Brikolase.com – Lukisan Yos Suprapto mengandung kritik yang tajam tentang kondisi sosial politik di Indonesia.
Beberapa lukisannya bahkan dinilai vulgar oleh kurator Suwarno Wisetrotomo.
Alhasil, pameran tunggal lukisannya batal yang sedianya digelar di Galeri Nasional pada 19 Desember 2024.
Beberapa lukisan karya Yos yang dinilai vulgar dan kontroversial berjudul Konoha I dan Konoha II.
Lukisan Konoha karya Yos Suprapto bukan sekadar karya seni rupa biasa.
Baca juga: Kritik Tajam, Begini Duduk Perkara Batalnya Pameran Yos Suprapto di Galeri Nasional
Dalam setiap lekuk garis dan simbol yang dituangkan, Yos menghidupkan narasi panjang tentang kekuasaan, kebohongan, dan ketidakadilan yang masih terasa hingga kini.
Sebagai seorang seniman yang juga mantan eksil politik (peristiwa Malari) selama lebih dari dua dekade, Yos Suprapto membawa pengalaman hidup dan sejarah bangsa ke dalam kanvasnya.
Salah satu lukisan yang banyak menuai perhatian adalah “Konoha,” yang menggambarkan sosok penguasa bertopi mahkota, namun dipenuhi simbol-simbol ketimpangan dan penderitaan rakyat di bawahnya.
Yos Suprapto menjelaskan bahwa penggunaan topi dalam lukisannya bukan sekadar elemen estetika.
Baginya, topi adalah representasi simbol kekuasaan. “Kalau hanya kopiah, itu ustaz. Tapi kalau mahkota, itu raja,” ujar Yos, dikutip dari kanal YouTube Jakartanicus.

Pilihan untuk menggunakan bentuk topi yang menyerupai mahkota menunjukkan figur seorang penguasa, tetapi tetap memiliki nuansa rakyat biasa.
“Garis-garisnya mengikuti lekuk dan kontur yang kaku, menyesuaikan estetika seni yang saya pegang. Keharmonisan dalam lukisan itu penting.
Sama seperti hubungan cinta, kalau bertabrakan, tidak akan tercipta keseimbangan,” lanjutnya.
Lukisan ini juga tidak terlepas dari refleksi Yos terhadap peristiwa pembantaian 1965 yang menimbulkan trauma mendalam bagi bangsa Indonesia.
Yos percaya bahwa tragedi tersebut menciptakan budaya kebohongan yang masih mengakar hingga saat ini.
“Setelah 1965, kebohongan menjadi kultur. Orang harus berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan mengkhianati saudara.
Ini yang saya gambarkan dalam lukisan. Lihat, figur di atas makan anggur dan minum wine, sementara yang di bawah hanya mendapat remah-remahnya.
Ada rakyat kecil yang berteriak, tapi tidak digubris. Yang di bawah menjilat pantat penguasa agar bisa naik ke atas. Itu realitas sosial kita,” imbuh Yos.
Salah satu elemen mencolok dalam lukisan ini adalah keberadaan simbol mata satu di bagian atas, yang oleh Yos disebut sebagai representasi kebohongan besar dalam kekuasaan.
“Itu simbol Dajjal, penipu yang menyelewengkan ajaran Tuhan.
Penguasa yang hanya menjual kebohongan untuk menguntungkan dirinya sendiri,” tegas Yos.
Dalam lukisan “Konoha,” Yos juga menyoroti bagaimana kekuasaan sering kali dipertahankan dengan cara menindas rakyat kecil.
Sosok raja dalam lukisan tersebut berdiri di atas kepala rakyat, dengan ekspresi kesakitan namun tetap dipaksa untuk menopang beban kekuasaan.
“Penguasa itu berdiri di atas pundak rakyat. Siapa yang bayar pajak? Siapa yang menopang kehidupan mereka? Rakyat kecil,” ujar Yos.
Ia meyakini bahwa korupsi dan ketidakadilan di negeri ini sulit dihapuskan selama budaya ‘hyper individu’ dan kehilangan solidaritas masih merajalela.
Lukisan ini sempat menjadi sorotan dan memicu kontroversi, terutama ketika beberapa pihak meminta agar lukisan tersebut diturunkan dari pameran.
Tuduhan bahwa lukisan ini mengandung unsur mesum ditepis keras oleh Yos.

“Mana ada lukisan persetubuhan? Ini hanya interpretasi subjektif yang salah. Orang yang tidak paham simbol seni bisa salah kaprah,” jelasnya.
Yos juga merasa heran dengan sensor yang muncul mendadak, padahal lukisan tersebut telah dipajang dan dilihat kurator sejak awal.
“Warno, kuratornya, sudah lihat dari awal. Kok tiba-tiba mendekati pameran, baru dikomplain?” tuturnya.
“Konoha” adalah refleksi panjang dari perjalanan bangsa, trauma sejarah, dan kritik tajam terhadap kekuasaan yang menyimpang.
Lewat lukisan ini, Yos Suprapto bukan hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya kejujuran, solidaritas, dan semangat gotong royong yang mulai pudar.
Sebagai saksi sejarah dan seniman yang setia pada nurani.
“Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat dan rasakan. Ini ungkapan seni, bukan politik praktis. Kesenian harus tetap jujur,” tegas Yos.***
Bacaan terkait
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

