Monsanto, Korporasi Raksasa Kuasai Paten Benih Hingga Kapitalisasi Air

Korporasi Monsanto bak gurita yang menguasai berbagai sektor dari pertanian hingga air

Brikolase.com – Monsanto, sebuah perusahaan yang mengklaim diri sebagai organisasi pertanian, merupakan salah satu pemain terbesar di balik rekayasa genetika tanaman.

Dengan lebih dari dua puluh produk unggulan, mulai dari Roundup Ready™ hingga jagung transgenik, Monsanto berupaya meyakinkan publik bahwa mereka membantu petani meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan, menghasilkan pangan lebih sehat, serta mengurangi dampak lingkungan.

Namun, di balik citra mulia itu, tersimpan kontroversi yang mendalam mengenai monopoli, paten benih, dan dampaknya pada kehidupan petani serta ekosistem global.

Sejarah Monsanto dan Kontroversinya

Elizabeth Simonelli dalam tulisannya “Monsanto’s Rise to Power“mengungkap bahwa sejak awal 1990-an, Monsanto menjadi pionir dalam pengembangan organisme hasil rekayasa genetika (Genetically Modified Organisms/GMOs).

Tujuannya sederhana yakni meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman terhadap hama serta kondisi lingkungan ekstrem.

Dengan menyisipkan gen dari bakteri, tanaman lain, bahkan hewan, perusahaan ini berupaya menciptakan varietas baru yang lebih “tahan banting”.

Tetapi perjalanan ini tidak bebas dari kritik. Banyak pihak menyebut langkah Monsanto sebagai awal dari dominasi korporasi terhadap pangan dunia.

Salah satu aspek paling kontroversial adalah dugaan konflik kepentingan antara Monsanto dan regulator pemerintah AS.

Beberapa pejabat penting yang menangani regulasi pangan atau pertanian tercatat pernah bekerja untuk atau menerima dukungan dari Monsanto.

Contohnya, Hakim Agung Clarence Thomas, yang dulu pernah menjadi pengacara Monsanto, hingga pejabat tinggi Departemen Pertanian dan Kesehatan AS yang duduk di dewan direksi atau menerima dana kampanye dari perusahaan tersebut.

Situasi ini memicu regulasi longgar terhadap GMO (organisme hasil rekayasa genetik), yang cukup dinyatakan setara kandungan gizinya dengan tanaman konvensional, tanpa kewajiban uji kesehatan jangka panjang yang ketat.

Dugaan keterlibatan ini membuat regulasi terhadap GMO menjadi lemah.

Padahal, beberapa studi dan laporan menunjukkan potensi dampak kesehatan, seperti alergi baru dan peningkatan risiko kanker.

Kekuatan Monopoli Monsanto, Paten Benih

Kekuatan terbesar Monsanto bukan hanya pada produknya, tetapi pada kepemilikan paten.

ALSO READ  Bukan Jam Tonton, tapi Fokus Audiens, Riset McKinsey 2025 Kenalkan Ekonomi Atensi Sebagai Peluang Bisnis Media

Mereka mematenkan benih hasil rekayasa genetika sehingga petani harus membeli kembali benih setiap musim tanam.

Monsanto bahkan memiliki tim investigasi khusus dengan anggaran besar untuk memantau dugaan pelanggaran paten oleh petani.

Monsanto telah mengajukan puluhan gugatan hukum terhadap petani di Amerika Serikat dan Kanada.

Banyak petani yang benihnya terkontaminasi melalui penyerbukan silang atau distribusi tak sengaja tetap dituntut, padahal mereka tidak berniat menanam produk Monsanto.

Akibatnya, petani kehilangan kebebasan bertani, jatuh miskin, atau terpaksa tunduk pada kontrak “perjanjian teknologi” yang mengikat mereka pada sistem Monsanto.

Kasus Percy Schmeiser menjadi contoh nyata. Petani Kanada ini berjuang bertahun-tahun melawan gugatan Monsanto karena tuduhan paten yang tidak sengaja ia langgar.

Meski bukti menunjukkan benih GMO datang sendiri ke lahannya, ia tetap kalah dan mengalami kerugian besar, termasuk kehilangan varietas kanola yang telah ia kembangkan secara organik selama puluhan tahun.

Monopoli Monsanto juga berdampak pada lingkungan. Produk herbisida mereka, terutama yang berbasis glifosat, memicu lonjakan penggunaan bahan kimia pertanian.

Bahkan setelah mengintegrasikan gen bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) ke dalam tanaman untuk melawan hama, penelitian menemukan bahwa racun ini juga membunuh serangga bermanfaat seperti kupu-kupu dan kumbang.

Ketergantungan pada varietas tunggal hasil rekayasa genetika juga menurunkan keragaman genetik tanaman pangan.

Risiko jangka panjangnya, jika terjadi serangan penyakit atau bencana lingkungan baru, seluruh tanaman GMO seragam ini berpotensi punah sekaligus.

Hilangnya keanekaragaman hayati berarti hilangnya mekanisme alami pertahanan pangan dunia.

Monsanto menggelontorkan ratusan juta dolar untuk riset dan pengembangan GMO.

Ironisnya, angka ini jauh lebih besar daripada dana penelitian untuk penyakit mematikan seperti kanker paru-paru.

