Barat Daya

 

Mengunyah permen karet mint sebelum menyalakan rokok. Jongkok. Sembilan detik waktu untuk mengencangkan tali sepatu. Rokok terjepit disudut kiri bibir. Asapnya mengikuti angin. Kelopak mataku menahan pedih desakan asap. Hentak berdiri. Langkah pertama menuju utara. Sepuluh langkah. Berhenti. Membaca alamat dari sebuah kartu nama.

Arah kananku berdiri sebuah apartemen tiga tingkat. Beberapa jendela terbuka, yang lainnya tertutup kelambu.

Arah kiriku sebuah coffee shop. Pikirku kopi bisa membantu mengingat lagi wajah Lulu sebelas tahun yang lalu. Di coffee shop. Dari depan kasir berdiri seorang lelaki tua, menyapaku.

“Silahkan!”

Aku sedikit kebingungan. Lalu kupesan secangkir kopi gayo. Coffee shop sepi. Terlalu banyak kursi yang kosong. Aku memilih duduk diluar. Didepanku sudah ada kopi yang belum habis.

Lelaki tua mengantarkan kopi dan menyesap kopinya yang belum habis.

“Mencari alamat siapa?” tanya lelaki tua itu.

“Kawan lama”, jawabku menutupi curiga.

“Namanya?”

“Lila” aku berbohong.

“Tidak ada yang bernama Lila di apartemen depan. Lulu yang membawa bekal garlic bagouet dan memesan kopi Gayo setiap pagi. Mungkin itu yang kamu cari”.

Tepat dan telak. Kebohonganku belum terbongkar, tapi aku tidak menemukan alasan untuk tidak membuka kebohongan selain karena curiga dan enggan banyak bercerita.

“Apakah Anda mengingat apa yang dipesan dari semua penghuni apartemen depan?” tanyaku

“Kecuali Herlambang. Dia jarang pulang dan tidak suka kopi. Saya hanya mengenal namanya,” jawabnya sambil tertawa panjang. Aku tidak mengerti mengapa dia tertawa. Kuambil rokok. Kunyalakan. Hisapan pertamaku terganggu oleh penjelasan lelaki tua yang duduk tepat di sampingku.

“Herlambang sudah tinggal lima tahun di apartemen depan. Tapi selama lima tahun juga dia tidak mempunyai kebiasaan yang bisa saya amati. Saya selalu tahu dia pasti pulang malam. Bahkan dini hari atau bahkan baru esoknya, atau.. ya, itu. Saya tidak kenal dia. Kecuali hanya nama”.

Dia terdiam. Membenarkan posisi duduknya. Memandang salah satu jendela apartemen depan. Dugaanku arah pandangannya menunjukkan letak apartemen Herlambang.

“Itu apartemen Lulu” aku salah duga. Arah pandangnya ke apartemen Lulu. Ditingkat tiga. Nomor tiga dari utara. Jendela dan kelambunya terbuka. Mungkin dia didalam. Tapi menduga sering salah.

“Apakah Lulu ada di apartemennya?” tanyaku ingin memanah dengan tepat.

“Lulu tidak suka udara dingin AC. Dia bekerja hingga pukul delapan malam nanti.” Kulihat jam tanganku. Masih pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Aku harus menunggu tiga jam limabelas menit lagi, jika keinginanku untuk bertemu kawan tebaikku sebelas tahun yang lalu masih belum berubah.

“Dimana dia sekarang bekerja? Mengapa panjang sekali jam kerjanya?”

“Sudah dua tahun bekerja di provider, customer service. Hari Jumat dia akan mengambil kerja dua shift. Sabtu dan Minggu ia disini.” Jawabnya terang. Kujawab dengan senyum paling lembut. Aku berharap mendapatkan banyak cerita tentang Lulu selama aku tidak bertemu dengannya.

“Cucuku senang dengannya. Setiap akhir pekan dia akan datang mengunjungiku bersama mantan istriku. Dan cucuku akan sepanjang hari diatas meja untuk menggambar, menulis dan tertawa.“ Dia menerangkan dua orang yang mempunyai tempat yang tidak biasa dihidupnya: cucunya dan mantan istrinya.

“Cucuku, Melisa. Tahun ini dia berusia empat tahun. Dia mirip sekali dengan neneknya.” Matanya menerawang jauh.

“Dimana kamar mandi?”

