Brikolase.com – Selama berabad-abad, peradaban modern telah mengunggulkan rasionalitas sebagai sesuatu yang terpisah dari emosi.
Bahkan ada ungkapan, jangan biarkan emosi mengacaukan penilaianmu (don’t let your emotion cloud your judgement).
Seolah emosi menjadi pengganggu dari pikiran rasional dan penilaian baik.
Kita bahkan dididik untuk percaya bahwa keputusan terbaik lahir dari “kepala dingin” ketika logika bekerja tanpa gangguan emosi.
Namun, seorang ahli syaraf (neuroscientist), Antonio Damasio, menegaskan bahwa pandangan ini adalah sebuah tragedi ilmiah.
Absennya emosi bukanlah berkah bagi rasionalitas. Sebaliknya, ia adalah obat bagi kegagalan sistemik seseorang dalam mengarahkan hidupnya.
Seperti dua kasus Phineas Gage dan Elliot ini, yang membuktikan peran krusial emosi dalam kehidupan manusia.
Cedera Otak Phineas Gage Ubah Kepribadiannya
Pada sore hari tanggal 13 September 1848, suasana lokasi pembangunan jalur kereta api di Cavendish, Vermont, tampak sibuk dengan para pekerja yang mempersiapkan lintasan baru bagi Rutland and Burlington Railroad.
Di antara mereka berdiri seorang mandor muda berusia 25 tahun bernama Phineas Gage.
Gage dikenal sebagai pemimpin yang cakap, disiplin, tenang, dan mampu mengambil keputusan dengan baik.
Atasannya menganggapnya sebagai salah satu mandor terbaik yang pernah mereka miliki.
Hari itu, seperti biasanya, Gage memimpin proses peledakan batu. Lubang telah diisi bubuk mesiu, kemudian ditutup dengan pasir.
Tugas terakhir adalah memadatkan isinya menggunakan sebuah batang besi panjang yang disebut tamping iron.
Namun entah karena lapisan pasir belum menutupi bubuk mesiu dengan sempurna atau percikan api muncul akibat gesekan, bubuk itu tiba-tiba meledak.
Ledakan dahsyat melontarkan batang besi sepanjang lebih dari satu meter dengan kecepatan tinggi.
Batang besi seberat sekitar enam kilogram itu masuk melalui bawah tulang pipi kiri Gage, menembus bagian depan otaknya, lalu keluar melalui puncak kepala sebelum akhirnya jatuh puluhan meter di belakangnya.
Bagi siapa pun yang melihat kejadian itu, mustahil membayangkan seseorang dapat bertahan hidup.
Gage memang terlempar ke belakang akibat ledakan, tetapi beberapa menit kemudian ia sudah kembali sadar.
Bahkan, dengan sedikit bantuan, ia mampu berjalan menuju kereta sapi yang membawanya ke tempat tinggalnya untuk mendapatkan pertolongan medis.
Dokter muda John Martyn Harlow kemudian merawat luka luar biasa tersebut.
Masa pemulihan berlangsung sangat berat. Luka di kepalanya mengalami infeksi, ia kehilangan banyak darah, bahkan sempat berada dalam kondisi setengah koma selama lebih dari dua minggu.
Sebagian jaringan otak yang rusak juga harus dibersihkan akibat infeksi.
Meski demikian, perlahan-lahan kondisinya membaik. Sekitar sepuluh minggu setelah kecelakaan, Gage cukup sehat untuk kembali pulang.
Secara fisik, ia tampak berhasil selamat dari kecelakaan yang mengerikan itu.
Tetapi orang-orang yang mengenalnya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting telah berubah.
Sebelum kecelakaan, Gage dikenal sebagai pribadi yang sopan, bertanggung jawab, sabar, dan memiliki kemampuan memimpin yang sangat baik.
Sesudah kecelakaan, sifat itu perlahan menghilang. Menurut Dr. Harlow, Gage menjadi mudah marah, tidak menghormati orang lain, sering berkata kasar, sulit menerima nasihat, keras kepala, serta sering mengubah rencana tanpa alasan yang jelas.
Ia tidak lagi mampu mempertahankan tujuan jangka panjang seperti sebelumnya.
