Brikolase.com – Selama beberapa dekade setelah berdirinya Republik Rakyat China pada 1949, China dikenal sebagai negara agraris miskin dengan produktivitas rendah, teknologi tertinggal, dan pendapatan per kapita yang jauh di bawah standar global.
Pada akhir tahun 1970-an, China juga masih identik dengan kemiskinan, sistem kupon pangan, dan keterbelakangan industri.
Namun dalam waktu sekitar 40 tahun, China menjelma menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, pusat manufaktur global, dan pemain kunci dalam teknologi masa depan.
Dua buku penting, Breakneck: China’s Quest to Engineer the Future karya Dan Wang dan The New China Playbook: Beyond Socialism and Capitalism karya Keyu Jin, memberikan penjelasan mengapa transformasi ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi negara yang konsisten dan tidak lazim.
China Sebagai Negara Insiyur
Dan Wang memperkenalkan konsep kunci bahwa China adalah engineering state (negara insinyur) yakni negara yang dipimpin dan dijalankan dengan logika teknokratik, bukan legalistik.
China adalah negara insiyur yang membangun hal-hal besar dengan kecepatan luar biasa, berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat yang didominasi hukum, yang memblokir segala sesuatu berdasar nilai baik dan buruk.
Menurut Wang, elite politik China didominasi oleh lulusan teknik dan sains. Hal ini berdampak langsung pada prioritas kebijakan seperti membangun jalan, rel cepat, pelabuhan, bendungan, dan kota baru secara masif.
Sejak tahun 1980, setelah reformasi Deng Xiaoping dimulai, Tiongkok telah membangun jaringan jalan raya yang panjangnya dua kali lipat dari sistem AS dan jaringan kereta api berkecepatan tinggi yang dua puluh kali lebih luas daripada Jepang.
Bagi Wang, kemakmuran China lahir dari obsesinya pada produksi nyata (real sector) seperti beton, baja, listrik, dan manufaktur, bukan sekadar jasa atau finansialisasi ekonomi.
Reformasi Deng Xiaoping
Keyu Jin juga menekankan bahwa kebangkitan China dimulai dari satu momen kunci yakni reformasi Deng Xiaoping tahun 1978.
Pada pertengahan tahun 1970-an, ekonomi Tiongkok berada dalam keadaan kacau. Kemudian Mao Zedong meninggal. Dengan latar belakang ini, Deng Xiaoping tampil di panggung utama.
Reformasi ini tidak berarti China menjadi negara kapitalis murni. Sebaliknya, China menciptakan sistem hibrida yakni pasar digunakan sebagai alat, negara tetap sebagai pengarah.
Keyu Jin menjelaskan bahwa rahasia di balik lonjakan kemajuan ini dapat diringkas dalam satu kalimat yakni China sedang mengejar potensi yang dimilikinya.
Dalam hal ini, itu bukanlah keajaiban, pertumbuhan tinggi China bukan sulap ekonomi, melainkan pelepasan “rem” institusional yang selama puluhan tahun menghambat potensi dasarnya.
Keyu Jin menunjukkan bahwa banyak negara pernah tumbuh cepat, tetapi gagal mempertahankannya. China berbeda.
Pertumbuhan China terbukti berkelanjutan dan juga cepat. PDB-nya telah tumbuh dengan rata-rata yang menakjubkan sebesar 9,5 persen per tahun selama empat dekade terakhir.
Dan Wang menyebut faktor politik-ekonomi dari keberlanjutan ini. Sistem politik Tiongkok diarahkan untuk mewujudkan proyek-proyek monumental, sedemikian rupa sehingga guncangan ekonomi sekecil apa pun sudah cukup untuk mendorong Beijing untuk mengumumkan rencana besar proyek-proyek pekerjaan umum baru.
Kombinasi stabilitas politik, birokrasi teknokratik, dan kemampuan mobilisasi sumber daya membuat China mampu mempertahankan pertumbuhan jangka panjang.
Baik Keyu Jin maupun Dan Wang sepakat bahwa memaksakan label ideologi lama pada China adalah kesalahan besar Barat.
Melihat Tiongkok melalui label-label abad ke-20 seperti kapitalis atau sosialis sudah tidak lagi memadai. Keyu Jin menyebut model China sebagai playbook (buku pedoman) baru yang fleksibel, pragmatis, dan kontekstual.

Model Ekonomi China Hibrida Fungsional
Model ekonomi China adalah hibrida fungsional, artinya negara tidak berperan pasif seperti dalam kapitalisme Barat, tetapi juga tidak mematikan pasar seperti dalam sosialisme lama. Negara bertindak sebagai arsitek, sementara pasar tetap menjadi mesin.
Keyu Jin menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen output ekonomi, 70 persen kekayaan, dan 80 persen lapangan kerja perkotaan China berasal dari sektor swasta.
Artinya, China bukan ekonomi yang dikendalikan penuh negara, melainkan ekonomi pasar yang diarahkan.
Keyu Jin juga menyebut strategi mayor economy (ekonomi kepala daerah). Dalam sistem ini, kepala daerah bertindak layaknya pemegang saham wilayahnya sendiri. Mereka memiliki insentif politik dan ekonomi untuk menarik investor, melindungi perusahaan lokal, membangun klaster industri, dan mendorong inovasi.
Alih-alih menghambat, pejabat lokal justru sering menjadi mitra strategis pengusaha. Keyu Jin juga meruntuhkan asumsi Barat bahwa inovasi hanya bisa tumbuh dalam sistem demokrasi liberal.
China justru berhasil menciptakan ekosistem kendaraan listrik terbesar di dunia, adopsi teknologi digital super cepat, dan lompatan industri strategis dalam waktu singkat.
Kuncinya adalah kombinasi koordinasi negara di tingkat makro dan kompetisi pasar di tingkat mikro. Negara mendorong arah, pasar menentukan pemenang
Selain itu, ada pula peran generasi muda China, dengan produk kebijakan satu anak, yang justru menjadi motor perubahan.
Mereka lebih konsumtif dan berani berutang, sangat digital dan berorientasi gaya hidup, tetapi tetap nasionalis dan tidak otomatis mendukung demokrasi Barat.
Paradoks ini menjelaskan mengapa modernisasi ekonomi China tidak berbanding lurus dengan liberalisasi politik
Di samping itu, secara teoritis, ekonomi dengan institusi hukum lemah rentan kolaps. Namun China menjadi pengecualian.
Keyu Jin menekankan bahwa kapasitas negara China sangat kuat, sehingga mampu menutup kelemahan institusi formal melalui mobilisasi cepat, kebijakan industri agresif, dan kontrol sistem keuangan.
Model ini tidak ideal, tetapi terbukti efektif dalam fase catch-up growth (mengejar pertumbuhan cepat).
Model pembangunan China ini juga tidak bisa disalin mentah-mentah oleh negara lain. Namun pelajarannya sangat relevan yakni tidak ada satu jalan tunggal menuju kemakmuran. Kapitalisme murni pun memiliki kegagalan seperti ketimpangan sosial, krisis finansial, dan stagnasi sosial.
China, dengan segala kontradiksinya, sedang menguji jalan ketiga ekonomi global yang efisien tetapi terkoordinasi, inovatif tetapi terarah, dan yang tak kalah penting adalah anti korupsi.
China menjadi kaya bukan karena mengikuti resep Barat, melainkan karena membangun negara yang mampu bertindak cepat, bereksperimen, dan memprioritaskan pembangunan riil.
Inilah rahasia China, yang dulu miskin dan terisolasi, kini menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi dunia.***
Bacaan terkait
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com


