Hariadi: Bioskop Keliling Ujung Tombak Film Nasional

Selasa (29/10/2019), redaktur Brikolase bejumpa dengan Hariadi, mantan pengusaha bioskop keliling era 70-80an di Indonesia. Ia berkisah tentang sepak terjangnya membangun usaha bioskop keliling, memutar film dari kampung ke kampung, dari desa ke desa, dari pelosok ke pelosok dengan harga tiket terjangkau bagi masyarakat kelas bawah. Film bagi Hariadi tidak hanya hiburan tapi juga sarana komunikasi. Arena bioskop keliling tidak hanya sebagai tempat bertemunya para muda mudi, tapi juga sebagai ruang bertemunya pejabat desa dengan rakyat dan menyampaikan agenda desa. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana awal mula Anda membangun usaha bioskop keliling?

Saya mulai bergerak di dunia perfilman tahun 1968 dan berakhir sekitar 1990.  Waktu itu, saya memutar film di pasar malam pakai proyektor 8 mm. Saya memutar film ke pelosok-pelosok, desa-desa dan pameran-pameran acara.

Dulu saya pernah sekolah kedokteran, tapi tidak sampai jadi dokter. Tahun 1972 saya masuk Departemen Penerangan. Saya diterima sebagai operator televisi. Pada waktu itu, tugas saya memperbaiki televisi di desa-desa. Dalam masa perjalanannya, Departemen Penerangan mendapat film bertema Keluarga Berencana dan unit mobil kelilingnya.

Menggunakan mobil keliling, film tersebut diputar dengan proyektor di desa-desa, menyampaikan pesan bagaimana punya anak dua saja [program KB dua anak cukup]. Pada waktu itu saya melihat penontonnya banyak. Belum ada televisi [swasta], cuma ada TVRI dengan siaran terbatas. Saya melihat ini merupakan peluang untuk mencari duit karena penonton film cukup banyak bisa mencapai 4.000-5.000 orang setiap pemutaran. Dan film tersebut ditonton secara gratis.

Kebetulan waktu itu ada proyektor dari Timor-Timur yang dibawa oleh salah satu tentara untuk dijual. Harganya sekitar Rp 750.000. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya pinjam uang tapi tidak ada yang percaya dengan saya. Karena ayah saya miskin, saya juga miskin. Tapi kemudian ada orang yang memberi bantuan saya, memberi duit sebesar Rp 750.000 dengan bunga 10% per bulan di bayar di awal bulan.

Saya beli proyektor itu. Saya jual perhiasan istri saya untuk membeli satu sepeda motor. Dulu saya punya cuma sepeda pancal. Dengan sepeda motor saya, mulai keliling memutar film. Saya memutar film dengan gedek kulit yang menutupi satu lapangan. Dari situ saya menamai usaha saya Cinedex 14. Saya pinjam film, hitam putih, Darah dan Doa. Yang menonton ribuan orang. Waktu itu karcisnya masih Rp 50-100 perak. Pada waktu itu film jadi alat komunikasi yang bagus. Bioskop keliling itu ujung tombaknya film nasional. Untuk masyarakat di desa, menonton film sebenarnya jadi ajang pertemuan muda-mudi, bertemu di area film lalu pacaran. Kalau hujan tambah ramai. Mereka tutupan gombal, sarung, dan segala macam.

Foto Cinedex 14. Koleksi pak Hariadi di Museum Film Indonesia

Saya melihat peluang luar biasa dalam usaha pemutaran film ini. Kelemahan film yang saya putar biasanya putus-putus karena dieselnya mungkin rewel. Gara-gara itu, kita sering dilempari tinja ayam, telur busuk, bahkan air kencing oleh penonton. Bayangkan, hanya saya sendiri pemutar film, istri saya penjaga karcis, dan dua orang jaga pintu. Sedangkan penontonnya sampai 5.000 orang. Jadi pernah ada orang yang bawa catut bongkar pintu lalu masuk.

Dengan perjuangan keras, kami lalu punya proyektor 45 unit yang beredar di Jawa Timur. Kami main di kampung-kampung, desa-desa, pelosok-pelosok, gunung-gunung, dan pantai. Di pantai itu kadang pukul 02.00 pagi baru mulai menonton. Karena jam segitu orang baru pulang dari melaut, jual ikan lalu menonton film. Zaman itu, orang datang bawa uang 1.000an lalu mengajak orang sekampung. Film merupakan tontonan favorit karena tidak ada lagi pertunjukan hiburan. Ludruk tidak terlalu bagus, dan kalah dengan film.

