Brikolase.com – Istilah “industri budaya” diperkenalkan ke dalam teori kritis Sekolah Frankfurt oleh Theodore Adorno dan Max Horkheimer pada 1940-an.
Istilah ini terutama merujuk pada industri hiburan. Dalam catatan awal mereka untuk Dialektika Pencerahan, Horkheimer dan Adorno awalnya menggunakan istilah “budaya massa”.
Namun, istilah tersebut kemudian ditolak karena dianggap sinonim dengan bentuk seni populer kontemporer atau budaya yang diciptakan secara spontan oleh massa.
Konsep budaya tradisional dan pencerahan mengimplikasikan sikap kritis terhadap status quo. Adorno dan Horkheimer mempertahankan gagasan tersebut dengan berargumen bahwa kebebasan sosial tidak dapat dipisahkan dari pemikiran pencerahan.
Baca juga: Realisme Magis dalam Novel Seraphim: Seva Esteria
Sebaliknya, industri budaya memproduksi karya seni yang setiap detailnya disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi massal, menurunkan nilai pengalaman seni dan mengurangi kemampuan kritis konsumen.
Dalam budaya massa, konsumen adalah sebagai raja, dan kebutuhan budayanya dibentuk oleh industri, seperti sinema Hollywood, radio komersial, iklan, dan lagu-lagu yang repetitif.
Produk yang tampaknya berbeda, seperti film A dan B dalam sistem Hollywood atau majalah dengan harga yang berbeda, tidak dibedakan berdasarkan materi aktualnya, tetapi berdasarkan identifikasi dan klasifikasi sebelumnya dari perbedaan antara konsumen.
Industri budaya membalikkan skema pemikiran pencerahan. Bagi Kant, seni didefinisikan sebagai “tujuan tanpa tujuan”.
Prinsip industri budaya, menurut Horkheimer dan Adorno, adalah “tujuan untuk tujuan yang dinyatakan oleh pasar”.
Teori industri budaya juga sangat bergantung pada teori fetisisme komoditas Marx. Seperti dalam ekonomi kapitalis, nilai tukar lebih penting daripada nilai guna.
Nilai fetisistik yang diberikan pada nilai produksi dan efek yang mencolok mengakibatkan situasi di mana konsumen yang membeli tiket konser artis atau band ternama “menyembah” idola dan uang yang telah dibayarnya.
Efek dari industri budaya adalah mempromosikan keseragaman sosial dan intelektual. Karya akan dihomogenisasi dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Adorno sering dianggap sebagai pembela modernisme elitis yang memandang rendah budaya massa yang bisa diakses secara bebas oleh semua orang.
Namun, ia sendiri juga secara konsisten berargumen bahwa baik budaya tinggi maupun budaya massa ditandai oleh stigma kapitalisme yang eksis dalam masyarakat modern.
Contohnya seperti The Magic Flute karya Mozart, di mana utopia pencerahan bisa eksis bersamaan dengan nyanyian opera ringan yang menyenangkan.***
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