Perubahannya begitu drastis hingga teman-teman dekatnya mengatakan, “Gage sudah bukan Gage yang dulu lagi.”
Karena perubahan perilaku tersebut, perusahaan kereta api menolak mempekerjakannya kembali sebagai mandor.
Bukan karena ia kehilangan kekuatan fisik atau kecerdasannya, tetapi karena kepribadiannya tidak lagi sesuai untuk memimpin orang lain.
Selama bertahun-tahun berikutnya, kehidupan Gage terus berubah. Ia sempat tampil di Barnum’s American Museum di New York, kemudian bekerja di sebuah perusahaan kereta kuda di New Hampshire.
Setelah itu ia berangkat ke Valparaiso, Chili, tempat ia mengemudikan kereta pos dan merawat kuda selama hampir tujuh tahun.
Banyak kabar populer menggambarkan Gage sebagai pengangguran yang hidup terlunta-lunta atau hanya menjadi tontonan sirkus.
Namun itu spekulasi. Bukti yang ada justru menunjukkan bahwa ia mampu memegang pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab cukup besar selama bertahun-tahun.
Bahkan sejumlah peneliti modern berpendapat bahwa perubahan kepribadiannya kemungkinan tidak berlangsung permanen.
Seiring waktu, sebagian kemampuan mengatur diri tampaknya kembali pulih sehingga ia dapat bekerja sebagai kusir jarak jauh, yang menuntut konsentrasi, perencanaan, dan pengambilan keputusan yang baik.
Sayangnya, kesehatannya mulai memburuk ketika kembali ke Amerika Serikat. Pada awal tahun 1860 ia mulai mengalami serangan epilepsi yang diduga merupakan akibat langsung dari cedera otaknya.
Pada Mei 1860, Phineas Gage meninggal dunia setelah serangkaian kejang.
Atas permintaan Dr. Harlow, tengkorak Gage beserta batang besi yang pernah menembus kepalanya kemudian disimpan sebagai koleksi ilmiah di Harvard Medical School.
Hingga kini, keduanya masih menjadi salah satu artefak medis paling terkenal di dunia.
Filho dalam tulisannya Phineas Gage’s Legacy. Kisah Phineas Gage bukan tentang seseorang yang selamat dari kecelakaan luar biasa tetapi kejadian yang dialaminya menjadi bukti awal bahwa bagian depan otak, khususnya lobus frontal, memiliki peran penting dalam mengendalikan kepribadian, emosi, kemampuan mengambil keputusan, dan perilaku sosial.
Sebelum kasus Gage, banyak ilmuwan belum memahami fungsi spesifik area tersebut.
Setelahnya, penelitian tentang hubungan antara otak dan perilaku berkembang pesat, membuka jalan bagi lahirnya ilmu neurologi modern, neuropsikiatri, hingga rehabilitasi cedera otak.
Lebih dari satu setengah abad kemudian, peristiwa yang dialami Phineas Gage masih dipelajari oleh mahasiswa kedokteran, psikologi, dan ilmu saraf di seluruh dunia.
Kisahnya menunjukkan bahwa perubahan kecil pada struktur otak dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan dunia, bahwa kepribadian manusia ternyata sangat erat berkaitan dengan cara kerja otak.
Elliot yang Kehilangan Emosi
Bagi siapa pun yang mengenalnya, Elliot adalah sosok yang nyaris sempurna. Ia bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan besar, dikenal sebagai suami dan ayah yang bertanggung jawab, aktif dalam kegiatan gereja, serta mampu mengambil keputusan penting setiap hari.
Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah operasi kecil untuk mengangkat tumor jinak di otaknya akan mengubah seluruh hidupnya.
Operasi itu berjalan sukses. Tumor berhasil diangkat. Hasil tes menunjukkan kecerdasannya tetap sama.
Lehrer dalam tulisannya Feeling Our Way to Decision mengungkap usai operasi, nilai IQ Elliot masih berada di tiga persen tertinggi populasi. Ia masih mampu berhitung, berbicara dengan lancar, memahami logika, bahkan memecahkan persoalan rumit.
Namun perubahan perilakunya mulai terjadi. Awalnya perubahan itu tampak sepele. Elliot mulai terlambat menghadiri janji temu. Pekerjaan yang biasanya selesai dalam beberapa menit kini memakan waktu berjam-jam.