Dalam perjalanan kami dengan 45 unit proyektor itu, ada masalah yakni pasokan film. Film sudah dikuasai Cineplex, sekitar tahun 1972. Anda coba lihat kekuasaaan Cineplex sampai hari ini. Film-film nasional itu masuknya selalu hari Rabu. Jika sampai Jumat sudah sepi penonton, film dibuang. Se-Indonesia dibuang. Anda bisa bayangkan berapa duit yang hilang jika film tidak sukses. Dulu Cineplex sangat mencengkeram sekali.

Dulu zamannya Brigjen Acub Zaenal, Gubernur Irian Jaya dan Ketua PERFIKI (Perusahaan Pertunjukan Film Keliling Indonesia), dengan kekuatannya dan kekuatan kita, kita bisa mendapat film second [film putaran kedua setelah habis masa putar di bisokop besar]. Sebelum itu, ada film yang dibeli haknya sampai lima tahun. Selama lima tahun kita tidak bisa pakai. Film-film yang bagus tidak bisa masuk ke daerah. Setelah dipakai Cineplex, habis peredarannya.

Maka dari itu saya berusaha mencetak film sendiri. Saya beli film dari produser untuk saya putar sendiri. Saya mencetak film di Hong Kong. Film besar tidak bisa masuk, jadi saya beli film kecilnya. Waktu itu film ada yang 35 mm dan 16 mm. 35 mm itu untuk film gedong yang gede, sedangkan yang 16 mm yang kecil, yang cangkingan. Saya beli yang 16 mm.

Saya bergerak di area Jawa Timur. Film di Surabaya dan di hampir semua kota dikuasai oleh satu grup. Kita dulu belinya mahal. Pengusaha kecil susah mendapatkannya. Pengusaha bioskop keliling itu orang kecil. Ada yang penjual bakso lalu beli proyektor. Mereka biasa memutar film di desa-desa. Semuanya film nasional. Jarang putar film impor. Kalau film kecil, semuanya film nasional.

Pada waktu itu kita kesulitan karena mahal sekali harga filmnya. Jadi kita mengakali dengan sistem sesama teman. Misalnya ada yang putar di tempat A, dengan sewa film cuma bisa satu tempat. Kalau kita main di empat tempat, misal Jogja, Bantul, Prambanan, dan satu tempat lain, film itu digiring ke tempat-tempat itu. Setiap tempat bisa selisih setengah jam. Jadi kalau satu film diputar pukul 19.00 WIB, film lainnya mulai diputar pukul 19.30 WIB, dst.

Dengan sistem begitu, biasanya saya putar 2-3 film. Misal, hari ini diputar di tempat A, saya putar 3 film lain dari pukul 19.00 WIB karena menunggu film baru yang akan diputar. Kalau jarak tempatnya jauh, misalnya 30 km, film baru bisa sampai ke lokasi pukul 21.00 WIB.  Kalau film mulai diputar pukul 21.00 WIB penonton bisa teriak-teriak protes.

Antusiasme penonton bagus sekali. Putar film bisa menghasilkan Rp 4 juta sehari dengan penonton 2.000-4.000 per hari. Harga emas, waktu itu, masih sekitar Rp 20 ribu per gram. Film-film yang bagus antara lain film dangdut, horor, dan laga. Film drama tidak telalu bagus kecuali beberapa film seperti Catatan si Boy, banyak yang tonton. Karena, sekali lagi, menonton film itu sebagai komunikasi dan ajang pertemuan bagi muda-mudi serta masyarakat desa.

Apa tantangan yang dihadapi sebagai pengusaha bioskop keliling?

Beberapa waktu lalu ada rekan yang mengajak saya gabung untuk membuka kembali layar tancap. Dia bersedia mengirim film dari Jakarta lewat internet dan sudah diisi sponsor-sponsor. Saya tinggal terima putar saja. Dia meminta 40% dari total pendapatan pemutaran film. Di sini pajaknya saja sudah 20%, belum sewa gedungnya. Tidak jadi karena terlalu mahal.

Masa itu banyak film dewasa dengan gambar atau posternya. Prosesnya biasanya ada orang berduit meminta produser membuat film dengan uang Rp 100 juta, misalnya. Biaya produksi Rp 50 juta. Pembuat film bisa untung, lalu filmnya jadi milik yang berduit tadi. Jadi dulu kenapa film bisa berproduksi sampai 300-400 judul per tahun dan rame, karena kebanyakan film begitu (film dewasa). Film drama atau yang dapat Piala Citra biasanya tidak laku.

Pak Hariadi ketika ditemui di kediamannya di Malang. Dok. YGP.

