Biennale Jogja: Menggali Sejarah Lewat Seni Kulit Pohon

Pakaian kulit kayu Biennale Jogja

Brikolase.com – Kulit pohon sebagai bahan pakaian di masa lalu ditampilkan kembali oleh seniman Mella Jaarsma dan Agustinus Ongge dalam Jogja Biennale 2021, di Jogja National Museum (JNM), D.I. Yogyakarta. Jaarsma adalah seniman kelahiran Emmeloord, Belanda yang menggandeng Agustinus Ongge, seniman asal Papua yang bekerja dengan media kulit pohon sejak tahun 1981 . Tujuannya adalah menggali sejarah peradaban bangsa, terutama Papua.

Kolaborasi Dua Seniman dalam Biennale Jogja

Jaarsma berusaha menangkap unsur-unsur budaya lokal dalam karya seninya. “Sejak dulu saya tertarik dengan apa yang terjadi di Indonesia bagian timur. Pada 2007 lalu, saya bahkan pernah ke Wamena sehubungan dengan kegiatan Jogja Biennale,” kata Mella Jaarsma pada brikolase.com, Minggu (17/10/21).

Saat itu Jaarsma mengumpulkan kurang lebih 150 koteka yang dibawa kembali ke Yogyakarta. Ia kemudian membangun kamar pas, lalu meminta laki-laki Jawa dalam hal ini laki-laki asal Yogyakarta untuk mencoba memakainya.

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki Papua di daerah pegunungan yang terbuat dari labu air (lagenaria siceraria). Sedangkan untuk pakaian perempuannya disebut Sali yang terbuat dari akar pohon. Penduduk yang hidup di bagian pesisir Papua tidak menggunakan Koteka dan Sali tetapi cawat atau pakaian dari bahan kulit pohon.

Baca juga: Estetika Sublim: Seni Ketidak-terbatasan

“Saya tidak bisa melakukan perjalanan ke Papua pada masa pandemi. Akhirnya melalui salah satu teman seniman Papua di Yogya, saya berkenalan dengan Agus Ongge, ayah temannya,” tutur Jaarsma.

Karya Kulit Kayu di Biennale Jogja 2021. Dok. supplied

Saat itu Jaarsma belum tahu, mau membuat karya apa. Ia memperkenalkan karya baju-bajunya sambil memikirkan bagaimana kolaborasi itu dapat berjalan. Yah, ide awalnya ia akan memamerkan karya Agus Ongge apa adanya, yang dibuat bukan untuk kebutuhan tertentu. Ada juga beberapa karya yang dibuat Ongge untuk berkolaborasi yang mana Jaarsma diperbolehkan mengolah karya tersebut menjadi baju.

“Ternyata ruang pameran kurang besar. Akhirnya kami hanya memamerkan karya kolaborasi, tidak ada lukisan kulit kayu karena sudah tidak ada lagi space, selain itu juga karena ukuran karya Ongge cukup besar. Sedangkan yang ada saja sudah cukup ramai di dalam ruangan,” ujar alumnus Pendidikan Seni Rupa di Minerva Academy, Groningen ini.

Sejarah Papua dalam Biennale Jogja

Dari keseluruhan karya kolaborasi yang ditampilkan, bagian yang paling penting adalah video yang berisi penjelasan dari Ongge tentang sejarah kekerasan yang menghancurkan benda-benda seni Papua di masa lampau. Jaarsma menilai bahwa orang yang hidup di Jawa atau wilayah tengah dan barat Indonesia perlu belajar dari orang di Papua, terutama mengenai fungsi kesenian di dalam kehidupan dan bagaimana kesenian juga menjadi bagian dari sejarah.

Awal mulanya, karya seni Papua dimusnahkan pada saat masuknya misionaris (zending) pada awal abad 20 di mana benda-benda tersebut dianggap sebagai berhala. Masyarakat Papua diperkenalkan dengan pakaian modern yang terbuat dari tekstil. Upaya ini sebenarnya masih jauh dari kata berhasil.

Baca juga: Berlomba Memproduksi “Seni Rupa Kontemporer”: Catatan Kritis Booming Seni Rupa 2007-2009

Lalu, seni budaya Papua dimusnahkan lagi pada zaman Soeharto pada tahun 1970an melalui operasi koteka. Dalam operasi ini, Arnold Ap, budayawan sekaligus kurator di Museum Lokabudaya, Universitas Cenderawasih, Jayapura jadi korban pembunuhan militer pada tahun 1984. Ap selama hidupnya memiliki pendekatan kurator yang berbeda dengan memperlakukan benda-benda koleksi di museum yang ia kelola sebagai entitas yang hidup dan bernyawa.

Baju Sebagai Cermin Kekuasaan

Jaarsma tertarik dengan pakaian sebagai bahan karya seninya. “Saya sudah lama bekerja dengan baju dan bentuk baju karena itu adalah budaya material yang mencerminkan perkembangan dalam sejarah,” tutur istri dari seniman Nindityo Adipurnomo ini.

