Budaya Lokal sebagai Sumber Kreasi Seni

Konsep kekaryaan bisa berangkat dari akar tradisi yang ditumbuhkembangkan untuk menjawab setiap tantangan zaman. Ia dapat dikembangkan dengan menguatkan kesadaran akan pentingnya nilai budaya yang disalurkan dalam proses kreatif. Kombinasi antara merawat tradisi dan mengreasikan kebudayaan diwujudkan kreator antara lain melalui media seni rupa dan desain. Proses kreatif berperan penting sebagai tindakan yang menyebabkan terciptanya karya seni dan desain. Dalam hal ini, proses kreatif tidak lepas dari sesuatu yang telah ada sebelumnya, seperti budaya lokal.

Kearifan/budaya lokal merupakan identitas kelompok etnik yang mewujud sebagai budaya benda (tangible) maupun tak benda (intangible). Budaya lokal turut menjadi petunjuk untuk  melihat sejarah keberadaan suatu bangsa dari zaman Prasejarah, Hindu, Budha, masa Klasik Awal- Klasik Akhir hingga saat ini. Wujud dari peninggalan  budaya benda/material antara lain artefak, ekofak bahkan karya seni luhur. Sebuah karya tercipta dari perpaduan pengalaman pribadi, kehidupan sosial, dan wawasan di bidang seni yang mampu melahirkan konsep karya yang kuat.

Budaya lokal turut mendapat tantangan dari budaya Barat yang juga kuat mempengaruhi kehidupan masa kini. Memosisikan diri dalam keseimbangan di antara keduanya bisa menjadi sebuah pilihan dengan mengreasikan karya bersumber dari budaya lokal. Karya yang responsif akan kebaruan merupakan aktivitas unik, menarik, dan cenderung menantang karena persoalan yang diangkat bertema kekinian. Namun, ia juga tidak melupakan akar budaya yakni budaya lokal sebagai jalan tumbuh dan berkembang, sekaligus menumbangkan sekat antara masa lalu dan masa kini.

Kedekatan dan kompleksitas budaya lokal dalam keseharian  masyarakat tidak dapat dipungkiri secara krusial memberikan warna, wacana, identitas, dan eksistensi dalam jagad seni rupa dan desain baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Selain itu, tema tradisi yang kerap diusung dalam berkarya dapat memberikan andil dalam membangun jiwa, kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung tinggi nilai-nilai warisan budaya.

Kreasi seni yang bersumber dari budaya lokal dalam bidang seni rupa turut mewujud dalam Wayang Papua karya Lejar Daniartana Hukubun. Karya Lejar berangkat dari konsep akulturasi budaya lokal antara Papua dan Jawa.

Wayang Papua karya Lejar Daniartana Hukubun

Dalam Seminar Daring Nasional Desain 2020 bertajuk Optimasi Desain dalam Meningkatkan Kesadaran Budaya Lokal (19/12/20), Lejar mengutip Steve Jobs yang  mengutarakan bahwa esensi seni adalah kreativitas. Kreativitas adalah perkara menghubungkaitkan segala sesuatu yang tadinya tak terhubung. Orang kreatif boleh jadi terusik bilamana ditanya bagaimana mereka mencipta karya, sebab sesungguhnya mereka tidak membuat apa-apa melainkan menghubungkaitkan pengalaman-pengalaman yang mereka miliki lalu merangkainya menjadi hal baru.

Sebagai seniman seni rupa dan desainer lulusan  Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Lejar mengoptimasikan konsep dasar Wayang Papua ke dalam berbagai media, mulai dari ilustrasi pada komik, merchandise , batik lukis dan seni rupa murni. Karya Lejar ini menunjukkan bahwa budaya lokal mampu menampilkan keragaman karya dan mewujud di berbagai media tanpa batas.

Keberagaman seni dan budaya lokal merupakan sumber daya desain yang juga dapat dikreasikan dan dikembangkan menjadi identitas bangsa. Efektifitas akan optimasi desain ini perlu adanya dukungan dari berbagai pihak antara lain akademisi, praktisi seni, asosiasi seni dan budaya, industri kreatif, pelajar maupun mahasiswa. Strategi kesenian ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan budaya lokal sebagai bagian dari budaya bangsa, yang dapat berkembang sampai arena global.

Penulis: Ernawati
Penyunting: Yongky

Leave a Reply