Lamban-Mendalam, Perlawanan Etis Atas Budaya Modern yang Serba Cepat, Instan dan Tergesa-gesa

Ilustrasi kelambanan mendalam dalam dunia yang tergesa-gesa (Chat GPT)

Brikolase.com – Kita hidup di sebuah zaman ketika kemajuan dan kecepatan menjelma menjadi kiblat, kalau bukan berhala, yang diam-diam menuntun arah kapal peradaban modern.

Segalanya diukur dari seberapa cepat bergerak dan seberapa jauh melaju. Lambat dianggap gagal. Menunggu dinilai kelemahan.

Di awal tahun, kecenderungan ini tampak jelas dalam tumpukan resolusi yang lahir dari semangat yang seragam yakni keinginan untuk segera maju, sekarang juga.

Ambisi itu menyusup ke hampir seluruh sendi kehidupan, lalu mengeras menjadi fondasi kebudayaan kita hari ini.

Dalam keseharian, dorongan untuk serba cepat bisa kita jumpai dari urusan paling sederhana dari soal perut hingga urusan paling kompleks seperti politik dan negara.

Makanan cepat saji, misalnya, bukan lagi semata soal kepraktisan atau kemalasan memasak.

Ia telah menjadi simbol gaya hidup modern yang dianggap efisien, urban, bahkan “gaul”. Di era digital, semuanya tinggal klik, lalu santap.

Namun dorongan untuk bergerak cepat ini menunjukkan sisi yang lebih gelap ketika bersentuhan dengan ambisi kekuasaan dan kekayaan.

Keinginan meraih sukses secara instan mendorong banyak orang terperangkap dalam praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Jalan pintas ini tentu merusak sendi keadilan dan kepercayaan sosial.

Di panggung politik, logika serupa juga bekerja. Pembangunan dipacu tanpa jeda, sering kali atas nama kemajuan, meski harus mengorbankan kelestarian lingkungan.

Seorang menteri, dengan ringan dan nyaris tanpa refleksi, pernah berkata di media, “Negara-negara maju dulu membabat hutan dan menambang batu bara, mengapa kita sebagai negara berkembang sekarang tidak boleh melakukan hal yang sama?”

Bahkan drama politik mutakhir memperlihatkan betapa “kecepatan” dipaksakan secara vulgar.

Seorang anak presiden yang belum matang dipercepat menjadi wakil presiden dengan merusak aturan konstitusi.

ALSO READ  Absennya Aktivis dan Masyarakat Sipil dari Proyek Penulisan Sejarah Indonesia, Akar Penyingkiran Sejak Zaman Kolonial

Yang lain, tiba-tiba saja, menjelma ketua umum partai hanya dalam hitungan hari setelah bergabung.

Kita seolah kehilangan kemampuan. bahkan kapasitas, untuk menunggu. Kesabaran dalam proses alamiah kian tergerus.

Pertanyaannya kemudian, mengapa kita begitu terobsesi untuk maju secepat mungkin?

Dari mana ambisi ini datang, hingga bisa menyelinap, atau memaksa masuk, ke ruang terdalam diri kita sebagai manusia?

Modern(itas)

Jawabannya berakar pada apa yang kita sebut sebagai modernitas.

Dalam tradisi Barat, kemodernan diletakkan di atas fondasi rasionalitas dan keberanian berpikir.

René Descartes merumuskannya dalam adagium terkenal cogito ergo sum, aku berpikir, maka aku ada.

Immanuel Kant kemudian menyerukannya secara lebih tegas, sapere aude, beranilah berpikir sendiri.

Dalam esai pendeknya yang berpengaruh, What Is Enlightenment? (1784), Kant menggambarkan Pencerahan sebagai masa “akil baligh” manusia Barat.

Inilah masa saat mereka berani keluar dari ketergantungan pada otoritas eksternal dan melepaskan diri dari kungkungan tahayul yang stagnan.

Sebelumnya, manusia dianggap hidup dalam ketidakdewasaan karena dipandu, diarahkan, dan dikendalikan oleh kekuatan di luar dirinya.

Sejak itulah, pikiran manusia modern bekerja seperti kota kecil yang tak pernah tidur, atau pabrik dengan mesin-mesin yang terus menderu.

