Speech Composing : Menggubah Wicara

Pada abad ke-21, dunia telah mengalami lompatan cepat dalam bidang teknologi dan informasi. Kemajuan teknologi tersebut salah satunya berkembang dalam dunia digital, yang ditandai dengan ditemukannya komputer pada tahun 1960-an dan kemudian berkembang sampai saat ini menjadi komputer personal (PC). Perkembangan teknologi berdampak terhadap berbagai bidang kehidupan manusia seperti bidang kesehatan, pendidikan, informasi, keamanan, dan sebagainya. Manusia memanfaatkan teknologi untuk memudahkan dan memenuhi segala kebutuhannya.

Begitu pula dalam bidang musik, perkembangan musik selalu berjalan searah dengan perkembangan teknologi di setiap zaman.  Dimulai dari awal perkembangan musik di Barat, di mana pada saat itu belum ditemukan alat pengeras suara (microphone), sehingga para arsitektur lebih mengutamakan kemapanan akustik ruangan dalam rancangan gedung-gendung pertunjukan dan gereja untuk membantu memaksimalkan bunyi musik. Proses penciptaan musik dan dokumentasi dilakukan serba manual (fisikal), dalam penciptaan musik, komponis menulis komposisinya secara manual, dengan tulisan tangan, di atas lembaran kertas. Alat perekam juga masih belum ditemukan, sehingga dokumentasi hanya berupa partitur tulisan tangan dari sang komponis saja. Hingga kemudian perkembangan teknologi mampu melahirkan alat perekam gramophone pada tahun 1887. Pada saat itulah karya-karya musik berhasil didokumentasikan dengan baik dalam bentuk piringan hitam.

Perkembangan musik berjalan cukup cepat hingga memasuki era digital pada abad ke 21. Teknologi digital dan globalisasi media membuat orang semakin mudah mengakses dan menikmati musik. Kini musik tidak hanya berbentuk fisik, CD, kaset, VCD, dan DVD, tetapi kita dapat menikmatinya melalui media TV, radio, ataupun media internet (streaming dan download). Globalisasi seolah memecah sekat dan batas-batas ruang di seluruh dunia, media internet mampu menghubungkan seluruh umat manusia dalam satu ruang komunikasi virtual. Tentu saja ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan musik. Semua orang dapat mempelajari musik apapun di seluruh dunia dengan mudah. Tidak hanya untuk mempelajarinya tetapi juga membagikan (share) musiknya kepada orang lain. Beberapa contoh website yang menyediakan jasa untuk share musik dan video di dunia maya antara lain: youtube, soundcloud dan reverbnation.

Speech Composing

Dalam bidang penciptaan musik, teknologi mampu menghadirkan beberapa perangkat lunak (software) untuk memudahkan komponis dalam menulis dan merekam karyanya, misalnya: sibelius, finale, encore yang khusus dirancang untuk menulis komposisi musik, serta Fl Studio, Steinberg Cubase/Nuendo, Sonar, Apple Logic Express yang dirancang untuk merekam musik. Melalui perkembangan teknologi mutakhir tersebut, kini semua orang dapat dengan mudah membuat musik digital, bahkan tanpa menguasai instrumen musik secara mahir pun bisa. Teknologi mampu mempercantik penciptaan karya musik melalui proses editing dengan perangkat aplikasinya yang semakin canggih. Salah satu hasil penciptaan musik digital melalui teknologi ini adalah speech composing. Speech composing merupakan sebuah istilah yang sering dipakai untuk melabeli karya musik garapan Eka Gustiwana. Sederhananya, speech composing dimaknai sebagai sebuah proses kreativitas yang mengubah perkataan menjadi sebuah nyanyian.

Pada dasarnya speech composing merupakan penciptaan musik, di mana liriknya berasal dari potongan-potongan perkataan seseorang, seperti pidato, percakapan atau wawancara dalam sebuah video yang ditayangkan di media televisi atau internet. Potongan perkataan tersebut diedit sehingga menjadi melodi vokal yang apik, dan kemudian dipadukan dengan musik. Salah satu contoh speech composing karya Eka Gustiwana adalah lagu Demi Tuhan yang liriknya diambil dari potongan-potongan perkataan Arya Wiguna dalam tayangan infotainment di sebuah televisi swasta. Sampai saat ini Eka telah menciptakan lebih dari 20 karya speech composing, diantaranya yang terkenal adalah Bbm Campuran, Ngaca Dulu deh!, 29 My Age yeah dan Maju Mundur Cantik. Kemunculan speech composing tentu saja karena dampak dari pengaruh teknologi yang berkembang pesat, teknologi mampu ‘menyulap’ perkataan menjadi musik dengan kreativitas seorang komponis yang menggubahnya. Speech composing menjadi sangat populer di masyarakat juga karena peran media internet, youtube. Lagu “demi tuhan” yang diunggah oleh Eka akhirnya mengantarkannya menjadi artis youtube dengan subscriber terbanyak kedua se-Indonesia. Selain karya-karya Eka Gustiwana yang terkenal di Indonesia, di mancanegara juga terdapat beberapa karya serupa yang dipopulerkan melalui youtube, antara lain karya berjudul Bed Intruder Song, Smash Smash Smash, Autotune Cute Kids and Kanye, Oh My Dayum, Obama Sings to the Shawties  dan Dead Giveaway.