“Masuklah pintu samping meja kasir. Susuri lorong, lalu beloklah kekiri.” Kuikuti arahan yang ia berikan. Sepanjang lorong dipajang banyak gambar. Paling banyak gambar dua gunung dan jalan di tengahnya. Kuamati sekilas. Mata kuhentikan pada satu gambar berwarna. Merah.

*

“Mengapa kamu tidak menjawab, Lulu? Kamu tuli?! Kamu bisu?!” kutarik tangan kanannya. Kudorong badannya hingga jatuh diatas sofa. Merah.

*

Aku mencuci muka. Mengurangi bosan mengingat warna merah yang bertubi-tubi hadir dari masa lalu. Berjalan melewati lorong berisi banyak gambar. Acuh. Tidak tertarik lagi untuk mengamati satu persatu.

“Apakah Anda membaca buku fiksi?” tanyaku membuka obrolan kembali pada lelaki setengah baya.

“Saya, Vinc?” dia tidak menjawab. Hanya mengamati jalan. Menengok pun tidak. Cukup lama kami terdiam.

“Kamu pernah memikirkan tentang arah barat daya, Vinc?” akhirnya ia memecah diam.

“Tidak pernah. Mungkin hanya seperti mangkuk berisi garam dan air. Mengapa menurutmu itu penting untuk dipikirkan?” tanyaku balik.

“Bukan penting untuk dipikirkan, Vinc. Tapi tidak ada yang lain yang lebih penting untuk dipikirkan.”

“Baiklah. Aku jarang membuka peta. Tetapi arah barat daya kukira hanya ada riuh Samudera Hindia. Kukira Anda tertarik membicarakan kesunyian?” Semoga tebakanku benar. Tidak terjawab. Bel becak dan lambaian tangan pengayuhnya yang menyahutku dari seberang jalan. Tebakanku salah.

“Anda pernah membaca buku fiksi? Kukira didalamnya berisi kesunyian juga. Setiap cerita hanya membunuh pikiran-pikiran yang kurang lebih tidak bisa hidup. Seperti Holden Caulfield. Dia hidup dalam kepala seseorang yang kemudian berjalan-jalan bersama pembunuh musisi legendaris. Menghampiri orang-orang. Keluar dan masuk sekolah tinggi. Pesan minuman yang tidak pasti. Keluar masuk gedung pertunjukan dan bioskop. Tidak bisa bertahan disatu tempat. Kritik sana sini. Tapi saya suka Salinger. Dia..”

“Kopimu sudah habis. Biar kubuatkan lagi?” ia memotong ceritaku. Kemudian ia segera beranjak ke mesin kopi. Pandai sekali ia memotong cerita orang. Ia datang ke meja bersama secangkir kopi dan sekotak cerutu.

“Kukira kamu akan suka dengan cerutu yang dibawakan mantan istriku minggu lalu.” Katanya membuka obrolan lagi.

“Boleh saya mencobanya?” kuambil sebatang dan kunyalakan.

Seseorang membawa gitar mendekat pada kami.

“Mau lagu biasanya Pak Greg?” tanya lelaki pembawa gitar itu.

“Tanya saja tamu saya. Dia mau dimainkan lagu apa” kata lelaki setengah baya yang baru kutahu ia bernama Greg. Aku tidak menyebutkan satupun judul lagu. Kuulurkan tanganku untuk mempersilahkan dia memainkan lagu apapun. Lagu yang dimainkan tidak asing. Aku sering mendengarnya diradio selepas tengah malam. Lelaki memainkan gitar dengan memejamkan matanya. Lirik yang kudengar dengan jelas, if I stay here just a little bit longer, if i stay here, won’t you listen to my heart. Kemudian ia membuka matanya. Menghadapkan kepalanya ke atas dan menebalkan lirik my heart.

“Sudah, sudah. Buatlah sendiri kopi didalam” ucap Greg memutus momen sentimentil dari lelaki pemetik gitar.

“Seperti biasa ya, Pak Greg?” katanya meminta persetujuan.

“Ya, sesukamu” jawab Greg dengan suara mayor dan arah pandang tak berubah.

Cerutu tidak lagi kuhisap. Aku lebih suka menghisap rokok yang kubawa. Kuminum kopi cangkir kedua. Kukeraskan suara hisapan ke bibir cangkir. Hanya untuk memecah kesunyian.

“Vinc, aku ke utara sebentar. Buatlah kopi lagi jika cangkir itu sudah kosong. Kamu tidak suka cerutu ya? Aku juga tidak. Tunggulah disini sampai pukul delapan malam nanti.” katanya sambil berjalan ke arah utara.

~