Strukturasi LGBT

Strukturasi adalah interaksi yang dilakukan oleh aktor sosial dan struktur sosial yang membentuk repetisi sosial. Sekurang-kurangnya ada tiga struktur yang disebutkan Giddens dalam pembentukan strukturasi. Pertama, signifikasi yang berkaitan dengan wilayah pengkodean agensi. Kedua, dominasi yang berkaitan dengan otorisasi sumber daya dan alokasi sumber daya. Ketiga, legitimasi berkaitan dengan regulasi normatif.

Kaitan tiga struktur yakni signifikasi, dominasi, legitimasi dengan tindakan manusia disebut sebagai praktik sosial. Penandaan dalam signifikasi diterapkan melalui komunikasi bahasa seperti berbicara atau berdiskusi. Struktur yang terbentuk melalui pengulangan penandaan tersebut akhirnya membentuk sistem yang terwujud dalam praktik penguasaan sehingga terbentuklah struktur dominasi.

Dualitas struktur menjadi salah satu titik klimaks pemikiran Giddens. Pada ranah teoritis yang mengarah pada solusi sosial dan politik, Giddens merekomendasikan pembentukan tinjauan ‘refleksivitas institusional’. Refleksivitas institusional adalah proses yang berlangsung dengan pola strukturasi melalui repetisi atau rutinisasi pelembagaan. Jadi refleksivitas institusional mengarah pada kegiatan agen yang terus-menerus dalam sistem sosial yang akhirnya terbentuk secara konstitutif.

Struktur masyarakat demokratis terdiri dari tiga unsur: pertama civil society, kedua political society dan ketiga state. Civil society di sini menjadi arena gerakan sosial untuk mengekspresikan berbagai kepentingan. Political society adalah arena yang memungkinkan agen untuk memperoleh kontrol maupun kekuasaan. Sementara the state merupakan sistem administrasi legal, birokratis, dan koersif, atau hukum perundang-undangan yang mengelola berbagai hubungan mendasar dalam political society dan civil society. Civil society sangat berkaitan dengan upaya swadaya masyarakat, seperti LSM (lembaga swadaya masyarakat) atau NGO (organisasi non-pemerintah) yang membantu memberdayakan masyarakat. Political society berkaitan dengan persoalan kekuasaan, birokrasi dan partai politik. Sedangkan kegiatan produksi, perusahaan, dan korporasi bisnis dan sebagainya disebut sebagai economic society.

Menurut saya kelompok LGBT perlu mempertimbanngkan komponen-komponen tersebut dalam usaha untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga Negara. Secara kultural mereka bisa berperan sebagai agen. Agen di sini dimaknai sebagai pihak yang berpolitik. Ia terwujud dalam civil society, dalam bentuk LSM. Gerakan LSM ini selain berjuang di ranah politik dalam arti menyuarakan aspirasinya, ia juga mesti menjalankan peran intelektual, yakni kajian dan riset tentang fenomena LGBT. Peran intelektual ini nantinya berfungsi sebagai refleksivitas institusional, yang berlangsung melalui repetisi dan rutinitas pelembagaan. Repetisi mensyaratkan konsistensi aktivitas yang kemudian menjadi kebiasaan kolektif. Aktivitas-aktivitas civil society arahnya adalah pada pemberdayaan masyarakat. Basis materialnya adalah cara produksi. Mereka harus bisa berporduksi dalam ranah ekonomi untuk menguatkan independensi materialnya sebelum bergerak di ranah politik. Inilah sebenarnya makna dasariah dari agen.

Agen yang mampu mempengaruhi struktur bergerak dalam ranah political and economic society. Politik di sini sudah masuk dalam ranah birokrasi pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, Komnas HAM bisa menjadi penyambung lidah aspirasi mereka kepada pemerintah. Selain itu mereka juga bisa menjadi determinan lain yang berperan sebagai economic society. Dalam hal ini, Gidden menjelaskannya melalui hubungan antara industri kecil dan besar. Industri kecil sederhananya bisa disebut sebagai industri rumah tangga. Sedangkan industri besar misalnya yang bergerak pada ranah infrastruktur. Mereka bisa diberdayakan dalam industri sebagai penyokong ekonomi Negara dan kesejahteraan masyarakat.

Pada intinya, yang hendak saya utarakan adalah kelompok LGBT haruslah menjadi agen yang aktif berpolitik serta produktif secara material/ekonomi. Hanya dengan itulah mereka bisa menjalankan peran sebagai agen yang reflektif terhadap institusi dan berpengaruh terhadap struktur. Kebalikan dari ini semua adalah individu-individu yang gagal menjadi agen, yakni mereka yang cenderung pasif dan konsumtif. Tak bisa dipungkiri, mereka (LGBT), juga kerap gagal menjadi agen, dan menjadikan komunitasnya sebagai wadah pembebasan hasrat dan euphoria kebebasan seksual an sich.

Leave a Reply