Penyakit Mental Ternyata Hanya Mitos, Ini Pandangan Radikal Psikiater Thomas S. Szasz

Brikolase.com – Penyakit mental selama ini dianggap sebagai gangguan medis yang dapat didiagnosis dan diobati secara ilmiah.

Namun, Thomas S. Szasz, seorang psikiater Hungaria-Amerika dari State University of New York, membantah pandangan ini dalam tulisannya yang berjudul The Myth of Mental Illness (1960).

Ia menyatakan bahwa penyakit mental hanyalah mitos, sebuah istilah yang berfungsi lebih sebagai alat kontrol sosial ketimbang konsep medis yang sah.

Konsep Penyakit Mental: Ilusi atau Realitas?

Menurut Szasz, penyakit mental tidak memiliki eksistensi fisik seperti halnya penyakit tubuh.

Tidak ada “benda” atau objek yang bisa disebut sebagai penyakit mental.

Yang ada hanyalah konstruksi teoretis yang disepakati masyarakat.

Seperti keyakinan pada setan atau sihir di masa lalu, konsep penyakit mental menjadi cara modern untuk menjelaskan perilaku yang menyimpang dari norma sosial.

Szasz membedakan antara penyakit otak atau kerusakan neurologis, dengan apa yang disebut sebagai penyakit mental.

Ia menyatakan bahwa banyak gangguan yang dilabeli “mental illness” sebenarnya adalah masalah dalam menjalani hidup, bukan kelainan medis.

Contohnya, perilaku tidak biasa seperti merasa menjadi Napoleon atau mendengar suara bisa jadi adalah bentuk ekspresi psikologis, bukan bukti adanya kerusakan otak.

Penyakit Mental Adalah Masalah Hidup dan Konstruksi Sosial

Szasz menyebut penyakit mental sebagai istilah populer untuk menggambarkan masalah sosial, etika, atau emosional.

Ketika seseorang tidak sesuai dengan norma, ia cenderung diberi label “sakit mental”.

Namun, norma ini sering kali ditentukan secara subjektif oleh masyarakat, dokter, atau institusi hukum.

Masalah hidup harus dipahami sebagai pergulatan manusia dalam menentukan bagaimana seharusnya ia hidup, bukan sebagai gangguan medis.

Menurut Szasz, penentuan diagnosis penyakit mental sangat dipengaruhi oleh siapa yang membuat penilaian.

ALSO READ  Kisah Eksperimen Manusia Gua Michel Siffre, Temukan Bidang Ilmu Kronobiologi

Bisa jadi seseorang merasa dirinya butuh bantuan karena merasa tidak produktif, tetapi bisa juga masyarakat atau keluarga yang menilai seseorang “sakit” karena perilakunya dianggap menyimpang.

Psikiater, dalam hal ini, sering kali berperan bukan sebagai penyembuh, tetapi sebagai agen dari pihak ketiga seperti pengadilan yang bertugas “menyesuaikan” perilaku pasien dengan standar tertentu.

Bagi Szasz, penggunaan obat, rawat inap paksa, atau terapi yang dianggap medis terhadap masalah etis dan sosial adalah keliru secara logis dan etis.

Ia menyoroti bahwa tidak semua “penyimpangan” bisa atau seharusnya diselesaikan melalui intervensi medis.

Ia menyamakan pendekatan medis terhadap penyakit mental sebagai upaya untuk “mengobati konflik moral dengan pil.”

Psikiatri juga tidak pernah netral secara etis. Psikoterapis membawa nilai-nilai pribadi, sosial, politik, bahkan keagamaan dalam praktiknya.

Oleh karena itu, keputusan tentang apa yang dianggap “sakit” dan “sehat” tidak lepas dari konteks sosial dan keyakinan moral masing-masing pihak.

Puncak argumen Szasz adalah bahwa konsep penyakit mental digunakan untuk menghindari tanggung jawab atas pilihan hidup yang sulit.

Dengan menyebut suatu perilaku sebagai “penyakit”, individu dibebaskan dari tanggung jawab moral atas tindakannya.

Szasz menyerukan agar manusia kembali memikul beban moralnya sendiri dan menghadapi kesulitan hidup dengan pemahaman, bukan pengobatan.

Konsep penyakit mental, menurut Szasz, adalah mitos yang digunakan masyarakat untuk menenangkan kegelisahan eksistensial dan konflik sosial.

Ia menyebut mitos ini sebagai pewaris kepercayaan pada setan dan sihir, alih-alih berhadapan dengan realitas keras kehidupan, manusia memilih “penyakit” sebagai penjelasan yang aman dan impersonal.

Musuh kita sebenarnya bukan setan, penyihir, nasib atau penyakit mental. Kita hanya berhadapan dengan masalah hidup dan perlu tanggung jawab untuk menyelesaikannya.***