Manusia Roso yang Membelah Hutan Beton Kota

Roso dalam pemahaman orang Jawa dimaknai sebagai kekuatan seseorang yang berjiwa tegar, tangguh atau kuat. Ia mampu mengatasi berbagai macam persoalan yang tengah dialaminya. Barangkali Pak Kasih salah seorang yang pantas disebut manusia roso. Dia mensyukuri apa yang dia alami dan hadapi secara bijak dan memunculkan roso yang kuat.

Sihamat Utomo (60), atau lebih sering dipanggil Pak Kasih, tinggal di Ngledok, Bantul, Yogyakarta. Hobinya menonton wayang kulit. Dia menikah dengan Wagiem (58), dan dikaruniai 6 anak. Sumiasih (40), putri pertama Pak Kasih, menuturkan bahwa Bapak sehari-hari bekerja sebagai pedagang keliling dengan bersepeda sambil menjajakan kerajinan tanah liat hingga pergi ke utara Yogya. Pak Kasih tidak mempunyai toko sebagai tempat untuk memajang barang kerajinan titipan dari tentangga di kampung Ngledok. Rumahnya di belakang Masjid Al-Ma’ Rifah, Ngledok RT. 01.

Awal Berdagang 1972-1984

Di tahun 1972 sebelum menaiki onthel, Pak Kasih sempat merasakan berdagang keliling dengan memikul barang kerajinan tanah liat. Dengan berjalan kaki menempuh berkilo-kilometer ke Bulak Sumur UGM, sampai juga dia di pasar Kaliurang. Selanjutnya dia ngemper di trotoar pasar sambil menjajakan dagangan kerajinan berbahan tanah seperti pot dan celengan hewan. Sejak tahun ’80, dia mulai menggunakan sepeda. Muatan awal di sepeda yang dibawanya seperti kursi, meja, atau lemari baju. “Tapi barang-barang itu bergantian, disesuaikan hari saja,” ujar Pak Kasih. Minimal setiap harinya dia mampu membawa dua kursi atau meja. Kadang dia pernah membawa sepasang meja dan kursi bersama kerajinan tanah liat.

Pada tahun 1984, Pak Kasih memutuskan untuk tidak membawa kursi atau meja lagi karena beresiko. Menurut Bu Wagiem, Bapak pernah mengalami musibah tabrak lari, meja dan kursi hancur. Saat pulang ke rumah, suaminya tak membawa uang sepeser pun. Sejak peristiwa itu, Pak Kasih lebih tertarik membawa kerajinan tanah liat sampai sekarang.

Yakin Ada Rezeki di Sepanjang Jalan

Pak Kasih yakin, dengan mendalami dunia kerajinan tanah liat ini, bisa menopang hidupnya dan keluarga. Pak Kasih tidak mempunyai keterampilan membuat terakota, tetangga-tetangga di Ngledoklah yang menitipkan kerajinan tanah liat itu kepadanya. Cukup variatif bentuk barangnya. Di sepedanya sudah tertata barang kerajinan seperti celengan beragam hewan dan pot bunga berbagai ukuran yang siap untuk dibawanya berjualan keliling kota. Pak Kasih hanya bermodalkan keyakinan dan kejujuran bahwa pasti ada pembeli.

Dengan pemasaran mandiri, Pak Kasih langsung turun ke jalan untuk bertemu dengan para pembelinya. Dengan sepeda bermerek Raleigh buatan Inggris, Pak Kasih sudah bersiap sejak pukul 07.00 pagi bersama onthelnya untuk membelah hutan beton utara Yogya.

Wagiem, istri Pak Kasih, menyiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa oleh suaminya.

