Jarak yang Lebih Berjarak dari Jarak Rabu hingga Sabtu

Mungkin lelaki berkaos oranye itu sedang berlebihan ketika meminjamkan payung padaku ketika hujan belum turun dengan lebat. Mendung memang hampir sewarna dengan tanah. Namun, kukira hujan tak akan turun deras sebelum aku sampai di shelter bus berjarak dua ratus lima puluh meter dari teras perpustakaan.

“Arnesh” katanya sambil mengulurkan payung bertangkai hitam yang masih dilipat.

“Terimakasih. Hujan tidak akan durhaka padaku sepertinya,” jawabku tak acuh sambil membuka tangan kiriku untuk merasakan seberapa rapat hujan yang turun. “Pakailah saja. Aku akan berjalan lebih cepat dari hujan,” jawabku sambil berlalu.

Ia mengikutiku. Ia sepertinya punya keturunan keras kepala.

“Pakailah untuk menjaga hujan. Setiap hari aku diperpustakaan ini. Jangan khawatir untuk membalas budi. Bawalah besok jika kau sudah tidak memerlukannya. Selamat sore,” balasnya sambil memaksaku menggenggam tangkai payung. Ia berlari. Ia bergerak lebih cepat dari aku yang ingin lebih cepat daripada hujan.

Hari Rabu. Pukul 09.30 aku tiba di teras perpustakaan. Kubawa serta payung bertangkai hitam. Masih agak basah. Kupaksa melipatnya serapi waktu dipindahtangankan padaku, kemarin. Aku tidak ingat perawakannya. Apalagi mukanya. Aku hanya ingat dia keras kepala dan menyebut Arnesh.

Kuserahkan kartu identitas untuk mendapatkan kunci loker. Kumasukkan tasku. Kuambil satu buku tulis beserta kantung pensil. Kubawa komputer jinjing beserta kabel pengisi daya. Ruang baca masih dikunjungi, belum ada sepuluh orang. Aku memilih tempat duduk yang menyajikan pemandangan berwarna kehijauan. Depan tembok kaca menghadap ke utara. Lamat-lamat terdengar suara pendingin ruangan dan suara musik instrumental. Kucium bau lavender dari pewangi ruangan otomatis. Ruangan terasa dingin. Kupilih satu buku dari rak.

Isi kepalaku terbagi. Pemandangan hijau yang bergelayut manja mengajakku melamun. Lalat. Dia pahlawan yang membangunkan lamunan. Kugayuh kembali buku. Belum habis satu paragraf yang kubaca. Menguap.

Arnesh.

Tetiba kata itu melintas. Mungkin itu namanya. Atau mungkin juga itu nama tempat. Sepertinya lebih relevan sebagai nama orang. Baiklah, namanya Arnesh. Aku tidak merasa berhutang budi atas payung yang dipinjamkan. Walaupun hujan turun deras di tengah perjalananku menuju shelter bus kemarin sore.

Mungkin memori seperti lalat. Membuatku terjaga dari lamunan dan kantuk. Kukira aku harus mencari secangkir kopi dan buku yang lebih menarik. Buku-buku teori sebagai pembantu menyusun tugas akhirku memang seringkali mengajak tidur dan melamun.

“Kopi hitam gula sedikit, mbak?” Pak Hargo hafal pesananku. Diseduhnya kopi di dalam gelas belimbing. Kuberikan uang tiga ribu rupiah sebagai gantinya.

“Terimakasih, Pak Hargo.” Balasku sambil tersenyum dan berlalu. Kubalikkan badan 180 derajat. Seseorang yang duduk di kursi depan kantin tersenyum. Berdiri. Seolah hendak melemparkan kata.

“Hujan durhaka kemarin,” katanya sambil tersenyum tipis. Kupikir dari nada bicaranya tidak membutuhkan jawaban. Tapi aku mengangguk.

“Payungmu ada di lokerku. Mau kopi?” kuberitahukan tugasku telah akan selesai ketika payung kukembalikan. Kutawarkan kopi. Bukan untuk balas budi. Mungkin, untuk mencari teman menghabiskan kantuk. Aku tidak pikir panjang. Duduk di kursi di depannya. Lelaki itu menjulurkan tangannya. Mengajak bersalaman.

“Arnesh,” katanya.

“Lila,” kubalas uluran tangannya sesudah meletakkan gelas kopiku di meja. “Setiap hari selain hari libur selalu pergi ke sini?” tanyaku basa-basi.

“Ya,” jawabnya hemat.

Sial. Aku harus melontarkan pertanyaan lagi.

“Sedang mengerjakan tugas akhir atau hanya mencari literatur?” aku bertanya lagi. Memancing obrolan panjang.

“Dua-duanya.” Astaga, mengapa jawabannya selalu irit.

Berdua, kami terdiam. Kutiup kopiku. Aromanya menyebar. Kudengar nafasnya ikut berebut aroma kopiku. Aku tidak lagi punya inisiatif untuk bertanya.

“Kamu? Lila,” katanya. Alih-alih bertanya.

“Ya, saya Lila,” kujawab sambil kusesap kopi yang masih sedikit kepanasan.

“Maksudku, kamu juga sedang menyelesaikan dua-duanya?”

“Ya, saya Lila. Saya sedang menyelesaikan tugas akhir. Dua-duanya saya jawab.” Aku menahan senyum.

“Tugas akhir Lila tentang apa? Mencari literatur tentang apa?” Arnesh bertanya lagi. Gengsinya lebih kecil daripada keras kepalanya, kupikir. Aku tersenyum sendiri. Wajah Arnesh kira-kira bingung.

Social science. Tentang harapan. Mencari literatur? Mencari hiburan lebih tepatnya.” Kujelaskan sambil menatap dagunya. Dagunya licin seperti lele[1].

