Tentang Njoto dan Keluarga: Wawancara dengan Svetlana Dayani

 “Stigma dan diskriminasi terhadap penyintas ‘65, sudahi dan berhenti pada kami. Jangan berlanjut kepada generasi berikutnya, karena itu sudah di luar akal sehat.

Pertengahan April lalu, pemerintah Republik Indonesia bersama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, akademisi, dan lembaga penyintas mengadakan Simposium Tragedi 1965 sebagai langkah awal pengungkapan kebenaran atas pelanggaran HAM masa lalu. Simposium ini mempertemukan antara korban dan pelaku ’65 yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pendekatan kesejarahan yang dipakai dalam simposium ini diharapkan dapat membuka pintu rekonsiliasi nasional guna merehabilitasi dan memulihkan nama baik dan mengembalikan hak-hak para penyintas ’65 beserta anak keturunannya.

Beberapa waktu lalu, pasca-simposium, Svetlana Dayani, putri sulung Njoto, salah satu petinggi Partai Komunis Indonesia, berada di Yogyakarta. Yongky Gigih Prasisko dan Ananditya Gustiani dari Brikolase mendatangi kediamannya dan mengobrol santai. Svetlana bercerita tentang kenangan masa kecilnya yang terhitung sebentar bersama sang bapak, perjuangannya menyembunyikan identitas diri, hingga soal perlu tidaknya permintaan maaf dari negara kepada penyintas ’65.

Kepada pembaca Brikolase, berikut wawancara dengan Svetlana Dayani.

Pak Njoto pernah menghabiskan masa kecil sampai remajanya di Jember. Bagaimana, setahu ibu, kehidupan Pak Njoto di Jember?

Setahu saya, bapak lahir di Jember tahun 1927, dengan nama Njoto. Bapak tidak mempunyai nama panjang. Ibunya bapak (nenek/mbah buyut/mbah putri) saya juga berasal dari Jember. Di kampung namanya Tempean, sedangkan ayahnya, Sostrohartono, dari Solo. Mereka punya toko di Bondowoso, sebagai sumber nafkah. Kakek saya aktivis penentang Belanda periode 1926, dan menjadi salah satu korban (dari peristiwa) gerbong maut.[1]

Ayah saya sangat luar biasa perhatiannya kepada keluarga, terutama kepada mbah putri. Ia pernah dibawa oleh ayah saya menonton wayang di Istana. Kalau dengan keluarga, ayah saya suka memberi hadiah buku, atau perlengkapan menulis, seperti pensil atau pena.

Mbah putri kalau berkomunikasi di rumah, baik di Jember ataupun di Bondowoso, menggunakan bahasa Madura dengan ayah saya. Ayah saya pandai berbahasa Madura. Ayah saya juga cukup banyak menguasai bahasa daerah. Dia bisa bahasa Minang, Sunda, dan Madura. Serta beberapa bahasa asing yang juga dia kuasai antara lain bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Cina, dan Belanda.

Dulu, kalau bapak beli sate, dia pakai bahasa Madura. Kalau bapak ke pasar, belanja di tokonya orang Cina, dia berbahasa Cina. Bapak saya kan putih, pakai kacamata tebal, kesannya sipit, dia kerap dipanggil ‘ko’ (panggilan untuk laki-laki keturunan Cina).

Berapa lama Bu Svet bersama dan mengenal Pak Njoto? Serta, apa saja pengalaman ibu ketika bersama beliau?

Dari saya lahir sampai tahun 1965, umur saya sembilan tahun. Kira-kira selama itu saya bersama ayah saya. Saya tadinya tidak tahu kalau ayah saya adalah salah satu pimpinan partai. Jadi saya tahunya kalau ayah saya bekerja di (surat kabar) Harian Rakyat. Karena kadang-kadang, kalau malam saya pernah diajak ke kantornya, ke percetakannya. Saya pernah suatu kali dipangku oleh ayah ketika sedang mengetik. Saya juga diajari mengetik. Saya membayangkan, padahal itu kan kertas kerjanya, pada tahun itu, jika salah ketik maka harus dicoret atau dibuang.

