Seraphim 2: Peluit Kabut (Bagian II)

Pengarang: Yongky Gigih Prasisko

Baca bagian I: Persemayaman di Tengah Badai

“Seraphim Efraim, putri duyung, Shiren, peri laut, hahahahahahahah. Kau tengah mabuk laut anak muda,” kata si bapak tua, Ompa, menertawakan cerita Gazal saat dia terombang ambing di lautan dan akhirnya selamat.

“Kau lihat ke luar sana. Jaring itu untuk menangkap ikan, tak ada putri duyung, tak ada pembantaian seperti bualanmu itu,”ujar Ompa lagi yang bermaksud menyadarkan Gazal yang dianggap sinting.

“Sudahlah, kala itu kau tengah di mabuk asmara, ditambah dengan mabuk laut, jadilah kau mengoceh barang tak jelas ini,” imbuhnya lagi.

“Untuk para pelaut dengan wajah pucat, tubuh membiru dan gemetar, laut akan melahapnya. Tak seharusnya laut jadi persemayaman terakhir. Bagi jiwa yang bersemayam, niscaya mereka akan selalu dikenang sebagai pelaut pemberani. Bagi jiwa yang selamat, niscaya ia akan membawa keselamatan bagi negeri ini. Dialah pelaut riang,” kata Ompa sembari mengajak Gazal untuk beradu gelas, merayakan keselamatannya dengan minum bersama.

Sayangnya suasana hati Ompa yang riang gembira menyambut Gazal yang selamat dari maut tidak dibarengi dengan raut muka bahagia Gazal. Si pelaut muda ini terus terngiang bayangan yang dilihatnya di lautan. Ia juga masih percaya bahwa yang dilihatnya kala itu memang benar-benar nyata meski banyak yang meragukan dan tak percaya padanya.

“Gelembung Mezuza telah menyelamatkanku. Ia keluar dari tangan Eliyah,” kata Gazal yang masih bersikukuh.
“Kalau memang ceritaku ini tidak benar, hanya omong kosong, lalu apa yang menyelamatkanku di tengah lautan saat badai mendera dan ombak besar yang menggulung? Aku dan Eliyah hanya berada di atas sekoci kecil,” ungkap Gazal mendebat seniornya, Ompa.

Tangan Ompa yang tengah mengangkat gelas minuman seketika membeku dan tatapannya kosong.
“Tak baik mengabaikan ajakan minuman dari senior. Kau bisa kena kutuk,” Ompa seketika mengalihkan perhatian. Gazal menolak dengan halus. Ia menuangkan air putih di gelasnya dan mengadu gelas dengan Ompa.

“Sekarang kutanya kau anak muda. Apa bagian terburuk dari kehidupan seorang pelaut?” tanya Ompa.
“Mungkin pergi melaut, mencari makan untuk keluarga namun tak kembali dengan selamat,” jawab Gazal.
“Para pelaut selalu menolak lautan jadi persemayaman terakhir. Saat kau berada di tengah angin dan air, kau akan merasa putus asa. Itulah serangan yang lebih jahat dari iblis mana pun. Ombak laut akan mengejarmu, air akan naik turun, angin akan berhembus ke sana kemari. Kau akan buta arah, kau akan menjadi gila,” ujar Ompa.

“Lalu apa yang membuatnya tetap waras, menjadi tenang sebagai pelaut yang berani dan riang?” tanya Ompa.
“Mungkin iman pada Adonai,” jawab Gazal.
“Pelaut akan senang, bahagia, dan bertambah keberaniannya dengan minuman, hahahaha. Sayangnya kau tak meminumnya dan kau masih gila, hahahaha,” balas Ompa.

Gazal melihat Ompa sebagai pelaut senior yang tangguh. Dia mampu menaklukkan lautan yang ganas dengan ombak badai yang buas. Ompa berkali-kali selamat dari maut di tengah banyak teman sebanyanya yang tewas dan dikenang sebagai pelaut pemberani. Namun di sisi lain, Gazal masih belum bisa mengikuti saran dari Ompa untuk menenggak minuman.

“Aku juga tak mengira kau akan selamat, anak muda. Kau adalah makhluk yang taat, setia pada aturan, patuh pada perintah Adonai. Hanya kau dan Eliyah yang selamat. Sementara semua awak kapal mati digulung ombak. Kau adalah pelaut yang berbeda, pelaut pilihan, ia yang dipilih laut untuk selamat. Kau akan memberi keselamatan untuk negeri ini,” kata Ompa.

