Katrin Bandel: Karya-karya Lekra Penting untuk Dibaca

Menemukan Sugiarti Siswadi adalah dengan menemukan karya-karyanya. Karena melalui karya-karyanya kita dapat belajar tentang semangat zaman dan optimisme yang keras guna membebaskan dan memajukan Indonesia dari cengkeraman kolonialisme. Ketika kolonialisme berakhir secara formal dan fisik, negeri jajahan mulai pulih. Akan tetapi, bangsa terjajah tidak serta merta lepas dari penjajah, ada elit lokal yang mengambil alih peran kolonial dalam bentuk penjajahan ekonomi.

“Karya-karya Sugiarti Siswadi banyak bercerita tentang semangat menolak kolonialisme, semangat menolak perbudakan, semangat meninggalkan tahyul, kebanggan pada kemajuan sains dan pengetahuan, serta menolak perilaku kelas ningrat yang sewenang-wenang,” jelas Katrin Bandel dalam acara bedah buku dan diskusi Karya-karya Lengkap Sugiarti Siswadi Hayat Sastrawan Kreatif Lekra karya Fairuzul Mumtaz di Kedai Kebun Forum (KKF) pada Jumat (9/9) malam lalu.

Selain Katrin, hadir juga di sana novelis Anindita S. Thayf dan Fairuzul Mumtaz sebagai pembicara. Menurut Anindita, mengutip pernyataan Virginia Woolf, setiap penulis membutuhkan uang dan ruang pribadi dalam muwujudkan tulisan-tulisannya hingga tersebar luas ke publik. Akan tetapi, berbeda dengan Sugiarti Siswadi, ketika Sugiarti sudah memiliki uang dan ruang untuk menulis di media, seperti pada Harian Rakjat dan Api Kartini (dengan jumlah karya 17 cerita pendek, 5 puisi, dan 2 buku kumpulan cerpen), namanya tetap tidak dikenal dalam khasanah kesusastraan Indonesia, sebelum Fairuzul Mumtaz menemukannya.

“Makanya, kemudian saya menyebutnya sebagai penulis perempuan yang terselip dalam lipatan sejarah sastra Indonesia sehingga ia tidak pernah dibicarakan,” terang Anindita.

Anindita menambahkan, Sugiarti sebagai penulis perempuan memakai keperempuanannya yang menyentuh dalam menulis cerita pendek maupun puisi. Ia menulis penuh dengan perasaan, perasaan yang lebih kepada kemanusiaan. Tokoh perempuan dalam karya Sugiarti, meski tidak menjadi tokoh utama, tapi merupakan tokoh yang menggerakkan alur cerita. Sugiarti juga merupakan sastrawan yang sangat peduli dengan kesusastraan anak. Baginya dan bagi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) waktu itu, pendidikan ide dan moral bagi anak perlu ditanamkan sejak dini. Ide dan moral di sini ialah ide dan moral sosialis, membentuk generasi sosialis.

Karya Fairuzul Mumtaz ini merupakan hasil penelitian ketika menempuh studi di Kajian Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dengan metode kajian new historicism, ia membedah karya-karya Sugiarti Siswadi pada periode 1950-1965 yang tersebar pada Harian Rakjat dan Api Kartini. Dengan keterbatasan informasi tentang Sugiarti Siswadi dan karya lainnya, metode new historicism kemudian membantu guna memahami konteks sejarah pada waktu itu serta wacana kebangsaan apa saja yang bergulir dalam karya-karya Sugiarti Siswadi yang sudah terhimpun.

“Dari karya-karyanya terlihat keberpihakan Sugiarti Siswadi pada kelas bawah dan pendidikan bagi anak-anak. Hal ini ditunjukkan pada isu sengketa landreform (agraria) dan dengan referat Sugiarti Siswadi dalam Konfernas I Lekra di Medan pada Harian Rakjat, Mei 1963,” terang Fairuz.

Menurut Katrin, yang jauh lebih penting untuk dikerjakan mendatang ialah dengan menerbitkan ulang karya-karya Sugiarti Siswadi beserta dengan karya-karya dari penulis Lekra lainnya, baik perempuan maupun laki-laki. Karena ini berkaitan dengan sejarah kesusastraan Indonesia sendiri. Tidak saja untuk mengenal karya-karya dari penulis Lekra beserta ideologi yang diusung, tapi juga untuk melihat, masuk, dan merasakan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu. Membaca karya-karya Sugiarti Siswadi, tambahnya, kita bisa merasakan semangat zaman dan perjuangan yang ia tuliskan. Menjadi penting membaca karya-karya penulis Lekra dan bercermin pada harapan yang dibangun, harapan yang pernah ada pada waktu itu.

Bedah buku ini merupakan rangkaian dari acara Buku Andalan, ajang literasi yang digagas oleh KKF dan M. Hadid sebagai upaya perluasan ruang wacana. Acara yang berlangsung pada 8-22 September 2016 ini selain mengedepankan aktivitas pertukaran sebagai sarana diseminasi pengetahuan, ajang ini juga menggarisbawahi bahwa proses transaksi jual beli antara penjual dan pembeli buku, bukan semata aktivitas transaksional karena kesadaran nominal, namun di antaranya terselip ruang literasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran dan pertemuan gagasan. Brikolase bekerja sama dengan Indonesian Visual Art Archieve (IVAA) mengadakan bedah buku dan diskusi ini.

Leave a Reply