WISATA SENI ARTJOG 2019

Yogyakarta memiliki label-label yang dikenal umum seperti kota pendidikan, pusat kebudayaan (Jawa) serta kota wisata. Beberapa tahun terakhir, Yogyakarta gencar mempromosikan dan membangun sektor pariwisata. Bahkan Yogyakarta disebut sebagai tujuan wisata terbesar kedua setelah Bali. Sektor pariwisata turut menjadi sektor terdepan (leading sector) dalam agenda pembangunan nasional. Sektor pariwisata dianggap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, secara khusus mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) nasional, menciptakan lapangan kerja, serta menambah devisa. Usaha promosi pariwisata Indonesia antara lain dilakukan dengan memberi label Wonderful Indonesia. Dalam video Wonderful Indonesia: The Journey to A Wonderful World ditampilkan bermacam tempat wisata Indonesia antara lain Raja Ampat, Bali, NTT&NTB, Sulawesi Selatan&Tenggara, Jawa Timur, Toraja, Medan, Jakarta, Jawa Barat, Lombok, Wakatobi serta Yogyakarta. Dalam kasus Yogyakarta, selain wisata alam, Yogyakarta turut dikenal dengan wisata budaya (cultural tourism).

Pembangunan wisata budaya di Yogyakarta didukung oleh usaha pelestarian ragam budaya tradisional Jawa serta industri kreatif. Secara khusus, wisata budaya Yogyakarta disokong antara lain oleh berbagai acara kebudayaan/kesenian yang diselenggarakan secara rutin seperti acara tahunan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Ngayogjazz, JAFF serta pameran seni rupa.   ARTJOG menjadi salah satu pameran seni rupa tahunan di Yogyakarta, yang di tahun 2019 ini mengangkat tema ruang publik (common space). Tahun 2008, awalnya ARTJOG bernama Jogja Art Fair dan merupakan bagian dari FKY. Kemudian tahun 2010 berdiri sendiri dengan nama ARTJOG.  Tahun 2019 ini dan seterusnya, ARTJOG menegaskan diri sebagai Festival Seni Kontemprer Internasional yang berbasis di Yogyakarta. Untuk dapat menikmati karya seni, pengunjung ARTJOG 2019 harus membayar Rp 50.000. Tersedia juga area penjualan barang (merchandise) dan panggung hiburan untuk melengkapi perjalanan wisata pengunjung.

Fenomena Wisata Seni di ARTJOG 2019

Kemunculan wisata seni (art tourism) tak terlepas dari empat faktor antara lain bangkitnya generasi kreatif urban yang melahirkan festival urban; lahirnya pusat kesenian terutama seni kontemporer sebagai bagian dari kehidupan, budaya, rancangan dan peluang hidup di sebuah kota di zaman kekinian; perkembangan pesat pameran, acara, biennale dan festival dalam skala internasional; serta harapan bahwa wisata dan pekembangan budaya akan membangkitkan daya kehidupan urban, regional maupun nasional, bagi mereka yang tak tertampung oleh industri, pabrik maupun perdagangan. [1]

Wisata seni secara luas bisa diartikan sebagai segala aktivitas yang berkaitan dengan perjalanan untuk menikmati seni. Aktivitas tersebut mencakup orang-orang yang berpergian secara khusus untuk menikmati seni di suatu tempat termasuk kunjungan untuk menikmati seni diantara aktivitas lain selama berwisata, berlibur atau perjalanan lain. Hasrat untuk menonton, menikmati dan mengetahui seni cenderung diciptakan oleh dunia kesenian yang melibatkan lingkaran seniman, kritikus, kurator, galeri, acara kesenian dan berbagai macam platform pameran seni.[2]

Wisata seni mengandaikan sebuah acara/pameran seni sebagai suatu tujuan wisata yang bermaksud menarik wisatawan untuk menghabiskan waktu dan uangnya demi mendapatkan kesenangan. ARTJOG, sebagai pameran, festival maupun pasar seni rupa, bisa dikatakan mampu menarik para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati karya seni serta untuk membeli karya seni.  Namun nampaknya, suatu wisata seni seperti ARTJOG tak hanya menawarkan kesenangan dan komoditas karya seni, tetapi juga ada pengalaman pertemuan kebudayaan, pengetahuan, estetika serta eksplorasi diri. Hal-hal ini turut terwujud dalam karya-karya seni yang mengangkat isu tertentu. Dalam konteks ARTJOG 2019, sebagian karya seni mengangkat isu lingkungan/alam seperti Artificial Reef karya seniman Teguh Ostenrik.

Teguh Ostenrik-Artificial Reef. Dok. YGP.

Karya Teguh berada dalam sebuah ruangan tertutup nan gelap yang didalamnya menampilkan video suasana laut atau kehidupan bawah laut teutama ikan dan terumbu karang. Selain itu, suasana laut turut didukung oleh suara-suara air serta narator yang membawa pesan eksplisit save me atau ajakan untuk menyelamatkan serta melestarikan lingkungan laut. Teguh turut membuat Yayasan Terumbu Rupa sebagai wadah aktivitas berkelanjutan dalam menggarap isu lingkungan laut. Rekayasa ruang laut, di karya Teguh ini, membawa kita seperti berwisata dalam akuarium bawah laut. 

