Negara Melodrama dan Strategi Kebudayaan Indonesia

“Melodrama muncul sejak Perang Dunia II berupa opera sabun. Disebut demikian karena produk budaya tersebut dibiayai oleh pabrik sabun. Kebanyakan penontonnya adalah ibu-ibu yang dimaksudkan supaya  mereka secara psikologis bisa katarsis (menjernihkan hati dan pikiran) terhadap masalah-masalah kehidupannya. Maka dari itu, tokoh-tokoh dalam ceritanya kerap dibicarakan oleh ibu-ibu,” tutur Garin Nugroho dalam acara bedah bukunya, Negara Melodrama (2/4/2019) di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Lebih lanjut Garin menuturkan bahwa dalam tontonan televisi, orang-orang kerap membiarkan kehidupan bermelodrama tanpa etika. Hal ini mempengaruhi cara publik memandang kehidupan terutama politik. Publik, kata Garin, mengkonsumsi dan mengemas politik tanpa etika. Oleh sebab itu, warga negara kemudian jadi warga penggemar yang punya ciri segala tokoh dipandang sebagai diva. Tidak peduli jika tokoh tersebut mengkonsumsi obat-obatan terlarang, “main” dengan seribu perempuan, kita tetap memujanya. Etika dan nilai keutamaan cenderung diabaikan. “Publik mengkonsumsi politik menjadi semacam melodrama. Presiden jadi diva,” lanjut Garin.  

Garin menambahkan bahwa warga negara saat ini berubah menjadi warga follower yang mempertimbangkan rating. Publik cepat jenuh seperti opera sabun karena sirkulasi industri yang cepat dan mudah ditinggalkan. Publik cenderung melihat labelling atau kemasan semata. Sekarang warga ada tanpa organisasi politik. Masalah terbesar bangsa melodramatik yakni rumus cinta monyet, yakni mencintai sesuatu seperti menyukai produk. Suka sebentar, mudah bosan, lalu ditinggalkan dan cari yang lain.

Dalam bidang politik, konsep melodrama mewujud dalam bagaimana mengemas tokoh-tokoh politik. Seperti tubuh Prabowo yang dikemas keras, tegas, cinta Indonesia, dan menyukai kuda. Sementara tubuh Jokowi bisa dimodifikasi menjadi Kresna dan Petruk, bisa blusukan karena badannya kecil. Dalam hal ini, Presiden Jokowi punya empat kemasan: jika ada masalah yang susah ia tidak merespon, Jokowi mengutamakan kinerja, dan Jokowi juga seorang milenial sekaligus dekat dengan rakyat. Sedangkan Megawati dicitrakan sebagai ibu dengan gaya Indonesia dan ibu sebagai tonggak keluarga misterius.

Megawati, lanjut Garin, merupakan pemimpin yang kerap diam kalau ada masalah dan tak pernah menerangkan sesuatu secara struktural dan rasional. Sementara, sosok Susilo Bambang Yudhoyono punya karakter militer dan sipil, gemuk, seperti mandor yang santun serta ganteng.  Sedangkan Gus Dur, sebagai kyai dengan karakter kompleks, ilmuwan, pelawak, pemikir, dan orang yang gelisah serta kerap menggugah kondisi yang mapan.

Masyarakat melodrama bukanlah masyarakat berbasis data dan fakta. Publik kerap susah mempengaruhi orang dengan pendapat berbasis data dan fakta. Masyarakat lebih mudah terpengaruh dengan pendapat yang menyentuh emosi yang dikemas secara menarik sehingga banyak disukai. Maka dari itu perlu adanya strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan perlu untuk menumbuhkan tiga tumpuan kebudayaan yakni budaya massa, budaya heritage (tradisional), dan budaya alternatif.  

Budaya massa bersifat populer yang dapat menghasilkan banyak uang. Elit politik sekarang cenderung mengolah budaya massa, menonton film, dan pertunjukkan massa. Budaya massa hari ini bertemu dengan pemilu langsung yang membutuhkan suara massa ditunjang dengan uang korporasi, politik identitas, dan follower. Pilihan cenderung ditentukan berdasarkan selera. Oleh sebab itu, kita harus bisa membangun selera masyarakat. Selera mencakup intelektual, pendidikan, gaya hidup, dan psikologi terhadap sesuatu.

Selain itu, budaya heritage juga harus tumbuh karena ia menyediakan ide-ide yang jadi dasar dalam perkembangan budaya populer. Musik Lion King yang populer itu, sutradaranya menghabiskan waktu lima tahun belajar wayang di Indonesia.

Garin juga mengimbau untuk menumbuhkan budaya alternatif yang berperan memenuhi kebutuhan pertama seperti pendidikan warganegara. Salah satu caranya adalah dengan mengelola manajemen festival dengan karya-karya yang bagus.  Dana dari kebutuuhan ketiga seperti mall digunakan untuk membiayai kebutuhan pertama seperti seni, pendidikan, transportasi, dan taman. Kebutuhan pertama tak boleh dieksplorasi untuk tujuan komersial atau diolah menjadi kebutuhan ketiga karena itu jadi dasar dari pendidikan warga sipil, sekolah, dan kesehatan. Melaluinya, warga sipil bisa terlindungi, sehat, dan produktif.

Tidak jarang pelaku seni dituntut untuk komersil sebagai landasan guna menutupi kebutuhan pertama. Produk pendidikan dan pelestarian budaya yang dituntut untuk mesti laku di pasar. Misalnya penari bedaya yang kerap dianggap tidak bisa hidup dengan menari. Padahal produk ini punya tujuan pendidikan dan pelesatrian, bukan semata komersil dan populer.

Film Daun di Atas Bantal mendapat dana dari Perancis. Dananya berasal dari kebutuhan ketiga yakni CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) maupun pajak mall, masuk ke produksi film. Kemudian film tersebut dibeli oleh TV publik Perancis dan bioskop. Uang pajak CSR berkeliling menjadi intelektual, dan kalau untung, dapat menambah pendapatan negara.

Budaya Indonesia dan strategi kebudayaannya sejak dulu erat kaitannya dengan melodrama. Menurut Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) sebagai pembahas buku tersebut mengatakan bahwa jangan-jangan bangsa kita ini dibangun oleh gosip. Gosip menjadi ruang katarsis terbesar sebuah bangsa dalam dua wajah terbesarnya. Dulu muncul gosip tentang lagu Indonesia Raya. Ada yang mengatakan itu bukan karya W.R. Supratman, tetapi Mohammad Yamin dengan analisis yang serba dugaan. Begitu juga dengan Proklamasi Kemerdekaan yang didahului dengan drama penculikan. Praktik melodrama turut dilakukan oleh Tjokroaminoto dalam pergerakan politiknya yang melodrama dengan menyematkan atribut ratu adil. Tjokro mengelola medium komunikasi yang populer dengan memakai mimbar agama, masjid, dan koran.  Saat itu, media tersebut adalah teknologi yang paling populer. “Maka sebenanrnya Negara Indonesia ini terikat lewat melodrama,” tutup Gus Muh.

Peliput: Yongky
Penyunting: Adek Dedees