Estetika Sublim: Seni Ketidak-terbatasan

Ulasan Buku Seni Nirmanusia

Buku Seni Nirmanusia: Seluk Estetika Postmodern Jean-Francois Lyotard seolah menjadi angin segar bagi para pecinta tradisi intelektual Prancis yang sudah dikenal tingkat njelimet-nya. Seperti halnya buku-buku pengantar tentang seni pada umumnya, Seni Nirmanusia berusaha membidik pemikiran Lyotard sebagai sebuah gerbang masuk ke dalam ruang berpikir posmodernisme. Penulis mampu memberikan penjelasan sistematis tentang seni yang diharapkan Lyotard: seni yang tidak lagi cukup dibingkai pada kerangka keindahan objektif dan realitas objektif.

Terlihat betul keseriusan penulis dalam menafsirkan pemikiran Lyotard melalui pembahasan kerangka berfikir kronologis dalam bukunya. Dimulai dengan memberikan jembatan dari awal mula perdebatan, konteks politik pada 1968, era modern menuju posmodern, persoalan-persoalan estetika, hingga berujung pada kesadaran kritis yang menjadi daya tarik tersendiri untuk memberikan pengalaman lebih runtut tentang perjalanan seni di kawasan barat. Buku ini juga dilengkapi dengan seperangkat alat untuk mengoperasionalisasikan teori seni ala Lyotard pada karya seni. Karya-karya besar problematis dari Edouard Manet dan beberapa karya lainnya dijadikan sebagai contoh analisis yang menarik. Dengan begitu, pembaca jadi dimudahkan untuk memahami cara kerja dari konsep yang ditawarkan oleh filsuf satu ini. Pada titik inilah kemudian, seni menjadi sebuah instrumen menuju pengalaman yang tak terbatas dengan menguraikan batas-batas objektif yang direpresentasikan dari estetika modern.

Sublim sebagai Tawaran

Lukisan Le Dejeuner sur L’Herbe (1863) karya Edouard Manet merupakan karya ‘olok-olok’ pada zamannya. Meski begitu, penulis dalam buku ini mendaraskan analisis dan kritiknya tentang gambaran transisi kesadaran, di mana rujukan-rujukan kesenian tidak lagi dibatasi pada kesadaran keindahan objektif semata. Lukisan ini menampilkan dua orang lelaki berpakaian rapi dan lengkap dengan seorang perempuan telanjang di sebuah hutan pedusunan. Referensi pada lukisan menjadi silang sengkarut karena gambaran laki-laki yang mengenakan setelan jas, dasi, dan celana panjang (khas modern) duduk santai berdampingan dengan seorang gadis telanjang. Sang gadis yang seolah sedang menatap penonton menjadi tidak relevan dengan dunia fisik material seperti yang diharapkan oleh para kurator seni.

manet-dejeunersurl'herbe-large

Edouard Manet, Le Déjeuner sur l’Herbe (Piknik Makan Siang) [1863]

Hal ini menjadi pemantik referensi awal apa yang dapat digunakan untuk memahami lukisan yang kriterianya tidak lagi menuju pada realitas objektif. Karya Manet menjadi ‘gagal’ dalam tradisi seni modern karena hilang sisi realitasnya sehingga menghadirkan krisis pemaknaan. Peristiwa ini kemudian dijadikan sandaran untuk memetakan lebih lanjut estetika sublim sebagai sebuah tawaran berpikir dan perpindahan semangat zaman dari modern menuju posmodern.

Seni dalam khasanah modern mengalami krisis: apa yang hendak direpresentasikan dan bagaimana ia direpresentasikan menjadi hal yang harus dirumuskan ulang. Seni mengalami stagnansi karena unsur mimetiknya yang hanya berusaha mereduplikasi kenyataan ternyata menemui kebuntuan. Penikmat seni kemudian mengalami momen “displeasure and pleasure” atau dalam termin Madura kek sakek nyaman: pada satu sisi gambaran seni tidak hilang sepenuhnya dengan referensi realitas (pleasure), tapi pada sisi lain juga mengalami displeasure karena ada bagian lain yang tidak bisa dicari empirisnya.