“Kau lihat aku sekarang ini, tua berjambang panjang, semua rambut memutih, kulit keriput yang perlahan akan membusuk di bangunan ini. Hanya minuman ini yang bisa mengusir kebosanan di hari tuaku. Namun lihatlah kau anak muda, penuh semangat, tampan, bersih, rapi dan religius. Kaulah yang pantas memberi keselamatan untuk negeri ini. Hayatku akan segera berakhir. Hanya mercusuar ini yang membuat hidupku bermakna dan akan bersemayam dengan tenang. Aku tak mau membiarkan nyawa para pelaut lain dilahap ombak. Mereka harus selamat, mereka harus memberi keselamatan. Cahaya dan peluit kabut ini akan menuntunnya,” kata Ompa.

Heeengggg, heeengggg, heeenggg…

Suara peluit kabut menyertai pembicaraan Gazal dan Ompa. Setelah selamat dari maut, kini Gazal bertugas sebagai penjaga mercusuar, menemani Ompa yang sendirian. Mereka berdua bertugas untuk menjaga mercusuar ini tetap menyala dengan peluit kabut yang harus terus dihidupkan.

Mercusuar ini berada di pulau terpencil yang jauh dari kehidupan manusia. Para penjaga ini merupakan pahlawan bagi para pelaut yang tengah tersesat dan terombang-ambing di lautan. Jarang ada pemuda yang mau ditempatkan di pulau terpencil untuk menjaga mercusuar. Kebanyakan dari anak-anak muda lebih memilih bekerja di kota dan mengadu nasib di sana. Mereka yang bekerja sebagai penjaga mercusuar biasanya orang-orang yang sudah pensiun bekerja, orang-orang yang sudah tua, dan memiliki jiwa pelaut. Artinya, mereka ingin membantu para sejawatnya, menuntun mereka agar selamat. Dengan inilah para penjaga mercusuar ini membuat hidupnya lebih bermakna di sisa-sisa hidup jelang akhir hayatnya.

ALSO READ  Jarak yang Lebih Berjarak dari Jarak Rabu hingga Sabtu

Begitu juga dengan Ompa, orang akrab memanggilnya bapak tua. Ia adalah pelaut yang andal di masa mudanya. Ia berkali-kali selamat dari gulungan ombak. Meskipun untuk yang terakhir kalinya, ia harus kehilangan kaki kanannya. Sejak kehilangan kakinya itu, Ompa terpaksa harus berhenti melaut.

“Apa yang membuat jiwa pelaut sangat tersiksa? Ialah ketika ia dipisahkan dari laut. Aku tak mau kehilangan jiwa ini,” kata Ompa pada Gazal.
“Orang yang tak punya jiwa pelaut, tak akan betah tinggal di sini. Kau akan stres bahkan sampai gila hidup di pulau terpencil. Kau sudah siap untuk gila, anak muda?” tanya Ompa.

Gazal hanya terdiam sembari menelan ludah sendiri. Ini adalah hari ketiganya bersama dengan Ompa menjadi penjaga mercusuar. Baru beberapa hari bekerja, keberanian dan keteguhan Gazal sudah terus digoyah.

“Jadi, apa yang membawa seorang anak muda, pelaut berbakat yang penuh keselamatan, religius dan taat pada Adonai ini sampai terlempar di pulau terpencil dan mau tinggal di bangunan reyot ini?” Ompa bertanya lagi.

Gazal ingin menjawab bahwa dia ingin menebus kesalahan atau rasa bersalah atas Shiren karena peristiwa penangkapan dan pembantaian putri duyung. Namun Ompa sudah kadung tidak mempercayainya.

“Aku ingin menikahi kekasihku, Eliyah. Aku butuh uang untuk kehidupan kami di masa depan,” ungkap Gazal.
“Bwahawahwahawahawaha,” Ompa seketika langsung tertawa sampai menyemburkan minumannya.
Braakkk! Si bapak tua itu memukul meja dengan botol minuman tanda ia tengah terpancing emosinya.
“Kau menghinaku, anak muda. Kau kira aku anak kecil yang bisa kau tipu. Aku sudah hidup bertahun-tahun di lautan. Aku juga pernah muda seperti kau,” kata Ompa.
“Aku adalah pelayan Adonai, hidupku adalah tentang pelayanan kepada makhluk-makhlukNya. Aku ingin jadi pelayan pelaut,” jawab Gazal.
“Kau tahu kenapa aku meragukan ocehanmu? Tak percaya dengan makhluk-makhluk fantasimu? Kau bukanlah orang yang pertama kali membual di depanku, anak muda. Aku sudah berkali-kali mendengar bualan itu, dari para pelaut bahkan dari mantan anak buahku di mercusuar ini,” kata Ompa.

