Dari Ekranisasi ke Kanon Sastra Indonesia (1)

Praktik adaptasi dari karya sastra ke film telah berlangsung sejak zaman kolonial hingga hari ini, namun nampaknya masih jarang sekali penelitian tentangnya. Proses adaptasi, sastra-film, oleh insan film di Indonesia masih diselimuti awan gelap. Masyarakat kerap melihat barang jadinya, namun masih kurang informasi perihal dinamika dibalik layar dari praktik adaptasi. Karya-karya film adaptasi Indonesia juga tak sedikit menuai kritik atau mengecewakan, terutama adaptasi yang diangkat dari karya sastra kanon atau klasik. Sebut saja beberapa tahun terakhir ada film Sang Penari (2011), Tenggelamnya Kapal van der Wijk (2013), atau yang terbaru Perburuan (2019) dan Bumi Manusia (2019).

Untuk memahami seluk beluk sejarah praktik adaptasi, sastra-film, di Indonesia, redaktur kami, Yongky, menemui Christopher Allen Woodrich. Chris merupakan seorang peneliti sastra dan film di Indonesia. Ia sempat menjadi koordinator International Indonesia Forum tahun 2013. Ia juga pernah jadi penulis sekaligus penyunting di Wikipedia serta anggota Wikimedia. Pada 2017, Chris menerbitkan buku yang diangkat dari tesisnya Ekranisasi Awal: Bringing Novels To The Silver Screen In The Dutch East Indies. Saat ini Chris sedang menempuh pendidikan doktoral pada Jurusan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Berikut sajian wawancaranya.

Bagaimana awal mula Anda dari Kanada sampai ke Indonesia lalu jadi peneliti sastra dan film?

Awalnya saya ke Indonesia sebagai peserta pertukaran pelajar melalui Rory Foundation. Saya diberangkatkan dari Kanada September 2006 dan ditempatkan di Yogjakarta. Program pertukaran pelajar itu tingkat SMA, saya ditempatkan di BOPKRI 1. Waktu itu belum terpikirkan akan kuliah di sini. Lama-kelamaan ternyata betah di sini karena tidak ada salju. Alhasil lalu memutuskan lanjut kuliah di sini. Kalau kuliahnya jauh di Indonesia pasti ambilnya sesuatu yang hanya ada di Indonesia atau paling bagus dipelajari di Indonesia yaitu Sastra Indonesia. Jadi saya mendaftar kuliah S1 di Universitas Sanata Dharma pada 2008.

Yang paling menarik bagi saya adalah dinamika masyarakat Indonesia yang juga terwujud dalam dinamika sastra. Kalau di Indonesia ada penulis-penulis dari latar belakang etnis tertentu, yang menggunakan bahasa tertentu, yaitu bahasa Melayu, bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, seperti bahasa Jawa. Ada pergulatan antara individu, kelompok dan bahasa tertentu yang diteruskan sampai sekarang. Hal-hal seperti itu terwujud dalam karya sastra. Kita lihat ada pertentangan antara kelompok tertentu yang merasa, sastra harus begini, sastra harus begitu. Dan pergolakan itu terus-menerus berlangsung sampai sekarang meski isunya kadang berbeda. Dinamikanya tetap dinamis sekali. Dan itu sesuatu yang menarik menurut saya.

Selama di Indonesia, pengalaman apa yang berkesan ketika meneliti sastra dan film?

Kalau saya melakukan penelitian atau saya mengamati sesuatu, ada fenomena-fenomena tertentu yang menarik perhatian saya. Misalnya waktu saya menonton film Cokelat Stroberi di bioskop tahun 2007. Itu kan sudah 5-6 tahun setelah film Arisan. Jadi dalam film itu ada adegan lelaki mencium laki-lak lain. Itu sebelumnya sudah ada di film Arisan. Tetapi waktu menonton Cokelat Stroberi ketika ada adegan ciuman, seisi bioskop itu kayak hiiiiiii... Jadi meski dalam Arisan ada adegan serupa lima tahun sebelumya, penonton bioskop masih juga belum siap dengan adegan ini. Ini yang justru mengesankan bagi saya. Sekarang adegan seperti itu belum tentu boleh tayang. Kemungkinan besar disensor. Dipotong. Bahkan ciuman beda jenis juga kemungkinan besar tidak lolos sensor sekarang. Hal-hal seperti itu sangat wajar bagi masyarakat yang tingkat kedinamisannya tinggi dan cair.

