bercerita Dongeng Malam Tingkatkan Kemampuan Bahasa Anak

Di balik suasana bercerita dongeng malam, terdapat proses kognitif yang penting bagi perkembangan bahasa, kecerdasan, dan hubungan sosial anak.

Penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa membaca cerita bersama, terutama pada masa awal kehidupan, berkaitan langsung dengan perkembangan kemampuan bahasa anak.

Dikutip dari laman The British Psychology Society, istilah shared book reading atau membaca bersama telah lama disebut sebagai “mesin pembentuk kosakata” (Ninio, 1983).

Anak yang memiliki kosakata lebih kaya ketika masuk sekolah terbukti lebih mudah memahami bacaan.

Studi Wells (1985) menunjukkan bahwa anak yang dibacakan buku secara rutin pada usia 1–3 tahun memiliki skor pemahaman bacaan lebih tinggi saat berusia tujuh tahun.

Penelitian besar lainnya (Raikes, dkk., 2006) menemukan bahwa semakin sering ibu membaca kepada anak, semakin besar kosakata anak pada usia 14–24 bulan.

Dampaknya bertahan hingga anak berusia 3 tahun, termasuk pada keluarga berpenghasilan rendah.

Dengan kata lain, efeknya bukan hanya sesaat, tetapi jangka panjang.

Banyak orang tua mengira membaca baru penting ketika anak mulai bisa berbicara.

Namun penelitian menunjukkan bahwa membaca dapat dimulai sejak usia 8 bulan, bahkan ketika anak belum memahami kata-kata yang diucapkan (Karrass, VanDeventer, Braungart-Rieker, 2005).

Pada tahap ini, yang dikuatkan adalah ritme bahasa, pola suara, dan perhatian bersama.

Membacakan cerita sejak dini membantu orang tua menjadi lebih peka terhadap perkembangan bahasa anak dan menyesuaikan cara berinteraksi.

Cara Membaca Lebih Berpengaruh daripada Banyaknya Buku

Tidak semua cara membaca memberi hasil yang sama. Penelitian Whitehurst dkk. (1988) memperkenalkan konsep dialogic reading, yaitu metode membaca interaktif di mana anak didorong menjadi peserta aktif, bukan hanya pendengar.

ALSO READ  Masakan dan Bahasa: Melawan Stereotipikal Kultural

Ciri dialogic reading:

1. Orang tua mengajukan pertanyaan terbuka

2. Anak diberi kesempatan menjawab

3. Orang tua memberikan tanggapan yang memperkaya bahasa

4. Interaksi disesuaikan dengan kemampuan anak

Hasilnya anak yang dibacakan buku dengan cara ini memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik daripada anak yang hanya dibacakan tanpa interaksi.

Saat anak mulai bisa duduk, ia memasuki fase komunikasi triadik, memperhatikan objek sambil melihat orang tua untuk berbagi fokus (Adamson & Bakeman, 1984).

Di sinilah buku berperan sangat strategis.
Ketika orang tua menunjuk gambar sambil memberi label, misalnya “Ini kucing”, anak lebih mampu mengasosiasikan kata dengan objek.

Aktivitas sederhana seperti menunjukkan gambar, menirukan suara binatang, mengajak anak mengangkat flap atau membalik halaman
dapat meningkatkan fokus dan membantu pembelajaran kosakata baru.

Penelitian menunjukkan ibu lebih sering membaca dan cenderung lebih interaktif, sementara sebagian ayah lebih fokus menyelesaikan cerita daripada menjalin dialog. Padahal, keterlibatan kedua orang tua tetap penting.

Mendorong ayah untuk aktif bertanya, merespons, dan memberi ruang anak memimpin jalannya cerita dapat memperkaya pengalaman membaca.

Selain intensitas membaca, faktor pendukung lain berperan besar seperti:

1. Jumlah buku yang tersedia di rumah

2. Kebiasaan berkunjung ke perpustakaan

3. Anak diberi kebebasan memilih buku

4. Membaca dianggap sebagai momen yang menyenangkan, bukan kewajiban

5. Ketika anak merasa membaca adalah aktivitas hangat dan menyenangkan, mereka akan secara mandiri meminta dibacakan buku.

Membaca cerita juga membantu anak memahami emosi dan sudut pandang orang lain.

Ketika orang tua menyinggung perasaan tokoh, misalnya “Dia sedih karena temannya pergi,” anak belajar mengenali dan mengolah emosi.

Penelitian Adrian dkk. (2005) menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata tentang keadaan mental seperti pikir, marah, atau takut berkontribusi pada kemampuan anak memahami pikiran orang lain (theory of mind).

ALSO READ  Ratih Kumala: Gadis Kretek Lebih Bagus Filmnya, Novel bak Disobek-sobek Lalu Ditata Ulang

Jadi cerita pengantar tidur bukan sekadar aktivitas penutup hari. Ia adalah fondasi perkembangan bahasa, kognisi, empati, dan hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Dengan membaca bersama secara konsisten, anak bukan hanya belajar kata-kata, tetapi juga belajar memahami dunia dan dirinya sendiri.

Referensi

Adamson, L.B. & Bakeman, R. (1984). Mothers’ communicative acts: Changes during infancy. Infant Behavior and Development, 7, 467–478.

Adrian, J.E., dkk. (2005). Parent–child picture-book reading, mothers’ mental state language and children’s theory of mind. Journal of Child Language, 32, 673–686.

Karrass, J., VanDeventer, M.C. & Braungart-Rieker, J.M. (2003). Predictors of shared parent–child book reading in infancy. Journal of Family Psychology, 17, 134–146.

Ninio, A. (1983). Joint book reading as a multiple vocabulary acquisition device. Developmental Psychology, 19, 445–451.

Raikes, H. dkk. (2006). Mother–child bookreading in low-income families. Child Development, 77, 924–953.

Wells, G. (1985). Preschool literacy-related activities and success in school. In D.R. Olson, N. Torrance & A. Hildyard (Eds.) Literacy, language, and learning: The nature and consequences of reading and writing (pp.229–255). Cambridge: Cambridge University Press.

Whitehurst, G.J., dkk. (1988). Accelerating language development through picture book reading. Developmental Psychology. 24, 552–559.