Dulu ada yang namanya daerah edar. Misalnya film A ini daerah edarnya Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Satu judul film pada satu daerah, misalnya Sumatera, masa edarnya satu bulan karena di sana gedung bioskopnya sedikit. Di Papua juga satu bulan. Kalau sudah habis masa edarnya, film tersebut harus dikembalikan kepada produsernya dan tak boleh beredar. Karena masing-masing daerah edar sudah ada yang punya. Film yang sudah habis masa edarnya lalu dijual gelap. Film yang begitu yang teman-teman ambil. Ini merupakan sistem untuk menyiasati Cineplex.

Film-film nasional itu banyak, mangkrak di pusat atau kantor film, karena hak edar film yang dibeli selama lima tahun. Kalau sudah tahun ketiga, mereka jual ke televisi. Kasihan para pembuat film, duitnya banyak yang hilang. Karena membuat film tentunya berharap dapat duit. Kalau misalnya film Indonesia diputar pada Rabu, Kamis, sampai Jumat, itu merupakan hari-hari jelek. Tapi kalau film barat, coba anda lihat, hari Jumat masuk, ya jelas ramai sampai Selasa bisa kuat bertahan. Kalau masuk Rabu atau Kamis siapa yang mau menonton? Kecuali film yang bagus atau yang disponsori lain lagi urusannya. Film yang disponsori biasanya yang menonton diundang gratisan.

Jadi menurut saya kalau anda mau mendobrak soal industri film, film itu tak boleh lima tahun dipegang hak edarnya.

Contoh film apa yang Anda minta produser membuatkan lalu dibeli?

Film Rhoma Irama, Membakar Matahari. Saya beli 10 copy. Itu pun bulek (kondisi buruk) sekali. Itu film second karena film utamanya masih beredar di gedong dan ramai. Kalau saya beli langsung film ini untuk daerah bawah bisa bermasalah. Tapi saya sudah kadung bayar ke produser uang muka setahun di awal. Dia harus segera mencetak.

Ada juga film laga. Film itu semua dicetak di Hong Kong.  Misalnya saya buat film, tidak bisa dicetak di Indonesia, biasanya cetak di Australia atau Hong Kong dan dibuatkan copynya. Nanti lima tahun lagi minta filmnya, bayar lagi karena dianggap sudah jadi milik Australia atau Hong Kong, bukan milik pembuat film.

Poster dan sinopsis film Gadis Desa, film yang pernah diputar Cinedex 14. Koleksi pak Hariadi di Museum Film Indonesia.

Tahun 1985-1986, saya pernah beli 10 copy film, harganya hampir Rp 40 juta. Tapi saya dapat untung dari film luar biasa. Misal saya beli satu copy film dari Jakarta seharga Rp 2 juta, lalu saya putar sebulan, saya menghasilkan Rp 3 juta. Lalu film itu saya kembalikan dibeli Rp 2 juta.

Saya dulu buat poster sendiri, buat gambar sendiri, cetak sendiri, stensil sendiri. Siarannya pakai dokar. Itu museum film Indonesia adalah tempat bioskop saya yang terakhir. Dulu di sana yang menonton 2.000-3.000 orang. Panggungnya dikasih karaoke.

Bagaimana proses sensor film di zaman itu?

Setiap film saya sudah ada surat sensornya. Ada ratusan. Lulus sensor semua, untuk usia 13 tahun ke atas. Semua film adegan sex dipotong. Tapi ada teman saya yang adegan filmnya dipotong. Potongan filmnya dimasukkan ke gudang Badan Sensor Film. Sekarang dipotong, sorenya dia datang minta dikembalikan lalu dipasang lagi.

Surat tanda lulus sensor. Koleksi pak Hariadi di Museum Film Indonesia.

Dulu juga ada bioskop yang khusus film-film dewasa. Ceritanya tidak jelas dan judulnya tidak terkenal tapi yang nonton banyak sekali.

Tahun berapa dan kenapa layar tancap Cinedex 14 mulai meredup?

Suksesnya ini tahun ‘80-‘85. Itu luar biasa. Banyak film laga yang disukai. Dulu saya putar tiga film, setiap 45 menit berhenti. Lalu saya umumkan. Sebentar lagi film akan berhenti untuk memberi kesempatan para penjual kacang, gedang goreng, tahu goreng untuk menjajakan dagangannya. Serta untuk camat yang ingin memberikan informasi seperti kerja bakti. Hal itu memberikan dampak dan manfaat pada masyarakat sekitar.

Saya mulai turun dari bioskop tahun 1988. Tapi masih ada beberapa layar tancap untuk hajatan seperti mantenan [pernikahan]. Biasanya memutar lima film dari pukul 21.00 WIB sampai pukul 04.00 pagi. Tapi biayanya mahal. Dulu masih pakai celluloid dalam bentuk roll film, jadi membawanya harus digotong.

Lama-kelamaan penonton meminta film yang baru-baru, yang main di gedong (gedung bioskop). Kematian layar tancap ini karena pasokan filmnya tidak ada. Mau beli film, hak edar film dikuasai Cineplex. Dan Cineplex sudah tidak memberikannya untuk bioskop kelas dua. Kalau pun bisa, harganya mahal.

Misalnya saya punya film A. Di Cineplex habis tayang. Dia lalu jual pada pengedar film kelas dua setelah selang 3-4 bulan. Kita bersaing di peredaran ini. Setelah itu, film yang sudah sering diputar dan kebanyakan rusak, masuk ke bioskop kelas tiga. Kondisi filmnya sudah putus-putus karena celluloid. Kalau kita beli film second seharga Rp 500 ribu dengan harga karcis Rp 250 rupiah, tak bisa untung.  

Kemudian alat proyektornya juga mahal. Kalau di Cineplex itu pakai lampu halogen atau xenon, itu harganya bisa Rp 200 juta. Satu gedung bioskop bisa modal sampai Rp 200 juta. Mana kuat dulu pengusahanya layar tancap bersaing. Pengusaha bioskop keliling ada yang penjual bakso atau petani. Kalau sedang tidak musim bertani, mereka membeli proyektor, putar film dengan berkeliling ke desa-desa. Setelah masa mau panen, proyektornya ada yang dijual ke saya. Setelah panen, proyektornya dibeli lagi. Beberapa teman saya yang punya proyektor sudah jadi besi tua. Jadi rombeng, rongsokan. Dulu diesel harga Rp 5 juta, sekarang harganya anjlok bahkan Rp 100 ribu saja tidak laku.

Sebagian peralatan saya ada di museum, sebagian ada di belakang rumah saya. Pemutar film keliling hampir meninggal semua. Gudang saya tidak ada yang jaga akhirnya banyak yang dimakan rayap. Film saya 80% rusak dimakan rayap. Kotaknya kan kotak kayu. Rayap masuk mengeluarkan zat kimia lalu kena ke film terus rusak. Terus dari PERFIKI mengatakan lebih baik dibuatkan museum. Akhirnya jadilah museum film Indonesia itu.

Museum Film Indonesia Lawas milik pak Hariadi di Malang. Dok. YGP
Koleksi poster Museum Film Lawas Indonesia di Malang. Dok. YGP
Koleksi gulungan film dan proyektor Museum Film Lawas Indonesia. Dok. YGP

Kemarin saya ditanya oleh bagian benda purbakala Jawa Timur, apakah museumnya punya standar operasi prosedur (SOP) nya? Tidak ada. Ada bagian yang ngurusi? Tidak ada. Ada dana? Tidak ada. Istri saya malah menyuruh menghibahkan proyektor saya itu ke Jawa Timur.

Apa harapan Anda kepada pemerintah dan kalangan perfilman tentang bioskop keliling yang sekarang sudah hampir hilang?

Pemerintah sebaiknya memberi satu keputusan yang tegas untuk memberikan ruang pada anak-anak atau sineas muda, khususnya Indonesia supaya filmnya bisa ditonton oleh masyarakat di desa dengan harga ringan. Sehingga karya anak bangsa bisa dinikmati sampai ke pelosok. Selama ini karya sineas muda Indonesia cenderung hanya bisa dinikmati kalangan menengah ke atas. Sehingga kalangan bawah cuma bisa mendengar beritanya tapi tak bisa menonton dengan baik. Kecuali kalau sudah berselang berapa lama, film itu tayang di televisi.

Sebenarnya orang itu ingin ada ajang komunikasi yang bagus. Sekarang kebanyakan pakai handphone. Mestinya perlu ada ajang untuk komunikasi tatap muka. Coba anda lihat bioskop sekarang apakah ramai dengan harga tiket hari ini? Kalau film itu diputar di kelas menengah ke bawah dengan harga Rp 5.000-10.000 akan ramai sekali. Seharusnya pemerintah memberikan kesempatan pada pengusaha kecil dan rakyat kecil untuk sebanyak mungkin bisa mengakses film-film buatan anak bangsa, film khusus nasional.

Kita berharap juga bagi mereka yang berkecimpung di bidang film untuk sadar bahwa ajang komunikasi diperlukan bagi masyarakat. Komunikasi yang bisa berjumpa dalam satu pertemuan antara lain dengan nonton film di desa-desa.  Komunikasi yang baik memberikan kebahagiaan, keharmonisan, untuk keluarga juga masyarakat. Dengan menonton film layar tancap, masyarakat di desa yang tak punya kesempatan ke kota, bisa menonton film, membuat keluarga dan anak bahagia dengan harga yang murah. Membuat kita bersatu dalam menghadapi era-era selanjutnya.

Pewawancara: Yongky
Penyunting: Adek Dedees