Punk Muslim: Kemanusiaan dan Politik Kebudayaan

Penulis:  Moch. Zainul Arifin
Penyunting: Adek Risma Dedees

Kosa kata apa yang mampu mendeskripsikan kondisi kemanusiaan dan kebudayaan kita hari-hari ini? Dan kira-kira komunitas apa yang tampaknya hadir sebagai representasi kondisi tersebut? Fakta bahwa kita hidup dalam berbagai bentuk relasi sosial, relasi budaya, dan relasi teknologi telah mencemaskan kita dalam menghayati apa itu ‘identitas’ manusia, dan apa itu arti kemanusiaan. Keragaman relasi sosial, budaya, dan teknologi dapat ditemukan dalam interaksi kita dengan berbagai komunitas.

Tentu saja gejala ini telah lama bermula dalam sejarah, yaitu saat manusia memulai kehidupan sosial. Konsekuensi dari kehidupan sosial tersebut adalah mengandaikan bahwa yang-sosial itu sendiri tidaklah tunggal dan absolut, sebab di dalamnya terdapat bermacam imajinasi individual. Dengan berjalannya waktu, relasi sosial tersebut akan menjadi semakin heterogen bersamaan dengan meluasnya cakupan suatu komunitas, atau sebut saja adanya pembedaan sosial yang terbuka akan medan pilihan nilai disebabkan meluasnya pula interaksi sosial masyarakat.

Pada saat yang sama, reaksi terhadap diferensial sosial tersebut tidaklah beragam. Dalam artian bahwa tidak semua orang merasa nyaman dan aman dengan kondisi kontemporer tersebut. Sebagian justru merasa cemas dengan berupaya mencari suatu jawaban absolut tentang identitas kemanusiaan yang sebenarnya. Di dalam kecemasan –bahkan kefrustasian-, masyarakat akan cenderung mencari pegangan, sosok pemimpin, wadah atau semacamnya yang lebih aman sebagai bentuk pencurahan hati mereka.

Sebut saja salah satu komunitas yang menyebut golongan mereka Punk Muslim sebagai bentuk obsesi yang hadir dari gerak sejarah yang pada satu sisi berupaya tampil anti-mainstream dan pada sisi lain tampil sebagai identitas dominan secara parsial. Soal yang lebih mendesak dalam situasi politik kebudayaan kita hari ini, dalam menelisik Punk Muslim, adalah bagaimana menghubungkan antara implikasi konseptual dari multikulturalisme dan aplikasi politiknya di dalam roadmap industri 4.0 Presiden Jokowi.

Punk Muslim hadir sebagai persilangan budaya punk yang melekat stereotip negatif pada masyarakat dengan rambut mohawk, bertato, bertindik, lusuh, kotor, dan segala macam, dielaborasikan dengan keislaman yang cenderung diterima oleh publik karena sikap dan penampilan yang baik dan sopan. Budi Khoiron alias Buce pada tahun 2006 mendirikan Punk Muslim sebagai wadah anak-anak punk dan jalanan untuk mempelajari Islam. Buce mengajak mereka untuk menjadi orang yang ahli ibadah, menjadi insan yang berguna dalam masyarakat dan dapat memperbaiki taraf hidup mereka. Persilangan budaya ini tentu saja tidak dapat dielakkan, di samping juga wacana multikulturalisme dan relativisme budaya yang dicanangkan kekuasaan, seperti halnya Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, hingga pada kajian keilmuan yang disebut kajian interdisipliner.

Komunitas ini yang awalnya di Jakarta juga berkembang di kota-kota besar, seperti Bandung dan Surabaya hingga di dunia maya. Respon masyarakat –baik di dunia maya, seperti pada kolom komentar di facebook dan youtube milik Punk Muslim, maupun di lingkungan sekitarnya- terhadap persilangan ini cukup kompleks. Ada yang terang-terangan menolak sebab tato yang dimiliki anak punk menyebabkan tidak sahnya wudhu dan sholat sehingga mereka dianggap bukan murni muslim. Namun, ada juga yang mendukung gerakan ini dengan dalih semua orang berhak mendapat kesempatan berubah. Ekspresi-ekspresi warga negara tentunya tidak dapat dibatasi dan dipetakan oleh moral eksklusif semacam itu. Dalam artian, identitas tidak bisa ditempelkan secara paksa begitu saja pada individu tertentu. Justru karena terus berkembangnya interaksi dan pikiran orang, identitas itu sendiri bersifat cair bukannya rigid (kaku).

Akan tetapi, dengan hanya melihat pada taraf metafisik proposal narasi tersebut, mampukah individu itu bebas dalam menentukan pilihan dan kebahagiaannya sendiri bila saja imajinasi dan pikiran mereka hanya diarahkan pada pesimisme hidup lantaran kekurangan bahkan tidak tersedia fungsi elementer –dalam istilah Amartya Sen-, seperti kesehatan, gizi, nutrisi, kecukupan ekonomi, dan pendidikan. Pendapatan per kapita misalnya seharusnya tidak lagi menjadi unggulan kalkulasi kemakmuran. Kita perlu mengukur kemakmuran itu melalui pertumbuhan kebebasan manusia dan harga dirinya.

