Kisah Pengangon Bebek di Masa Pandemi

Di hamparan luas persawahan dengan desiran angin kencang, suara bebek terdengar riuh ramai. Terkadang suara itu pun tenggelam di kubangan lumpur sawah dan muncul kembali dengan lengkingan suara yang khas, kwek .. kwek ..kwekkkk…. Mereka saling besaut-sautan dengan mengepakkan kedua sayap mungilnya setelah itu berlari saling berebut benir-benir ikan dan keong di sawah. Sedangkan sang pengangon bersantai menikmati sesapan tingwe (melinting dewe/sendiri) rokok kretek.

Pak Wardoyo dan Bu Hartati, pengangon bebek.

Tampak dari kejauhan sang sontoloyo, sebutan para pengangon bebek, mengangkat-angkat tongkat yang di ujungnya terpasang suwir-suwir plastik. Cara ini sesekali perlu dilakukan agar keberadaan bebek-bebek dapat terlihat dan tidak lepas dari kelompoknya. Masih banyak ditemui di Desa Tegalgondo Klaten Jawa Tengah kereta kandang bebek hilir mudik yang ditarik dengan sepeda motor. Ini menunjukkan bahwa warga di desa ini selain bertani bermata pencaharian sebagai peternak bebek petelur dan pedaging. Masih banyaknya lahan sawah turut memberikan banyak peluang bagi para peternak bebek agar bisa bertahan hidup terlebih di masa pandemi Covid-19 sekarang ini.

Pengangon bebek melintas.

Pak Wardoyo dengan istrinya, Ibu Hartati, sebagai pengangon bebek, selalu bergegas ke sawah di pagi hari, bersamaan dengan para petani yang  sedang melakukan pemotongan batang-batang padi yang telah masak. Menurut Pak Wardoyo, setiap musim panen, ketersediaan sumber pakan untuk ternak bebek melimpah dan meringankan beban keuangannya. Ia dimudahkan dengan kondisi tempat  tinggalnya di desa Tegalgondo di mana masih ada beberapa lahan sawah yang dapat digunakan untuk menggembalakan bebek.

Berbaris antri

Pak Wardoyo dan teman-temannya yang seprofesi diuntungkan dengan musim panen padi ini sebab mereka bisa menghemat pembelian pakan.  Pak Wardoyo merasakan, di tengah pandemi Covid-19, harga beli pakan kadang tidak sebanding dengan hasil yang ia peroleh. Ini disebabkan karena menurunnya daya beli telur bebek di masyarakat. Ia biasanya mampu menjual telur bebek mentah seharga  Rp. 15.000 per butir.  Namun saat susah begini, ia menjual telur bebek mentah dengan harga Rp. 2.500 per butir. “Asal masih bisa untuk menopang hidup keluarga,” ujar Pak Wardoyo dengan tersenyum.

Keluar Barisan
Tertangkap satu

Di tengah pandemi Covid-19, Pak Wardoyo dkk. mengakui tidak mempunyai persediaan bahan pakan bebek dalam jangka waktu panjang. Sebelumnya, ia masih bisa menyimpan pakan untuk cadangan. Namun kali ini justru sebaliknya, ia hanya mengandalkan dengan melepaskan bebek angon di lahan-lahan luas seperti sungai dan persawahan. Ia pun tetap selalu mencari lahan baru yang masih banyak sumber makanan untuk bebek. Pak Wardoyo mengangon bebek setiap hari sejak pagi hingga sore dengan harapan supaya bebek-bebek itu bisa makan kenyang dengan dilepas di sawah.

Balik ke kandang

Ketika bebeknya mencari makan di sawah, Pak Wardoyo menunggu sambil beharap penuh kelak telur bebeknya dapat meningkat. Kesabaran ia tunjukkan dengan mengamati gerak-gerik bebek-bebeknya, sambil mengacung-acungkan tongkat berbendera plastik ke atas, samping, kanan, dan kiri mengikuti gerakan bebek yang  keluar jalur kelompok. Pak Wardoyo meyakini bahwa bebek itu mempunyai kepekaan tinggi, sehingga tidak akan tertukar dengan pengangon lainnya. Walaupun ada ratusan bebek di petak sawah yang sama, bebek itu tetap tahu di mana majikannya berada. Demikian pula bila diarak pulang, bebek-bebek ini pun berbaris secara rapi menuju kereta kandang pemiliknya. Kadang ada juga bebek yang nakal keluar dari barisan kelompok. Ini sudah menjadi tugas pengangon untuk mengejar, menangkap dan mengembalikannya ke kelompok barisan bebek.

Rata-rata jenis bebek di desa Tegalgondo adalah bebek petelur. Lebih banyak peternak memelihara petelur dibandingkan pedaging. Tapi  dalam kondisi sekarang ini, Pak Wardoyo patut bersyukur sebab hasil telur bebeknya tetap selalu dipesan tetangga maupun penjual kulineran dari desa sebelah.

_______________________________

Penulis dan Fotografer: Ade Dani
Penyunting: Yongky Gigih P.

Leave a Reply