Saya ke Indonesia tahun 2006. Waktu itu masih hangat pertentangan wacana antara kelompok yang ingin Indonesia menjadi liberal dengan kelompok yang ingin mewujudkan Indonesia sebagai negara yang Islami dengan nilai-nilai konservatif. Tahun 2017-2019, kelompok yang ingin Indonesia jadi liberal itu semakin temarjinalkan. Sementara kelompok yang ingin Indonesia lebih Islami, dalam arti konservatif dengan nilai-nilai agama yang secara eksplisit dimanfaatkan untuk keperluan pemerintah, pengaturan masyarakat, semakin kuat. Hal seperti itu mengesankan bagi saya karena itu menggarisbawahi kedinamisan masyarakat Indonesia, sejak reformasi bahkan sebelumnya. Karena akar dari perubahan-perubahan ini juga bisa kita lacak dari zaman Orde Baru, bahkan pada Orde Lama juga ada gejolak serupa.

Selain itu ya temuan karya-karya tertentu. Misalnya waktu saya membaca Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Saya cukup terkesan dengan bagaimana Mochtar Lubis bisa mewujudkan nuansa nilai-nilai agama yang normatif, bukan yang sinkretis, soal takhayul dsb. Sekaligus juga menegaskan perlunya peran negara. Kalau kita baca novel ini pada akhirnya ceritanya mengenai beberapa pengumpul damar di hutan Sumatera. Lalu ada tokoh utama si Buyung yang merasa dirinya diburu oleh macan peliharaan seorang dukun, karena dia telah ‘menggauli’ istri dukun itu. Kemudian pencari damar mati tertikam dan dia merasa itu dosanya. Dia mulai mengkhawatikan apa akibat dari dosanya. Jadi ada tekanan psikologis yang kuat.

Sementara meski ada perwujudan dosa, nilai-nilai normatif agama juga muncul, karena tokoh-tokoh yang mati tertikam harimau itu mereka yang dosanya berat. Tokoh yang pernah memperkosa, membunuh atau jadi murtad. Jadi nilai-nilai dosa di situ sangat berat. Dan semuanya akhirnya dapat hukuman. Kalau kita sudah sampai akhir cerita, yang terjadi justru berbeda. Jadi ada seorang tokoh, pencari damar itu yang membunuh orang lain dan yang diniatkan membuat beberapa kejahatan. Tetapi dia tidak mati diterkam harimau. Dia ditangkap dan dibawa untuk diserahkan ke polisi. Nilai agama dan peran agama di situ sangat menarik. Apakah agama dikalahkan oleh negara? Apakah hukum agama yang didukung negara itu bisa ditafsirkan sendiri? Yang jelas ada penekanan pada dua unsur itu.

Anda meneliti soal alih wahana sastra ke film, atau disebut juga ekranisasi. Bisakah dijelaskan lebih lanjut apa itu ekranisasi, terutama dalam konteks Indonesia?

Kalau selama ini pengertian umum ekranisasi, filmisasi, pelayarputihan, alih wahana itu, adalah pembuatan film berdasarkan media lain. Media lain biasanya ya novel, tapi kita lihat juga ada contoh dari legenda, cerita rakyat, lagu, puisi, drama. Sebenarnya medianya macam-macam. Yang ramai sekarang film berdasarkan novel. Tapi secara historis, misalnya, kita lihat ada film yang diangkat dari komik lokal seperti Sri Asih, Si Buta dari Gua Hantu serta yang  diilhami lagu juga cukup banyak. Lagu Bengawan Solo misalnya sampai difilmkan dua kali, dengan mengambil ilham dari lagunya. Dan hal seperti itu membuat kita agak susah membuat generalisasi. Yang penting menurut saya perubahan media itu, dari media lain ke bentuk film, baik film bioskop, film pendek, maupun film layar kaca/televisi.

