Brikolase.com – Pontianak, Kalimantan Barat. Nama kota ini langsung mengingatkan kita pada sosok hantu paling ikonis di Nusantara: Kuntilanak.
Tapi tahukah Anda, bagi masyarakat Melayu Pontianak, Kuntilanak bukan sekadar hantu penakut dalam film.
Ia adalah bagian tak terpisahkan dari mitos pendirian kota itu sendiri, simbol alam liar yang harus ditaklukkan untuk memberi jalan bagi peradaban Islam Melayu yang modern, masyarakat madani.
Dalam risetnya Kuntilanak: Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia, antropolog asal Jerman, Timo Duile mengungkap kisahnya bermula di pertengahan abad ke-18.
Syarif Abdurrahim, seorang bangsawan keturunan Arab, tiba di pertemuan Sungai Kapuas dan Landak – lokasi strategis untuk perdagangan, namun dikuasai perompak dan diselimuti hutan rawa lebat.
Yang lebih menakutkan, konon tempat itu adalah domain Kuntilanak.
Suara-suara mengerikan dan penampakan hantu wanita bergaun putih mengganggu rombongan Syarif.
Masyarakat setempat percaya, Kuntilanak adalah “penunggu” asli wilayah itu, bersemayam di bawah pohon-pohon tinggi (pohon tinggi, yang diduga menjadi asal nama “Pontianak”).
Untuk mendirikan pemukiman, Syarif Abdurrahim harus “membersihkan” wilayah itu. Caranya? Dengan menembakkan meriam.
Dentuman meriam yang menggelegar, dalam narasi yang diwariskan turun-temurun, berhasil mengusir Kuntilanak dari tanah kelahirannya.
Pohon-pohon tinggi tempatnya bersemayam ditebang.
Kayunya digunakan untuk membangun Masjid Jami dan Istana Kadriyah, pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak yang baru.
Wilayah liar berubah menjadi pusat peradaban Melayu-Islam yang kosmopolitan. Kuntilanak menjadi korban pertama “pembangunan”.
Namun, pengusiran ini bukan akhir cerita. Kuntilanak tidak musnah.
Ia hanya dipindahkan dan diusir ke pendalaman Kalimantan, ke hutan-hutan belantara yang menjadi simbol alam liar, keterbelakangan, dan segala yang “bukan Melayu”.
Inilah inti dari “modernitas Melayu” di Pontianak: sebuah peradaban yang mendefinisikan dirinya dengan menciptakan “liyan” (the Other). Modernitas ini dibangun di atas dikotomi tegas:
1. Pesisir (Pantai) vs Pendalaman
Kota Pontianak (beradab, Islam, maju) vs hutan pedalaman (primitif, berbahaya).
2. Budaya vs Alam
Masyarakat madani yang tertata vs alam liar yang mengancam, diwakili Kuntilanak.
3. Rasionalitas/Agama vs Keterbelakangan Animisme
Islam dan kemajuan vs kepercayaan tradisional yang dianggap irasional.
Kuntilanak, dalam mitos ini, menjadi penjelmaan trauma atas penaklukan alam.
Ia adalah harga yang harus dibayar untuk konsepsi alam sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, dikendalikan, dan dimanfaatkan, semangat “pencerahan” dalam arti luas, mirip dengan yang diungkapkan filsuf Mazhab Frankfurt, Horkheimer dan Adorno.
Syarif Abdurrahim dengan meriamnya (simbol teknologi/kekuatan) dan Islam (simbol agama rasional) melakukan “disenchantment” (hilangnya pesona dunia), menghilangkan kesakralan alam dengan mengusir roh penunggunya.
Kontras dengan Dunia Dayak: Penunggu yang Berdialog
Persepsi tentang roh penunggu tempat di kalangan masyarakat Dayak pedalaman Kalimantan Barat sungguh berbeda.
Bagi mereka, roh-roh ini bukan entitas jahat seperti Kuntilanak.
Penunggu adalah penghuni asli tempat-tempat tertentu, sungai, pertemuan sungai, pohon besar, batu.