Saya juga tahu kalau ayah saya anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Saya dan adik-adik (dua orang adik), bapak memanggil kami tiga besar, juga sering diajak ke acara-acara kebudayaan seperti pameran lukisan, pentas ketoprak atau pentas ludruk. Saya ingat beberapa nama seniman seperti Sudjojono, Amrus Natasya, Basuki Abdullah, Basuki Reksobowo, dan Henk Ngantung. Di perfilman ada Basuki Effendy. Mereka sobat-sobat ayah saya semua. Dulu mereka sering kumpul di rumah, atau di markasnya Lekra di Tjidurian 19. Sekarang teman ayah saya tinggal sedikit seperti Pak Djoko Pekik atau Hersri Setiawan. Yang lain, yang masih hidup junior-juniornya seperti Martin Aleida atau Putu Oka Sukanta.

Yang lain tentang ayah saya, saya tahu kalau ia seorang menteri. Saya baru tahu kalau ayah saya pimpinan partai ketika saya belajar sejarah sewaktu SMP. Ibu saya juga baru tahu kalau ayah pimpinan partai setelah dia menikah. Bapak saya, saya pikir, benar-benar memisahkan kehidupan keluarga dengan kegiatan politiknya, khususnya dengan partai. Meskipun beberapa kali saya bertemu dengan para petinggi partai, seperti Aidit (DN Aidit), saya tahu, karena ia kerap bertamu ke rumah.

Satu lagi, ayah saya kalau ada tamu selalu disuguhi tempe goreng. Setiap pagi, biasanya sajian tempe goreng mesti ada di rumah. Biasanya pagi-pagi bapak sudah ada tamu, entah rapat ataupun ngobrol dan suguhannya mesti tempe goreng.

suguhan-tempe-dari-bu-svet

Mengikuti tradisi ayahnya, bu Svetlana, pada saat wawancara, 
menyuguhi kami tempe goreng.

Bapak saya juga pecinta sepak bola. Waktu kecil kami pernah diajak nonton bola, dituntun di stadion, bersama dengan asisten pribadinya, Hardono. Ia sekarang sudah meninggal, sempat sampai ke Pulau Buru juga.

Bapak juga suka musik. Bapak sempat punya grup musik keroncong di Solo bersama Maskan, om-nya bapak. Semua saudara bapak, termasuk bapak saya, disekolahkan di Solo. Konon katanya supaya bisa berbahasa Jawa halus. Bapak juga pernah main musik jazz dengan Jack Lesmana. Bapak juga menciptakan lagu, dulu tante saya yang jadi penyanyinya.

Bagaimana ceritanya Pak Njoto memberi nama ibu ‘Svetlana’ dan apa artinya?

Saya lahir bulan Februari 1956. Ayah saya menikah bulan Mei 1955. Lalu adik saya lahir pada 1957, adik berikutnya lahir 1958. Jadi, saya belum bisa jalan sudah punya adik lagi.

Kalau nama Svetlana, ayah saya dulu, karena seorang pejabat PKI (Partai Komunis Indonesia), sering ke Rusia. Anaknya Stalin kan namanya juga Svetlana. Svetlana artinya cahaya. Ceritanya dulu, ibu saya ingin saya diberi nama Cahyani, artinya cahaya. Bapak saya, konon untuk menghormati pamannya, Hudoyo, ingin anaknya punya nama “Daya” semua. Bapak saya ingin saya diberi nama Dayani. Kalau Cahyani disambung Dayani kayak aneh didengar. Lalu saya diberi nama Svetlana Dayani, tanpa menghilangkan makna cahaya itu sendiri.

Seingat ibu, apa saja pelajaran dari Pak Njoto kepada keluarga dan anak-anaknya?

Dari kecil kami sudah dibiasakan membaca. Kalau saya minta mainan, bapak bisa bilang tidak. Tetapi kalau buku, berapa pun saya minta pasti dibelikan. Dulu, seingat saya, buku yang diberi bapak antara lain Cerita Rakyat, Cerita 1001 Malam, Komik Wayang Mahabharata, dan Ramayana, pengarangnya Kosasih. Saya jadi suka baca. Umur sembilan tahun saya membaca Di Bawah Bendera Revolusi. Mengerti atau tidak yang penting saya baca. Ayah saya punya perpustakaan di ruang kerjanya. Tinggi rak bukunya sampai ke langit-langit, apalagi rumah bangunan Belanda kan tinggi.

Ketika kemudian terjadi peristiwa 1965, salah satu kesulitan kami adalah bahan bacaan. Karena kami pergi dari rumah tidak membawa apa-apa, kecuali pakaian sekadarnya. Waktu pergi ke Solo, mencari toko buku juga sulit. Makanya, ketika saya sekolah SMP di Solo, saya memilih bertugas jadi penjaga perpustakaan supaya bisa leluasa membaca.