Ini menunjukkan prioritas korporasi yang lebih condong ke keuntungan bisnis ketimbang kepentingan publik.

Ekspansi Mosanto dari Benih, Air Hingga Akuakultur

Selama beberapa dekade terakhir, Monsanto, sebuah perusahaan kimia yang kemudian bertransformasi menjadi raksasa bioteknologi, telah memperluas pengaruhnya di sektor pertanian global.

ALSO READ  Sains di Balik Cerita Pengantar Tidur, Mengapa Dongeng Malam Hari Penting untuk Perkembangan Anak?

Awalnya dikenal lewat produk kimia dan rekayasa genetika benih, Monsanto kini memperlihatkan ambisi yang lebih jauh yakni menguasai air, sumber kehidupan manusia paling dasar.

Vandana Shiva dalam artikelnya “Monsanto’s Expanding Monopolies From Seed to Water” menyatakan bahwa sejak pertengahan 1990-an, Monsanto gencar membeli perusahaan benih dan bioteknologi di berbagai negara.

Pada 1996, Monsanto mengakuisisi aset bioteknologi Agracetus (anak perusahaan W.R. Grace) senilai USD150 juta dan Calagene, perusahaan bioteknologi tanaman berbasis California, seharga USD340 juta.

Setahun kemudian, Monsanto membeli Holden Seeds, Sementes Agrocerus (Brasil), dan Asgrow.

Langkah ini berlanjut dengan pembelian operasi benih Cargill seharga USD1,4 miliar, Delta and Pine Land (USD1,82 miliar), Dekalb (USD2,3 miliar), dan bisnis pemuliaan gandum Eropa milik Unilever (USD525 juta).

Di India, Monsanto mengakuisisi Mahyco, E.I.D. Parry, dan Rallis. Strategi agresif ini diakui langsung oleh Jack Kennedy dari Monsanto, “Kami berencana memasuki sektor pertanian India secara besar-besaran. MAHYCO adalah kendaraan yang tepat.”

Langkah-langkah tersebut bukan sekadar konsolidasi benih, melainkan “konsolidasi rantai pangan” menurut Robert Farley dari Monsanto.

Pernyataan ini mengindikasikan strategi jangka panjang untuk menguasai “mata rantai pertama” produksi pangan.

Setelah mendominasi sektor benih, Monsanto melihat peluang bisnis pada air.

Perusahaan menilai krisis air global dan kebijakan privatisasi sebagai pintu masuk bisnis baru.

Dalam dokumen strateginya, Monsanto menyatakan, “Kami percaya perubahan besar (baik kebijakan maupun tren sumber daya) akan terjadi, terutama di sektor air, dan kami akan berada pada posisi menguntungkan ketika perubahan ini terjadi.”

Dengan kata lain, krisis air yang menghantui dunia justru dipandang sebagai peluang ekonomi.

Perusahaan ini menargetkan pendapatan USD420 juta dengan laba bersih USD63 juta pada 2008 dari bisnis air di India dan Meksiko saja.

Strategi Monsanto tidak hanya bergantung pada investasi internal.

Mereka mengeksplorasi pembiayaan non-konvensional dari NGO, Bank Dunia, dan lembaga internasional lainnya untuk menekan modal sendiri.

ALSO READ  Jalan Setapak Pendeta Sitorus Menuju Rumah Ibadah Baru

Dana publik yang sebelumnya dialokasikan untuk proyek air pemerintah diharapkan dapat dialihkan ke proyek komersial Monsanto.

Di India, pemerintah menghabiskan lebih dari USD1,2 miliar untuk proyek air antara 1992–1997, sedangkan Bank Dunia USD900 juta.

Monsanto berusaha menangkap dana tersebut melalui mekanisme baru, termasuk mikrokredit dan kemitraan dengan pemerintah daerah serta LSM.

Air adalah hak asasi yang paling mendasar. Hak atas air berarti hak untuk hidup.

Privatisasi dan komodifikasi air oleh korporasi besar berpotensi mengancam kedaulatan masyarakat, terutama kelompok rentan di pedesaan.

Di India, gerakan masyarakat seperti Pani Panchayat dan Tarun Bharat Sangh telah menunjukkan bahwa pengelolaan air berbasis komunitas adalah cara paling adil untuk menjaga keberlanjutan.

Mengubah air menjadi komoditas pasar berarti menjadikan sumber daya vital sebagai ladang profit.

Kritik ini sejalan dengan pernyataan bahwa mengalihkan barang publik menjadi keuntungan privat adalah bentuk monopoli sumber daya paling ekstrem.

Selain air, Monsanto juga menapaki bisnis akuakultur pada 1999.

Dengan memanfaatkan kemampuan di bidang bioteknologi pertanian dan pakan ikan, Monsanto menargetkan pendapatan USD1,6 miliar dengan laba bersih USD266 juta pada 2008.

Namun, industri ini tidak lepas dari kontroversi. Mahkamah Agung India pernah melarang budidaya udang industri karena dampak ekologisnya yang buruk.

Meski demikian, tekanan industri dan kebijakan global, termasuk privatisasi sumber daya air oleh Bank Dunia, membuka jalan bagi Monsanto untuk memperkuat cengkeramannya.***