“Baiklah. Habiskan kopimu dan silakan mencari hiburan.” Ia seperti komandan yang memerintah anak buahnya untuk hormat. “Aku duluan ke ruang baca. Permisi,” katanya meminta diberi jalan keluar. Ah, ia tidak sekeras kepala seperti yang kubayangkan. Tapi mungkin saja ia malas basa-basi. Mungkin.

Pukul 09.35 hari Kamis. Aku turun dari bus di shelter D. Dengan menghabiskan waktu kurang lebih delapan menit berjalan kaki, aku akan tiba di depan perpustakaan. Tas kugantungkan di bahu kanan. Tangan kiriku menggenggam payung bertangkai hitam. Kemarin, aku tak sempat mengembalikan payung kepada Arnesh. Dan hari ini aku harus membawanya lagi dengan harapan akan bertemu dengannya dan mengembalikan payung yang dipinjamkannya dua hari lalu.

Hari ini aku tidak membawa komputer jinjing. Hari ini aku berniat berlibur dari tugas akhir. Semalam sudah kusiapkan jajaran judul buku yang akan aku singgahi. Utopia[2]. War and Peace[3]. Father’s and Son[4]. To Kill A Mockingbird[5].

Rak-rak buku menyambut dengan bau buku lembab. Katalog otomatis membantu mencari empat buku yang kuanggap sebagai pendamping tugas akhir. Dan aku menyebutnya tak lebih sebagai hiburan. Buku keempat kutemukan pertama kali. Ketiga buku yang lain berada pada ruang baca koleksi langka. Artinya, aku harus meninggalkan jaminan. Kecuali aku mampu menyelesaikan membacanya pada hari itu juga. Dan, tidak mungkin.

Arnesh mengirimkan senyum ke arahku.

“Sibuk mencari hiburan, nona?” tanyanya. Sepertinya ia sudah mengamatiku lama. Dan aku tidak menyadarinya.

“Baiklah, sepertinya kamu mengamati gerakku. Aku harus menyerah dan menjawab ‘iya, ampun tuan’ sambil menundukkan kepala,” jawabku seketika. Menutupnya dengan senyum.

“Baiklah, menyerahlah pada kantuk. Ngopi di kantin yuk!” ia mengujar sambil mengedipkan sebelah matanya. Manusia ini sedikit genit selain keras kepala, kesimpulanku sementara.

Jumat. Aku libur. Membaca buku yang kupinjam kemarin. Di teras rumah. Seharian dan selesai. Tugas akhir menjadi nomor kedua atau ketiga untuk tiga hari ini.

Di kantin perpustakaan. Menyesap kopi. Dan berdiskusi dengan Arnesh. Melanjutkan pembicaraan yang kemarin terpenggal ketika telepon genggamnya berbunyi dan ia tergesa pergi.

“Kemarin lusa, kamu bercerita mengenai landasan tugas akhirmu. Bagaimana bisa kamu menjelaskan waktu yang –seperti kita tahu- bahwa waktu itu mempunyai ukuran yang pasti dan selalu melaju?” tanyanya menelisik tugas akhir dan kapasitas pengetahuanku.

Aku tidak terlalu suka dengan pertanyaan meragukan teori yang kuminati.

“Waktu sebagai landasanku bukan waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam di tanganmu. Waktu yang kupakai, pijakannya adalah waktu yang diisi dengan berbagai memori. Memorimu membentuk paradigma mengenai sesuatu yang ideal. Di situ harapan lahir.” Aku tetap menjawabnya sambil tanganku memegang segelas belimbing kopi.

“Baik. Artinya, harapan akan lahir berdasarkan memori seseorang. Lebih jauh, harapan bersifat relatif ya?” pertanyaan Arnesh bertambah dalam.

“Ya, tentu saja. Jika satu ditambah satu berjumlah tiga akan mengguncangkan kebenaran. Maka, kebenaran yang bagaimana yang akan dipertahankan,” kalimatku belum selesai. Kedua alisnya semakin mendekat. Rasa ingin tahunya semakin mendalam. “Harapan bukan sesuatu hal yang pasti. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa memori dan pengalaman seseorang akan membangun gagasan yang ideal. Di situlah harapan. Aku menjelaskan dengan prinsip waktu. Begitu tuan. Bagaimana dengan inti atom yang sedang kamu cari?” tanyaku balik mengenai tugas akhirnya.

“Jarak yang harus kutempuh masih terlalu jauh,” jawabnya sambil memutar gelas kopinya yang hampir kosong.

“Oke, baiklah. Aku tidak terlalu paham dengan maksud jawabanmu,” aku ingin menggali jawaban Arnesh dari pertanyaanku. Ia hanya menjawab dengan kedua tangan terbuka. Seperti melantunkan doa.

Yuk! Masuk ke ruang baca lagi, Lila.” Ia menutup pembicaraan. Sialan.

Hari Sabtu hujan turun sedari pagi. Aku tiba di perpustakaan hampir tengah hari. Perpustakaan sepi. Tiga orang. Semua perempuan. Aku pergi ke kantin. Kosong. Pak Hargo libur. Arnesh absen.

Masih hujan. Lebat. Payung bertangkai hitam terkembang. Berwarna biru, lalu hilang ditelan kecepatan dikali waktu.

[1] Pramoedya Ananta Toer. Mengutip Gadis Pantai, “Dagu perempuan isteri percobaan Bendoro harus licin seperti lele”.

[2] Thomas More dipublikasikan pada 1516.

[3] Leo Tolstoy dipublikasikan pada 1869.

[4] Ivan Turgenev dipublikasikan pada 1862.

[5] Harper Lee dipubilasikan pada 1960.