Pak Kasih gemar menonton wayang kulit di sekitar kampungnya. Dalang favoritnya adalah Ki Seno Nugroho, sedangkan lakonnya Bagong Ndugal. Menurutnya, lakon itu paling gayeng dan lucu

Di kampungnya, Pak Kasih dikenal sebagai seorang yang bersahaja. Dia mensyukuri apa yang diterimanya, begitu juga dengan keluarganya. Sosok kelurga Pak Kasih sangat dekat dengan tetangga sekitarnya. Mereka dikenal jujur dan ringan tangan dalam membantu tetangga di kampungnya. Dari hasil berjualan keliling, tidak banyak yang dia dapat, justru kebahagiaan yang dia terima. Pulang ke rumah sampai larut malam adalah hal yang paling membahagiakan bagi Pak Kasih.

Dalam menjual kerajinan, dia tidak mematok harga terlalu tinggi. “Jika ada pembeli berhenti dari kendaraannya lalu mendekati saya untuk membeli kerajinan, saya sudah senang. Untuk mendapatkan makan, tidak usah banyak tiang (orang) yang peduli,” ujar Pak Kasih. Dalam menjual kerajinan tanah liat, Pak Kasih selalu menjaga agar barang kerajinannya tidak hancur. Kalau rasa lelah sudah mendera, ia langsung beristirahat di teras masjid sambil menunggu waktu salat. “Kadang ada saja orang yang mendatangi dengan memberikan makan,” imbuhnya. Itu juga dia syukuri sebagai keberkahan bagi dirinya. Dia pun kembali bercerita pengalamannya ketika bannya kempis karena muatannya terlalu banyak. Dia harus mengatasinya sendiri.

Keikhlasan yang Membuat Sehat dan Bahagia

Di hari Jumat, dia libur berjualan. Dia menggunakannya untuk istirahat di rumah dan bercengkrama dengan keluarganya. Ia hidup apa adanya dan selalu mensyukuri apa yang didapat. Dengan bersepeda rutin, kesehatannya terjaga, dan yang terpenting hati senang. “Kalau capai ya cari tempat aman untuk istirahat, jadi ngga ngoyo,” tuturnya.

Di angkringan yang bersebelahan dengan Gereja Pugeran di Jalan Suryaden, Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogya. Pak Kasih selalu mampir di angkringan Pugeran ini untuk sekedar menikmati kopi dan makanan atau bertegur sapa dengan orang yang berada di warung angkirngan itu.

Di kala pandemi Covid-19 ini, justru Pak Kasih semakin bersemangat untuk pergi berjualan keliling kota. Dengan bersepeda, badan selalu sehat dan Pak Kasih selalu bahagia serta mensyukuri apa yang dia peroleh setiap harinya. Bersepeda itu menyenangkan. Ia senang bisa melihat orang berangkat kuliah dan sekolah. Sekarang, ia sudah jarang melihatnya karena masa pandemi ini.

Dengan adanya wabah Covid-19, Pak Kasih menanggapinya biasa saja namun dia selalu berhati-hati. Pak Kasih tetap pergi berjualan keliling, kecuali hari Jumat libur. “Dengan bersepeda malah sehat kok. Kalau ngga berangkat berdagang nanti keluarga saya bisa kelaparan,” begitu ucapnya. Sudah 36 tahun Pak Kasih berjualan menggunakan sepeda melintasi tempat-tempat di Yogyakarta. Kebugaran dan kesehatannya terjaga. Menurutnya, “Tidak ada yang khusus dalam menjaga tubuh, sesuaikan apa adanya, dengan senang hati menjalaninya. Senang itu larang hargane”. Dia sering mengucapkan kata-kata ini seperti sedang menularkan hal kebaikan tentang kehidupan dan kesehatan pada setiap orang yang nyaman baginya.

Jalur Tempuh Kereta Angin Pak Kasih

Jalur tempuh pertama yang dilewati Pak Kasih berawal dari rumahnya Ngledok, Jl. Dongkelan Bantul, Jl. Raya Bantul, Jl. Suryowijayan, Jl. KH. Wahid Hasyim, Jl. Letjend. Suprapto (Ngampilan), Jl. Tentara Pelajar (Jlagran Kulon) Bumijo, Jetis, Jl. Poncowinatan, Jl. Magelang km 5, 5,2., Jl. Ring Road Utara, kemudian menuju Monumen Yogya Kembali, lalu berhenti sejenak di Monjali sambil mengamati wisatawan lokal yang tertarik membeli kerajinannya. Menurut Pak Kasih, sebelum ada pagebluk Covid-19, barang jualannya sudah bisa terjual di tempat ini.

