Brikolase.com – Sering kita melihat cara belajar anak dengan membaca buku berkali-kali, memberi catatan dengam stabilo warna-warni, waktu belajar bahkan dipadatkan dalam satu malam alias sistem kebut semalam.
Banyak orang merasa sudah belajar keras. Namun sains menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Belajar dengan cara yang terasa mudah sering kali justru paling cepat dilupakan.
Temuan merupakan hasil puluhan tahun riset psikologi kognitif, salah satunya dipimpin oleh Henry L. Roediger III, profesor psikologi dari Washington University in St. Louis, yang juga dikenal sebagai salah satu penulis buku Make It Stick.
Membaca Berulang Kali vs Mengerjakan Soal: Siapa yang Lebih Ingat?
Dalam salah satu eksperimen paling terkenal yang diterbitkan dalam artikel Test-Enhanced Learning: Taking Memory Tests Improves Long-Term Retention (2006), Roediger dan Jeffrey D. Karpicke membandingkan tiga kelompok belajar:
1. Kelompok pertama hanya membaca teks berulang kali (study-study-study-study).
2. Kelompok kedua membaca tiga kali lalu dites satu kali (study-study-study-test).
3. Kelompok ketiga hanya membaca sekali, tetapi dites tiga kali (study-test-test-test).
Hasilnya tampak menipu di awal. Lima menit setelah belajar, kelompok yang membaca empat kali terlihat paling unggul.
Mereka merasa yakin dan lancar menjawab. Namun ketika diuji ulang seminggu kemudian, ingatan mereka anjlok drastis.
Sebaliknya, kelompok yang lebih banyak dites justru mempertahankan ingatan paling kuat, meskipun mereka merasa belajar paling sulit.
Roediger dan Karpicke menyimpulkan bahwa menguji diri sendiri bukan hanya alat evaluasi, tetapi alat belajar yang jauh lebih efektif daripada membaca ulang.
Fenomena ini dikenal sebagai testing effect atau test-enhanced learning.
Otak tidak menguat saat informasi masuk, tetapi saat informasi dipaksa keluar.
Temuan ini selaras dengan pengalaman banyak pelajar berprestasi.
Mereka bukan orang yang langsung paham sejak awal. Justru ada fase panjang di mana belajar terasa berat, lambat, bahkan frustrasi.
Mengerjakan satu atau dua soal per hari, mengulang kesalahan yang sama, memaksa otak mencari jalan keluar.
Menurut Roediger dan Robert Bjork, proses ini disebut desirable difficulties, kesulitan yang diinginkan.
Saat belajar terasa berat, otak sedang membangun jalur memori yang lebih kuat dan fleksibel.
2. Spaced Repetition Kalahkan Sistem Kebut Semalam
Masalah lain dari kebiasaan belajar adalah menumpuk waktu belajar dalam satu sesi panjang.
Penelitian klasik tentang forgetting curve menunjukkan bahwa ingatan manusia menurun tajam setelah belajar, bahkan jika semalaman tidak tidur.
Solusinya bukan belajar lebih lama, melainkan belajar lebih cerdas dengan jeda.
Teknik ini dikenal sebagai spaced repetition atau pengulangan berjarak.
Materi diulang setelah satu hari, dua hari, beberapa hari, lalu seminggu.
Setiap jeda membuat sebagian informasi terlupa, dan justru di situlah kekuatannya.
Saat kita mengingat kembali bagian yang mulai pudar, otak menandainya sebagai informasi penting untuk disimpan dalam jangka panjang.
Penelitian Roediger dan koleganya menunjukkan bahwa kombinasi retrieval practice + jeda waktu secara signifikan memperlambat penurunan ingatan.
Kurva lupa mulai “mendatar”. Inilah sebabnya mengapa belajar tiga jam dalam satu malam kalah efektif dibanding satu jam di hari Senin, Rabu, dan Jumat.
3. Interleaving, Belajar Campuran
Teknik ketiga datang dari penelitian Doug Rohrer, Robert Dedrick dan Sandra Stershic dari University of South Florida bernama interleaved practice, yang dirilis dalam artikel Interleaved Practice Improves Mathematics Learning (2014).
Selama ini, banyak orang percaya bahwa cara terbaik belajar adalah fokus pada satu topik sampai mahir, baru pindah ke topik lain.
Namun penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan ini hanya melatih pola, bukan pemahaman.
Dalam studi matematika, siswa dibagi dua kelompok.
Kelompok blocked mengerjakan soal dengan satu jenis rumus berulang-ulang.
Kelompok interleaved mengerjakan soal campuran seperti bidang balok, kerucut, prisma, yang disajikan acak.
Hasilnya nilai kelompok interleaving bisa mencapai dua kali lipat dibanding kelompok blocking pada tes akhir.
Mengapa? Karena interleaving memaksa otak melakukan hal yang paling sulit yakni memilih strategi yang tepat, bukan sekadar menjalankan rumus.
Ini persis seperti kehidupan nyata, di mana masalah sering datang secara acak.
Menurut Rohrer, Dedric dan Stershic, interleaving melatih kemampuan diskriminasi dan pengambilan keputusan, dua inti kecerdasan yang sering luput dilatih di sekolah.
Dari tiga teknik utama ini, testing effect, spaced repetition, dan interleaving, dapat disimpulkan bahwa belajar terbaik bukan yang terasa paling cepat dan nyaman, tetapi yang paling menantang otak secara aktif.
Membaca teks berulang-ulang memang terasa meyakinkan. Sistem kebut semalam tampak seperti cara efektif tapi mudah lupa.
Jika tujuan belajar adalah ingatan jangka panjang, pemahaman mendalam, dan kemampuan menghadapi masalah nyata, maka sains sudah memberi jawabannya bahwa belajar itu bukan soal seberapa lancar memahami hari ini, tetapi seberapa kuat ingatan dan kemampuan selama seminggu, sebulan, bahkan setahun kemudian.***
Pemred Media Brikolase
Editor in chief
Email:
yongky@brikolase.com / yongky.g.prasisko@gmail.com

