Dari Ekranisasi ke Kanon Sastra Indonesia (2)

Baca Bagian 1

Sebagai peneliti sastra dan film, Anda juga punya koleksi. Apa saja barang-barang koleksi Anda?

Sementara saya fokus mengoleksi foto, kartu pos yang bergambar adegan film dan artis film. Saya juga mengumpulkan beberapa poster bioskop dan selebaran. Kalau karya sastra karena proses digitalisasinya susah, sementara saya mengurangi pencarian koleksi. Tetapi karya tertentu yang cetakan pertama, saya masih beli. Misalnya tahun lalu saya dapat novel Jalan Tak Ada Ujung, Mochtar Lubis, cetakan 1. Langsung saya beli, karena karya itu terkenal dan cetakan pertama, kalau tidak salah, tahun 1952. Jadi itu barang langka dan layak dikoleksi.

Ke depan, kalau seandainya ada yang bisa bantu digitalisasi, saya harap buku itu bisa didigitalisasi. Untuk sementara yang saya digitalisasi foto, poster dan selebaran karena mudah discan dan bisa cepat. Kalau harus duduk di depan scanner 8 jam untuk menghasilkan pindaian 3 buku, saya tidak sempat. Kan saya juga punya anak, saya juga masih menyelesaikan studi S3. Harus ada orang lain atau dukungan dana untuk mendigitalisasi buku.

Saya juga dapat kumpulan cerpen dari Ave Maria. Syukur saya bisa mendapatkan cetakan 1. Barang seperti ini menarik karena barang langka. Kadang cetakan 1 dan berikutnya itu berbeda. Salah satu bukunya A. Teeuw misalnya kalau tidak salah ingat dia menjelaskan bahwa warna pitanya Siti Nurbaya berubah dari cetakan 1 sampai 8. Itu katanya karena trendnya berubah di masyarakat.

Ketika saya melihat novel Layar Terkembang, dia membicarakan suatu sekolah Muhammadiyah tetapi ada pramuka. Di Layar Terkembang harusnya ditulis Hisbul Wathan (Organisasi khas Muhammadiyah laiknya pramuka – peny.). Jadi ada perubahan cetakan satu dan lainnya. Itu bisa kita telusuri kalau punya cetakan 1.

Ini naskah Allah jang Palsoe, tulisan Kwee Tek Hoay. Ini karya drama yang ditulis tahun 1917. Meski dicetak ulang oleh Lontar, ini masih sangat berharga. Selain karena naskah langka, tenyata Kwee Tek Hoay sudah memberi petunjuk kira-kira panggungnya settingnya seperti apa. Dan dicetakan ulangnya ini tidak ada. Ia juga pernah memberi satu pengantar kira-kira mencari pemainnya seperti apa, musiknya seperti apa, not baloknya pun dimasukkan. Hal-hal seperti itu hilang dari cetakannya Lontar. Jadi kalau kita dapat cetakan yang ini, visinya bisa kita ketahui. Kita juga bisa memahami Kwee seperti apa. Ternyata dia tipenya semua mau dikuasai sendiri. Penulisnya mau mengatur semua. Ruang tafsir sutradara sedikit sekali. Itu menarik untuk penelitian.

Sampul Naskah Allah jang Palsoe. Sumber Wikipedia. Unduh berkas di sini

Di rumah ini ada sekitar 3.000an judul buku dan majalah. Kalau saya harus mendigitalisasi semua itu bisa bertahun-tahun. Majalah film Varia misalnya itu ada 400 eksemplar. Capek juga. Apalagi Varia itu majalah kecil tapi tebal. Jadi satu majalah berisi 60-80 halaman.

Anda juga pernah tergabung dengan Wikipedia dan Wikimedia. Boleh cerita saat Anda tergabung di sana?

