Tangan Kekuasaan, Bongkar Relasi Kuasa Kurator-Pemerintah di Balik Pembatalan Pameran Lukisan Yos Suprapto

Seniman Yos Suprapto (Facebook Yos Suprapto)

Brikolase.com – Pameran tunggal Yos Suprapto yang bertajuk “Kebangkitan Tanah dan Kedaulatan Pangan” batal digelar di Galeri Nasional (Galnas) pada 19 Desember 2024.

Pameran ini menjadi sorotan karena lima karya Yos dinilai vulgar dan tidak relevan dengan tema oleh kurator, sehingga memicu perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan sensor dalam dunia seni.

Menurut Yos Suprapto, pembatalan ini bermula dari keputusan pihak Galeri Nasional dan kurator Suwarno Wisetrotomo yang menilai bahwa beberapa lukisan tidak sesuai dengan tema pameran.

“Terdapat 2 karya yang menggambarkan opini seniman tentang praktek kekuasaan. Saya sampaikan kepada seniman, bahwa karya tersebut tidak sejalan dengan tema kuratorial, dan berpotensi merusak fokus terhadap pesan yang sangat kuat dan bagus dari tema pameran.

Menurut pendapat saya, dua karya tersebut ‘terdengar’ seperti makian semata, terlalu vulgar, sehingga kehilangan metafora yang merupakan salah satu kekuatan utama seni dalam menyampaikan perspektifnya,” kata Suwarno dalam pernyataan tertulis.

Ternyata yang dianggap bermasalah bukan hanya dua lukisan, tetapi kemudian tiga lukisan lain juga diminta tak dipajang.

“Pada tanggal 17 Desember, dua lukisan saya disensor dan ditutupi kain hitam atas permintaan kurator. Namun, pada tanggal 19 Desember, tiga lukisan lain juga diminta untuk diturunkan.

Padahal lukisan-lukisan ini menggambarkan petani yang memberi makan orang kaya dan ilustrasi tentang kedaulatan pangan,” ujar Yos dalam jumpa pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Sabtu 21 Desember 2024.

Lukisan berjudul Niscaya, karya Yos Suprapto
Lukisan berjudul Niscaya, karya Yos Suprapto

Yos merasa bingung karena kurator tidak pernah memberikan peringatan sebelumnya terkait karya yang dianggap vulgar.

“Kurator tiga kali datang ke rumah, tapi tidak pernah menyatakan bahwa lukisan ini tidak layak dipamerkan,” jelasnya.

Pameran seni ini membawa isu penting tentang kedaulatan pangan dan kritik terhadap dominasi ekonomi oleh kekuatan asing.

Lukisan-lukisan Yos merupakan hasil penelitian ilmiah yang menggambarkan kondisi tanah pertanian di Indonesia yang semakin tidak produktif akibat ketergantungan pada pupuk kimia.

“Tanah-tanah dari 38 provinsi yang saya teliti di laboratorium menunjukkan bahwa pupuk subsidi dari pemerintah justru membuat tanah kita tandus.

Ini adalah bentuk penjajahan ekonomi,” kata Yos.

Dalam beberapa karyanya, Yos menggambarkan figur penguasa dengan kaki yang bertumpu di punggung rakyat kecil, sebagai simbol ketimpangan sosial dan ekonomi.

“Kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari kedaulatan pangan. Kalau penguasa tidak berpihak pada petani, maka kedaulatan pangan hanya omong kosong,” tegasnya.

Salah satu lukisan yang memicu kontroversi adalah “Konoha”, yang menampilkan sosok telanjang dengan orang-orang yang saling menjilat, yang melambangkan budaya “jilat pantat” dalam hierarki kekuasaan.

Lukisan Konoha II karya Yos Suprapto
Lukisan Konoha II karya Yos Suprapto

“Telanjang dalam seni itu adalah simbol kejujuran dan kepolosan. Tapi jika orang melihatnya dengan pikiran mesum, itu mencerminkan isi kepala mereka,” ujar Yos.

ALSO READ  Siapa Seniman Maurizio Cattelan? Karyanya Pisang ‘Comedian’ Tembus Harga 98 Miliar

Baca juga: Kritik Tajam, Begini Duduk Perkara Pembatalan Pameran Yos Suprapto

Tangan Kekuasaan di Balik Pembatalan

Yos menilai bahwa pembatalan pameran ini tidak lepas dari tekanan politik.

Ia menyebutkan adanya laporan dari Zamrud Setya Nugraha selaku Ketua Tim Kuratorial dan Pameran dari Indonesian Heritage Agency (IHA) kepada Wakil Menteri (Wamen) Kebudayaan, Giring, yang kemudian diteruskan kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.

