Pertunjukan TRAET ke-6: Dari Ketiadaan Menuju Ada

Gemerincing lonceng berpadu dengan alunan  beberapa instrumen musik, sahut menyahut memenuhi sisi panggung yang tak bercahaya. Tiga lampu dari sisi kanan dan kiri, serta dua lampu dari sisi tengah di antara ornamen berbentuk sisi depan kapal, menyala. Saat lampu sorot mengarah ke sisi tengah ornamen tersebut, muncul seseorang berkostum kumal, baju, rona muka dan udeng di kepala berwarna putih serta bawahan hitam. Pemain tersebut keluar dengan merangkak seperti bayi,berwajah gusar, berkalung tali tambang yang ujungnya masih tertambat di balik ornamen, lalu bermonolog dengan beberapa kata belakang yang diulang-ulang.

Adegan ini merupakan bagian pembuka pertunjukkan teater yang ditampilkan oleh The Royal Actor Experimental Theatre(TRAET) Indonesia, kumpulan seniman di Jember, yang bekerja sama dengan Teater Tiang FKIP pada tanggal 6-7 Maret pukul 20.00 WIB di PKM Universitas Jember. Cerita dan naskah dalam pertunjukkan diadaptasi dari cerpen Gabriel Garcia Marquez (Gabo) yang berjudul The Last Voyage of The Ghost Ship yang belum pernah dipentaskan sebelumnya di seluruh dunia. Penonton yang hadir dikenakan biaya tiket sebesar Rp 5.000 untuk mahasiswa dan Rp 10.000 untuk umum.

Teater kontemporer The Last Voyage of the Ghost Ship ini merupakan pertunjukkan ke-6 dari TRAET Indonesia setelah lakon terakhir ditampilkan 5 tahun yang lalu. Kesibukan anggota yang sebagian besar sudah bekerja menjadi kendala, hingga akhirnya, Ferick, mengajak anggota lainnya untuk membuat pertunjukkan lagi. Setelah melewati inisiasi awal pada bulan November tahun 2018 dan melalui tahap interpretasi naskah, akhirnya sepakat memulai latihan pada bulan Desember 2018.

Menurut Taruna P. Putra (Cacuk) selaku sutradara,  drama ini disajikan dengan genre teater nonkonvensional atau kontemporer. Sedangkan untuk tematiknya menggunakan gaya Marques yang terkenal dengan realisme magis, disesuaikan dengan gambaran setting yang ada di Indonesia dan dikemas dalam era posthuman. Terdapat beberapa simbol dalam menyajikan realisme magis Marquez dengan mendekonstruksinya ke arah hipersemiotik seperti tong yang merupakan kursi malas, hubungan ibu dan anak yang sudah terbalik, serta beberapa simbol lainnya.

‘’Di era sekarang ini racauannya sudah melebihi racauan yang sebenarnya pada paska manusia, baik  media hoax, framing, dan sebagainya. Akhirnya kita memilih lagi menjadi manusia yang sebenarnya, memilih bangkit dan yang kita lawan masalah kapal itu, merupakan peradaban modern, peradaban sekuler. Karena kita notabene mayoritas islam  akhirnya kita bawa pertunjukan ini ke islami aja. Ketika bertemu peradaban yang sekuler ya sudah, dilawan dengan islami saja, bahwa kebenaran hakiki yang digunakan manusia adalah kebenaran hakiki yang mutlak dari Tuhan, bahwa kebenaran manusia ini sifatnya hanya relatif dan virtual.’’ Ucap Taruna P. Putra.

Pertunjukkan ini melibatkan 11 orang, diantaranya Taruna P. Putra (Sutradara), Ferick Sahid P. dan Zuhris Al Jabar (Pemain), Ali Gardy dan Guiral Hilanda (Penata Musik), Anton Pongky (Pimpinan Panggung), Sigit Yuliawan dan Ipank Rosyadi (Penata Artistik) Deni Kurniawan dan Budi Setiono (Pengarah Teknik) dan Siswanto (Pimpinan Produksi). Jumlah pengunjung yang terdiri dari mahasiswa dan umum pada hari pertama sebesar 263 dan jumlahnya lebih banyak lagi pada hari kedua. Tak hanya dari Jember, pertunjukkan ini juga dihadiri penonton dari kota lain seperti Purbalingga, Probolinggo dan beberapa kota lainnya. ‘’Bagus itu. Bungkus pementasan jadi menarik dengan teknis-teknis eksperimen yang cukup keren. Penataan suasana menjadi pelajaran bagi penonton yang di bidang teater untuk bisa merefleksikan kehidupan dalam sebuah pertunjukkan.’’ pendapat Cholis, salah satu penonton yang merupakan anggota UKM Kesenian Universitas Jember. Menurut Sutradara, penataan musik pada pertunjukkan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengiring karena menjadi elemen tersendiri yang berfungsi untuk menghidupkan naskah.

Pertemuan anggota TRAET dalam proses kreatif ini menurut Cacuk diawali keinginan melepas idealisme artistik masing-masing untuk menuju teater gagasan. Sibuknya masing-masing anggota yang sudah memiliki dunia baru di pekerjaan dan keluarga menjadi salah satu kesulitan dalam proses latihan penggarapan. Namun, berkat kerjasama dan komunikasi yang terus dibangun meski berada di kota berbeda akhirnya pertunjukkan ini bisa diadakan. ‘’Kami akhirnya menemukan prinsip berteater, ‘’Berangkat dari ketiadaan untuk menuju ada’’, tambah Cacuk. []