Saya membaca buku apa saja. Mau tidur pun saya juga harus baca. Kadang juga saling bertukar bacaan dengan anak saya. Saya membaca Harry Potter, kata anak saya bagus. Anak saya baca Tin Tin, Doraemon, dan Conan. Eyangnya disuruh ikut baca dan mau juga eyangnya membaca. Anak-anak saya gemar membaca. Kami biasanya kalau belanja lebih banyak beli buku.

Prinsip bapak yang paling saya ingat dan berkesan adalah dia tidak mengizinkan ibu saya memakai perhiasan emas, kecuali cincin kawin. Dan memang ibu tidak punya perhiasan emas. Kalaupun ada, bentuknya perhiasan batu pemberian bapak. Ibu saya orangnya juga sederhana sekali. Ibu saya itu olahragawan. Seorang atlet PON (Pekan Olahraga Nasional), cabang atletik: lari estafet, lompat jauh, dan bola keranjang (permainan dari Belanda, mirip bola basket).

Mungkin tidak secara langsung dan eksplisit pelajaran yang diberikan bapak kepada saya. Yang saya ambil mungkin pesan bahwa hidup harus sederhana. Dulu saya pernah datang ke ulang tahun anak-anak duta besar. Saya didandani mbokmbok (ala ibu-ibu) oleh bapak. Pakai kain lurik dan selendang. Ketika saya berulang tahun, saya minta didandani dengan pakaian gaun seperti Cinderella, tetapi tidak diperbolehkan oleh bapak. Bapak belikan saya baju polos yang ada pita kecilnya. Jadi, sampai sekarang selera saya juga sederhana saja.

Ketika peristiwa 1965, kami sempat ditahan di Jakarta. Lalu dijemput oleh pakde ke Wonogiri, kemudian pindah ke Solo. Waktu itu ibu saya pernah berpesan kepada saya, “Kamu sekolah baik-baik. Jangan ikut organisasi apapun kecuali pramuka.” Mungkin dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada saya kalau ikut organisasi, karena pada zaman itu organisasi massa sampai ke (tingkat) pelajar.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Svetlana Dayani bersama ibu dan anaknya. Dokumentasi oleh Brikolase 
diambil dari koleksi di rumah pribadi ibu Svetlana

Apakah ada barang peninggalan Pak Njoto yang masih disimpan oleh Bu Svet dan keluarga?

Kami foto bapak saja tidak punya. Foto sekeluarga dulu juga hilang entah kemana. Om saya mungkin sekarang masih menyimpannya. Tapi dulu masih sembunyi-sembunyi memperlihatkan pada kami foto-foto keluarga. Bahkan adik-adik saya, kecuali tiga besar, ketika diperlihatkan foto keluarga, mereka tidak mengenali bapaknya sendiri.

Belakangan saya kenal anak teman ibu saya, juga temannya bapak. Dia katanya menikah dan ayah saya jadi saksi. Nama ayah tertera pada surat nikah. Karena takut, surat nikahnya dibuang ke kloset.

Ada kancing baju menteri bapak yang masih disimpan oleh ibu saya. Selain itu kami tidak punya barang peninggalan lain. Kebanyakan foto ayah saya didapat dari orang lain, kadang dapat hasil scan fotonya juga. Buku-buku bapak semua dibakar. Rumah kami diobrak-abrik lalu dibakar.

Bagaimana perjalanan hidup ibu, atau cara ibu bertahan hidup dari sejak peristiwa 1965 sampai sekarang?

Setelah peristiwa itu kami dijemput oleh pakde dari Jakarta untuk dibawa ke Solo. Om saya di Jakarta dipenjara karena rumahnya sempat kami inapi. Pakde saya di Solo anaknya ada sepuluh, ditambah kami berdelapan dengan ibu saya, dan anak dalam kandungan ibu. Anggota keluarga di sana jadi lebih dari 20 orang. Ibu saya kemudian dibawa dan ditahan di Semarang.