Semua diarahkan untuk satu tujuan yaitu kemajuan. Di titik ini, kemajuan dan kecepatan menjadi dua sisi dari koin yang sama.

Penemuan mesin uap memungkinkan manusia bergerak lebih jauh dan lebih cepat.

Ia melintasi laut dengan kapal, menembus daratan dengan kereta, jauh melampaui langkah kaki dan gerobak keledai yang lamban.

Lalu hadir benda “ajaib” bernama telepon pintar yang tersambung ke internet, yang melipat jarak, ruang, dan waktu sekaligus.

Dunia terasa mengecil, seperti bola bekel di genggaman tangan, dan manusia menjadi makhluk yang serba terhubung, serba cepat.

ALSO READ  Nyi Roro Kidul Bukan Sekadar Mitos, Ada Pengetahuan Lokal Antisipasi Bencana Alam

Penemuan-penemuan ini menegaskan satu hal bahwa menjadi modern berarti harus maju, dan harus cepat.

Jika tidak bergerak secepat mungkin, maka kita dianggap tertinggal atau belum sepenuhnya modern.

Modernitas, dalam kehidupan kita hari ini, terlepas dari kontribusi dan pencapaiannya yang monumental, sebagaimana dibela mati-matian oleh Steven Pinker dalam bukunya Enlightenment Now (2018), memang tak bisa dipungkiri telah mendorong manusia ke batas-batas terjauh hasratnya untuk melaju.

Dorongan ini semakin mengeras dalam logika produksi dan produktivitas masyarakat kapitalistik modern akhir.

Manusia dituntut untuk terus menghasilkan, tanpa henti. Dalam tuntutan itu, kemajuan dan kecepatan menjelma menjadi tolok ukur utama nilai diri.

Kelambanan Mendalam

Di tengah badai kemajuan yang melaju seperti juggernaut dengan kekuatan yang tak terbendung, kita membutuhkan satu bentuk perlawanan yang mungkin terdengar kuno yakni kelambanan mendalam.

Gagasan ini saya pinjam dari filsuf kontemporer Byung-Chul Han, terutama dari bukunya The Burnout Society (2015).

Bagi Han, kelambanan dan apalagi kemandegan selama ini diposisikan sebagai musuh bebuyutan modernitas yang berorientasi progress dan speed.

Kelambanan disingkirkan, dicurigai, bahkan dipermalukan sebagai tanda ketertinggalan.

Masyarakat pra-modern yang hidup secara siklikal, dalam ritme lambat, dicap primitif dan tidak produktif.

Padahal, menurut Han, kelambanan justru menyimpan potensi yang amat penting bagi kehidupan manusia.

Ia menempatkan kelambanan mendalam sebagai bentuk counter terhadap ketergesaan yang menjadi ciri utama masyarakat kerja dan masyarakat informasi modern akhir.

Masyarakat ini dalam banyak hal telah menjadi problematik, bahkan neurotik yang cemas karena selalu ingin memenuhi tuntutan ideal.

Ketergesaan, dalam penilaian Han, bukan tanda kemajuan, melainkan gejala kemunduran peradaban.

Karena kurangnya ketenangan, peradaban kita berubah menjadi barbarisme baru.

ALSO READ  Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Tradisi Nyadran

Barbarisme baru ini bukanlah kembalinya kekerasan primitif, melainkan lenyapnya dimensi moral dan etis dalam kehidupan modern.

Manusia memang berpikir, tapi rasionalitas hanya dijadikan alat alias instrumental, seperti kritik Mazhab Frankfurt, demi maju dan melaju lebih cepat.

Namun karena kehilangan ruang refleksi moral, kemajuan itu justru berujung pada eksploitasi dan kehancuran, baik terhadap sesama manusia maupun alam.

Kesadaran moral membutuhkan ketenangan. Ia lahir dari ruang kontemplasi dan refleksi, yang hanya mungkin tumbuh dalam kelambanan yang mendalam.

Dalam kelambanan, manusia memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan meninjau ulang jati dirinya secara lebih utuh.

Mungkin, di awal tahun ini, kita justru perlu membangun sikap kelambanan semacam itu.

Sebab ketergesa-gesaan bukanlah ciri kemanusiaan yang sejati.

Petuah orang tua dulu barangkali memang tidak berlebihan, “Tergesa-gesa itu perbuatan setan, bukan manusia.”***