“Apa yang terjadi pada mantan anak buahmu? Bagaimana nasib mereka? Mengapa mereka tak bisa bertahan lama di sini?” tanya Gazal.

Heeengggg, heeengggg, heeenggg…

“Aku masih bertahan sampai sekarang ini karena bisa menjaga kewarasan. Hati-hati dengan pikiranmu sendiri, anak muda. Waspada dengan bayangan dan fantasimu sendiri. Karena bila kau tenggelam di dalamnya, niscaya fantasi bisa lebih mematikan dibandingkan ombak dan badai di lautan. Tak mudah hidup di pulau terpencil seperti ini. Hidupmu akan diselimuti angin, ombak, suara peluit kabut yang bising, cahaya mercusuar yang menyilaukan, dan burung-burung camar yang tak bisa diajak bicara.

Ada yang sampai gila menunggu Seraphim Efraim datang menjemputnya agar bisa keluar dari pulau ini. Akhirnya ia terjun dari jendela mencusuar ini dan akhirnya tubuhnya remuk. Jasadnya rela dimakan oleh burung-burung camar.

Ada pula yang setiap sore hari berdiri di atas tebing. Ia merasa didatangi oleh Efraim di dalam mimpinya. Ia terus memandangi cakrawala berharap sang seraphim akan memberinya keselamatan. Namun sayangnya, hidupnya harus berakhir lantaran jatuh dari tebing. Kali ini, sampai sekarang, jasadnya belum ditemukan. Mungkin sudah dimakan oleh ikan-ikan laut.

Jadi kau sekarang tahu kan kenapa aku menertawakan ocehanmu? Aku berupaya membuatmu tetap waras. Sayangnya kau menolak untuk ikut minum, tapi ya sudahlah. Itu memang keyakinanmu,” kata Ompa.
“Kalau putri duyung atau peri laut, selama kau melaut dan tinggal bertahun-tahun di mercusuar ini, pernahkan kau melihatnya?” tanya Gazal.
“Sama saja. Aku pernah beberapa kali menghampiri orang yang berhasil selamat dari laut dengan mengikuti suara peluit kabut dan cahaya mercusuar. Mereka bilang pernah bertemu dengan putri duyung. Ada yang bilang juga berperang dengan peri laut. Sesampai di tepi pantai memang secara fisik mereka selamat, tapi ia kehilangan jiwanya dan akhirnya lupa diri, jadi gila. Fantasi di lautan telah merenggut jiwanya.

Aku tak ingin kau bernasib sama seperti mereka, anak muda. Aku juga yakin kau berbeda dari mereka. Kau masih selamat fisik dan jiwamu dari ganasnya ombak dan badai di lautan. Bersyukurlah, aku belum pernah lihat orang seberuntung kau. Kau lihat kaki kananku yang telah hilang ini? Aku tak bisa selamatkan semua tubuhku tapi beruntungnya jiwaku masih selamat. Sedangkan kau, lihatlah dirimu. Fisik masih kuat, jiwa masih bergairah, aku yakin kau adalah orang terpilih. Kini tugasku menjagamu tetap waras,” kata Ompa.

ALSO READ  Seraphim 2: Bayang Bencana di Pasar Malam (Bagian III)

Heeengggg, heeengggg, heeenggg…

“Sekarang tugasmu mengisi batu bara ke mesin peluit kabut. Aku akan menjaga cahaya tetap menyala,” ujar Ompa.

Gazal langsung bergegas turun mengambil batu bara. Di luar sana, hujan masih mengguyur pulau terpencil ini. Sudah menjadi risiko pekerjaan sebagai penjaga mercusuar, Gazal memantapkan hati untuk melakukan tugasnya dengan baik. Ia ingin kehadirannya bisa bermanfaat dan membantu Ompa. Si anak muda ini juga tak bisa membayangkan betapa susahnya sang bapak tua dengan kaki palsu dan bantuan tongkat mengerjakan semua ini sendirian. Rasanya hujan deras, tanah yang licin dan batu bara yang berat masih belum ada apa-apanya bagi tubuhnya yang masih muda dan bugar, dibandingkan apa yang selama ini dikerjakan Ompa seorang diri.

Gazal akhirnya berjalan menembus hujan yang deras, melewati jalanan berbatu dan licin untuk membawa batu bara. Dengan berbekal sekop, Gazal menuju gudang tempat penyimpanan batu bara, menyeroknya lalu menampungnya di troli. Ia melakukannya berkali-kali hingga troli penuh dan menutupnya dengan kain terpal.