Kreativitas Iseng dalam Speech Composing

Ingat video Arya Wiguna dengan jargonnya “demi tuhan!”, video yang pernah booming di Indonesia tersebut mampu membuat kehidupan Arya Wiguna berubah drastis dan mendadak jadi selebritis. Sebenarnya dalam video tersebut tidak ada yang menarik. Jika kita simak tayangan aslinya, ia hanya berupa potongan-potongan video berita gosip (infotainment), namun video tersebut menjadi menarik ketika Eka menggarapnya menjadi sebuah karya speech composing yang akhirnya menjadikan video tersebut mampu meraup lebih dari tiga juta viewer. Kemampuan Eka dalam menggarap video tersebut tentunnya bukanlah hal yang mudah bagi semua orang, meskipun Eka sendiri mengaku bahwa ia menggarapnya dengan iseng. Berawal dari iseng kemudian membuatnya menjadi kaya dan terkenal. Tentu saja ke-iseng-an Eka juga didukung dengan kreativitasnya yang tinggi, sehingga ke-iseng-an tersebut menjadi stimulus untuk melakukan proses kreatif.

Sekilas karya speech composing garapan Eka terkesan ‘sepele’ dan ‘remeh-temeh’, sama halnya seperti musik populer yang diciptakan sebagai barang komoditas untuk konsumsi massa. Karya ini terkesan digarap dengan ‘apa-adanya’ atau iseng. Berbeda jauh dengan komposisi musik klasik yang ‘adiluhung’ dan digarap dengan serius, walapun sebenarnya saat ini perdebatan tentang klasifikasi high art dan low art  sudah mulai kabur. Namun dibalik klasifikasi tersebut ada sisi kreativitas yang tidak bisa kita pandang sebelah mata.

Dalam proses penggarapannya, speech composing memiliki teknik kerumitan tersendiri yang berbeda dengan penggarapan musik digital lainnya. Sebelum melakukan proses kreatif, dibutuhkan beberapa keahlian musikal yaitu kemampuan menggubah musik (music composing skill), mengaransemen musik (music arranging skill), mengedit audio (audio editing skill), dan memproduksi musik (mixing and mastering skill). Selain kemampuan musikal, juga dibutuhkan kemampuan dalam mengoperasikan beberapa aplikasi recording dan editing musik.  Perangkat (software) yang digunakan adalah perangkat recording untuk membuat/merekam musik contohnya Cubase, Digital Audio Workstation (DAW): Presonus Studio One, Pitch Editor atau perangkat untuk mengedit pitch vokal seperti Melodyne, dan terakhir Video Editor. Jika dianalisis, ada beberapa tahap dalam proses penggarapan speech composing, antara lain:

  1. Menentukan ide atau gagasan, serta objek materi. Komponis menentukan ide, konsep tema dan konsep musikal, kemudian mencari objek materi, video tertentu, yang akan diambil potongan-potongan perkataannya untuk dijadikan materi melodi vokal.
  2. Mengedit dan membuat melodi vokal, yaitu proses mengkonversi perkataan yang sifatnya atonal menjadi rangkaian melodi vokal. Prosesnya dilakukan dengan mengambil potongan-potongan perkataan, kemudian potongan tersebut diedit pitchnya menggunakan software editing seperti melodyne, sehingga mempunyai nada yang sesuai dengan gambaran komponis. Setelah diedit, potongan-potongan tersebut kemudian disatukan menjadi satu rangkaian melodi vokal yang utuh.
  3. Menggubah musik, mengaranseman musik dan menyatukannya dengan melodi vokal. Melodi vokal yang sudah jadi kemudian dipadukan dengan musik rancangan komponis. Pada tahap ini dibutuhkan kemampuan aransemen yang baik agar hasil dari perpaduan melodi vokal dan musiknya menyatu secara utuh.
  4. Proses finishing yaitu musik yang sudah jadi kemudian dimixing dan dimastering supaya audionya terdengar balance dan proporsional. Karya musik yang sudah jadi tersebut kemudian dipadukan dengan video. Sebelumnya video tersebut disunting terlebih dahulu agar sesuai dengan potongan-potongan perkataan yang sudah berbentuk melodi vokal. Bentuk akhir inilah yang kemudian disebut sebagai karya speech composing.

Dari uraian tentang speech composing di atas disimpulkan bahwa perkembangan teknologi yang semakin cepat turut mempengaruhi perkembangan musik, baik terhadap aspek pertunjukan musik, aspek pendokumentasian musik, dan aspek penciptaan musik. Teknologi yang semakin mutakhir, di satu sisi, memberikan keuntungan bagi manusia, baik karena kemudahan dalam mempelajarinya, kemudahan dalam menggunakannya, dan kemudahan dalam memproduksinya. Speech composing merupakan hasil dari perkembangan teknologi di bidang musik. Penciptaan speech composing dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dalam dunia rekaman yang semakin mutakhir. Namun di sisi yang lain, teknologi juga memiliki dampak negatif, yakni manusia semakin memiliki sikap ketergantungan terhadap teknologi. Jika terus demikian maka secara perlahan manusia akan kehilanagan kemampuan motoriknya. Kemudahan teknologi tersebut membuat manusia menjadi malas untuk melatih kemampuan motoriknya karena semuanya serba instan dan mudah. Dalam penciptaan musik speech composing misalnya, teknologi memang penting untuk menunjang kebutuhan produksinya, namun yang terpenting adalah bagaimana tetap mempertahankan esensinya yaitu bangunan ide dan gagasannya. Jadi perkembangan teknologi sebaiknya disikapi secara kritis dan bijak.

Leave a Reply