Konco Wingking : Domestifikasi Ala Perempuan Jawa

 “Ya kalo sudah menikah memang begitu. Dadi konco wingking lah. Perempuan jawa ya begitu ”                                 Mbak Yani, 42 tahun, bekerja di laundry.

 

Apa itu konco wingking? Dialog yang tidak panjang membuat saya semena menyimpulkan satu hal terhadap tiga orang perempuan yang sedang berada pada satu tempat kerja. Bertiga, terdomestifikasi oleh norma yang mereka tidak tahu dari mana dan bagaimana harus bernegosiasi dengan aturan-aturan tersebut. Perempuan sebagai sebuah subjek telah abai terhadap institusionalisasi aturan-aturan yang implikasinya mengungkung keinginannya untuk berkembang menjadi subjek yang utuh. Meskipun Lacan tidak merujuk pada kepenuhan terhadap keinginan-keinginan yang selalu tumbuh. Namun, subjek mempunyai peran dalam bernegosiasi membentuk sebuah aturan. Setiap subjek bernegosiasi berdasarkan modal pengetahuan dan modal material. Jika tidak dibiarkan untuk aktif bernegosiasi, maka rezim-rezim yang saling tumpang tindih membentuk norma dan mengharuskan setiap subjek menjalankan aturan. Rezim-rezim inilah yang akhirnya menginstitusionalisasikan aturan-aturan untuk mendomestifikasi peran perempuan dalam relasinya dengan lelaki dan lingkungan kultural.

Konco wingking ini merupakan sebuah kesepakatan tak bertuan, bahwa sesudah menikah perempuan akan ndhèrèk[1] suami. Perempuan akan ikut dimanapun suami tinggal. Perempuan akan menurut patuh dengan apa yang dikehendaki suami. Dengan segera pola relasi antara perempuan dan suami tampak tidak imbang. Tidak ada ruang bagi perempuan untuk menawar perannya sebagai seorang subjek. Kecuali diposisikan inferior tanpa cela. Inferior tanpa cela memang mengundang penilaian baik, taat, tidah cela. Tetapi setiap keputusan dalam kehidupan rumah tangga, perempuan hanya sebagai supporting system dan pengambil keputusan adalah kepala keluarga. Posisikan kepala keluarga sebagai panglima pengambil keputusan. Dan, sialnya lagi struktur panglima ada pada suami, perempuan cuma “menang katut, kalah katut”[2].

 Beruntunglah mempunyai suami yang dialektis sehingga mampu memberikan ruang bagi perempuan untuk negosiasi keputusan bersama. Yang tidak beruntung pasti juga banyak.

Perempuan yang terdomestifikasi dapat dirunut dari catatan sejarah dalam pembagian peran. Pembagian peran ini mengeliminir berdasarkan ketahanan kerja.  Perempuan mendapati pembagian kerja yang setara dalam hubungannya dengan alam, adalah kerja domestik –masak, manak, macak[3]. Yang kemudian peran perempuan terobjektifikasi dengan mengabaikan perannya subjek. Kemudian teringat pemikir Barat –Simone de Beauvoir- yang memposisikan objek sekaligus subjek yang hidup dalam satu tubuh. Perempuan mengurai identitasnya lewat sebuah proses ulang alik subjek sekaligus menyadari dirinya sebagai objek, pun sebaliknya. Yang pada arti pentingnya, bahwa identitas perempuan yang mempunyai peran sebagai konco wingking perlu memikirkan kembali posisinya sebagai subjek yang hidup dan menegosiasikan ulang perannya dalam rumah tangga. Mitos perempuan sebagai konco wingking bukanlah sesuatu hal yang ajeg. Norma yang mengatur bahwa perempuan menikah ndèrèk suami bukanlah suatu fiksitas yang harus selalu dipegang. Ketika memahami proses ulang-alik perempuan sebagai subjek yang sekaligus objek, maka proses pembentukan identitas dan peran perempuan dapat aktif bergulir.  Pun begitu dengan seluruh entitas yang ada, proses pembentukan identitas dan peran aktif bergulir.

Peran domestifikasi ala perempuan jawa, artinya mesti dibongkar dan disusun ulang. Peran pada ranah domestik bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang dapat menjadi pegangan dalam menerangkan identitas perempuan. Ranah domestik merupakan ranah terbuka. Bukan ruang yang tabu untuk ditawar kembali. Semakin membuatnya tabu, maka semakin kuat pembatasan dan pengabaian pada subjek. Toh, banyak yang menjadikan pekerjaan domestik menjadi sumber penghasilannya. Dan, menjadikannya sebagai penghasilan utama untuk kehidupan keluarga. Seperti Mbak Yani yang membuka laundry. Mbak Retno yang membuka warung kopi. Budhe Yayuk sebagai pramurukti dan anak lelakinya sebagai koki.

*end*

 

[1] Ikut, menurut patuh.

[2] Menang atau kalah tetap ikut menanggung akibatnya.

[3] Memasak, melahirkan, merias diri.

Bacaan terkait

Leave a Reply