Kelihaian penulis untuk memberikan penjelasan tentang perisitiwa ini kemudian akan melambungkan pada tradisi awal Immanuel Kant tentang sublim yang membagi kesadaran rasio menjadi dua fakultas yaitu rasio murni (teoritis) dan rasio praktis (etis). Penulis melihat bahwa keputusan atau pandangan (judgement) muncul untuk menghubungkan dua fakultas tersebut yang ternyata mengalami “gagal paham”. Saling paham (understanding) ternyata tidak kunjung tercapai, seperti yang dijabarkan penulis, karena judgement tidak lagi menemukan kesepakatan antara yang teoritis dan yang etis, antara yang nilai dan yang empiris, antara yang teoritis dan yang praktis pada tingkat imajinasi. Inilah yang menghasilkan chaos, disorder, dan disharmony saat melihat karya Manet, yang tak lain adalah sublim, pengalaman tidak terbatas.

Lyotard melihat hal ini bukanlah hal yang harus ditangisi, namun merupakan diskursus baru yang menuntut munculnya phrase. Phrase secara simplistik adalah hasil pengalaman sublim, dalam wilayah seni, yang menuntut pembedaan terhadap pengalaman-pengalaman lain karena ia tidak ditemukan referennya secara utuh. Phrase adalah konsekuensi sublim ketika subjek mengalami ketidak-terbatasan, ketika rasio selalu ingin memahami sebuah karya seni untuk mendapatkan rasa pleasure namun gagal ditingkat judgement dan imajinasi. Ide tentang ketidak-terbatasan ini kemudian dalam kesadaran lain, seperti kesadaran kritis, harus disambut sebagai sebuah kebaharuan.

Seni menjadi gerak yang selalu keluar dari logika representasi, mendobrak, dan mempertanyakan batas-batas pengalaman manusia. Ia menjadi khas nirmanusia karena bahasa atau sistem representasi tidak mampu menyampaikan sesuatu yang tak terbatas. Tak heran jika kemudia penulis memberikan tajuk Seni Nirmanusia sebagai tema berpikir karena ia mampu keluar dari batasan fisik yang terbatas menuju yang tak terbatas, hasil dari estetika sublim.

Membaca seluk Seni Nirmanusia menjadi pengantar pengalaman manusia untuk melihat posmodernitas sebagai sesuatu yang harus diakui keberadaannya dan tak perlu ditangisi. Kegagalan rasio, pengalaman tak terbatas, dan peristiwa sublim dapat menjadi motor dalam hidup yang terus bergerak dan memberikan cara berfikir kritis karena yang representatif tidak cukup untuk membahasakan yang terbatas karena ia menuntut pembedaan. Penulis dengan sekian kecermatannya berusaha memberikan pengalaman runtut ketika menjabarkan cikal bakal seni dalam semangat posmodern awal melalui ikhtiar yang patut diapresiasi. Buku ini dan segala sitiran dapat menjadi pertimbangan untuk memahami tradisi konseptual Lyotard sebelum melangkah ke buku kanonnya. Seperti sebuah ajakan akan hadirnya untuk memahami seni dan ragam keindahannya, buku yang terbatas ini semoga bisa menjadi pijakan untuk memahami pengalaman yang tidak terbatas.

Keterangan Buku

Sampul Seni Nirmanusia

Judul                 : Seni Nirmanusia:
Seluk Estetika Postmodern Jean-Francois Lyotard
Penulis              : Yongky Gigih Prasisko
Pengantar        : Sumartono Ph.D.
Penyunting      : Venti Wijayanti
Tahun                 : April 2016
Penerbit            : Ladang Kata bekerja sama dengan Brikolase

xii + 88 hlm; 14,5 cm x 21 cm
ISBN 978-602-1093-58-0

Leave a Reply