“Jadi itu laporan subjektif ya yang dilaporkan oleh orang namanya Zamrud itu ke Wamen dan itu ditelan mentah-mentah tanpa melihat dan menanyakan lukisan yang mana yang coba, tak lihatnya.

Dia kan bisa nanti tanya jawab ke saya dan saya bisa memberikan penjelasan. Ini heboh enggak ngerti saya. Ini apa ada apa? terus mau bermain kekuasaan lagi, represif atau hanya menunjukkan ini loh aku bermain kekuasaan,” kata Yos, dikutip dari kanal YouTube Jakartanicus.

Perihal lukisan yang dinilai vulgar oleh kurator Suwarno, pihak galeri menekankan perlu adanya edukasi dengan unsur kepatutan.

“Kami menempatkan lembaga ini lembaga publik yang juga mengedukasi. Nah mungkin ada beberapa argumen kuat dari kurator yang juga mungkin menjadi pesan dari Galeri Nasional Indonesia.

Ini adalah lembaga publik yang dalam proses dan progresnya edukasi melalui seni gitu. Tentunya di sana ada kepatutan, kita tahu kita menjaga bersama, bagaimana Galnas untuk tetap melaju dengan baik, ini milik semuanya.

Kepatutan itu menjadi sebuah hal yang yang menjadi  salah satu pilihan dari kurator terkait dengan tema besar ini,” kata Zamrud pada awak media, Jumat, 20 Desember 2024.

Sementara Yos tetap mempertahankan pendiriannya untuk memajang lukisan yang tak disetujui oleh kurator.

“Karena tidak ada kesepahaman yang berhasil dicapai, saya menyampaikan kepada seniman, disaksikan oleh rekan-rekan Galeri Nasional Indonesia bahwa, meski saya menghargai pendirian seniman, namun saya tetap memutuskan mundur sebagai kurator pameran, suatu niatan yang pertama kali saya sampaikan kepada seniman pada tanggal 16 Desember 2024,” ujar Suwarno, yang juga berprofesi dosen ISI Yogyakarta.

Kurator Suwarno Wisetrotomo

Yos menyatakan bahwa Suwarno tidak memiliki kewenangan untuk melarang atau memberedel karya seni.

“Kurator itu pendamping seniman, bukan penguasa karya. Dia tidak bisa mendikte seniman,” jelas Yos.

Yos turut mengungkap ada hubungan kurator dengan pemerintah yang melaporkan beberapa lukisannya ke pejabat Kementerian Kebudayaan.

“Nah, Konoha II ini, itu bercerita tentang kita hancur lebur ini karena ada budaya yang namanya hyperindividu, dan hyperindividu menghasilkan sikap mental budaya jilat pantat itu.

ALSO READ  Selamat Makan Malam Ay Tjoe

Asal bapak senang, dan itu saya gambarkan secara eksplisit, ya, figur-figur yang saling menjilat. Nah, rupanya itu oleh kurator dilaporkan kepada Pak Wamen, dilaporkan kepada Pak Sekjen, Pak Dirjen, ya,” kata Yos.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengakui bahwa dia mengetahui masalah pameran Yos Suprapto dari wakil menterinya.

“Saya mendapat kabar juga baru tadi pagi bersama Pak Wamen, memang tidak ada kesepakatan dengan kuratornya.

Jadi biasa dalam pameran itu harus ada kurator. Kemudian kesepakatannya tema tertentu, kalau tidak salah tentang kedaulatan pangan ya, tetapi ada sejumlah lukisan itu kabarnya dipasang sendiri oleh sang seniman dan lukisan-lukisan itu tidak ada kaitannya dengan soal kedaulatan pangan,” ujar Fadli Zon di Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Desember 2024.

Fadli Zon juga menyebut ada karya lukisan Yos yang memiliki muatan politik.

“Mungkin ada motif-motif politik yang lain, akhirnya kuratornya mundur. Karena kuratornya mengundurkan diri. Ya tidak mungkin ada pameran tanpa ada kurator,” imbuhnya.

Senada dengan kurator Suwarno, Fadli Zon turut menyebut ada lukisan Suwarno yang vulgar dan menggambarkan sosok yang telanjang.

“Bahkan agak vulgar, misalnya ada satu lukisan, ya saya juga menerima gambarnya, itu orang yang sedang telanjang, bersenggama, dan memakai topi yang punya ciri budaya tertentu, seperti topi raja Mataram, atau raja Jawa dan sebagainya. Itu kan bisa menyinggung orang lain,” ungkap Fadli Zon.

