Menolak Macho: Patriarki Juga Merugikan Laki-laki

Sabtu, 09/03/2019, diadakan Diskusi Menolak Macho di Museum Huruf yang dihadiri oleh berbagai komunitas dari Jember dan beberapa komunitas lain dari luar kota seperti Malang, Jakarta, Bali dan Banyuwangi. Diskusi ‘’Menolak Macho’’ merupakan sebuah cara untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Pemilihan topik ini diprakarsai oleh Libertarian Art Space Jember dari hasil diskusi selama 2-3 bulan sebelumnya.

Acara Menolak Macho mengundang Ayhoen Sapta (Aktivis Perempuan Jember) dan Monox (Skena Musik Malang) sebagai teman diskusi. Selain diskusi terdapat penampilan beberapa seniman Jember seperti opera pantomim, Blackmamba, Teman Duduk, De Roja serta Teater Gelanggang. Pada sisi kiri tepat di samping museum, bazar yang menjual beberapa produk mulai dari makanan, kaos, kerajinan, hingga baca buku gratis digelar.

Menurut Sasa selaku ketua panitia, alasan memilih tema menolak macho ini sebagai salah satu bentuk refleksi untuk memberikan penyadaran bahwa yang diperjuangkan dalam melawan budaya patriarki itu bukan hanya perempuan saja tapi juga laki-laki. ‘’Kita juga mau kasih tahu Feminis itu bukan hanya untuk perempuan. Karena pada kenyataannya machois di masyarakat masih banyak sekali terjadi seperti dicontohkan dalam diskusi tadi. Jarang sekali ada yang tahu bahwa machois adalah bentukan dan besutan dari budaya patriarki.’’ Ungkap Sasa.

Diskusi dimoderatori oleh Trisnadya (Mahasiswa Hukum UNEJ), berjalan selama dua setengah jam dan berlangsung hidup karena mendapat umpan balik yang interaktif dari peserta diskusi. Salah satu aktifis perempuan senior, Alfianda Mariawati, Koordinator Dewan Kelompok Kepentingan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jember turut hadir dan bersuara dalam diskusi ini. Alfianda menceritakan bahwa sebelum menjadi aktifis pernah menjadi salah satu korban dari budaya patriarki. Alfianda pernah disalahkan tanpa tahu penyebabnya dan mendapat stigma yang buruk dari lingkungan saat bercerai. Lambat laun Alfianda berjuang untuk dirinya sendiri hingga dapat menarik orang lain yang memiliki ide sama, tidak hanya perempuan tapi juga ada laki-laki untuk mendampingi perempuan-perempuan yang mengalami penindasan dan kekerasan.

Salah satu peserta diskusi bernama Ila, mempertanyakan mengenai maksud dari diksi ‘’Menolak Macho’’, ada apa dengan istilah ‘Macho’? dan mengapa tidak boleh ‘Macho’? Monox selaku teman diskusi lalu mengemukakan pendapatnya bahwa dalam permasalahan perihal kesetaraan gender, siapa pun bisa menjatuhkan lainnya. Pelecehan bisa saja menimpa laki-laki, dalam hal ini laki-laki juga menanggung kerugian akibat bias gender yang terjadi di masyarakat. Pendapat Monox ini mendapat tanggapan lagi dari Ila, kurang sepakat dengan penganut feminis yang menuntut patriarki, padahal di Sumatra sendiri di mana terdapat salah satu daerah yang budaya matriarkinya kuat, perempuan merasa terbebani oleh kondisi itu, sehingga Ila tidak sepakat penuh dengan penghancuran budaya patriarki. Ayhoen lantas mengungkap pandangannya, ‘’Yang dilawan bukan laki-lakinya, tapi perannya agar itu seimbang. Dominasi paling tampak itu perkosaan, bagaimana perempuan menjadi objek. ‘’

Pendapat-pendapat yang interaktif selanjutnya mengungkapkan keresahan yang sama bagaimana perempuan yang bercerai menjadi pihak yang lebih disalahkan dan stigma yang buruk, serta bagaimana menyikapi ini dalam masyarakat. Ketimpangan dan bahaya patriarki ini bahkan berdampak pada tingginya angka pernikahan dini di Darsono,salah satu desa yang ada di Jember. Pandangan bahwa merupakan kebanggaan tersendiri ketika anak perempuannya telah menikah masih melekat di masyarakat meskipun usia anak belum mencukupi. Edukasi terkait seks dan kesehatan reproduksi menjadi salah satu hal penting yang perlu digalakkan di segala lini.

Ganes (Dosen Poltek Jember), salah satu peserta diskusi yang juga aktif menggeluti wacana terkait seks dan gender menjabarkannya melalui Mitologi Yunani. Tersebutlah Dewa Apolo yang terpikat dengan kecantikan Cassandra. Apolo merayu Cassandra agar bersedia menjadi istrinya, namun Cassandra mengajukan sebuah persyaratan untuk mengabulkan satu permintaannya. Cassandra meminta Apolo memberikan kemampuannya yang dapat melihat masa depan. Begitu kemampuan itu diberikan, Cassandra justru melihat kehancuran kerajaannya di masa depan saat bersanding dengan Apolo dan mengingkari kesepakatan sebelumnya. Apolo marah dan mengutuk Cassandra, apapun yang dikatakannya di masa depan tak akan dipercayai lagi oleh siapapun. ‘’Dari peristiwa itu bisa dilihat kecerdasan perempuan, ketulusan perempuan, yang selalu dihina dan dilecehkan. Ketika mengucapkan yang benar, tidak ada yang percaya. Apa yang dikatakan perempuan dianggap sebuah kebohongan. Mereka mensubsidi perasaan dengan menyudutkan perempuan’’.

Setelah mendengar pemaparan mitologi Yunani terkait sejarah peradaban patriarki, Ananda atau atau biasa dipanggil Kernet (Pegiat Sokola Jember) turut bersuara menjelang akhir diskusi. Kernet berpendapat bahwa siapapun bisa melawan kekerasan terhadap perempuan yang berawal dari lingkungan sendiri. Selama ini masih banyak orang yang berjarak dengan lingkungannya dan hanya sekedar berteori karena ini merupakan konstruksi budaya yang tidak bisa serta merta dihancurkan. Kernet juga menceritakan bagaimana dirinya yang laki-laki juga merupakan salah satu korban dari budaya patriarki itu sendiri. ‘’Ada kekerasan dalam keluarga ketika istri marah dan mendiamkannya, saya seketika langsung goblok, memukul tembok, dan itu kekerasan. Dominasi perlu dilawan, apapun bentuknya. Ini semacam uji coba peradaban, kesetaraan muncul dari kita. Kita terlalu berjarak dengan lingkungan, kita hanya berteori dan banyak ngomong. Saya senang siapapun atau apapun yang bisa melawan dominasi atas siapapun. Patriarki dan matriarki akan menemukan cintanya sendiri’’.

Pada akhir diskusi, Ayhoen (pegiat HAM dan perempuan) menegaskan kembali bahwa yang dilawan bukan hanya dalam konteks dominasi laki-laki, tapi sistem negara yang tidak berpihak pada perempuan, kapitalisme patriarki dan dogma agama. Patriarki tidak hanya merugikan perempuan saja tapi juga laki-laki. Laki-laki dituntut untuk macho, lebih kuat dan harus superior, bila tidak, akan mendapat stigma dari masyarakat di lingkungannya.

Peliput: Fitri Hamasah
Penyunting: Yongky

Bacaan terkait