Isu lingkungan turut tampil dalam Rekombinan Milik Bersama (Recombinant Commons) karya seniman Mary Maggic.

Mary Maggic-Rekombinan Milik Bersama. Dok. YGP.

Karya ini berangkat dari penelitian di sungai Code, Yogyakarta, yang bermasalah karena banyak sampah plastik sehingga membuat kualitas air memburuk. Video bundar dan sisi kanan-kiri, secara eksplisit, menampilkan bungkus-bungkus plastik serta ada bau yang menyengat seperti bau sampah. Nampak bahwa sebagian suasana kali Code coba dihadirkan melalui karya tersebut. Perjalanan wisata mengajak pengunjung untuk merasakan suasana sungai code, tanpa perlu berpanas-panasan dan kotor.

Isu lingkungan tampak gencar dikampanyekan secara global. Di lingkungan tropis, di negara-negara Asia termasuk Indonesia, proses industrialisasi yang belum berkembang pesat, membuat lingkungan alam masih terjaga. Sedangkan di negara industri maju seperti Eropa bahkan Amerika terus menyumbang banyak emisi karbon sekaligus sampah/limbah industri. Prinsip UNCED “Tanggung Jawab Sama Kewajiban Berbeda” (Prinsip 7, Deklarasi Rio) menyatakan bahwa negara-negara maju adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas terjadinya krisis lingkungan, melalui pola produksi dan konsumsi mereka yang mengutamakan pertimbangan jangka pendek. Selain itu, korporasi-korporasi besar dari negara maju telah mengeruk keuntungan ekonomi dari eksploitasi sumber daya dunia.

Untuk mengatasi masalah kerusakan lingkungan alam ini, negara-negara industri maju menganggarkan 0,7% GDP-nya untuk program Overseas Development Assistance (ODA) untuk pelaksanaan konvensi Rio dan agenda 21. Mereka turut memberikan dana untuk program Multilateral Enviromental Agreements (MEA) serta agenda 21, melalui Global Environment Facility (GEF)[3] Penerima bantuan sekaligus pelaksana adalah negara sedang berkembang. Isu lingkungan ini termasuk dalam agenda Barat untuk membersihkan “dosa” industri yang dibebankan pada negara-negara berkembang.

Isu lingkungan yang ditampilkan dalam sebuah karya seni perlu diikuti dengan aktivisme yang berkelanjutan. Kritik kepada negara-negara industri maju yang menyumbang banyak kerusakan alam juga perlu dikampanyekan. Inti dari kerusakan lingkungan adalah industri/pabrik yang tak ramah lingkungan serta eksploitatif terhadap alam. Jika karya seni bermaksud untuk membangun kesadaran publik, ia mestinya bisa sampai pada inti masalah, dan memiliki agenda transformasi sosial, tidak hanya merepresentasikan realitas. Namun lain persoalan jika maksudnya untuk membangun sensasi/pengalaman wisata.

Ruang white cube memungkinkan untuk merekayasa ruang dan waktu. Di ARTJOG, pengunjung selain diajak untuk mengalami ruang/tempat yang berbeda-beda, mereka turut diajak untuk melintasi waktu. Suasana desa tempo dulu terlihat dalam Warung Murakabi karya Santi Ariestyawanti dan Dyatmiko Lancur Bawono.

Santi Ariestyawanti dan Dyatmiko Lancur Bawono- Warung Murakabi. Dok. YGP.

Bagi pengunjung yang punya latar belakang dari desa, karya ini bisa membangkitkan kerinduan (klangenan) dengan suasana masyarakat desa, warung, atribut pakaian dan makanan-makanannya. Di ruang karya tersebut, turut dijual makanan dan baju yang bisa dibeli oleh pengunjung untuk oleh-oleh. Pola ini sangat khas karakter pariwisata.  

Dalam wisata seni, perjalanan tak hanya dilakukan oleh pengunjung, tetapi juga oleh si seniman dan karyanya. Dalam suatu pameran seni, sebagian ada karya baru, ada juga karya yang pernah ditampilkan di pameran lain, atau juga berencana akan dipamerkan di acara lain. Dalam hal tertentu, perjalanan karya bisa berakhir ketika sampai di tangan kolektor. Di ARTJOG, konsep perjalanan karya telihat dari Shared Residence oleh seniman Filipina Poklong Anading.

Poklong Anading-Shared Residence. Dok. YGP.

Karya ini bersifat kolaboratif. Rak kayu tersebut menampilkan karya-karya seni yang dipinjam dari beberapa seniman Yogyakarya. Karya-karya tersebut boleh dipinjam bagi siapapun yang tertarik. Si peminjam terlebih dahulu harus menjadi anggota perpustakaan dan meninggalkan jaminan barang yang berharga baginya. Si peminjam berhak membawa pulang karya maksimal tiga hari. Setiap perjalanan karya akan menciptakan hubungan sosio-kultural baru, yang menghasilkan makna produktif. Jika beruntung, perjalanan karya akan bisa sampai ke tangan kolektor.