Kalau Wikipedia programnya menulis artikel sebagai relawan artinya tidak dibayar. Dan waktu itu tidak harus jadi anggota Wikimedia. Wikimedia itu yayasan atau badan hukum yang digunakan untuk mengelola kegiatan-kegiatan outreach dsb. Tapi kalau orang mau menulis di sana sendiri juga bisa. Gampang. Waktu itu saya lebih banyak aktif menulis tentang sastra dan film Indonesia, termasuk pengarang, pemain, sutradara dsb. Saya juga menyumbang sekitar 3000an foto, pindaian, dsb. Kegiatannya sih macam-macam. Tapi karena waktu saya semakin sedikit, ya akhirnya saya stop. Misalnya saya menulis artikel Wikipedia bahasa Inggris mengenai film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI. Itu proses penulisannya 12-15 jam, satu artikel kalau yang agak panjang. Bayangkan kalau menulis banyak artikel, waktu saya habis.

Belakangan ini ada isu tentang penyusunan kanon-pustaka sastra Indonesia yang baru. Bagaimana Anda melihat isu ini?

Kanon sastra selama ini dibuat dan dibukukan untuk kepentingan politik tertentu. Akar dari kanon sastra yang kita lihat sekarang sebenarnya saya anggap sebagai bagian dari program nativism untuk mengartikan Indonesia sebagai pribumi. Pribumi yang seperti apa, rata-rata laki-laki, Minang, Jawa yang pahamnya itu nasionalis atau agamis. Jadi orang-orang komunis disingkirkan dalam kanon. Perempuan banyak disingkirkan, kurang diakui. Kemudian orang keturunan Tionghoa, Indo, perannya kurang diakui. India dan Arab juga perannya kurang diakui meski saya tidak tahu ada penulisnya atau tidak. Dalam kanon, mereka seperti tidak hadir. Dan itu mungkin bisa dipahami tahun 1950-70an, perlu program nation building, pembangunan negara. Tetapi kalau memang kanon sastra akan mewujudkan suatu paham yang Bhinneka Tunggal Ika harusnya tidak mengabaikan peran dari orang-orang marginal.

Video wawancara dengan Faruk H.T., anggota tim penyusun Pustaka Sastra Indonesia. Lebih lanjut, perihal isu kanon sastra, lihat diskusinya di sini. Baca juga pandangan tentang isu ini dari Melani Budianta di sini.

Sebenarnya dinamikanya tinggi. Misal kita bicara soal drama, saya tadi menyebut Allah Jang Palsoe sebagai drama yang ditulis dan dipanggungkan pada tahun 1917. Itu memang menurut data sejarah benar. Tetapi kalau seandainya kita mengikuti kanon sastra, seolah-olah karya drama pertama di Indonesia itu Bebasari karya Rustam Effendi. Ia adalah orang minang, penyair sekaligus penulis karya drama. Itu susah bagi saya sebagai orang yang suka meneliti sastra sejarah.

Sebelum itu banyak sekali karya drama. Waktu Rustam Effendi menulis Bebasari, kelompok drama Miss Riboet Orion dan Dardanella sudah aktif. Terus sebelumnya ada kelompok-kelompok bangsawan, itu seperti tidak dianggap. Dan itu berat sekali rasanya. Saya harap dapat direvisi. Seandainya memang bikin kanon baru dan memang dianggap perlu kanon baru. Selama ini kontribusi kelompok marginal itu beberapa tahun terakhir sudah mulai diungkapkan. Terutama sastra peranakan Tionghoa. Banyak orang yang sudah mengembangkan penelitiannya seperti C. Salmon dengan kajian dan tafsir mereka. Tapi bagaimana dengan kontribusi yang lain?

Penulis-penulis dari daerah Batak, misalnya, apakah banyak yang mengkaji? Bagaimana juga dengan penulis-penulis lain yang menggunakan bahasa daerah? Kan bahasa daerah adalah bagian dari sastra Indonesia. Bukan sastra yang berbahasa Indonesia tapi sastra Indonesia sebagai satu bangsa.

Sementara pada tahun 1910-1920an, karya berbahasa Jawa dan Sunda banyak sekali. Tapi seolah-olah hilang. Yang saya sebut tadi Joehana misalnya, banyak sekali yang tidak tahu, Joehana itu siapa? Sementara karya dia dibaca oleh khalayak Bandung dalam jumlah yang cukup banyak, bahkan dia sudah mulai memasukkan product placement (iklan – peny.) ke dalam karyanya. Dia sudah menerima bayaran, “Aku mau merkku dimasukkan ke novelmu”. Hal-hal seperti itu kayak hilang dari kanon.

Yang jelas secara umum, pasti setiap kelompok punya kepentingan dalam menyusun kanonnya sendiri. Kita lihat gejolak yang sama pada 1950an. Ada penulis nasionalis, seperti HB Jassin yang menulis kanon tertentu, yang mulai dengan titik tertentu dan memasukkan orang-orang tertentu. Ada orang seperti Zuber Usman yang menulis biografi tertentu, memilih penulis-penulis tertentu untuk menyusun suatu sejarah tertentu. Ada juga penulis Lekra, Bachtiar Siagian. Jadi orang seperti itu masing-masing punya kepentingan sendiri dalam menyusun sejarah sastra dan menentukan kira-kira penulis yang tulisannya bermutu siapa. Dan itu saya kira bagian integral dari dinamika masyarakat. Di dunia sastra juga seperti itu. Ada kelompok sastra, komunitas sastra yang masing-masing punya orientasi tertentu. Banyak orang yang sudah membandingkan misalnya Salihara dengan Forum Lingkar Pena yang kepentingannya berbeda. Pandangan politik, sosial masyarakatnya berbeda. Sehingga kalau mereka menyusun karya serupa, itu pasti hasilnya beda. Itu bagian dari dinamika masyarakat. Tidak dapat dihindari.

Belakangan juga ada isu tentang minimnya karya sastra Indonesia terjemahan juga peran penulis Indonesia bagi publik internasional. Bagaimana Anda melihatnya?

Seperti yang saya posting pada laman Facebook beberapa waktu yang lalu. Saya kira tulisan Pamela Allen, Where are all the Indonesian writers, ada benarnya. Soalnya karya-karya terjemahan penulis Indonesia itu jangkauannya belum begitu luas. Dalam artian pembacanya belum banyak. Karya yang diterjemahkan cukup banyak, ya betul. Karya yang diterbitkan oleh penerbit luar ya ada, betul. Aksesnya lebih gampang oke. Tapi pembacanya mana?

Kita mengatakan bahwa sastra Indonesia itu punya audience besar di luar negeri. Sementara lakunya cuma 50.000 eksemplar. Untuk ukuran pasar buku berbahasa Inggris 50.000 eksemplar itu tidak seberapa. Best seller itu 1-3 juta bahkan sampai 10 juta eks. Harry Potter laku 60 juta eks. satu seri. Jadi Pamela Allen saya kira ada benarnya.

Kalau kita lihat dalam kasus penerjemahan milik Lontar atau Gramedia, atau penerbit lain, jika cetakan pertama habis sudah tidak cetak ulang. Memang tidak ada pasarnya. Tapi ini memang harus diakui juga bahwa situasinya masih lebih baik daripada 10-20 tahun yang lalu. 20 tahun lalu, jika mau mencari buku terjemahan sastra Indonesia di luar negeri susah. Buku-bukunya Lontar pun aksesnya susah. Sekarang buku Lontar bisa dibeli di Amazon. Buku-buku tejemahan dari Eka Kurniawan mau dibeli di Amazon bisa. Mau dibeli di toko buku fisik, mungkin di beberapa tempat bisa. Masih perlu ditingkatkan lagi.

Saya mengerti ada beberapa orang yang mengatakan artikel ini menunjukkan pandangan orang kulit putih dalam melihat sastra Indonesia dengan kacamata luar (Baca respon tulisan dari Tiffany Tsao, The Indonesian Writers Are Where They’ve Always Been And Stop Making Them Invisible) . Kalau kita lihat audience di luar negeri ya kita pakai kacamata yang seperti itu. Kita jangan membandingkan dengan pasar buku di Indonesia. Pasar buku di Indonesia satu terjemahan laku 50.000 eksemplar ya lumayan. Terjemahan novel Jatisaba (karya Ramayda Akmal, diterjemahkan oleh Chris sendiri – peny) tidak sampai laku 1.000 eks. Di pasar internasional, jumlah segitu masih kecil.

Pewawancara: Yongky
Penyunting: Adek Dedees