Bukan karena ia lupa, melainkan karena ia tidak mampu memutuskan.
Suatu pagi ia hanya ingin menulis catatan. Namun ia terjebak memikirkan apakah sebaiknya menggunakan pena biru atau hitam.
Ia mempertimbangkan kelebihan masing-masing warna, lalu kembali ragu. Keputusan sederhana yang biasanya dibuat tanpa berpikir kini berubah menjadi proses yang melelahkan.
Hal serupa terjadi saat makan siang. Ia membandingkan menu setiap restoran, memperhatikan pencahayaan ruangannya, kenyamanan kursi, bahkan mengemudi ke setiap tempat hanya untuk melihat seberapa ramai pengunjungnya.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam melakukan semua itu, Elliot tetap tidak mampu memilih tempat makan.
Lambat laun hidupnya mulai runtuh. Ia kehilangan pekerjaannya. Bisnis baru yang dirintis selalu gagal.
Seorang penipu berhasil menguras tabungannya. Istrinya akhirnya memilih bercerai. Masalah pajak bermunculan hingga Elliot terpaksa kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.
Yang paling mengejutkan bukanlah kegagalannya, melainkan reaksinya terhadap semua itu.
Ketika ahli saraf Antonio Damasio berbicara dengannya mengenai kehancuran hidupnya, Elliot menceritakan semuanya seperti seorang reporter yang sedang membacakan berita tentang orang lain.
Tidak ada kesedihan, kemarahan, penyesalan, ataupun kecemasan. Wajahnya datar. Suaranya tenang.
Seolah-olah tragedi itu bukan terjadi padanya. Damasio kemudian melakukan sebuah eksperimen sederhana.
Elliot dipasangi alat yang mengukur aktivitas kelenjar keringat di telapak tangan. Saat manusia mengalami emosi kuat, takut, jijik, atau terkejut, telapak tangan biasanya berkeringat karena sistem saraf otonom aktif.
Lalu Damasio memperlihatkan berbagai foto yang biasanya langsung memancing reaksi emosional seperti kaki yang terpotong, rumah yang terbakar, senjata api, hingga gambar telanjang.
Hasilnya tidak ada perubahan sama sekali. Telapak tangan Elliot tetap kering.
Tubuhnya tidak menunjukkan sedikit pun tanda emosi. Ia memandang gambar-gambar mengerikan itu sama datarnya seperti melihat foto meja atau kursi.
Penemuan ini mengguncang pemahaman ilmu saraf pada masa itu. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menganggap emosi sebagai pengganggu logika.
Semakin sedikit emosi, seseorang seharusnya semakin rasional. Namun Elliot justru membuktikan kebalikannya.
Ia kehilangan emosi, dan bersamaan dengan itu kehilangan kemampuan mengambil keputusan.
Kasus Elliot membantu ilmuwan memahami bahwa mengambil keputusan ternyata bukan sekadar proses berpikir logis.
Di bagian bawah otak terdapat berbagai struktur yang menghasilkan respons emosional, seperti amigdala yang mendeteksi ancaman, rasa takut, dan pengalaman emosional.
Emosi-emosi tersebut kemudian dikirim ke bagian depan otak, terutama korteks orbitofrontal (Orbitofrontal Cortex/OFC) yang berada tepat di belakang mata, sebagai bahan pertimbangan ketika memilih.
OFC dapat diibaratkan sebagai penerjemah. Ia menerima berbagai sinyal dari sistem emosi, mana yang terasa menyenangkan, mana yang berbahaya, mana yang pernah membawa pengalaman buruk, lalu mengubah semua informasi itu menjadi “firasat” yang membantu kita mengambil keputusan dengan cepat.
Misalnya ketika kita masuk ke sebuah restoran, secara sadar kita mungkin hanya melihat daftar menu.
Namun tanpa disadari, otak telah membandingkan aroma makanan, pengalaman makan sebelumnya, suasana ruangan, tingkat kenyamanan, bahkan ekspresi wajah pengunjung lain.
Semua informasi itu diproses secara otomatis dan diringkas menjadi satu perasaan sederhana, “Sepertinya tempat ini cocok.”
