Fandom Digital dan Zillenial Blues: Membayang-ulang Jadi Fan Kpop

Girlband Kpop, Blackpink

Kpop Sepintas Lalu

Sebelas tahun lalu, 2012, panggung musik dan budaya populer dunia guncang dengan hadirnya seorang penyanyi dan rapper, Park Jae-sang alias PSY yang membawakan Gangnam Style di panggung 40 tahun American Music Awards (AMA). Pembawa acara menyebut PSY sebagai orang Korea yang paling fenomenal, mungkin setelah Kim Jong Un dari Korea Utara. Hadirin pecah dan histeris ketika nama PSY dipanggil dan musik pop tersebut pun mulai melantun ke seantero panggung, ke kursi-kursi para tamu undangan. Penonton yang dominan dari orang kulit putih dan kulit hitam Amerika, meski tak hapal dan tak paham lirik lagu berbahasa Korea, ikut goyang dengan lentur bergaya naik kuda dari PSY sembari meneriakan “Eeeeeeee sexy lady!”. 

Debut PSY dengan Gangnam Style tercatat dalam Guinness World Record sebagai lagu yang paling banyak ditonton di YouTube dalam satu tahun pertama rilis, mengalahkan Baby dari Justin Bieber (Ding dan Zhuang, 2021). Agaknya, ini pertama kali dalam sepanjang sejarah perhelatan AMA orang Asia menghentak panggung dengan musik pop Korea di hadapan orang non-Asia. Debut ini juga yang kemudian menjadi efek domino dalam penyebaran budaya populer Korea mulai dari musik, drama, film, fesyen, skin care, kosmetik, kuliner, dan lainnya. Penyebaran ini tidak hanya pada negara tetangga di Asia, tapi juga seperti kehadiran PSY di panggung bergengsi tersebut, menyebar tak terbendung ke satu planet bumi.

Baca Juga: Mak Beti van Binjai: Konstruksi Subjek Emak-emak dalam Tiga Mini Series YouTube

Beberapa tahun sebelum heboh-heboh Gangnam Style, pertengahan milenium 2000, Kpop musik sudah hadir dan terkenal melalui beberapa boyband dan girlband seperti Super Junior, SHINee, SNSD, Wonder Girls, dan Bigbang. Mereka tidak hanya cantik dan ganteng khas oppa-oppa Korea tetapi juga jago menari, menyanyi, dan berakting. Mereka memiliki fans yang besar dan loyal, tersebar lintas negara dan benua, termasuk di Indonesia.

Jika ditarik lagi ke belakang, dunia per-Kpop-an sudah hadir sejak pertengahan 1990an hingga awal 2000an. Era ini disebut sebagai generasi pertama Kpop di mana dunia idol sudah mulai dibangun, talenta mulai diasah lebih serius, dan kepribadian idol juga dibentuk (Pratiwi, 2023). Pada era ini ada boygroup dan girlgroup seperti G.O.D, Baby V.O.X, S.E.S, dan sebagainya. Meski tidak banyak menari, mereka hadir dengan lagu-lagu yang enak didengar dan relate dengan generasi saat itu. Wajah cantik dan ganteng khas Asia Timur serta postur tubuh yang langsing dan tegap tidak jauh berbeda dengan boyband dan girlband saat ini. Meski mereka hadir di mana internet masih sangat terbatas, tapi lagu-lagu mereka dengan mudah dapat dinikmati sekarang di YouTube. 

Kesuksesan generasi pertama Kpop ini diikuti oleh generasi kedua yakni Super Junior dan teman-temannya. Di masa ini, internet sudah cukup mudah diakses sehingga tidak mengherankan jika Super Junior juga terkenal luas di Eropa dan Amerika. PSY bersama BTS, BLACKPINK, dan lainnya merupakan generasi ketiga yang disebut-sebut sebagai generasi paling populer, paling berpengaruh yang pernah ada. Mereka tidak saja digdaya di Asia, tidak saja menembus pasar musik Amerika dan Eropa, tetapi juga terlibat dalam isu-isu pembangunan kemanusiaan dan kelestarian isi bumi. BTS pernah berbicara di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang anak muda dan pandemi COVID-19 (Hasibuan, 2021). Ada pula BLACKPINK yang menerima penghargaan dari Kerajaan Inggris karena sudah berperan dalam mendorong anak muda untuk semakin peduli dan terlibat dalam konferensi perubahan iklim (CNN Indonesia, 2023).  

