Brikolase.com – Di tengah hiruk-pikuk seni kontemporer yang kian cepat bertransformasi, satu fenomena mencuri perhatian yakni kembalinya estetika lokal dan unsur budaya tradisional ke panggung global.
Kita melihat karya-karya dengan sentuhan batik, tenun, ritus leluhur, dan simbol adat tampil memikat di galeri-galeri dari Jakarta hingga Berlin, dari Biennale di Venesia hingga art fair di New York.
Fenomena ini disebut neo-indigenisme, sebuah gerakan yang secara sadar mengangkat warisan budaya lokal ke dalam praktik seni kontemporer.
Namun di balik semarak perayaan itu, muncul pertanyaan besar, “Benarkah ini bentuk penghormatan, atau justru eksotisme yang dibungkus dalam kemasan progresif?”
Neo-Indigenisme: Budaya Lokal Jadi Komoditas
Banyak karya yang menggabungkan simbol-simbol tradisional dalam bentuk modern, motif ukiran etnik di atas kanvas kontemporer, instalasi seni dari kain tenun, hingga lukisan wajah tokoh adat dalam warna-warna avant-garde. Namun bagaimana proses di baliknya?
Tak sedikit karya yang lahir dari riset singkat, perjalanan artistik selama beberapa minggu ke pedalaman, lalu dikemas dan dijual mahal di pasar seni internasional.
Sementara komunitas yang budayanya dijadikan sumber inspirasi justru tidak dilibatkan, apalagi mendapat keuntungan.
Budaya lokal, dalam konteks ini, berisiko berubah menjadi ‘mata uang simbolik’ yang eksklusif, eksotik, dan autentik, tapi hanya sebagai barang dagangan.
Dalam banyak kasus, ini tidak lagi soal ekspresi komunitas, melainkan soal selera pasar global yang haus akan “keunikan yang bisa dijual”.
Ironisnya, tren ini juga memengaruhi seniman lokal. Tak sedikit yang mulai memproduksi karya ‘beraroma lokal’ demi menarik pasar internasional.
Di sinilah muncul istilah self-exoticism, ketika seniman justru menjual identitasnya sendiri dalam versi yang dapat diterima dunia global.
Simbol budaya dijadikan atribut visual, terlepas dari konteks spiritual, sosial, atau filosofisnya. Padahal, dalam banyak kebudayaan, seni tidak bisa dilepaskan dari ritus, nilai hidup, dan hubungan antarmanusia.
Seni Perjuangkan Identitas dan Hak Budaya
Meski demikian, tidak semua praktik neo-indigenisme bersifat dangkal. Ada seniman yang betul-betul membangun hubungan dengan komunitas, merekam trauma kolektif, memperjuangkan hak budaya, dan menggunakan seni sebagai alat pemberdayaan.
Seni seperti ini bukan sekadar tampilan, tapi jembatan yang menyambungkan sejarah, ingatan, dan perjuangan.
Inilah bentuk neo-indigenisme yang sehat, yang tidak berhenti pada estetika, tapi menyentuh etika dan keberpihakan. Ia menghormati budaya bukan dengan mengutip, melainkan dengan menyerap dan merawat makna yang dikandungnya.
Di Indonesia, tren ini juga berkembang. Banyak seniman muda kini mengangkat tema spiritualitas lokal, mitologi Nusantara, hingga narasi adat.
Ini tentu menggembirakan sebagai bentuk pemulihan identitas dan perlawanan terhadap budaya pop global.
Namun, tetap ada kekhawatiran ketika elemen-elemen budaya hanya digunakan sebagai tempelan, tanpa upaya mendalami nilai-nilai yang menghidupinya.
Misalnya, penggunaan batik atau tenun dalam instalasi, tapi tanpa pemahaman tentang makna simbolik atau teknik pewarisan budaya tersebut.
Satu pertanyaan penting, “Siapa yang mengatur narasi dalam dunia seni hari ini?” Dalam banyak kasus, galeri, kurator, dan kolektor besar masih berasal dari negara-negara maju.
Mereka menentukan tema pameran, dan sering kali hanya memberi ruang bagi “suara-suara pinggiran” jika sesuai dengan selera keberagaman global yang bisa dipasarkan.
Inilah jebakan dari quotable exoticism, budaya lokal yang hanya dijadikan hiasan dalam narasi besar, tanpa benar-benar diberi kuasa untuk mendefinisikan ulang peta kekuasaan dalam seni.
Menuju Seni yang Dekolonial
Apa yang dibutuhkan hari ini adalah pendekatan dekolonial dalam praktik artistik. Bukan hanya mengangkat simbol lokal, tetapi juga menantang sistem distribusi dan representasi seni yang timpang.
Ini berarti memberi ruang bagi komunitas adat untuk bicara atas nama mereka sendiri, dan bagi seniman lokal untuk menjadi kurator dari pengalaman budayanya, bukan sekadar subjek yang dikurasi.
Seni tidak lagi dilihat sebagai hasil karya individu jenius semata, tetapi sebagai proses kolektif yang lahir dari relasi sosial dan sejarah.
Kita perlu membedakan antara penggunaan budaya dan penghormatan budaya. Yang pertama bersifat estetis dan eksploitatif; yang kedua lahir dari relasi mendalam, penghargaan atas sejarah, dan keterlibatan nyata.
Sebuah karya seni boleh jadi menggunakan unsur budaya lokal. Namun jika tak memperkuat posisi komunitas budaya yang bersangkutan, maka karya itu hanyalah bentuk lain dari estetisasi budaya yang miskin etika.
Neo-indigenisme seharusnya menjadi ruang bagi pemulihan ingatan, kritik atas kolonialisme lama dan baru, serta jalan untuk menata ulang hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Ia bukan sekadar ornamen dalam galeri putih, tetapi kekuatan simbolik yang menghidupkan kembali jantung budaya komunitas yang selama ini dibungkam.
Apakah kita sedang menyuarakan budaya atau hanya menjualnya kembali dengan kemasan yang lebih artistik? Apakah seni kontemporer telah menjadi ruang pembebasan, atau hanya panggung baru bagi reproduksi kekuasaan lama?***
Bacaan terkait

Pegiat pada Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”. Email: tarcishendricus@gmail.com.