Adegan dalam film Sri Asih (1954). Sumber Wikimedia

Kalau selama penelitian dan pengamatan saya, selebihnya agak susah menarik generalisasi. Soalnya belum tentu semua karya yang difilmkan itu sebenarnya langsung dari karyanya. Bisa jadi produser hanya membaca ringkasan cerita yang disiapkan oleh orang lain. Bisa jadi produser tidak membaca novelnya tapi menonton karya drama yang dibuat berdasarkan novel. Bisa jadi produser itu pokoknya dengar ringkasan dari orang lain, bahkan tidak membaca, dia hanya ambil poin-poin penting, seperti nama tokoh, setelah itu meneruskan ceritanya sendiri dengan bayangan dan khayalannya sendiri. Bisa juga menggabungkan beberapa cerita menjadi satu. Bisa mengambil beberapa unsur dari karya dan memasukkan ke karya film. Itu semua ada contohnya di Indonesia.

Misalnya orang membuat film berdasarkan beberapa karya sekaligus seperti Mereka Bilang Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu. Ada juga film Para Perintis Kemerdekaan, karya sutradara Asrul Sani. Meski secara formal mengakui bahwa itu menfilmkan novel Di Bawah Lindungan Ka’bah, karya Hamka, film itu sebenarnya juga mengambil ilham dari buku sejarah Islam di Sumatera Barat dan dari biografinya ayah Hamka serta beberapa sumber lain. Jadi pengaruhnya bukan hanya dari novelnya. Ada juga yang mengangkat cerita dari salah satu novelnya Laire Siwi Mentari yang diangkat kemudian dikelola supaya bisa digabung dengan cerita yang sudah mulai diproduseri oleh studio. Jadi novelnya itu hanya diambil beberapa unsur saja. Bahkan judulnya tidak sama dengan judul novelnya. Jadi hal seperti itu membuat kita susah menarik kesimpulan dari proses ekranisasi, karena prosesnya sendiri beda-beda. Pendapat pengarangnya juga beda. Ada pengarang yang langsung menyerahkan karyanya, ada yang memberi syarat tertentu, ada juga yang mau dilibatkan langsung. Ada yang justru mempromosikan karyanya sendiri untuk difilmkan, ada juga yang menunggu didatangi produser. Sangat beragam.

Apa saja tema-tema yang muncul pada awal ekranisasi di Indonesia?

Pada awalnya film-film Indonesia yang diangkat dari media lain, tahun 1926-30an, itu rata-rata ceritanya memang sudah dikenal di masyarakat baik melalui panggung maupun cerita lisan. Misalnya film cerita panjang pertama yakni Lutung Kasarung. Film itu berangkat dari legenda yang berakar di masyarakat Sunda. Banyak orang tahu dan bisa menceritakan ulang poin-poin pentingnya. Kemudian ada novel Eulis Atjih yang difilmkan berdasarkan novel seorang penulis Sunda.

Adegan dalam film Lutung Kasarung (1953). Sumber Wikimedia
Poster film Eulis Atjih (1927). Sumber Wikimedia

Kalau tema lebih spesifik, ada yang bertemakan cinta, kriminal, kebohongan, silat, laga. Misalnya film-film yang diangkat dari cerita rakyat Tiongkok masa itu, filmnya The Teng Chun, yang rata-rata bertema laga. Ada juga film Si Tjonat, bertema kriminal dan laga. Sementara ada juga film seperti Melati van Agam yang bertemakan kasih tak sampai, seperti halnya Siti Nurbaya. Kalau yang dominan di tahun-tahun itu, tema laga, cinta dan kriminal. Tapi ya tidak bisa diratakan semua.