“Ingat jaga pandanganmu tetap ke depan, selalu memohon doa keselamatan pada Adonai, fokuskan pendengaranmu pada peluit kabut dan biarkan cahaya mercusuar menuntunmu. Segera kembali ke mercusuar ini, jangan berhenti atau berbelok ke mana pun yang mendekati laut. Yang terakhir, jangan pernah menatap laut atau menatap mata burung camar,” pesan Ompa yang terus diingat Gazal sebelum ia berangkat membawa batu bara.

“Sssshhhhhhsssshiiiiiii. Kau manusia munafik, pembantai kaum kami, kau akan mendapat balas dendam berkali-kali lipat,” suara putri duyung tetiba menyeruak di telinga Gazal. Ia lalu memohon keselamatan pada Adonai di tengah hujan angin yang kencang.

“Kau mengkhianati Adonai. Dia tidak suka dengan orang munafik. Kasihnya bukan untuk pembunuh seperti kau,” suara itu kembali terdengar Gazal.

Namun ia tak menghiraukannya. Gazal tetap mengikuti pesan dari Ompa untuk menatap ke depan, jangan melihat ke laut, mata camar, tetap fokus pada peluit kabut dan cahaya mercusuar. Namun apalah daya anak muda ini, Gazal masih terlalu muda dan lugu untuk berada di lingkungan pulau terpencil dengan ganasnya makhluk-makhluk laut. Di sisi lain, Ompa harus bekerja ekstra untuk melindungi anak baru ini.

Di tengah perjalanannya membawa batu bara dengan troli yang ditutup terpal, Gazal diganggu oleh burung-burung camar. Mereka hinggap di troli, di pundak Gazal dan sesekali mematuknya sampai tangannya berdarah. Namun darah yang keluar dari kulitnya tidak tampak lantaran terbasuh oleh derasnya air hujan. Gazal tetap membawa batu bara tersebut ke mercusuar agar cahaya tetap menyala dan peluit kabut terus berbunyi. Ia ingin segera keluar dari ganasnya cuaca dan lingkungan liar ini.

Burung camar masih terus terbang di sekelilingnya, seperti hendak memakannya. Tampaknya burung-burung itu terlihat lebih ganas pada saat cuaca badai. Dalam iklim yang cerah, suasana laut dengan angin sepoi-sepoi tampak indah dengan kehadiran burung-burung camar yang terbang ke sana kemari. Namun bila badai, lingkungan alam tampak lebih ganas. Ombak laut menerjang begitu keras, air hujan tampak menghunjam dan menusuk ke segala arah. Angin seakan ingin menyapu segala yang ada di hadapannya. Serta, burung camar tampak lebih buas dalam kondisi lingkungan yang berbahaya. Sial sekali Gazal berada dalam lingkungan ini, maka ia cepat-cepat harus bisa sampai ke tujuan dan menjalankan tugasnya dengan baik.

Ini masih awal dari hari-harinya di pulau terpencil ini. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana ia akan menjalani kehidupan ke depan dalam lingkungan yang ganas ini. Pantas saja, bila orang-orang yang tinggal di sini bisa jadi gila. Bapak tua benar, siapa pun yang ada di sini harus bisa kuat melawan kegilaan, dia harus tetap waras. Sejauh ini, bapak tua masih terus bertahan dan Gazal harus banyak belajar darinya.

Di tengah badai yang semakin menerjang, tubuh Gazal semakin kebas. Kakinya sudah kesulitan untuk berjalan. Telinganya sudah kedap terhadap suara, dan penglihatannya juga sudah mulai kabur. Dalam kondisi ini, ia mulai melihat sekilas cahaya merah yang melayang di hadapannya. Cahaya merah itu bergerak dengan cepat secara tak beraturan. Ia sulit mengenali dari mana cahaya merah itu berasal. Yang ada di pikiran Gazal hanyalah bagaimana agar cepat sampai pulang kembali ke mercusuar.

Namun lama kelamaan Gazal mulai bisa mengetahui bahwa cahaya merah yang melayang tersebut berasal dari mata burung camar. Samar-samar dia melihat burung camar yang terbang dengan mata yang memancarkan cahaya merah. Gazal menyangka bahwa ini memang bayangannya saja. Dia mengira tengah berhalusinasi karena kondisi tubuhnya yang tengah diterjang badai. Namun sayangnya, ia tak bisa menyingkirkan bayangannya itu. Burung-burung camar dengan mata memerah itu berseliweran di hadapannya. Mau tidak mau ia harus memandang sekawanan binatang aneh itu. Bahkan sampai dia sudah sulit mengingat kembali pesan bapak tua.

