Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Tradisi Nyadran

Tradisi Nyadran atau “Sraddha”telah melintasi peradaban zaman, dari generasi ke generasi. Gaung semangat Nyadran terasa dari riuhnya suara para peziarah yang datang ke Masjid Panthok Negoro Plosokuning. Mereka telah memasuki pekarangan makam sejak pagi, yang letaknya berdekatan dengan bagian belakang masjid tersebut. Tangan-tangan mereka menggenggam tasbih dengan melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran di pusaran penghuni kubur.  

Tradisi Nyadran tetap bertahan di usianya yang telah mencapai ratusan tahun. Tradisi ini mengajarkan untuk mengenang dan mengenal para leluhur, silsilah keluarga, serta mengambil ajaran baik dari para pendahulu. Dalam peribahasa Jawa kuno disebutkan, “Mikul dhuwur mendem jero” yang bermakna, “Ajaran-ajaran bijak dan santun patut dijunjung tinggi, sedangkan yang kurang baik,  hempaskan sedalam-dalamnya”. Nyadran menjadi suatu keyakinan penting di kalangan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, para pewaris tradisi ini menjadikan Nyadran sebagai momentum untuk menghormati para leluhur dan ungkapan syukur kepada Tuhan.

Masyarakat Jawa yang masih melaksanakan tradisi Nyadran meyakini bahwa membersihkan makam adalah simbol dari penyucian diri secara tulus menjelang bulan suci Ramadhan. Nyadran juga dilakukan dengan saling bertukar makanan antarwarga. Kegiatan dimulai dengan acara doa yang dipanjatkan kepada para penghuni kubur atas jasa-jasa baiknya selama mereka hidup di dunia. Bukan hanya relasi manusia dengan Tuhan, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para penghuni kubur yang dulunya juga manusia. Nilai-nilai nyata Nyadran membentuk kerukunan dan mempererat hubungan persaudaraan yang tampak nyata di saat berlangsungnya tradisi tersebut.

Nyadran, dari catatan sejarah, telah dilakukan sejak masa kerajaan Jawa kuno, di masa Hindu-Buddha.  Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, akulturasi  nilai-nilai Islam  menyelaraskan tradisi Nyadran. Di era sekarang, akulturasi budaya Nyadran telah menyatu di tengah kehidupan masyarakat setempat. Tradisi Nyadran mempertemukan dua budaya Jawa dan Arab atau akulturasi budaya Jawa dengan Islam, yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Islam Jawa.

Masjid Pathok Negoro Plosokuning menjadi tempat dilaksanakan tradisi Nyadran. Masjid ini dulunya, di era Sultan Hamengku Buwono (HB) I, menjadi benteng pertahanan keraton yang berada di sisi timur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Masjid yang masih dapat ditemui jejak arkeologisnya ini tampak tetap berdiri kokoh.

Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning tertulis dalam perjanjian Giyanti yang berisi kisah terbaginya kerajaan Mataram menjadi dua wilayah. Masjid yang didirikan sekitar tahun 1757-1758 itu sekarang berada di jalan Plosokuning Raya nomor 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY. Secara geografis, masjid ini berada di sebelah timur sungai Opak, wilayah kesultanan Surakarta dan di barat sungai Opak dari kewilayahan kesultanan Karaton Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat. Di dua wilayah tersebut, masyarakat dan takmir masjid menjaga dan merawatnya secara bergantian.

Menjelang bulan Ramadhan dan masih dalam kondisi pandemi COVID-19, jemaah tetap melaksanakan acara doa bersama di Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Di situasi sekarang ini, bentuk doa ziarah kubur tidak seperti biasanya. Pandemi telah mengubah kegiatan tradisi Nyadran dengan pembatasan kunjungan masyarakat dari berbagai kota. Hanya warga setempat saja yang boleh berkunjung.

Di hari-hari biasa, masjid ini jadi pusat berbagai kegiatan keislaman yang diselenggarakan oleh  masyarakat sekitar. Menjelang bulan suci Ramadhan, kegiatan keislaman semakin intens dengan bertambahnya acara di masjid seperti tadarus Al-Quran, kajian kitab kuning, pengajian remaja dan dewasa, i’tikaf, sholat tarawih dan sholat malam sampai melakukan sahur bersama. Di bulan suci yang penuh rahmat ini, masyarakat saling berlomba untuk meraih keberkahan. Kegiatan Nyadran yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan mengingatkan sekaligus mempererat kerukunan di antara masyarakat serta meneguhkan keimanan. Tradisi ini turut menghormati serta berbakti pada nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan oleh para leluhur.

_____________________________

Penulis dan fotografer: Ade Dani
Penyunting: Yongky

Leave a Reply