Yos turut mengakui bahwa lukisannya, Niscaya, tersebut menggambarkan tokoh mirip Mulyono yang merujuk pada nama kecil Jokowi.

“Mulyono di situ saya gambarkan sebagai seorang petani yang memberi makan orang kaya. Loh ini fakta kok. Petani itu kan produsen pangan dan yang makan siapa? Apakah petani sendiri?

Dia memberikan makan kepada kita semua loh. Kok itu malah dibredel, disuruh menurunkan. Itu apa, apa hanya karena wajahnya seperti Mulyono,” ungkap Yos.

Yos juga menyebutkan bahwa penggunaan simbol raja dalam lukisannya bukan bermotif politik tapi kritik terhadap kekuasaan dan kondisi sosial politik di Indonesia.

“Untuk menyimbolkan bahwa figur itu adalah figur penguasa, saya menggunakan simbol kekuasaan dong. Penguasa kalau hanya kopiahnya pak ustaz, belum tentu dia seorang penguasa kan? Itu mahkota raja yang saya pakai,” kata Yos.

Meski menyinggung kekuasaan, Yos menegaskan bahwa dia tidak ingin bermain politik praktis melalui karyanya.

“Enggak ada tendensi politik apa-apa, itu adalah ungkapan kesenian saya sebagai saksi sejarah. Saya sebagai anggota masyarakat kontemporer seperti sekarang ya apa yang sekarang terjadi itu yang menjadi ungkapan ekspresi saya.

ALSO READ  Budaya Lokal sebagai Sumber Kreasi Seni

Apakah saya berdosa mengatakan segala sesuatunya dengan jujur?

Makanya saya katakan karya seni harus di dilihat dengan bahasa seni, selama itu tidak dilakukan, enggak akan bakal ketemu.

Bahasa seni enggak bisa diterjemahkan di dalam bahasa politik. Saya sudah katakan ke (kurator) Warno bahwa saya tidak ingin politik praktis itu dan dia tahu itu. Lah kok sekarang dia memainkan politik praktis. Kan aneh itu,” kata Yos.

Yos juga mengkritik Galeri Nasional yang dianggap menuruti tekanan eksternal.

“Galeri Nasional dikunci sejak 19 Desember. Kalau itu bukan pemberedelan, lalu apa?” ujarnya.

LBH Jakarta yang mendampingi Yos juga menyoroti keterlibatan pemerintah dalam pembatalan pameran ini.

“Negara berperan aktif ya dalam melakukan pelanggaran hak asasi manusia (kebebasan berekspresi Yos). Direktur Galeri Nasional merupakan pejabat dari badan publik yang berada di bawah museum dan cagar budaya di bawah Kementerian Kebudayaan.

Dalam komunikasi yang dilakukan, atau rilis-rilis dan statement-statement yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan seakan-akan resisten terhadap berjalannya pameran dan menganggap salah satu karya dalam lukisan adalah bentuk tindakan asusila yang ditafsirkan sebagai sosok salah satu tokoh nasional sehingga beliau mewajarkan pameran tunggal tersebut tidak jadi diadakan,” ujar Alif Fauzi Nurwidiastomo, pengacara publik dari LBH Jakarta.

Kasus pembatalan pameran Yos Suprapto memang tidak dilakukan oleh aktor tunggal dengan instruksi yang jelas, tetapi relasi kuasa antara kurator, pihak Galeri Nasional dan pejabat Kementerian Kebudayaan dengan seniman menjadi faktor kompleks yang tak memungkinkan pameran lukisan Yos digelar.

Setiap aktor berperan dalam serangkaian kejadian hingga batalnya pameran Yos di Galeri Nasional mulai dari Kurator Suwarno yang mundur jelang pembukaan pameran dan menjadi sebab pihak Galeri Nasional tak bisa menggelar pameran seni tanpa kurator.

Sementara pihak Galeri Nasional menekankan kepatutan dan edukasi melalui seni yang membuat beberapa karya Yos minta diturunkan.

Sedangkan Menteri Kebudayaan yang sedianya membuka pameran Yos menyebut lukisan sang seniman bermuatan politik dan vulgar yang menunjukkan sikap tak berkenan.

Di sisi lain, seniman Yos Suprapto tampak sendirian mempertahankan pendiriannya untuk memamerkan lukisan-lukisannya namun tak cukup kuat untuk menggagalkan pembatalan pamerannya di Galeri Nasional.***