Menelusuri Bangunan Bersejarah HKS Purworejo, Sekolah Guru Tertua di Indonesia

Bangunan berarsitektur Eropa ini adalah SMA Negeri 7 yang terletak di tengah kawasan kota tua, Jalan Ki Mangun Sarkoro, Kabupaten, Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan tampak depan bertuliskan Anno-1915 yang menjadi ciri menonjol dari bangunan cagar budaya yang masih terpelihara dengan baik.

Berdasarkan sejarah, bangunan ini awalnya digunakan sebagai sekolah guru, Hoogere Kweek School (HKS) 1915- 1928. Bangunan ini kemudian berubah menjadi sekolah umum MULO tahun 1928-1942. Lalu, bangunan ini menjadi sekolah menengah pertama negeri di masa kekuasaan Jepang, 1942-1945, sampai tahun 1949. Di tahun 1950-1961, bangunan ini kembali digunakan sebagai sekolah guru SGB dan Guru DGA dari tahun 1958-1968. Sejak tahun 1958-1971, sekolah ini dipimpin oleh kepala sekolah B. Dandel, kemudian Djaidy, BA, 1971-1979, Drs. Syhlan AH, 1979-1988 dan Suparman, 1988-1991.

Di zaman kepemimpinan M. Parjuli BA, sekolah ini menerapkan jam belajar mengajar untuk para calon guru KPG pada sore hari, pukul: 13.00-18.45. Tahun 1967-1973, sejak masa kepemimpnan B. Dandel, sekolah ini menjadi tempat Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Negeri Purworejo dengan waktu kegiatan belajar mengajar pada sore hari hingga petang.

Niken Wahyuni di ruangan Kepala Sekolah SMA Negeri 7, Purworejo.

Dalam perkembangan zaman, lembaga pendidikan guru ini pun berganti rupa menjadi institusi pendidikan yang membutuhan siswa, karyawan maupun staf pengajar. “Harapannya untuk membuka diri dan memberi kesempatan belajar, dan kemajuan kegiatan belajar dan mengajar sebagai tuntutan zaman di sektor pendidikan,” tutur Niken Wahyuni, M.Pd, selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 7.

Sebelum Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Purworejo ini berganti menjadi Sekolah Menengah Atas, tempat ini sempat menyediakan dua kelas bagi SMA Negeri 1 Purworejo (1990-1991).  SPG kemudian berganti nama menjadi SMA 3 Purworejo yang bertahan hingga tujuh tahun. Masih dalam catatan sejarah, dalam SK Mendikbud RI No. 035/0/1997, sekolah ini pun kembali berganti nama menjadi SMA Negeri 7 Purworejo sejak 7 Maret 1997 hingga sekarang.

Halaman dalam SMA Negeri 7, Purworejo.

Mempertahankan Nilai Sejarah dan Budaya di Kawasan Kota Tua

Gedung yang sudah dibangun sejak tahun 1915 ini memiliki ikon tertulis Anno, tertanda bangunan zaman Belanda. Pada waktu itu, pendidik guru didatangkan dari Eropa dengan biaya sangat mahal. Sekolah HKS didirikan untuk mendidik guru dari kalangan pribumi untuk mengajar di sekolah-sekolah pribumi di Hindia-Belanda.

HKS telah banyak menghasilkan pendidik yang berkiprah di pemerintahan seperti Otto Iskandar Dinata. Otto dikenal oleh lawan politiknya sebagai tokoh yang mengenalkan pendidikan Indonesia pada era kemerdekaan. Tokoh yang dijuluki Jalak Harupat ini turut aktif di pergerakan politik dengan menjadi wakil  ketua Boedi Oetomo cabang Pekalongan.

Selain di Purworejo, HKS juga terdapat di Bandung dan Magelang. Dalam perjalanannya, pemerintah kolonial tak mampu membiayai pengelolaan insitusi pendidikan yang mahal. Maka, siswa HKS di Purworejo kemudian dialihkan ke HKS Kota Bandung. Kegiatan belajar mengajar di HKS Purworejo sempat vakum, dan beberapa tahun kemudian, HKS Bandung mengalami hal sama yaitu krisis pembiayaan. Sejak saat itu, HKS Bandung, Jawa Barat dipindahkan ke Kota Magelang, Jawa Tengah.