Baca Juga: Cerbung Seraphim, Terhempas di Tempat Paling Nista

Pada generasi ketiga, hallyu wave (gelombang budaya Korea) semakin mendunia. Lagu-lagu mereka banyak trending di berbagai platform YouTube, Spotify, top charts music dengan jumlah jutaan penonton atau pendengar hanya dalam waktu sekejap. Keterlibatan aktif mereka di luar musik dan seni juga menjadi poin penting dalam membangun image sebagai global influencer. Ketenaran yang mengglobal ini berkaitan dengan persebaran penggemar yang mengidolakannya secara masif, obsesif, bahkan fanatik. BTS memiliki penggemar Army, BLACKPINK punya Blink, dua dari sekian banyak fandom yang membesarkan dan mendigdayakan Kpop di dunia, pun di Indonesia.

Tak berhenti di situ, sebelum pandemi 2020 lalu, fase generasi keempat pun tumbuh subur seperti Stray Kids, ATEEZ, (G)I-dle, dan seterusnya. Ini adalah generasi paling muda, idol dan fans sama-sama dari generasi zillenial. Mungkin pengaruh mereka belum sefantastis generasi ketiga, namun kehadirannya semakin meneguhkan cengkeraman budaya Kpop kepada penggemar lintas generasi dan zaman. Mereka eksis sejak belum ada internet hingga era artificial intelligence hari ini. 

Di Balik Hubungan Imajiner Menjadi Fans Kpop

Menjadi penggemar Kpop adalah keasyikan yang tiada tara bagi sebagian orang. Ia tidak selalu menyeramkan seperti yang banyak digambarkan oleh media dan peneliti tentang betapa adiksi atau fanatiknya fans Kpop baik di real maupun virtual life. Stereotipe negatif menjadi fan Kpop yang kerap muncul tidak selamanya betul. Mengidolakan Kpop pada level tertentu dapat membawa nilai baik, sebagai contoh mempelajari bahasa dan budaya Korea. Selain itu, ia juga membantu fan untuk memperoleh kepuasaan tertentu dan kenyamanan secara spiritual dalam diri individu maupun dalam komunitas (Ding dan Zhuang, 2021). 

Di media sosial X (dulu Twitter), Indonesia ada banyak fan base Kpop yang aktif menampilkan dan mempromosikan para idol. Mereka menggunakan multi platform untuk mendekati dan berinteraksi dengan fan agar semakin dekat dan akrab. Pun, bagi fan ini adalah kesempatan dan peluang yang tidak mahal untuk bisa menyaksikan dan mengikuti berbagai aktivitas dan karya dari sang idola meski termediasi media. Hubungan fans dan idol ini terus berlangsung membentuk jalinan satu kesatuan yang pada titik tertentu saling membutuhkan. Idol butuh fan, pun fan sebaliknya.

Baca Juga: Budaya Ruang Ketiga dari Homi K. Bhabha

Kajian tentang fan Kpop banyak menggunakan pendekatan parasocial relationship di mana fan dilihat sebagai kumpulan individu yang relasinya kerap bertepuk sebelah tangan terhadap idol yang dikagumi. Dalam relasi ini, antara performer dan spectator terdapat hubungan yang ilusif, hubungan yang seakan-akan, hubungan khayalan semata (Horton dan Wohl, 1956). Relasi ilusif ini awalnya terbentuk karena faktor media massa baru yang memediasi kehadiran dan emosi seperti radio, televisi, dan film. Di dunia fandom hari ini, medium yang memediasi semakin banyak. Ilusi fan terhadap idol pun semakin beragam seiring dengan keterikatan yang terbangun dari waktu ke waktu.