Ia mengambil contoh Aceh di mana orang di sana dilarang memakai pakaian tertentu, juga di beberapa tempat lain. Menurutnya, ini sama seperti pada zaman kolonial karena baju itu cermin dari kekuasaan. Sama seperti ketika pemerintah memaksakan pakaian kepada orang Papua, itu juga bentuk kolonialisme.

Baca juga: Ibu, (Pusat) Energi Kreatif

Ada banyak cerita dan makna di balik baju dan bisa dibongkar. Pakaian dari kulit pohon juga ada di Sulawesi dengan cerita yang sama dengan Papua yaitu saat masuknya zending. Masyarakat lokal harus mengganti bentuknya di mana baju itu harus menutupi tubuh. Bila tidak, baju tersebut dimusnahkan. Padahal, proses membuat baju dari kulit pohon itu juga bagian dari kepercayaan masyarakat lokal yang berhubungan dengan nenek moyang dan leluhur.

Karya seni kulit kayi di Biennale Jogja 2021, JNM
Karya Kulit Kayu di Biennale Jogja 2021. Dok. supplied

“Baju tidak bisa lepas dari struktur sosial maupun struktur politik. Dalam kisahnya, Ongge juga bercerita bahwa sebetulnya lukisan di atas kulit pohon dimulai untuk baju. Ya, untuk tubuh dan juga penutup tubuh saat tidur,” ungkap Jaarsma.

Pelarangan penggunaan baju adat seperti ini dan menggantikannya dengan baju berbahan tekstil dinilai sangat politis. Pada tahun 1980 -1990, di zaman Orde Baru, melukis di atas kulit pohon kemudian menjadi semacam komoditi yang dipamerkan dan dimanfaatkan untuk menjadi identitas nasional.

Kembali ke Fungsi Baju Kulit Kayu

Karya-karya yang dipamerkan Jaarsma dan Ongge di Lantai 3, JNM selama 6 Oktober – 14 November 2021 adalah karya yang pantas diapresiasi. Kemunculan karya ini merupakan langkah penting dalam upaya mengembalikan fungsi awalnya sebagai baju, yang dulunya dilarang.

“Saya baru saja membaca satu artikel dari Tempo. Ada artikel yang mengatakan bahwa orang Papua boleh pakai koteka masuk ke dalam kantor pemerintah. Saya sedikit tidak percaya sebenarnya tapi keterbukaan itu penting,” ujarnya lagi.

Menurut Jaarsma, hal ini penting bagi setiap seniman untuk dapat menghargai seniman lain, yang memiliki cara berkesenian yang berbeda. Dengan demikian banyak pelajaran yang bisa didapat, antara lain ada sejarah paralel antardaerah. Ini penting karena di Indonesia ada anggapan seni rupa Indonesia itu harus seperti ‘ini.’ Padahal itu bohong karena ada beberapa lapisan dalam sejarah.

Contoh paling mudah dimengerti adalah wayang. Peraturan tidak tertulis mengatakan wayang hanya dapat dimainkan oleh orang Jawa saja. Jaarsma menilai ini semacam klaim kebudayaan. Mungkin ini adalah bagian dari klaim identitas nasional yang dilakukan rezim Soeharto. Warga dilarang kritis dan hasil karya budaya hanya untuk inventarisasi budaya daerah demi menciptakan identitas nasional.

Baca juga: Buaya dan Keegoisan Manusia dalam Seni Lukis

“Saya meneliti tentang kulit kayu karena penting bagi sejarah budaya di Indonesia. Hari ini kita lebih banyak mengenal batik, padahal kurang lebih 40.000 tahun lalu orang di Nusantara telah memakai baju dari kulit pohon,” kata pendiri Rumah Seni Cemeti ini.

Jaarsma dengan karyanya di Biennale Jogja 2021. Dok. Aprila Wayar

Jaarsma tidak hanya ingin mengetahui tentang baju dari kulit pohon ini. Ia ingin mengangkat kepercayaan khusus mengenai pohon, tentang proses pembuatan warna yang digunakan, teknik mewarnai serta bentuk dan pola lukisan. Ia ingin mengetahui bagaimana orang Papua melihat posisi seni dalam era modern ini.

Dirinya mengaku banyak belajar dari Ongge, tentang kulit pohon yang selalu berhubungan dengan sejarah. Makna dari kulit pohon itu sendiri penting karena berhubungan dengan kepercayaan lokal.

“Sejak tinggal di Indonesia pada 1980an, saya sudah tertarik melihat kesenian Indonesia yang tidak seragam dan sangat suka keliling dan melihat sesuatu yang berhubungan dengan tradisi. Bukan tradisi mati tapi tradisi hidup dan itu bisa menciptakan nilai lebih dalam hidup. Dalam hidup, kita tidak bisa lepas dari kesenian,” pungkasnya.***

________________________

Penulis: Aprila Wayar
Penyunting: Yongky

Leave a Reply