Perasaan itulah yang sebenarnya membantu kita memilih. Tanpa emosi, otak kehilangan mekanisme penyaring tersebut.
Semua pilihan tampak memiliki nilai yang sama pentingnya. Akibatnya, seseorang terus-menerus melakukan analisis tanpa pernah mencapai kesimpulan.
Inilah yang dialami Elliot. Bukan karena ia tidak cerdas, bukan karena ia kehilangan kemampuan berpikir, melainkan karena ia kehilangan “kompas emosional” yang selama ini diam-diam membimbing setiap keputusannya.
Kasus Elliot mengubah pandangan dunia tentang hubungan antara emosi dan rasionalitas. Selama berabad-abad, banyak filsuf beranggapan bahwa manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menyingkirkan emosinya demi berpikir secara murni dan logis.
Namun penelitian Antonio Damasio menunjukkan hal yang berbeda. Emosi bukanlah lawan dari akal.
Emosi justru merupakan bagian penting dari sistem pengambilan keputusan di otak.
Ketika kita menyesal karena pernah mengalami kerugian, rasa tidak nyaman itu membuat kita lebih berhati-hati di masa depan.
Ketika kita merasa nyaman dengan seseorang, emosi positif membantu kita membangun hubungan sosial.
Bahkan keputusan sehari-hari seperti memilih pakaian, menentukan rute perjalanan, atau memesan makanan sebenarnya sangat dipengaruhi oleh sinyal emosional yang bekerja di balik layar.
Otak manusia tidak dirancang untuk memilih hanya dengan logika. Kecerdasan memberi kita kemampuan menganalisis berbagai pilihan, tetapi emosi membantu menentukan pilihan mana yang paling bermakna.
Tanpa emosi, proses berpikir memang tetap ada, tetapi kehilangan arah. Karena itulah, seseorang dapat tetap memiliki IQ yang sangat tinggi, namun tidak mampu memutuskan hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Kerja Emosi dan Nalar dalam Mengambil Keputusan
Penelitian terhadap kasus Phineas Gage dan Elliot membawa para ilmuwan pada pemahaman mengenai apa yang sering disebut sebagai Gage Matrix.
Istilah ini tidak merujuk pada sebuah jaringan fungsional tempat emosi dan nalar saling bertemu dan bekerja sama dalam menghasilkan keputusan.
Bagian yang paling penting dalam jaringan ini adalah korteks prefrontal ventromedial, yaitu area di bagian bawah lobus frontal yang mengalami kerusakan pada Gage maupun Elliot.
Wilayah inilah yang menghubungkan sinyal-sinyal dari tubuh dengan proses berpikir tingkat tinggi.
Melalui mekanisme tersebut, pengalaman emosional dapat memengaruhi penilaian dan pilihan yang kita buat setiap hari.
Menariknya, pada Elliot hanya area ventromedial yang rusak, sedangkan korteks prefrontal lateral tetap utuh.
Kondisi ini menjelaskan mengapa kemampuan logisnya tidak terganggu. Ia masih mampu menghitung, mengingat informasi, bahkan memperoleh skor IQ yang sangat tinggi.
Namun, ketika harus memilih tindakan yang paling tepat dalam kehidupan nyata, ia justru mengalami kebuntuan.
Kasus ini menunjukkan bahwa kecerdasan logis saja tidak cukup untuk menghasilkan keputusan yang baik.
Jaringan ini juga bekerja erat dengan sistem limbik, khususnya amigdala, yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan emosi.
Amigdala memberi “nilai emosional” pada setiap pengalaman, apakah sesuatu terasa menguntungkan, berbahaya, menyenangkan, atau menyakitkan.
Informasi emosional inilah yang kemudian dikirim ke korteks prefrontal untuk dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.
Yang rusak pada Gage dan Elliot bukan hanya materi abu-abu, tempat badan sel saraf berada, tetapi juga materi putih, yaitu jalur komunikasi yang menghubungkan berbagai wilayah otak.
Akibatnya, pertukaran informasi antara pusat emosi dan pusat penalaran menjadi terganggu. Selain itu, proses pembelajaran juga bergantung pada sinapsis, yaitu titik pertemuan antarneuron.
