Brikolase.com – Stuart Hall, seorang tokoh penting dalam kajian budaya, lahir di Kingston, Jamaika, pada tahun 1932 dan meninggal pada usia 82 tahun.
Ketika Richard Hoggart, seorang penulis dan akademisi, mendirikan Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham pada tahun 1964, Hall diundang untuk bergabung sebagai rekan peneliti pertama.
Empat tahun kemudian, Hall diangkat sebagai direktur pelaksana, dan pada tahun 1972, menjadi direktur tetap. Pada saat itu, kajian budaya masih merupakan bidang minoritas, namun kini telah berkembang pesat dan menghasilkan banyak karya signifikan, meskipun dalam bentuk institusionalnya, kadang melibatkan posisi intelektual yang mungkin tidak disetujui Hall.
Fondasi kajian budaya terletak pada penekanan untuk memandang serius bentuk-bentuk budaya populer yang dianggap rendah dan melacak benang merah antara budaya, kekuasaan, dan politik.
Budaya Ruang Ketiga dari Homi K. Bhabha
Perspektif interdisipliner dalam kajian budaya mencakup teori sastra, linguistik, dan antropologi budaya, untuk menganalisis subjek yang beragam seperti subkultur remaja, media populer, serta identitas gender dan etnis.
Sebagai orator ulung dan guru yang berpengaruh besar, Hall tidak pernah terjebak dalam perdebatan akademis semata. Imajinasi politiknya menggabungkan vitalitas dan keleluasaan dalam ranah ide-ide. Ia tangguh dan siap melawan posisi yang dianggapnya berbahaya secara politik.
Namun, ia selalu sopan, dermawan kepada mahasiswa, aktivis, seniman, dan pengunjung dari seluruh dunia.
Hall menerima penghargaan dari universitas di seluruh dunia meskipun ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang cendekiawan. Bagi Hall, universitas adalah tempat untuk mengajar dan berkolaborasi dalam debat publik.
Hall lahir dalam keluarga Jamaika yang bercita-cita tinggi. Ayahnya, Herman, adalah orang non-kulit putih pertama yang memegang posisi senior di United Fruit di Jamaika.
Ibunya, Jessie, memiliki keturunan kulit putih dan memegang etos Inggris. Hall mengenyan pendidikan di Jamaica College di Kingston sambil terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dari penjajahan.
Ia menemukan batasan rasial dan kolonial di negaranya yang tidak dapat diterima, dan kesempatan untuk melarikan diri muncul ketika ia mendapat beasiswa Rhodes untuk belajar di Universitas Oxford.
Ia tiba di Inggris pada tahun 1951 sebagai bagian dari migrasi Karibia yang dimulai secara simbolis dengan kedatangan Empire Windrush tiga tahun sebelumnya.
Meskipun Inggris adalah budaya yang dikenalnya dari dalam, ia merasa tidak sepenuhnya menjadi bagian dari budaya tersebut. Ia selalu membayangkan dirinya sebagai “orang asing yang akrab”.
Di Merton College, saat mempelajari bahasa Inggris, ia merasakan ketidaknyamanan ini, di mana semangatnya untuk politik baru, dan dunia yang hidup dengan nilai keberagaman manusia tidak dipahami oleh rekan-rekan sekitarnya.
Semakin lama ia berada di Inggris, identifikasinya dengan kulit hitam semakin mendalam. Ambivalen terhadap tempat asal dan tempat kedatangannya, ia mencari cara untuk bertahan dari kegelapan abad pertengahan Oxford dengan bergabung dengan minoritas migran yang terasing di kota tersebut.
Pada tahun 1957, isu-isu ini menjadi katalis untuk peluncuran majalah Universities and Left Review, di mana Hall aktif terlibat, dan kemudian bergabung dengan New Reasoner untuk membentuk jurnal New Left Review, di mana Hall menjadi editor dan pendiri.
Hall lalu pindah ke London dan bekerja sebagai guru pengganti di Brixton serta aktif di jurnal New Left Review. Pada tahun 1961, ia menjadi dosen film dan media di Chelsea College, Universitas London.
Karya-karya Hall di bidang budaya populer dimulai dengan buku The Popular Arts (1964), yang ditulis bersama Paddy Whannel, dan melanjutkan pengembangan kajian budaya di Birmingham.
Hall menikah dengan Catherine Barrett pada tahun 1964 setelah bertemu saat unjuk rasa kampanye untuk Perlucutan Senjata Nuklir, dan mereka pindah ke Birmingham di mana dua anak mereka, Becky dan Jess, lahir.
Selama tahun-tahun ini, Catherine menjadi sejarawan terkenal dan pernikahan mereka langgeng. Rumah mereka di Birmingham dan London adalah tempat yang ramah bagi banyak teman mereka.
Di Birmingham, di bawah kepemimpinan karismatik Hall, kajian budaya berkembang pesat. Meskipun tidak ada monograf ilmiah yang ditulisnya sendiri, Hall menghasilkan berbagai volume karya kolektif, esai, dan jurnalistik yang diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, serta pidato politik dan ceramah radio dan televisi.
Pada tahun 1979, Hall menjadi profesor sosiologi di Open University. Ia tertarik dengan kemungkinan menjangkau mereka yang kurang beruntung tidak mendapatkan pendidikan konvensional. Hall tetap di sana hingga 1998, sebelum menjadi profesor emeritus.
Perpindahannya ke Open University bertepatan dengan kemenangan pemilihan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher. Sebelum pemilihan, Hall yakin bahwa munculnya konservatisme baru ini menandai perpecahan mendalam dalam sejarah politik Inggris, dan menciptakan istilah “Thatcherism” dalam artikel visionernya di Marxism Today.
Hall menekankan peran ras dalam politik Thatcherite, terutama terkait dengan doktrin hukum dan ketertiban yang ia sebut sebagai “populisme otoriter”.
Hall, seorang pejuang keadilan ras, diundang untuk bergabung dengan banyak lembaga publik resmi dan tidak resmi. Dari 1997 hingga 2000, ia menjadi anggota Komisi Runnymede tentang Masa Depan Inggris Multi-Etnis.
Kala itu Hall sempat terkejut dengan reaksi media terhadap pengamatan komisi bahwa ide tentang bangsa Inggris turut berkontribusi terhadap masalah rasisme.
Hall menikmati kehidupan kampusnya tetapi merasa lega ketika meninggalkan perannya sebagai akademisi penuh waktu. Ini memberinya kesempatan untuk memperbarui dirinya, beraliansi dengan seniman muda dan pembuat film, serta mengeksplorasi politik subyektivitas orang kulit hitam.
Hall terlibat dalam kelompok pergerakan seni kulit hitam dan membantu mereka memperoleh dana untuk menginisiasi pendidikan publik tentang isu-isu multikultural di Rivington Place di Hoxton, London timur.
Pada akhirnya, meskipun kesehatan Hall menurun dan ia harus menjalani dialisis intensif serta transplantasi ginjal, ia tetap aktif berdebat tentang politik di zaman kontemporer. Hall meninggal pada tahun 2014 dan meninggalkan warisan intelektual yang luas dan berdampak pada kajian budaya dan politik global.***
Sumber: The Guardian
Bacaan terkait
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

