Palang Merah Berdarah: Tragedi Peniwen (Bagian 2)

Gambar di Monumen Tragedi Peniwen (Dok. YGP)
Palang Merah Berdarah bagian 1

Penulis: Yongky Gigih Prasisko

Tahun 1947 di Desa Peniwen, berdiri rumah sakit yang diberi nama Panti Husodo oleh Pasukan Kristen Peniwen. Tujuan pendirian rumah sakit ialah untuk kepentingan kesehaan masyarakat Desa Peniwen dan sekitarnya. Yang menjabat sebagai kepala rumah sakit yaitu ibu Martodipuro (bidan) yang didampingi oleh dr. Pudyosumanto. Dengan berdirinya rumah sakit itu, maka banyak pemuda dan pemudi Peniwen yang bersekolah kesehatan di Rumah Sakit Umum Malang. Sekitar tahun 1948 mereka banyak kembali ke Peniwen, membantu di Rumah Sakit Panti Husodo serta menggabungkan diri sebagai tenaga sukarelawan Palang Merah Remaja. Di bawah pimpinan ibu Niti Sastro sebagai juru rawat, mereka mengadakan pertemuan dan bersepakat mendirikan Palang Merah Remaja. Tujuan Palang Merah Remaja adalah untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban perang mempertahankan kemerdekaan.

Desa Peniwen pada saat itu menjadi pusat pertahanan Tentara RI antara lain dari Brigade 16 Sektor Kawi Selatan dan dari brigade lainnya. Di sana didirikan markas KRU (Crew). Banyak orang terkemuka yang ikut berlindung dan bertahan di sana. Di situlah tentara republik dengan para pemimpinnya menyusun kekuatan dan mengatur strategi untuk menghancurkan Belanda dari bumi Indonesia. Di tempat itu, disamping untuk menyusun kekuatan, juga untuk membantu tentara republik yang jadi korban perang dengan mendirikan Palang Merah Remaja,

Pada 9 Desember 1948, tentara Belanda masuk daerah Kepanjen. Sebagian tentara republik pada saat itu menyingkir ke arah barat dan mengadakan pertahanan di Desa Peniwen. Desa Peniwen menjadi markas Brigade 16 Sektor Kawi Selatan. Para gerilyawan pro-republik sebagian bergabung di sana. Di tempat itu, tentara republik menyusun kekuatan dan mengatur strategi untuk mengusir Belanda dari tanah air Indonesia. Mereka memilih Peniwen sebagai pusat pertahanan dikarenakan beberapa hal: desa Peniwen letaknya strategis sebagai pusat pertahanan, tanahnya subur sehingga dapat dijadikan lumbung makanan, rakyatnya bersikap republiken (benar-benar berjiwa republik dan anti penjajah), telah berdiri Rumah Sakit Panti Husodo yang dapat dipergunakan sebagai kegiatan Palang Merah Remaja.

Mata-mata Belanda memberikan informasi bahwa Desa Peniwen menjadi pusat pertahanan tentara RI antara lain dari Brigade 16 Sektor Kawi Selatan dan dari brigade lainnya.

Kekuatan tentara Republik Indonesia (RI) kalah jauh dengan tentara Belanda, baik perlengakapan maupun persenjataannya. Serangan Belanda yang dilaksanakan di garis pertahanan Peniwen tidak secara frontal, karena tidak ada serangan balasan atau pancingan-pancingan dari pihak tentara republik. Mereka hanya mengadakan patroli dan penyelidikan untuk mencari orang atau pemimpin yang ikut bertahan di Peniwen. Patroli itu disertai dengan pembunuhan membabi buta. Tentara Belanda kerap melakukan patroli, membunuh dan menganiaya penduduk kampung yang ditemukannya.

Patroli I, tanggal 16 Januari1949, bala tentara Belanda melakukan longmarch dari arah barat laut menuju ke arah kampung Krajan, sebelah selatan Desa Peniwen. Tentara Belanda menembak mati seseorang yang sedang makan jagung. Ia lalu diketahui sebagai anggota CPM. Korban kemudian dibawa ke Palang Merah. Patroli dilanjutkan ke Ringin Pitu sambil menyandera penduduk bernama Wuryan. Wuryan, seorang penduduk yang sudah berusia lanjut disuruh memanjat pohon kelapa namun menolak, sebab tidak kuat tenaganya. Wuryan lalu dianiaya. Seorang penduduk bernama Sowan mengintip di balik pagar. Ia ditembak mati. Wuryan lalu dilepaskan, tetapi seorang pemuda dan seorang polisi dibawa dan tak pernah diketahui nasibnya.

