Chilean Paradox, Ketika Pertumbuhan Ekonomi Naik tapi Ketimpangan Sosial Menganga

Ilustrasi Chilean Paradox (Chat GPT)

Brikolase.com – Chili kerap disebut sebagai negara yang berhasil melakukan reformasi ekonomi di Amerika Latin. Sejak rezim Pinochet meluncurkan kebijakan neoliberal pada 1973, dunia internasional sering mengutip Chili sebagai “model sukses” pasar bebas.

Namun, di balik narasi keberhasilan itu, terdapat paradoks yang dalam (Chilean Paradox) pertumbuhan ekonomi yang tinggi berjalan beriringan dengan ketidaksetaraan yang kian menganga dan beban sosial yang berat.

Chilean Paradox: Pertumbuhan Tinggi, tapi Fondasi Rawan

Pada dekade 1980-an, ekonomi Chili memang sempat mencatat pertumbuhan yang impresif.  Pada 1989, misalnya, produk domestik bruto (PDB) riil tumbuh hingga 10 persen.

Angka ini sering dikutip sebagai bukti keampuhan kebijakan neoliberal. Akan tetapi, catatan Ricardo Ffrench-Davis dalam bukunya Economic Reforms in Chile From Dictatorship to Democracy mengungkap pertumbuhan semu (illusory growth).

“Pertumbuhan ekonomi di rezim neoliberal Pinochet, antara 1973 dan 1989, rata-ratanya hanya 2,9%, dan distribusi pendapatan memburuk secara mencolok.

Hasil itu terkait dengan fundamentalisme reformasi yang mendalam, menyiratkan banyak kegagalan kebijakan yang sangat merugikan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial,” (Davis, 2010:269).

Davis juga mengungkapkan bahwa banyak angka pertumbuhan PDB di periode tersebut justru berasal dari sektor yang tidak meningkatkan kapasitas produktif jangka panjang.

Pertumbuhan itu kerap ditopang oleh nilai tambah pemasaran impor dan aktivitas keuangan, bukan dari industrialisasi atau ekspansi sektor manufaktur.

Dengan kata lain, ekonomi memang terlihat berkembang di atas kertas, tetapi fondasi produktifnya rapuh. Industri dalam negeri justru mengalami deindustrialisasi akibat banjir impor, lapangan kerja menyusut, dan ketimpangan melebar.

Ini menunjukkan bahwa apa yang disebut “keajaiban Chili” pada dasarnya adalah ilusi statistik. Pertumbuhan yang tinggi di penghujung rezim lebih merupakan pemulihan setelah krisis mendalam, bukan hasil fondasi ekonomi yang kokoh.

ALSO READ  Buruh Hari Ini : Dari Politik Menuju Gerakan Sosial Baru.

Reformasi neoliberal mengandalkan privatisasi besar-besaran, liberalisasi perdagangan, dan deregulasi finansial. Secara formal, kebijakan ini membuka ruang bagi modernisasi.

Namun, dampaknya hanya dirasakan oleh kelompok bisnis besar, sementara sebagian besar masyarakat justru terpinggirkan.

“Proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan naik menjadi 45% pada 1987; situasi itu merupakan hasil dari meningkatnya konsentrasi kekayaan, memburuknya upah riil, meningkatnya pengangguran, dan turunnya belanja sosial per kapita,” (Davis, 2010:174).

Lebih jauh, Davis membandingkan ketimpangan Chili dengan negara-negara maju. Rasio kuintil (quintille ratio) kaya/miskin di negara-negara G-7 adalah 7 banding 1, sementara Chili dengan pengukuran yang sebanding mencapai 15 banding 1.

Paradoks ini menyingkap kenyataan bahwa meskipun Chili dipuji sebagai “contoh neoliberal yang berhasil,” jutaan warganya mengalami penurunan kualitas hidup.

Ketika Chili kembali ke demokrasi pada 1990, pemerintah koalisi Concertación menghadapi warisan sosial-ekonomi yang berat. Salah satu tantangan utamanya adalah memperbaiki ketimpangan dan kemiskinan yang ditinggalkan rezim militer.

“Selama 1990-an terjadi ekspansi kapasitas produksi yang sangat kuat, tanpa preseden di Chili (rata-rata 7,1% per tahun pada 1990–1998), bersamaan dengan penurunan signifikan jumlah penduduk miskin (dari 45% menjadi 21% dari populasi dalam periode yang sama) dan beberapa perbaikan dalam distribusi pendapatan,” (Davis, 2010: 269–270).

Namun, perbaikan itu tidak sepenuhnya menghapus paradoks. Krisis Asia pada 1997–1998 kembali mengguncang Chili, menunjukkan kerentanan struktural ekonominya.

Ffrench-Davis menekankan distribusi pendapatan memang lebih tidak timpang dibandingkan dekade 1980-an, tetapi hampir sama dengan 1970-an, dan lebih regresif dibandingkan 1960-an.

Pelajaran dari Paradoks Chili

Kasus Chili memperlihatkan kontradiksi mendasar dalam pembangunan ekonomi, pertumbuhan bisa tinggi, tetapi jika tidak disertai pemerataan sosial, maka hasilnya rapuh dan penuh paradoks.

ALSO READ  Dilema Buku Bajakan di Lingkungan Kampus

Davis menekankan keadilan sosial dan keseimbangan makro-sosial adalah bahan penting dari modernisasi.

Bagi negara berkembang lain, pengalaman Chili menjadi peringatan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh dipandang sebagai tujuan tunggal.

Tanpa kebijakan distribusi yang adil, investasi dalam modal manusia, dan perlindungan sosial yang kuat, pembangunan justru melahirkan eksklusi sosial dan ketidakstabilan jangka panjang.***