Mereka adalah makhluk sosial yang bisa berkomunikasi dengan manusia melalui mimpi, ritual, atau perantaraan dukun (shaman).
Hubungan manusia-Dayak dengan penunggu bersifat resiprokal (timbal balik) dan mimetis (peniruan).
Sebelum menebang pohon besar atau membuka ladang baru, ritual dilakukan untuk meminta izin sang penunggu.
Jika penunggu menolak (sinyalnya bisa berupa kemunculan hewan tertentu atau mimpi), masyarakat akan mencari tempat lain atau melakukan ritual memindahkan roh tersebut.
Jika diizinkan, mereka akan menjaga hubungan baik dengan sesaji dan penghormatan agar penunggu melindungi ladang dari hama.
Alam dan roh bukan musuh, tetapi mitra yang perlu diajak bernegosiasi. Kekerasan seperti pengusiran dengan meriam bukanlah jalannya.
Kuntilanak dalam Budaya Pop: Ketakutan yang Menghantui Modernitas
Mitos pendirian Pontianak ini menjadi benang merah dalam berbagai narasi Kuntilanak.
Dalam cerita rakyat Melayu dan film horor Indonesia/Malaysia/Singapura yang sangat populer, Kuntilanak selalu dikaitkan dengan alam liar (hutan, pohon besar, tempat terpencil), kematian tragis (karena perkosaan atau melahirkan), dan ketakutan terhadap femininitas yang tak terkendali (menghisap darah, tertawa melengking, menggoda lelaki).
Film seperti Kuntilanak (2006) atau Return to Pontianak (2001) sering menampilkan kota modern (seperti Jakarta atau Singapura) yang karakternya terjebak dalam horor ketika memasuki wilayah “liar” tempat Kuntilanak berdiam.
Ketakutan akan Kuntilanak di Pontianak modern pun masih ada, meskipun ia “telah diusir”.
Orang menghindari menjemur pakaian malam hari di pinggiran kota, percaya itu bisa memanggilnya.
Membicarakan Kuntilanak saat gelap sering dilarang.
Lampu tetap dinyalakan di teras rumah untuk mengusir roh jahat.
Kuntilanak yang “tidak di sini” justru menjadi sangat berarti.
Ia adalah pengingat akan batas yang rapuh antara peradaban dan alam liar, antara rasionalitas dan irasionalitas yang terpendam.
Usul pembangunan patung Kuntilanak raksasa di Pontianak (2017) pun menuai protes, bukan hanya karena menyeramkan, tetapi mungkin juga karena mengusik “penyelesaian” dengan mengembalikan simbol liyan itu ke jantung kota.
Cerita Kuntilanak di Pontianak, terutama mitos pendirian kotanya, adalah kisah tentang modernitas Melayu-Islam.
Modernitas ini tidak menghapuskan kepercayaan pada roh, tetapi menggeser dan mengasingkannya ke alam liar (pendalaman) sebagai “liyan” yang menakutkan.
Dengan meriam dan Islam, alam dikonseptualisasikan sebagai objek yang harus ditaklukkan dan dimanfaatkan untuk kemajuan (pembangunan).
Kuntilanak menjadi personifikasi dari harga yang dibayar untuk kemajuan itu.
Ia jadi trauma atas pemutusan hubungan dengan alam dan roh penunggunya.
Namun, seperti bayangan yang tak pernah benar-benar hilang, Kuntilanak terus menghantui.
Ia hidup dalam cerita rakyat, film horor laris, dan kepercayaan sehari-hari masyarakat Pontianak.
Ia menjadi pengingat bahwa modernitas, dengan segala rasionalitas dan pembangunannya, seringkali melupakan bahwa penguasaan atas alam bisa meninggalkan luka dalam jiwa kolektif.
Kuntilanak adalah simbol ambivalensi modernitas: pencapaian kemajuan sekaligus penyesalan tersembunyi atas apa yang harus ditinggalkan dan diasingkan.
Selama alam dan masyarakat belum berdamai, selama itu pula Kuntilanak akan terus menghantui Nusantara.***
Bacaan terkait
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