Ruangan kelas SMA Negeri 7, Purworejo.

Nilai sejarah sebagai institusi pendidikan guru sampai sekarang masih dilestarikan di Kota Purworejo, Jawa Tengah. Sesuai dengan sejarah, ada perubahan dari perjalanan  HKS ke MULO, SGB, dan SGA, kemudian berganti nama menjadi SPG. Setelah SPG, sekolah berubah nama menjadi SMU 2 dan kemudian SMA 7. Sejak dulu hingga sekarang, gedung sekolah ini masih tetap difungsikan pada bidang pendidikan di Purworejo. Pihak sekolah juga tetap berkomitmen pada dunia pendidkan.

Dani Safari, sebagai guru geografi dan Kepala Humas SMA Negeri 7, mengungkapkan bahwa rata-rata barang inventaris sekolah adalah barang lama dan masih terawat dengan baik. Nilai sejarahnya tak berubah. Barang-barang itu seperti kursi, meja belajar, lemari dan bentuk-bentuk fisik dari bangunan; genteng, panel-panel, instalasi listrik, kayu-kayu tiang, usuk, dan lantai yang masih dijaga keasliannya. Lantai kuno yang bertekstur dan berlekuk-lekuk terlihat padat dan tahan lama. Pihak sekolah masih menjaganya dengan baik.

Bentuk aula (hall) yang menghubungkan dengan bangunan sebelahnya masih terlihat keasliannya. Cerobong asap yang menjulang tinggi dan berfungsi sebagai aliran pembuangan pembakaran saat memasak di dapur masih serupa di zamannya. Dapur kuno ini sampai sekarang juga masih digunakan pihak sekolah. Ruang makan juga merupakan bagian dari bangunan lama. Dulu, ruang ini difungsikan untuk tempat asrama para guru dan masih tetap terjaga, belum pernah diganti.

Aula SMA Negeri 7, Purworejo.

Ke depan, bangunan yang sudah mencapai usia ke 105 tahun ini direncanakan untuk berstatus cagar budaya. Pihak sekolah sudah mengajukan ke pemerintah, namun pengajuan status tersebut masih mengalami kendala. Kelak, pemeliharaan bangungan ini diharapkan akan mendapat bantuan dari pemerintah pusat. Nantinya, bangunan SMA Negeri 7 ini bisa memiliki keunikan sebagai cagar budaya yang menunjang rencana pemerintah dalam membentuk kota sejarah, kawasan kota tua, di Kota Purworejo, Jawa Tengah. Nilai sejarah dan nilai budaya merupakan aset daerah Purworejo.

Kondisi Sekolah Saat Ini

Sekolah ini terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Pengembangan bakat siswa/i turut dilakukan melalui paduan suara. Siswa SMA Negeri 7 pernah terpilih menjadi salah satu peserta paduan suara Gita Bahana Nusantara (GBN) yang mengiringi upacara HUT RI di Istana Negara. GBN merupakan paduan suara nasional yang terdiri dari perwakilan setiap provinsi di seluruh Indonesia. Selain itu, SMA Negeri 7 juga pernah meraih juara lomba tari kreasi baru tingkat nasional. Di sekolah ini, ada juga jurusan bahasa Jepang dan sempat mengikuti lomba bahasa Jepang. Sekolah ini juga sedang dalam proses menjadi sekolah berbasis digital.

Ruang kerja SMA Negeri 7, Purworejo.

Di masa pandemi, Niken mengungkapkan dalam mengantisipasi penyebaran COVID-19, pihaknya telah mempersiapkan solusi bagi murid-muridnya supaya kegiatan belajar mengajar tetap berjalan baik. Dengan mengoptimalkan teknologi, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di rumah masing-masing. Sebagian guru melakukannya dari sekolah dengan tetap  menerapkan 5M: menjaga jarak,  mencuci tangan, membatasi mobilitas dan interaksi,  menjauhi kerumunan.

Lingkungan sekolah juga masih mempertahankan kawasan hijau dengan pohon rindang yang tumbuh lebat. Dengan kondisi ini, lingkungan asri di sekolah menciptakan suasana nyaman dalam kegiatan belajar mengajar.

Sisi samping SMA Negeri 7, Purworejo.

___________________________________

Penulis dan Fotografer: Ade Dani
Penyunting: Yongky

Leave a Reply