Patroli II, Sabtu wage, 31 Januari 1949, tentara Belanda melakukan patroli dari arah timur. Mereka menangkap Kepala Desa Peniwen, Ardja Wibawa, dan dibawa ke markas Belanda. Wuryan juga dibawa. Di markas, tentara Belanda menginterogasi Ardja Wibawa untuk menunjukkan di mana pusat pertahanan tentara Republik Indonesia tetapi Ardja Wibawa tidak sudi menunjukkan, karena tidak ingin berkhianat. Ardja Wibawa kemudian dilepaskan. Selanjutnya rombongan patroli berpencar. Sebagian melanjutkan ke arah selatan dan sebagian lagi kembali ke Ringin Pitu. Tentara Belanda menembak mati seorang anggota polisi yang berada di tengah sawah. Korban meninggal karena ditembak kepalanya.

Patroli III, Tanggal 19 Februari 1949, satuan patroli Belanda dengan jumlah lebih besar, satu kompi lengkap dengan persenjataannya, masuk Desa Peniwen dari arah barat, Desa Jambuwer, menuju ke timur. Pada pukul 14.00 WIB, Soejono Inswihardja dan Slamet Ponidjo Inswihardja giliran jaga dan berangkat ke Palang Merah. Di rumah sakit ada pasien bernama Sija, J.W. Paindong, Kasman, Mirma, Dirdja. Pada saat itu seorang pemuda, Roby Andris, berlari-lari ke arah utara. Ia adalah pembantu J.W.Paidong. Roby berlari-lari bersama dengan pemuda lain asal Tunjung Reja menuju markas Palang Merah. Sementara itu, di sebelah utara sudah terdengar tembakan-tembakan. Sangat tidak disangka dan benar-benar di luar perhitungan, tentara Belanda sudah masuk Desa Peniwen dari arah utara. Hanya selang beberapa menit saja di belakang Roby berlari-lari.

Saat mulai masuk ke Desa Peniwen, tentara Belanda menembak ke segala arah, menghambur-hamburkan pelurunya. Sekitar jam 16.00 WIB, satuan patroli sampai di rumah sakit di antara sekolahan dan Palang Merah. Tentara Belanda menembaki sekolahan dan rumah sakit. Semua anggota Palang Merah Remaja dan petugas rumah sakit panik dan menutup pintu rumah sakit.

Seorang tentara Belanda gemuk berteriak-teriak, “Keluar! Keluar! Keluar! Semua yang ada di dalam Palang Merah keluar!” Teriakan itu ditujukan kepada semua yang ada di dalam Palang Merah. Sebelum tentara Belanda menguasai Palang Merah, seorang pasien bernama Mirma pulang. Bu Dirdja mengungsi dan yang lainnya tetap di Palang Merah. Semua yang ada di Palang Merah tidak ada yang berani keluar, mereka takut kalau keluar akan ditembak. Akhirnya tentara Belanda masuk ke bangunan Palang Merah. Mereka keluar satu per satu: Slamet Ponidjo Inswihardja, diikuti oleh J.W. Paindong yang dipapah. Demikian juga dengan anggota lainnya satu demi satu keluar dengan diikuti tentara Belanda.

Setelah semua yang ada di dalam Palang Merah keluar, buku-buku di dalam gedung diobrak-abrik, botol-botol dipecahi, obat-obatan dibuang. Obat-obatan yang masih berguna bagi Belanda dibawa. Papan nama dibuang. Buku nyanyian ciptaan A. De Geer hilang. Buku nyanyian Dua Sahabat Lama milik Marta hilang. Buku berbahasa Belanda setebal dua jari Winnetou and Old Satterhan juga hilang.

Mereka yang keluar dari Palang Merah tangannya diikat ke belakang dan dijadikan satu dengan tangan tawanan lainnya. Perawat yang perempuan tangannya tidak diikat. Mereka yang tidak terikat tangannya ditodong senjata sambil berjalan bersama-sama. Semua tawanan menuju halaman Sekolah Jalan Gereja. Mereka yang tidak terikat tangannya antara lain Slamet Ponidjo Inswihardja, Soejono Inswihardja, Robby Andris, J.W. Paindong, Soegijanto, dan Kasman. Mereka semua disejajarkan dengan posisi jongkok. Pegawai perempuan di sebelah selatan kemudian di sebelahnya pegawai laki-laki yang diikat tangannya dan berikutnya adalah mereka yang tidak terikat tangannya.

Mereka mulai ditanya satu-persatu. Soejono Inswihardja ditanya pertama.