Kekuatan hubungan sinaptik menentukan apakah suatu pengalaman akan dipelajari sebagai sesuatu yang bernilai positif atau justru harus dihindari di masa depan.
Melalui kerangka pemikirannya, Antonio Damasio menjelaskan bahwa otak pada dasarnya adalah “penonton tawanan” bagi tubuh.
Artinya, pikiran tidak pernah benar-benar terpisah dari kondisi biologis tubuh. Untuk memahami cara kerja otak, kita perlu membedakan tiga konsep yang sering dianggap sama, yaitu homeostasis, emosi, dan perasaan.
Homeostasis adalah tujuan utama sistem biologis, yakni menjaga keseimbangan tubuh agar tetap hidup dan berfungsi secara optimal.
Untuk mempertahankan keseimbangan tersebut, tubuh menghasilkan emosi. Menurut Damasio, emosi merupakan program aksi otomatis yang memungkinkan makhluk hidup bereaksi secara cerdas tanpa harus berpikir secara sadar.
Saat menghadapi ancaman, misalnya, tubuh langsung meningkatkan denyut jantung, mengencangkan otot, dan melepaskan hormon stres sebelum kita sempat mempertimbangkannya secara rasional.
Sementara itu, perasaan muncul setelah otak mengamati perubahan-perubahan yang telah terjadi di dalam tubuh.
Jika emosi adalah pertunjukan yang berlangsung di “panggung tubuh”, maka perasaan adalah saat pikiran menyaksikan pertunjukan tersebut.
Dengan kata lain, perasaan merupakan persepsi mental terhadap kondisi organ-organ tubuh dan otot yang sedang berubah akibat emosi.
Perasaan inilah yang memberi warna subjektif pada pengalaman manusia, yang membuat kita sadar bahwa kita sedang takut, senang, marah, atau sedih.
Gagasan paling terkenal dari Damasio adalah Somatic Marker Hypothesis atau hipotesis penanda somatik dalam bukunya Descartes Error, Emotion, Reason and the Human Brain.
Teori ini menjelaskan bahwa sebelum logika formal bekerja, tubuh terlebih dahulu memberikan “penanda” berupa sinyal-sinyal fisiologis yang secara otomatis mempersempit pilihan yang harus dipertimbangkan.
Prosesnya dimulai ketika otak membayangkan berbagai kemungkinan tindakan beserta konsekuensinya.
Setiap skenario segera memicu respons tubuh berdasarkan pengalaman masa lalu. Jika suatu pilihan pernah berakhir buruk, tubuh akan menghasilkan sensasi yang tidak nyaman.
Sebaliknya, pilihan yang pernah membawa hasil baik akan menimbulkan respons yang lebih positif. Inilah yang sering kita sebut sebagai gut feeling atau firasat.
Sinyal tubuh tersebut dapat muncul dalam dua bentuk. Pertama adalah sinyal overt, yaitu reaksi yang disadari, seperti perut terasa mulas, jantung berdebar, atau muncul rasa gelisah yang seolah memberi peringatan bahwa suatu pilihan berbahaya.
Kedua adalah sinyal covert, yaitu perubahan yang berlangsung di bawah sadar melalui kerja neuromodulator seperti dopamin.
Kita tidak menyadari perubahan ini, tetapi aktivitas neuron telah diarahkan untuk lebih menyukai atau menghindari pilihan tertentu.
Selanjutnya, penanda somatik melakukan seleksi awal dengan menyingkirkan alternatif yang kemungkinan besar akan merugikan.
Baru setelah jumlah pilihan menjadi lebih sedikit, penalaran logis mengambil alih untuk membandingkan keuntungan dan kerugian secara lebih rasional.
Melalui mekanisme inilah Damasio menjelaskan mengapa emosi bukanlah lawan dari logika, melainkan fondasi yang membuat logika dapat bekerja secara efisien.
Tanpa penanda somatik, seperti yang terjadi pada Elliot, seseorang memang masih mampu berpikir secara matematis dan logis.
Namun, ia akan terus terjebak dalam perhitungan tanpa akhir, menimbang setiap kemungkinan secara setara tanpa pernah mampu mengambil keputusan yang benar-benar praktis.***
Bacaan terkait
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