Sementara di sisi sebaliknya, idol cenderung tidak tahu menahu, tidak sadar tentang keterikatan emosional fan yang sudah terbentuk dan menguat terhadap mereka. Ini terjadi karena ketidakhadiran interaksi langsung (lack of real-life interaction) antara fans dan idol sehingga ada banyak yang tidak diketahui dan tidak dialami oleh idol tentang apa yang dirasakan oleh fans. Menariknya, relasi bertepuk sebelah tangan ini justru mampu membangun persepsi dan tindakan fan terhadap sang idola. Misalnya, jika idola peduli dengan krisis iklim maka fan juga melakukan hal yang sama.    

Yang dikhawatirkan dari hubungan ilusif ini ialah cinta buta fan pada idol yang tak bertepi. Ketidakbertepian ini kemudian dimanfaatkan idol untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin baik materi maupun non materi: nonton konser, beli merchandise, standarisasi cantik dan ganteng (rasisme), fanatisme dan echo chamber yang ‘menuhankan’ idol, dan sebagainya. Ingat, bagaimanpun juga ini adalah dunia industri hiburan di mana profit menjadi tujuan utama. Hal ini yang membuat stereotipe negatif pada fan Kpop semakin subur. Alih-alih fan menikmati dengan tenang kesukaan pada idol, justru sebaliknya dicap sebagai komplotan yang halu dan problematik.

Emang boleh se-judgmental itu?

Anak muda, terutama generasi zillenial kerap mendapat pelabelan negatif entah dari masyarakat maupun dari media. Generasi strawberry yang lemah lah, generasi dengan mental issue yang lebay lah, atau generasi yang plin-plan dan tidak bersyukur lah. Beragam stigma ini tidak menyelesaikan masalah justru semakin memperburuk keadaan. Apa yang terjadi tidak dilihat sebagai aib dan kelemahan, justru puncak dari gunung es yang selama ini disimpan dalam-dalam. Keterbukaan gen Z tentang mental issue mestinya didukung penuh agar dapat ditangani lebih awal dan pulih lebih cepat.        

Di tengah tuduhan halu dan problematik, menjadi fan Kpop yang baik-baik saja bukan tidak mungkin. Ada banyak kepatutan lain yang dapat dieksplorasi seperti self-esteem dan self-empowerment dari kerja keras dan kegigihan para idol. Menyukai musik Kpop dapat membawa fan pada situasi mental yang bahagia dan lebih tenang. Belajar menikmati jenis musik dan seni yang berbeda bukanlah perkara receh. Ada penghormatan pada budaya asing dan nilai-nilai baik yang disebarkan oleh idol kepada fan di tengah dunia yang amuk redam, mengglobal, sekaligus ter-hybrid ini.

Kita tidak bisa menghentikan laju Kpop, Tapi kita bisa menentukan akan menjadi fan seperti apa.

Referensi  

CNN Indonesia. (November 2023). BLACKPINK Terima Penghargaan dari Kerajaan Inggris. URL: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20231122204844-234-1027752/blackpink-terima-penghargaan-dari-kerajaan-inggris. Diakses 20 Desember 2023.

Ding, Yuxuan dan Zhuang, Xiaonan. 2021. Why chasing Kpop? Is fandom truely crazy? The motivations and behaviors of Kpop fans. Proceeding. 3rd International Conference on Educational Reform, Management Science and Sociology (ERMSS 2021). 

Donald Horton & R. Richard Wohl (1956) Mass Communication and Para-Social Interaction, Psychiatry, 19:3, 215-229, DOI: 10.1080/00332747.1956.11023049

Hasibuan, Linda. (September 2021). Tampil Lagi di Sidang PBB, Omongan BTS Ini Bikin Terharu. URL: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20210921123945-33-277921/tampil-lagi-di-sidang-pbb-omongan-bts-ini-bikin-terharu. Diakses 20 Desember 2023.

Pratiwi, Ratna. (April 2023). Mengenal Empat Generasi K-Pop. URL: https://validnews.id/catatan-valid/mengenal-empat-generasi-k-pop. Diakses 20 Desember 2023.

Penulis: Adek Dedees
Penyunting: Yongky Gigih P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *