Perusahaan Raksasa Teknologi Picu Dunia Tanpa Pikiran, Kritik Pedas terhadap Google, Facebook, dan Amazon dari Franklin Foer

Brikolase.com – Buku World Without Mind atau Dunia Tanpa Pikiran karya Franklin Foer adalah alarm keras bagi siapa pun yang masih mempercayai janji-janji muluk dari perusahaan teknologi raksasa.

Lewat penelusuran tajam dan pengalaman pribadi, Foer membongkar bagaimana Google, Facebook, dan Amazon telah menggerogoti ekonomi informasi, membentuk budaya konformitas, dan merusak nilai-nilai demokrasi.

Silicon Valley: Penyelamat atau Penghancur?

Menurut Kent Anderson di laman The Scholarly Kitchen, Foer menyoroti ironi besar di balik klaim idealis Silicon Valley.

Google yang katanya ingin “mengorganisir informasi dunia” ternyata menyimpannya untuk kepentingan iklan.

Facebook yang mengaku ingin menyatukan dunia malah membentuk “pikiran sarang lebah” yang hanya memantulkan opini mayoritas dan menghukum pandangan berbeda.

Sementara Amazon, dalam ambisinya menyajikan segalanya secara murah dan cepat, dinilai telah meremehkan nilai pengetahuan dan tradisi intelektual yang memerlukan waktu dan biaya.

Foer menilai Facebook menciptakan dua pikiran kolektif, masing-masing dengan ratu lebah, yang mendorong keseragaman berpikir dan menekan perbedaan.

Foer tidak menulis dari luar pagar. Ia adalah korban langsung transformasi brutal media oleh teknologi.

Ben Tarnoff dalam The Guardian menceritakan sosok Foer di dunia media.

Ketika kembali memimpin The New Republic di bawah kepemilikan Chris Hughes (co-founder Facebook), Foer menyaksikan sendiri perubahan nilai media: dari kualitas tulisan menjadi jumlah klik.

Ia akhirnya mundur karena tak sanggup menghadapi tekanan model bisnis ala Silicon Valley yang menghancurkan nilai jurnalisme sejati.

Ekonomi Informasi dalam Demokrasi

Menurut Foer, hak cipta dan langganan, yang dahulu mendemokratisasi informasi, kini justru dilumpuhkan oleh gerakan yang didanai perusahaan teknologi.

Ia mengkritik inisiatif seperti Creative Commons yang disebutnya sebagai alat Google untuk melemahkan hak cipta, agar konten gratis melimpah dan iklan mereka tetap berjalan lancar.

ALSO READ  Doktor Raygun Dapat Nilai 0 di Cabor Breakdance Olimpiade Paris 2024, Orang Kulit Putih ‘Mainkan’ Budaya Kulit Hitam

Menurut Foer, Creative Commons dibuat oleh Google dan lainnya untuk melumpuhkan hak cipta. Padahal, hak cipta adalah penopang demokratisasi informasi.

Data kini disamakan dengan minyak, berharga, tak habis, namun eksklusif.

Google, dengan rekam jejak pencarian historis (search engine) yang tak tertandingi, memiliki kekuatan monopoli yang tak tergoyahkan.

Facebook dan Google menyetir opini publik lewat algoritma yang tak transparan, menekan kebebasan berpikir, dan mengabaikan norma-norma sipil.

Meski terdengar muram, Foer tetap menyalakan lilin harapan.

Kenaikan langganan media pasca-pemilu AS dan meningkatnya kesadaran publik akan konsumsi informasi yang sehat, menurutnya, adalah tanda positif.

Ia percaya, seperti halnya tren makanan organik, akan muncul tren “makanan informasi sehat”.

Foer berharap jika kita peduli dengan apa yang kita makan, kita bisa diajak peduli juga dengan apa yang kita konsumsi lewat pikiran.

Dunia Tanpa Pikiran adalah bacaan penting untuk siapa pun yang hidup di era digital.

Buku ini tidak hanya mengungkap kejanggalan dan kepalsuan dunia teknologi, tapi juga mengajak kita untuk kembali mengkritisi apa yang kita baca, tonton, dan percaya.

Ini adalah panggilan untuk berpikir mandiri, melindungi informasi, dan memperjuangkan demokrasi dalam ekosistem digital yang kian berbahaya.****