Patok pembatas jarak, saksi perjalanan Pak Kasih.

Di jalur tempuh kedua, saat pandemi Covid-19 ini menguat di berbagai tempat, ia harus berjalan lagi ke tempat yang berbeda seperti ke Pakem, turun ke  Wedomartani, Tajem, Gentan, Maguwo lalu Kalasan perbatasan. “Walaupun akhir-akhir ini sepi di jalur pertama maupun kedua, tetap saja saya syukuri sebab senang itu mahal harganya,” katanya. “Sebenarnya Pakem, Kalasan perbatasan sebagai jalur kedua sudah jarang saya datangi. Tentu di situasi Covid seperti sekarang ini pembeli sepi juga,” keluh Pak Kasih.

Sejak pandemi Covid-19 ini, dia mulai  masuk ke kampung di jalan Kaliurang, Jl. Palagan, turun ke Condong Catur, Minomartani, kemudian menyeberang ke arah Gentan, Wedomartani dan kembali lagi ke arah jalur pertama saat hari sudah mulai gelap. “Jam 18.00 itu saya mampir ke masjid. Setelah salat magrib saya pulang. Sampai rumah paling cepat jam 21.00, tapi kalau cuaca sedang hujan bisa lebih malam lagi sampai rumah,” kata Pak Kasih.

Ayam, Kodok dan Gajah, Penumpang Onthel Pak Kasih

Saat membawa barang dagangannya, Pak Kasih menyesuaikan pesanan tiang (orang) yang ditemuinya di jalan. Untuk itu, Pak Kasih diberikan secarik kertas oleh para pemesannya atau hanya berdasarkan bentuk satwa yang berfungsi sebagai celengan uang. Patung satwa Pak Kasih dijual per satuannya dengan harga Rp70.000 sampai Rp80.000. Harga untuk pot bunga per satuannya Rp100.000. Bentuk satwa yang diwujudkan menjadi kerajinan menyesuaikan selera pembeli seperti ayam, kodok dan gajah. Rata-rata pembeli celengan lebih banyak orang dewasa ketimbang anak-anak.

Sejak pandemi Covid-19, umumnya orang-orang di kampungnya memilih untuk di rumah saja. Justru Pak Kasih memutuskan untuk keluar rumah. Bila tidak, keluarganya bisa tidak makan. Di situasi pandemi Covid-19,  Pak Kasih dan keluarga hanya menghadapinya dengan sabar.  

Pak Kasih mendorong onthel tak pernah menghitung jarak tempuhnya, yang terpenting bisa kembali pulang dengan membawa uang secukupnya.

Dalam menjual kerajinan tanah liat, Pak Kasih tidak mempunyai tempat yang pasti untuk  melemparkan dagangannya. “Hanya berdasarkan feel dan kepercayaan saja,” kata Pak Kasih. Dia pun tidak mempunyai alat komunikasi seperti handphone. Bahkan keluarganya pun yakin saja dengan langkah Pak Kasih tersebut. Untuk menyiapkan batin, mereka selalu mantap saja.

Sudah banyak orang yang menawarkan bantuan agar Pak Kasih bisa di rumah saja sambil berjualan kerajinan, tapi dia menolak secara halus. Dia tetap memilih berjualan keliling dengan ditemani sepeda tuanya.  Bahkan berjualan dengan sepeda menjadi hiburan bagi Pak Kasih. Dia lebih banyak bersyukur dengan apa yang telah diberikan, berkah sehat dan rezeki yang cukup olehNya. Inilah yang membuat Pak Kasih tetap sehat dan bahagia.

_____

Penulis dan Fotografer: Ade Dani
Penyunting: Yongky

Leave a Reply