ALSO READ  Seraphim: Eksekusi Jack dan Lahirnya Hukum Anugerah (Bagian III)

“Jangan menatap mata burung camar,” bapak tua memberikan pesan tanpa menyertakan alasan.

Karena ia harus memandang ke depan, Gazal mau tidak mau akhirnya menatap cahaya merah tersebut. Selama beberapa detik, Gazal memandang mata burung camar dan ia mulai kehilangan kesadaran. Dia akhirnya terjatuh.

Samar-samar Gazal mendengar suara Ompa, “Jiwa-jiwa para pelaut bersemayam dalam tubuh burung camar. Mereka sedang memberi tanda ada pelaut yang tengah diserang.”

Tubuh Gazal yang sudah tak kuat lagi bangkit tampak berbaring di tengah lautan pasir pantai nan bebatuan. Mata Gazal tampak menengadah ke langit, ia merasakan air hujan yang seperti jarum berjatuhan ke tubuhnya bersama dengan burung-burung camar yang terbang mengitari dirinya. Burung-burung itu sepertinya siap untuk mematuk dan menyantap tubuh Gazal. Kali ini tak hanya cahaya merah, ada putih, biru, hijau yang tampak mondar-mandir di udara. Dengan penglihatan yang semakin berkurang, Gazal mencoba melihat bahwa cahaya itu menuju ke satu tujuan, yaitu mercusuar. Dia mengikuti arah cahaya itu dan samar-samar melihat sosok bapak tua yang tengah bertarung dengan para peri laut dan putri duyung. Ompa tampak melayang mempertahankan diri di pinggir lautan. Ia diserang dari bebagai arah dan mampu menghadapi segala serangan seorang diri.

Gazal berusaha untuk mengucek matanya namun tetap tampak tidak jelas karena tertutup oleh hujan, kabut, angin bahkan suaranya pun tak mampu ia dengar dengan jelas karena kalah dengan debur ombak laut. Ia hanya bisa mengenali ada cahaya.

Seketika ada cahaya putih yang datang menghampiri bapak tua yang tengah bertarung. Cahaya putih itu tampaknya juga akan menyerang Ompa, namun tebakan Gazal salah. Cahaya itu membantu Ompa menangkis berbagai serangan dan membantunya mempertahankan diri. Tampaknya bapak tua dan cahaya itu tengah melindungi mercusuar. Tak berselang lama, sekawanan ikan berenang menuju ke tepi pantai. Mereka tengah menggiring sebuah kapal yang sepertinya mau tenggelam. Kapal itu berisi para pelaut yang terombang-ambing di lautan. Itu bukan ikan kecil, mereka sekawanan ikan besar, Orca, yang membawa kapal itu, atau lebih tepatnya menyelamatkannya. Sementara bapak tua masih tampak kuat mempertahankan diri.
Di tengah penglihatannya yang samar tersebut, Gazal tetiba teringat sebuah kalimat dalam kitab yang diyakininya.

“Baringkanlah diri dan tidurlah. Perhatikan baik-baik tempatmu berbaring, maka kemudian datanglah cahaya putih mendekat. Berbaringlah di sana, maka ia akan memberitahukan padamu apa yang harus kau lakukan.”

Itu adalah ayat tentang seraphim. Gazal tetiba mengingatnya saat ia tengah berbaring tak berdaya dan melihat cahaya putih. Akhirnya, Gazal terus fokus melihat cahaya putih itu. Lama kelamaan dia bisa melihat agak jelas siapa sosok di balik cahaya putih itu.

Ya, itu adalah dia sang makhluk bersayap enam. Ia sangat lihai bertarung bersama Ompa dengan senjata tongkatnya. Gazal semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ompa yang diselimuti dengan cahaya merah bisa terbang, dan tongkat yang dia pakai untuk menyangga kakinya itu ternyata punya kekuatan pelindung. Yang tak kalah mengagetkan lagi, di balik cahaya putih itu, ada sosok yang selama ini hanya diketahui dalam kisah dalam kitab. Ia adalah makhluk yang dipercaya oleh para pelaut untuk bisa menyelamatkan mereka di tengah ganasnya ombak laut dan badai yang liar. Makhluk itu sangat dinanti para pelaut dan terus-menerus dipanggil sebagai sosok sang penyelamat. Gazal semakin tak percaya dengan apa yang dilihat dan dipikirkannya. Kesadarannya juga sudah mulai berkurang dan bayangannya mengantarkannya pada kondisi pingsan. Kali ini ia akhirnya melihat Seraphim Efraim.

Bersambung…