Adegan dalam film Melati van Agam (1940). Sumber Wikimedia

Dalam alih wahana sastra-film, juga dikenal istilah adaptasi. Bagaimana pengertian dan perbedaan adaptasi dengan ekranisasi?

Adaptasi adalah serapan dari bahasa Inggris dan adaptasi secara konseptual berbeda. Kalau kita dengar istilah ekranisasi, filmisasi atau pelayarputihan, itu kan semuanya mengandung pengertian layar atau film. Jadi dia pasti hasilnya film. Sementara adaptasi atau alih wahana itu bisa berbeda. Misalnya saya menulis puisi berdasarkan novel, itu sudah disebut adaptasi, alih media. Tapi itu belum disebut filmisasi atau ekranisasi.

Secara konseptual, adaptasi lebih luas pengertiannya. Contohnya Prof. Faruk dalam tesisnya pernah membahas Siti Nurbaya sebagai tanggapan atau karya yang diilhami oleh Kaba (cerita lisan Minang). Itu mungkin bisa dikatakan sebagai adaptasi. Kemudian Siti Nurbaya dijadikan cerita panggung oleh Andjar Asmara, kalau tidak salah, tahun 1923. Itu adaptasi tapi bukan filmisasi. Untuk film karya Tan Tjoei Hock tahun 1941 atau sinetron yang dihasilkan tahun 1992-1993, silahkan kita menyebut ekranisasi sekaligus adaptasi, karena medianya masih film, di layar bioskop maupun layar kaca.

Bagaimana Anda melihat sebuah film adaptasi yang dianggap mengecewakan?

Kalau kita bicara soal kualitas kita harus tanya kualitas apanya dulu. Apakah kita melihat kualitas dengan tolok ukur kesetiaan pada novel atau dengan tolok ukur enak ditonton? Karena karya adaptasi yang paling setia (pada karya sastra) itu, belum tentu menjadi film yang bagus. Misalnya kalau saya memfilmkan Siti Nurbaya dengan setia pada novelnya, itu harusnya setiap surat yang ditulis Siti Nurbaya kepada Samsul Bachri saya tampilkan kepada penonton. Itu setia, tapi sebagai film orang tidak akan mau menonton. Ngapain, kan bisa baca novelnya.

Adegan dalam film Siti Noerbaja (1941). Sumber Wikimedia

Jadi adaptasi berusaha untuk mencari balance di antara keduanya. Rata-rata penulis skenario dan sutradara yang saya wawancarai, mereka berusaha untuk menangkap esensi atau rohnya novel. Rohnya itu sesuatu yang subjektif, sesuatu yang dipengaruhi oleh tafsir sutradara atau penulis skenario. Apa yang menjadi roh dari satu novel menurut A mungkin berbeda dengan B. Alhasil orang belum tentu setuju (hasil filmnya).

Kalau kita mau menilai kualitas film, tolok ukur yang layak digunakan adalah kualitasnya sebagai film. Karena film sendiri tidak bisa 100% setia pada novel. Selain itu soal durasi film kan rata-rata 1,5-2 jam. Semetara kalau kita baca novel itu bisa 5-6 jam. Maka harusnya ada yang dipadatkan atau dibuang sekalian. Tidak ada orang yang mau nonton jika durasi filmnya 5-6 jam. Bioskop juga tidak mau memutarnya. Akhirnya ada yang dibuang. Kadang-kadang adegan yang dibuang itu memang layak dibuang kadang juga dianggap penting. Itu memang pengaruh dari subjektivitas sutradara, penulis skenario dan produser.