Mau tidak mau saya harus mengurus semua adik-adik saya. Saya waktu itu kelas 1 SMP. Yang ada di benak saya waktu itu, saya harus bisa menjadi contoh bagi adik-adik saya. Sekolah yang benar dan berprestasi. Syukur saya dan adik-adik saya nilainya bagus dan lancar dalam pendidikan di sekolah

Saya tidak bisa menjadi sosok ngemong (perhatian dan merawat) seperti ibu. Yang repot kalau ada yang sakit, yang lain pada rewel. Sebelum saya berangkat ke sekolah, saya menyiapkan keperluan adik-adik saya seperti mandi dan makan.

Yang paling sulit adalah ketika saya harus menyembunyikan identitas saya. Saya pernah ditanya oleh teman sekolah saya, “Kok nderek (ikut) bukdenya? Emang orang tuanya ke mana?” Saya cuma hanya menjawab, “Di Jakarta.”

Waktu saya SMP, karena tidak ingin membebani keluarga yang merawat kami di rumah, saya cari kerja. Saya pernah jadi buruh ngelem amplop dan merenda untuk pakaian bayi di industri rumah.

Ketika saya SMA, saya balik ke Jakarta. Ibu saya ditahan di Bukit Duri, Jakarta Selatan, dipindahkan dari Semarang. Saya tinggal bersama tante. Saya membantu mengajari anak-anaknya belajar, juga membantunya membesuk ibu saya. Waktu ibu saya di Semarang, nyaris tidak pernah dibesuk. Ibu saya juga tidak menginginkan sering dibesuk karena katanya nanti diperas oleh para sipir, minta macam-macam. Ibu saya hidup dari menjahit kerajinan tangan, dijual untuk kebutuhan sehari-hari. Di Jakarta saya membesuknya sekitar sebulan dua kali. Saya juga harus bolos sekolah untuk membesuk ibu saya.

Waktu sekolah di Jakarta, kalau ditanya ke mana orang tua saya, saya hanya menjawab ibu saya di Jawa (Tengah), bapak saya sudah meninggal.

Saya waktu sekolah di Jakarta juga sempat menulis pada surat kabar. Kalau beruntung dimuat dan dapat sedikit uang, uangnya untuk beli buku tulis atau bacaan. Saya sebisa mungkin tidak mau membebani dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup sendiri, khususnya keperluan sekolah.

Setelah lulus SMA, saya bekerja apa saja. Saya pernah jaga toko roti. Saya lalu didaftarkan oleh tante ikut les mengetik. Kemudian saya mendapat kesempatan bekerja paruh waktu jadi penyiar di Radio Elshinta selama 5 tahun. Karena punya keterampilan mengetik, saya diterima kerja di sebuah yayasan.

Saya menikah tahun 1985. Saya ketemu suami saya, Wahyu, di tempat kerja, di sebuah yayasan pelayanan psikologi. Saya memutuskan menikah karena mempertimbangkan keinginan ibu saya: ingin anak pertamanya menikah. Tetapi saya harus yakin dulu kalau calon suami saya mau menerima saya apa adanya, beserta dengan latar belakang dan masa lalu keluarga saya. Karena, saya sudah tidak mau lagi berbohong terus, capek sekali terus menyembunyikan identitas.

bu-svetalana-2-brikolase

Karena calon suami saya sudah tahu dan tidak keberatan, keluarganya juga tidak mempersoalkan, ya sudah, akhirnya kami menikah. Tetapi belakangan, setelah orang tua dan suami saya tidak ada, adik-adiknya, yang pegawai negeri, yang tahu siapa saya, masih ada yang takut dekat-dekat dengan saya. Sepupu saya juga ada yang takut, karena mereka pegawai negeri. Ada juga sepupu saya yang sempat bermasalah karena dilaporkan sebagai keponakan Pak Njoto.

Nama saya, Svetlana, saya pakai tahun 1987 ketika saya bekerja dengan orang Jerman. Sebelumnya nama saya pada ijazah hanya Dayani. Ibu saya takut, karena memang nama Svetlana sangat berbau Rusia, dan banyak yang mengenal nama anak bapak adalah Svetlana. Jadi oleh ibu, saya tidak boleh pakai nama itu.

Tahun 1987 saya beranikan pakai nama Svetlana. Karena sederhana saja, ketika saya bekerja dengan orang Jerman, dia lebih enak memanggil saya Svetlana daripada Dayani. Ternyata juga tidak masalah, padahal orang Jerman itu adalah konsultan Dirjen Perikanan. Saya kan tidak boleh kerja jadi pegawai negeri. