Dewi Umaya: Kita Butuh Banyak Ruang untuk Menayangkan Film Kita (1)

Dunia film Indonesia hari ini, terutama film arus utama, telah masuk dalam sistem pasar yang menjadikannya bersifat komersil. Kesuksesan sebuah film turut ditentukan dari seberapa besar laba yang diperoleh dengan indikator utama yakni jumlah penonton. Namun ada juga film dengan nilai pendidikan tinggi yang tentunya memiliki ukuran kesuksesannya sendiri dan strategi-strategi tertentu dalam mencapainya. Sosok yang berada di balik rancangan strategi kesuksesan sebuah film adalah produser.  Dewi Umaya, seorang yang berpengalaman memproduseri beberapa film antara lain Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya (2012) dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015), menceritakan bagaimana strateginya dalam meraih kesuksesan film-filmnya. Tentu strategi yang dirancang Dewi tak selalu berhasil di lapangan Dalam hal pemasaran, produser harus pandai membaca pasar film, potensi penonton dan bernegosiasi dengan pihak bioskop. Berikut sajian wawancara dengan Dewi Umaya.

Bagaimana pengalaman Anda sebagai produser dalam merancang strategi kesuksesan film, terutama dalam hal pemasaran?

Menurut saya, produser sebagai yang punya film, paling tidak tahu terlebih dahulu film ini akan dipasarkan di mana. Pasar terbesarnya itu siapa, di mana, dan tujuan sebenarnya apa? Jadi saya bisa sepakat dengan bioskop, target pasar mana sebenarnya yang saya tuju hingga di mana lokasi-lokasi yang tepat untuk film tersebut. Karena, jika film tersebut terlalu banyak layar tapi tidak bisa mempertahankan juga, bisa jadi bumerang. Kalau saya pasarkan di suatu tempat yang penontonya tidak ada, ya bisa jatuh (rugi) kan? Otomatis kelihatan jelek jadinya. Secara tingkat keterisiannya (occupancy rate) jadi rendah. Itulah yang membuat film tidak beraksi. Yang harus diketahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya (SWOT/strengths, weaknesses, opportunities, threats) dulu. Film ini kuatnya di mana.

Umpamanya, kita tahu film ini pasarnya di Bekasi. Berarti yang harus kita bangun adalah pasar atau penonton di Bekasi. Kan biasanya kita diberi daftar lokasi pemutaran oleh bioskop terlebih dahulu. Daftar layar atau bioskop yang mana film ini bisa tayang. Atau biasanya kita diberi kesempatan memilih daftar layar yang mana saja yang akan diambil. O saya pilih yang ini. Kita bisa beri sekian layar dulu karena berbagai alasan dari film. Kalau saya sih tidak suka yang terlalu banyak layar, karena mempertahankan layar itu perlu duit. Kita juga harus mempromosikan film kita di daerah tersebut. Selain itu, juga melakukan pengamatan lebih untuk mengetahui apakah jumlah penonton akan banyak di daerah tersebut atau tidak. Jadi, pertama, sebenarnya memang butuh waktu untuk tahu di mana film kita akan tayang. Kedua, garaplah daerah di mana film kita dibuat, tayangkan di situ. Lainnya, membuat kantong-kantong pasar film dan membuat berbagai kegiatan yang mendukung film tersebut supaya terdengar lagi (ditonton dan dibicarakan lagi).

Kalau kita cuma promosi secara acak (random) di twitter, penonton twitter itu belum tentu semuanya ke bioskop. Mereka mungkin mencuit ulang (retweet) atau menanggapi, tapi mereka tidak ke bioskop. Jadi memang yang harus dilakukan adalah membuat kegiatan luring (offline), semacam promosi dari pintu ke pintu. Memang promosi yang disasar adalah penonton bioskopnya. Pasar di daerah itu. Tapi memang harus paham juga karakter film kita ini apa.

Seperti apa pengalaman Anda sebagai produser dalam menerapkan strategi tersebut?

Misalnya film Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015), pasarnya agak besar pada kelas menengah-atas dengan kisaran umur di atas 30 tahun. Kemudian orang yang sudah mengenal sejarah Sarekat Islam (SI), atau orang yang tahu tentang Tjokro sebelumnya. Yang kita lakukan waktu itu membuat kegiatan di seputaran Senayan. Misalnya membuat kegiatan seminar, kegiatan yang mengarah pada hal-hal yang sifatnya pemikiran. Dan waktu itu memang pasar yang terkuat di Plaza Senayan dalam hal perolehan penonton. Jadi misalnya film Tjokro di Slipi itu gak bunyi (tidak ramai atau tidak banyak peminat) karena itu bukan kantongnya. Yang di Senayan justru bertahan sebulan lebih. Paling lama dan terakhir di situ.

Bagaimana sebuah film bisa dikatakan sukses menurut pandangan dan pengalaman Anda? Apa saja indikator-indikator yang menentukan keuntungan sebuah film?

Jumlah layar tentu saja. 10 layar kalau dipertahankan dengan baik bisa saja untung. Film dengan biaya produksi Rp 2-3M diberi 40 layar, kalau pasarnya dipertahankan dengan benar bisa untung. Indikator juga dari jumlah penonton. Kalau satu layar terisi penuh dengan 100-200 penonton, 80-100 bioskop bisa 100.000 penonton per hari. Jika 7 hari bisa 700.000 penonton. Rata-rata keuntungan satu film yang didapat produser Rp 20 ribu per tiket. Jadi semisal dapat 1.000 penonton dikali Rp 20 ribu sudah Rp 20 juta. Kalau anggarannya Rp 5M ya bisa untung. Produser dan bioskop dapat 50-50% setelah dipotong pajak tontonan dan biaya operasional. 

Indikator juga menyangkut berapa besar anggaran yang kita keluarkan. Kalau kita dikasih 80 layar terus kita gak ngapangapain ya bisa jatuh juga. Tapi ada teman-teman produser kita yang filmnya dikasih 18 layar bisa untung karena dia mempertahankan layar-layar itu dan promosi gencar dilakukan. 80 layar itu bagi saya kebanyakan dan mempertahankannya itu kan butuh duit. Misal tayang di bioskop di Surabaya, kita kan ngeluarin duituntuk woro-woro di Surabaya. Begitu juga dilakukan di daerah lain di pasar kita untuk mempertahankan layar. Kaki tangan kita gak mencukupi, kan duitnya gede juga. Kalau di luar negeri biaya promosi itu dua kali biaya produksi. Sedangkan kita, habis uang produksi, terus bingung mau promosi bagaimana.

Dewi Umaya ketika ditemui di Jakarta. Dok. YGP

Dalam distribusi film, menurut Anda apakah ada pertimbangan klasifikasi bioskop?

Klasifikasi bioskop bisa dilihat dari pengunjungnya karena banyak bioskop di Indonesia masuk ke dalam pusat perbelanjaan (mall). Jadi pengunjung pusat perbelanjaan itulah yang menjadi kelas penontonnya. Kalau di Plaza Senayan, pasti kelasnya menengah ke atas. Kalau DETOS bisa jadi menengah ke bawah. Kelas itu bisa dilihat dari pengunjung pusat perbelanjaannya. Tapi dulu waktu saya kecil bioskop itu ada di pasar-pasar tradisional. Saya selalu nonton sama ibu. Ya yang nonton bioskop pengunjung pasar tersebut.

Sebenarnya kita butuh banyak ruang untuk menayangkan film kita. Mau bioskop independen atau tidak, kita butuh layar sebanyak-banyaknya. Dan itu butuh orang yang kuat (berpengaruh dan mahir) untuk mendistribusikannya. Kita harus punya distributor, karena untuk mencapai bioskop-bioskop dengan berbagai kelas itu kan butuh orang yang paham. Saya sih senang kalau ada alternatif bioskop di luar jaringan bioskop besar. Karena bioskop atau layar di luar jaringan mayor itu harus punya spesifikasi atau visi yang berbeda dari jaringan mayor seperti XXI/21 atau CGV. CGV pun kebijakannya berbeda dengan bioskop 21. Mungkin ada juga bioskop di luar jaringan itu yang menayangkan semua film Indonesia dengan lebih lama misalnya sebulan. Gapapa cuma dua layar tapi menayangkannya selama sebulan atau dua bulan. Jadi tidak bergantung terus sama distribusi arus utama.

Misalnya film Tjokro sekarang sudah empat tahun sejak tayang perdana. Terus ada yang beli untuk tayang di bioskop itu selama dua bulan dengan harga yang lebih terjangkau. Misal ada orang yang beli ke saya seharga x rupiah, saya kasih hak tayang setahun atau sampai uang sejumlah x ini balik. Gapapa juga kita seneng banget.

Secara spesifik, bagaimana karakter bioskop 21?

Kiblatnya kalau saya lihat lebih ke film-film arus utama (mainstream). Sebagai chain yang sudah “berumur”, penonton Indonesia dibangun oleh kiblatnya bioskop 21. Tapi menurut saya, dia harusnya juga menambah film-film indie. Bukan hanya Blockbuster Hollywood tapi juga film-film indie dari Amerika, Eropa, dan Asia. Jadi masyarakat bisa terliterasi bahwa film bagus itu bukan cuma Blockbuster Hollywood. Saya lihat masih jarang bioskop 21 mengambil film di luar mayor distribusi Hollywood. Padahal menurut saya sekarang penonton Indonesia sudah tahu film-film yang bagus di luar Blockbuster atau Hollywood. Jadi pasar yang ada mulai meluas.

Misalnya, Film PK itu juga pernah tayang di Plaza Senayan. Memang pasar di situ sesuai untuk orang-orang yang secara strata pendidikan lebih tinggi. Waktu itu film dokumenter karya alamarhum Pat Martino juga ditayangkan di Plaza Senayan. Secara general, Plaza Senayan lumayan sesuai untuk orang kelas menengah ke atas yang lebih paham film-film tersebut. Gak mesti juga harus terus menayangkan film fiksi panjang, kadang-kadang juga harus berani menayangkan film dokumenter.

Di luar itu, saya rasa kita harus membiarkan 21 layaknya bisnis pada umumnya untuk mencari untung.

Bagaimana pendapat Anda dengan bioskop yang cenderung terkonsentrasi di wilayah urban atau perkotaan saja?

Saya pikir pasar terbesar ya di situ. Orang ke bioskop pastinya orang yang punya disposable income (penghasilan berlebih). Mereka punya waktu cukup banyak untuk rekreasi dan bisa menyisihkan uang dari gaji.

Sekali lagi, ada unsur bisnis di sini ya. Kalau ada yang membangun bioskop dengan segala teknologinya dan mengeluarkan modal, mereka memang harus berhitung juga kan. Seberapa lama mereka bisa mengembalikan uang atau modal investasinya. Pemerintah yang harusnya membantu membangun layar-layar alternatif di wilayah non-urban. Jangan murni swasta, kecuali ada jaminan swasta didukung dan bisa sustainable (berkesinambungan). Gak adil juga kita nyuruh orang bisnis terus mereka rugi.

Saya percaya pasar-pasar film sudah terbentuk dan kekuatan kita ada di komunitas-komunitas film yang tersebar, yang meliterasi atau mendidik penonton dengan film lewat layar-layar alternatif. Mereka itu yang seharusnya terus didukung dan diapresiasi. Saya sih sangat mengapresiasi teman-teman komunitas. Itu pejuang-pejuang film kita. Orang-orang jadi paham film yang beragam itu juga karena mereka.

Bagian 2

Leave a Reply