Contoh film Badai Pasti Berlalu yang sudah difilmkan dua kali. Waktu difilmkan pertama kali unsur diabetes agaknya ditekan oleh Teguh Karya. Pertaruhan Leo dan teman-temannya juga jadi konflik yang besar. Tapi kalau kita nonton Badai Pasti Berlalu yang diangkat tahun 2007 (film kedua), diabetesnya muncul sebentar, lalu hilang. Yang menjadi titik tolak konflik di situ ya hubungan Siska dengan Helmi. Masalah pertaruhan Leo juga tidak terlalu didalami. Perbedaan ini karena tafsir. Tahun 2000an, diabetes sudah bukan vonis mati, sudah mudah ditangani. Jadi kalau masalah diabetes itu sampai akhir cerita menjadi persoalan Siska dan Leo, itu tidak masuk akal. Apakah itu berarti filmnya tidak setia pada novel? Mungkin. Tapi apakah filmnya lebih bagus sebagai film, saya kira kemungkinan besar iya. Karena konteks Indonesia tahun 2007 tidak logis jika diabetes dipersoalkan sebesar itu.

Saya kira yang harus kita akui juga adalah orang yang mengangkat novel jadi film, kadang ada jarak dengan novel. Kadang ada yang mengangkat novel setelah 20 tahun atau 40 tahun setelah novel terbit, meskipun tidak terlalu banyak. Contoh Badai Pasti Berlalu tahun 2007, latarnya juga dibikin tahun 2007, untuk lebih menarik penonton muda pada masa itu. Kalau disetting tahun 2007 lalu ditampilkan orang yang belum punya telepon, jadi tidak logis kan. Banyak orang sudah punya mobile phone tahun itu. Tidak logis jika tokoh Siska tidak bisa menghubungi Leo dan Helmi karena tidak punya telepon. Terus apakah kawasan Puncak (Bogor) itu sudah jadi sesuatu yang berkesan mewah tahun 2007? Tidak juga kan. Puncak tidak terjangkau oleh orang kelas menengah. Seperti halnya Kaliurang di sini. Saat akhir pekan, orang Jogja pergi ke Kaliurang berbondong-bondong sampai macet. Makanya film tadi menggunakan guest house, Vila di Bali. Karena orang pergi ke Bali setiap beberapa minggu atau bulan kesannya mewah. Hal itu tak bisa dihindari karena ada jarak (waktu) pembuatan filmnya dan penulisan novelnya.

Apa sumbangsih riset adaptasi dan atau ekranisasi Anda terhadap perkembangan sastra dan film Indonesia hari ini?

Saya harap bahwa penelitian saya bisa membuat orang lebih menyadari dinamika sejarah perfilman itu sendiri. Baik itu filmmaker maupun orang awam. Karena riwayatnya panjang, dari tahun 1920an di Indonesia. Kalau di luar negeri, (sejarah film) sejak 1902-1903, sejak film Charles Dickens. Tapi di Indonesia rasanya setiap angkatan ada jeda. Misalnya waktu Riri Riza membuat film Laskar Pelangi. Dia mungkin tidak begitu memahami konteks ekranisasi pada tahun 1980an. Karena Riri Riza besar tahun 1980an akhir-1990an awal dan tidak langsung terlibat di dunia perfilman pada waktu itu. Alhasil proses di balik layarnya belum tentu tahu.

Film-film apa saja yang diangkat dari novel juga belum tentu tahu. Dan mereka yang pernah mengangkat novel menjadi film, rata-rata tidak terlibat di dunia perfilman setelah reformasi. Hanya ada 1 atau 2 orang yang terlibat seperti Chaerul Umam. Tapi Chaerul Umam mungkin ilmunya atau pengalamannya tidak dibagi ke orang lain. Banyak yang seolah-olah mencari jalannya sendiri.

Kelihatannya para pembuat film tahun 1970an juga sama. Meskipun tahun 1940-1960an sudah ada film yang diangkat dari media lain, namun seolah-olah mereka merintis jalan baru. Antara lain karena generasinya beda. Tahun 1970 Usmar sudah meninggal. Jamaludin sudah tidak aktif, begitu juga para pembuat film Tionghoa. The Teng Chung sudah jadi guru bahasa Inggris. Ilmunya tidak turun ke mereka. Kalau kita bisa menarik benang merah untuk memperlihatkan bagaimana sejarah (sastra-film) itu, saya kira akan sangat membantu pemahaman dinamika proses ekranisasi.

Bersambung ke bagian 2