Tentara Belanda berseru: “Keluarkan isi kantongmu!”

Seluruh tawanan yang tidak terikat tangannya digeledah. Semua isi saku ditaruh di depan masing-masing. Kemudian J.W. Paidong menerima eksekusi paling awal.

Sentak tentara Belanda: “Engkau pangkat apa!”

J.W. Paindong tak sempat memberikan jawaban. Taarr!!! Ia ditembak dada dan kepalanya, kena dan mati.

Sentak lagi tentara Belanda: “Engkau pangkat apa!”

Robby Andris belum sempat memberikan jawaban. Taarrr!!! Ia ditembak dadanya dan mati.

Demikian seterusnya bergiliran. Slamet Ponidja Inswihardja ditembak kena dada dan tangannya patah. Berikutnya Soejono Inswihardja kena dadanya. Soegijanto kena dadanya. Kasman seorang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) berusaha kabur, lalu ditembak kena pelipis dan perutnya. Ia lari dan masuk rumah penduduk.

Berikatnya giliran Srimintardja. Beruntung Srimintardja dan tawanan selanjutnya diikat tangannya, maka tidak ditembak. Mereka yang meninggal adalah Paindong, Roby Andris, Soejono Inswihardja, Slamet Ponidjo Inswihardja, Soegijanto. Soedjono, Slamet Penidjo Inswihardja dan Sugianto adalah anggota Palang Merah Remaja. Sedangkan Roby Andris dan J.W. Paidong adalah pasien dan anggota Brigade 16.

Mereka yang diikat tangannya, Srimintardja, Sriardja, Rosoadi, Usada, dibawa ke Pesanggrahan/Kapanditan dan esok paginya dibawa ke Gunungsari bersama-sama dengan tawanan perempuan: Miarsi, Setyati, dan Lisbet.

Pada saat itu guru Marta sedang dalam perlindungan dan ditemukan oleh tentara Belanda. Ia dipindahkan dari perlindungan ke Kalongan di rumah Nyi Mariyem. Pesanggrahan/Kapanditan ditempati oleh tentara Belanda dan para tawanan dari Palang Merah. Tentara Belanda menempati Sekolah Jalan Gereja kamar nomor 3 dan 4 dari utara. Kamar nomor 1 untuk pasien, nomor 2 untuk obat-obatan dan kamar nomor 5, 6, dan 7 tidak dipergunakan.

Sekitar pukul 17.00 WIB seorang tentara Belanda gemuk yang siang tadi berteriak-teriak di batas Palang Merah dengan Sekolah Jalan Gereja, mendatangi rumah Inswihardja dengan berteriak-teriak, “Keluar! Keluar! Yang punya rumah keluar!”

Inswihardja keluar paling depan, diikuti oleh istri dan anak-anaknya. Ia mengira seandainya ditembak mati, akan mati semua. Seorang Belanda itu menanyakan surat-surat dari tentara Republik Indonesia, namun tak menemukan. Kemudian seorang Belanda itu masuk ruang depan rumah. Di situ terdengar raungan kesakitan di bawah meja. Tentara Belanda itu menemukan Kasman yang tadi sempat kabur. Seorang Belanda itu bertanya:

“Ini orang apa”

Jawab Kasman: “Kenging tembak ndaraaa” (Jangan ditembak Tuan)

Sahut Belanda: “Salahmu sendiri”

Sekitar pukul 17.00 WIB, Kasman menceritakan kejadian pembantaian Palang Merah di halaman Sekolah Jalan Gereja tadi siang. Sekaligus memberitahukan kepada Inswihardja kalau kedua puteranya juga ditembak mati di sana.

Patroli IV, Tentara Belanda yang melakukan patroli hari Sabtu tanggal 19 Februari 1949 itu bermalam di Peniwen.  Esok paginya 20 Februari 1949 hari Minggu Wage, sekitar pukul 06.00 WIB di depan rumah Inswihardja ada sandi panggil “Kikuk”, dan Belanda yang ada di depan rumah menjawab, “Ya”. Sebentar memberitahukan kalau yang ditembak di halaman sekolah kemarin adalah anaknya dua orang.

“Itu sudah nasib, pak. Kalau tidak mati kena tembak ya kintir kali (hanyut di sungai)”

Tentara Belanda menjawab: “Sebenarnya kalau anggota Palang Merah tidak boleh ditembak:.

Lalu tentara Belanda lain datang sambil marah-marah: “Ya saya marah betul. Itu markas (sambil menuding sekolahan). Tentaranya sebanyak 500 orang”. Padahal di sekolah hanya ada pengungsi yang sedang berteduh di sana.

