Penelitian Belanda: Dekolonisasi atau Rekolonisasi Sejarah?

Kamis malam, 13 September 2018, bertempat di Pakhuis de Zwijger, Amsterdam, Belanda, berlangsung acara publik kedua tentang penelitian Belanda tahun 1945-1949. Acara tersebut, secara umum, membicarakan tentang perkembangan kinerja penelitian yang sudah berlangsung selama setahun, semenjak Sepetember 2017. Proyek penelitian ini bermaksud menyelidiki ’kekerasan ekstrim’ yang terjadi selama perang di Indonesia 1945-1949. Karena melibatkan sejarah dua negara, yang pada saat itu berkonflik, maka penelitian ini mengundang kontroversi.

Tak hanya mendengarkan paparan pembicara dari Belanda, namun acara tersebut turut mengundang pembicara dari Indonesia. Frank van Vree ( Direktur NIOD) memberikan pemaparan tentang perkembangan penelitian. Bonnie Triyana dari Indonesia berbicara tentang bagaimana memandang tokoh Belanda, Multatuli dan Poncke Princen secara kompleks. Acara dilanjut dengan sesi talkshow untuk mendengar keterangan dari generasi-generasi muda tentang sejarah orang tuanya di masa perang kemerdekaan Indonesia, dan bagaimana memaknai sejarah tersebut. Mereka adalah cucu-cucu dari orang Indonesia dan Belanda yang orang tuanya jadi pelaku, juga ada yang jadi korban kekerasan perang tersebut. Kisah tersebut dibagikan oleh Hanneke Coolen-Colsters, Jeftha Pattikawa, Natasha Santoso,

Selain itu, acara turut diwarnai dengan penampilan teater Delta Dua yang menggambarkan dramatisasi tragedi Westerling.

Pidato kritis disampaikan oleh pembicara Jeffry Pondaag sebagai ketua Yayasan K.U.K.B. (Komite Utang Kehormatan Belanda). Ia mengatakan bahwa pendudukan Belanda atas tanah air yang jauhnya 18.000 km dari negeri Belanda, yang sekarang bernama Indonesia ini, adalah tindakan illegal. Ditambah lagi, sampai sekarang Belanda tak mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dalam kesempatan ini, turut diputar pesan video (dibuat oleh Marjoelin dari yayasan Histori Bersama) dari Francisca Pattipilohy yang mengutarakan bahwa semestinya penelitian ini berangkat dari pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kekerasan yang terjadi selama 1945-1949 di Indonesia adalah akibat dari 350 tahun penjajahan dan struktur kelas yang rasis. Kolonialisme yang ilegal tak dijadikan titik berangkat dan dianggap sebagai hal yang normal.

Diskusi berlanjut dengan pertanyaan apakah proyek penelitian ini merupakan usaha dekolonisasi atau rekolonisasi. Sesi ini menghadirkan pembicara dari pengacara, sejarawan, pendidik dan pakar museum, antara lain: Marc van Berkel, Martine Gosselink, Remco Raben dan Liesbeth Zegveld. Pilihan kata dekolonisasi pada penelitian ini berpotensi membenarkan kolonialisme. Maka dari itu, dikhawatirkan penelitian ini akan menjadi rekolonialisasi melalui produksi pengetahuan dalam penulisan sejarah Belanda-Indonesia. Kekhawatiran lain terletak pada unsur politik dibaliknya. NIMH sebagai lembaga di bawah Kementrian Pertahanan Belanda, yang ikut terlibat dalam penelitian, dianggap bukan lembaga netral dan independen. Penelitian ini juga tak bisa dipisahkan dari tuntutan hukum para korban perang Indonesia kepada pemerintah Belanda yang terus berlanjut.

Proyek penelitian ini bertajuk Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950. Tiga lembaga sebagai pelaksana antara lain Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV, Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara), Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH, Institut Belanda untuk Sejarah Militer), dan Instituut voor Oorlogs-, Holocaust- en Genocidestudies (NIOD, Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Perang, Holocaust, dan Genosida). Dengan dukungan dana dari pemerintah Belanda, penelitian ini berlangsung selama 4 tahun sejak September 2017 sampai 2021.

Secara keseluruhan, proyek penelitian ini terdiri dari penyelidikan: Saksi & Rekan Sezaman; Dampak Akibat Perang Dekolonisasi; Studi Regional; Peperangan Asimetris; Penelitian Komparatif mengenai Perang-Perang Dekolonisasi; Konteks Politik Internasional; Konteks Politik Administratif Belanda & Hindia-Belanda; Kekerasan, Bersiap dan Berdaulat. Masa Peralihan 1945-1946; terakhir Sintesis Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-150.

Peneliti Indonesia, antara lain dari UGM, turut digaet dalam sub-proyek Studi Regional dan Kekerasan, Bersiap, Berdaulat.

* Video lengkap acara publik ini bisa dilihat di:

* Pesan Video Francisca Pattipilohy

Pesan video Ibu Francisca Pattipilohy

Pesan video Ibu Francisca Pattipilohy, yang tak diberi kesempatan untuk berbicara di acara publik keduatentang penelitian Belanda 1945-1949. 13 September 2018, AmsterdamTerjemahan: Yongki Gigih PrasiskoVideo: Marjolein van Pagee https://www.ind45-50.org/id/event-pakhuis-de-zwijger-decolonization-or-recolonization

Dikirim oleh Histori Bersama pada Kamis, 13 September 2018

*Konten terkait:

JEFFRY PONDAAG: TIDAK ADA SATU NEGARA YANG MEMBENARKAN KOLONIALISME SAMPAI SEKARANG

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DARI PROYEK RISET BELANDA TENTANG MASA PERANG 1945-1950 DI INDONESIA?

Leave a Reply