Kemakmuran tidak lagi diukur semata-mata dari pertumbuhan pendapatan, melainkan pertumbuhan kebahagiaan manusia. Untuk itu upaya yang harus ditempuh adalah menghapus kemiskinan dan menumbuhkan ‘manusia’, bukan sekadar menumbuhkan ekonomi. Dimensi ‘manusia’ tidak boleh direduksi menjadi ‘pendapatan per kapita’. Hal ini tampak dari anak-anak jalanan, juga anak Punk Muslim. Apakah dengan hanya menyodorkan roadmap industri 4.0 dapat meningkatkan taraf kebahagiaan mereka yang cenderung hanya –sebab tanpa pilihan- jalanan dan komunitas yang menjadi labuhan imajiasi dan pikiran mereka lantaran harapan akan dapatkah nasi bungkus pada hari besoknya?

Kemampuan sampai pada taraf relasi pekerjaan, kebahagiaan, dan imajinasi anak jalanan seharusnya disorot di dalam menghadapi industri 4.0 nantinya. Dengan demikian, soal yang seharusnya dikedepankan di dalam proposal relativisme budaya justru ialah diajukan pula ‘kritik kebudayaan’ dalam upaya memajukan peradaban untuk ukuran kemakmuran ekonomi setiap warga negara.

Apalagi kapitalisme –yang justru lekat dengan industri (4.0)- sering disebut pertama kali dalam daftar paham yang paling ditentang oleh subkultur punk di seluruh dunia. Melawan kapitalisme sudah dianggap fardhu ‘ain bagi punk karena dinilai sebagai biang diskriminasi ekonomi dan berujung pada keuntungan lapisan elit semata. Untuk itu jelas, kita menginterpretasikan kembali apakah maksud baik dari penguasa tentang sodoran persilangan budaya dan industri 4.0 itu yang justru memiliki implikasi yang lebih pilu sebagai pengkondisian perkembangan individu hanya pada soal menghibriditasikan budayanya saja tanpa mengindahkan konsenkuensi logis lain dari wacana tersebut.

Berdasarkan hal itu, kita dapat katakan bahwa pemerintah dalam salah satu upaya memelihara kemanusiaan dan kebudayaan seharusnya mengedepankan fungsi elementer dalam setiap lapisan masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kemudian transformasi kebijakan pembangunan nasional dapat diteropong lebih lanjut. Hal tersebut sejalan dengan hari-hari ini ketika kita menghadapi transisi industri 4.0 yang mana Presiden Jokowi telah menyatakan roadmap untuk menghadapi era tersebut yang tampaknya telah dilakukan oleh banyak negara maju.

Kembali lagi pada soal Punk Muslim yang notabene cenderung bergerak pada sektor arus bawah, mungkinkah memiliki kesempatan di era yang serba digital, serba canggih, dan serba otomatis itu. Apalagi sebetulnya isu arus bawah kini tidak memiliki nama, kecuali ia hanya akibat dari harapan yang hampir putus terhadap perubahan, sebagaimana Punk yang hilang idealismenya akhirnya bersanding dengan Islam sebagai budaya mayoritas. Jadi kiranya memikirkan ‘cara memajukan’ peradaban dengan wacana persilangan, dengan contoh nyata Punk Muslim, justru ‘makna kemajuan’ itu sendiri seharusnya dipandang lebih dahulu daripada ‘cara memajukan’. Yang etis seharusnya mendahului yang teknis. Kepedulian seharusnya tiba di depan sebagai navigator tata konseptual, bukannya sebaliknya.

Pandangan bahwa kebudayaan (bahasa) sebagai wahana solidaritas sosial tetap mengandung proposisi kulturalisme, bahkan komunalisme. Dengan pengertian bahwa hanya dalam ruang budaya individu memperoleh makna hidupnya. Artinya, setiap tindakan komunikasi tidak boleh melampaui doktrin keutuhan komunitas. Justru larangan tersebut menjadikan kebudayaan dipelihara dalam hierarki politik, yakni individu harus patuh pada kepentingan komunitas, dan sialnya kepentingan itu diakomodasi oleh kekuasaan. Untuk itu, politik eksklusivisme ini tentu bukanlah wacana untuk memanfaatkan kebudayaan sebagai faktor kemajuan peradaban bilamana tidak dibarengi dengan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan warga negara. Dengan demikian kosa kata “(masih) tertatih” sekiranya dapat mencerminkan kondisi kemanusiaan dan kebudayaan hari ini.

Keterangan
Gambar depan diambil dari https://www.iklankoranku.com/16287punk-muslim-karanganyar-sentuhan-dakwah-untuk-hijrah.html

Leave a Reply