Berwisata ke pameran seni barangkali menjadi alternatif dari wisata museum. Barang-barang yang dipamerkan di museum mengandung unsur pengetahuan yang dominan, biasanya dalam bidang sejarah. Di Eropa, pameran seni muncul sebagai perlawanan terhadap dominasi museum. Di Indonesia barangkali, wisata seni di pameran seni memberikan alternatif wisata hiburan yang memberikan sensasi-sensasi ruang dan waktu dalam pengalaman bertemu dengan karya seni. Tak jarang banyak pengunjung yang ber(swa)foto dengan karya seni lalu ditampilkan di media sosial. Perilaku ini wajar jika seseorang berkunjung ke suatu tempat wisata. Bagi para penikmat seni yang ideal, ruang white cube yang dibayangkan sebagai ruang berefleksi dengan karya seni, bisa jadi kehilangan harapan.  

Estetika Wisata Seni

Seorang filsuf Jerman, Jürgen Habermas, pernah menyatakan akhir dari (ide) seni modern yang ditandai dengan menyusutnya eksperimentasi bentuk estetika ala Avant Garde. Akhir itu diperkirakan terjadi setelah tahun 1970.[4] Akhir eksperimentasi bentuk estetik itu disebabkan karena kooptasi kapitalisme ke ranah budaya. Produk budaya/karya seni kemudian berubah menjadi komoditi yang masuk dalam persaingan pasar demi keuntungan ekonomi. Setelah berakhirnya seni modern tersebut, muncul kemudian istilah yang kerap disebut sebagai seni kontemporer.  

Seni kontemporer berusaha untuk membaca kondisi hari ini secara global. Karakter ini berangkat dari latar belakang globalisasi di zaman sekarang yang menjadikan interaksi global semakin mudah dan intens karena kecanggihan teknologi informasi. Berbagai pameran seni kerap melakukan kerjasama internasional. Terlepas dari pembacaan karya, pameran seni yang bersifat internasional cenderung mono-platform seperti penggunaan ruang white cube. Acara turut diadakan secara berkala sepeti platform biennale. Karakter ini merupakan bentuk integrasi seni secara global.

Seni kontemporer yang ditampung dalam acara pameran seni internasional seringkali tak bisa lepas dari kapitalisasi yang turut terwujud dalam wisata seni. Industri pariwisata di zaman sekarang sangat menguntungkan secara global.  Di Indonesia, bahkan industri pariwisata masuk dalam sektor terdepan (leading sector) pembangunan nasional. Industri pariwsita melakukan proses kapitalisasi ruang serta produk budaya/seni.  Wisata seni turut berkontribusi terhadap industri pariwisata di wilayah urban. Bisa jadi, ini juga merupakan bentuk kooptasi kapitalisme lanjut (advance capitalism) terhadap produk budaya/karya seni yang menciptakan ruang ekonomi berupa pasar seni (global).  

Dalam wisata seni, nilai sebuah karya seni bisa ditanyakan di bagian pemasaran (marketing). Galeri, seniman, kurator, penyelenggara acara (EO), sponsor maupun pemodal, bekerjasama dalam suatu pameran seni untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya yang berkontribusi terhadap perputaran modal ekonomi. Nilai seni juga didapatkan dari seberapa berhasil ia menyajikan sensasi kepada pengunjung sehingga membuatnya senang dan terhibur. Tentu sebuah karya seni juga mengandung pencapaian artistik tertentu, namun nampaknya susah untuk menjadi gerakan bersama. Eksperimentasi bentuk estetik juga kurang begitu dihargai dalam pasar seni jika ia tak mampu menggaet pengunjung/pembeli.

Kehadiran kurator dalam pamern seni juga berperan memberi nilai estetika. Kurator turut memberikan tema tertentu dalam sebuah pameran yang juga mempengaruhi proses kreatif si seniman.  Pola proses kreatif dengan metode penelitian teks maupun lapangan untuk eksplorasi artistik (art based research) jadi kecenderungan hari ini. Seni berbasis penelitian merupakan praktik yang menggunakan proses artistik sebagai cara pencarian dan mengetahui realitas. Maka konsep suatu karya akan lahir dari temuan-temuan penelitian tersebut. Seniman dan kurator bersama-sama membangun makna dan nilai karya seni demi tujuan mempromosikan karya, jika masuk pasar/wisata seni maka ia punya tujuan ekonomis.


[1] Franklin, Adrian, 2018, “Art tourism: A new field for tourist studies”, Tourist Studies, Vol. 18(4), hlm. 401

[2] Ibid., hlm. 400-401

[3] Tim Third World Network, 2005, Pengelolaan Lingkungan Internasional, Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, hlm. 18-19. Ada dinamika dalam pola pendanaan ini, ada kalanya negara industri maju tak melaksanakan komitmen tersebut secara penuh

[4] Habermas, J., “Modernity versus Postmodernity”, diterjemahkan oleh Seyla Ben-Habib, New German Critique, No. 22, Special Issue on Modernism. (Winter, 1981), hlm. 5.

Penulis: Yongky
Penyunting: A.N. Pitaloka