Tentara Belanda tadi menyambung lagi: “Yang menembak anak Bapak bukan saya. Saya Seksi II, Jalan Sumbersari”.

 

Tentara Belanda berpatroli masuk Peniwen dari Jambuwee, lewat Sumbersari dan sebagian lagi lewat Doplangan dan masuk Kebon Klapa. Mereka bersama-sama bertemu di Sekolah Jalan Gereja. Mereka menyapu Kalongan dengan tembakan membabi buta.

Setelah dirasa aman, sekitar jam 11.00 WIB, warga menyempurnakan kuburan para korban. Ada 13 korban yang dikubur. Kuburan korban pembantaian itu hanya sedalam lutut orang dewasa. 13 orang itu adalah Witjana, Mindaru, Suprija, Abdi, Pangestu, Sardan, Minadi, Misan, Deslan, Kuntjaka, Usana, Usatha, Marsat. Juga diikuti para korban korban: Slamet Ponidjo Inswihardja, Soejana Inswihardja, Soegijanto, J.W. Paindong, Robby Andris.

Malamnya sekitar pukul 24.00 WIB ada kiriman mortar dari arah selatan dan jatuh di sekitar Gereja. Gereja dianggap sebagai pusat persembunyian tentara Republik Indonesia. Tiga mortir lain jatuh jatuh di sawah, ada yang masuk ke sumur penduduk, dan masih banyak lagi yang tidak meledak. Akibat kiriman mortir itu masyarakat panik tetapi tidak berani melarikan diri keluar rumah. Mereka hanya sembunyi sambil menggigit apa saja yang ada di sekitarnya untuk menjaga kertak gigi dan menutup telinga agar tidak pecah kendang telinganya.

Esoknya sekitar pukul 07.00 WIB Belanda berpatroli lagi dengan tembakan membabi buta. Tentara Belanda menuju gereja. Waktu itu ada anggota CPM, Wiyarno, yang mengendap-endap membidik. Ia kedahuluan ditembak tentara Belanda, kena dan mati. Beberapa saat kemudian terdengar lagi berita kalau kelompok pemuda kepergok patroli dan sudah menyerah, mereka tetap ditembak dan mati. Mereka adalah Twiandaja, Kemis, Wagiman, Rantiman, Sriadji. Twiandja pahanya hancur, kepalanya hancur, otaknya mengalir keluar.

Kira-kira jam 08.00 WIB patrolli sudah sepi. Belanda pergi dengan membawa serta para tawanan anggota Palang Merah. Mereka melanjutkan perjalanan ke Gunungsari.

Selama di Gunungsari mereka ditawan dan diinterogasi. Esoknya mereka diperiksa satu persatu, tentang kekuatan tentara RI tetapi mereka secara kompak menjawab tidak mengetahui. Pada 22 Februari, mereka dipindah ke Selorejo, kemudian diangkut dengan kendaraan dibawa ke Malang dan dimasukkan di penjara Lowok Waru. Empat tawanan yang laki-laki dimasukkan ke penjara Lowok Waru selama 10 hari. Mereka adalah Rosohadi, Usodo, Sri Mutarji, dan Sri Arjo. Sedangkan tawanan perempuan, Setyati, Lisbet, dan Marsi dimasukkan ke penjara Wanita Malang selama 8 hari. Mereka masuk penjara jam 17.00 WIB dan diintimidasi bahwa nanti jam 19.00 WIB harus siap mati. Setelah 8 hari dalam penjara dan pengusutan yang dilakukan Belanda tidak berhasil, mereka lalu dibawa ke Jatiguwi dan dipulangkan.

Setelah patroli Belanda tanggal 19 dan 20 Februari 1949, di Desa Peniwen masih sering terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan. Hal ini terjadi karena masih berlanjutnya patroli tentara Belanda. Desa Peniwen menjadi daerah operasi militer antara tentara KRU, CPM, dan DEPO yang akhirnya muncul aturan-aturan berikut:

  1. Kalau ada tentara Belanda masuk Desa Peniwen pemuda harus sembunyi;
  2. Mulai Maret, kalau ada tentara Belanda datang, pemuda dan semua laki-laki harus mengungsi;
  3. Kalau ada orang laki-laki ditawan Belanda dan lepas, rumah atau keluarganya harus diamankan;
  4. Siapa yang kedatangan Belanda harus lapor polisi;
  5. Sekolah terus buka. Kalau tentara Belanda akan menghubungi sekolahan, sekolahan harus dibubarkan. Gurunya harus mengungsi.

Bersambung…

 

Leave a Reply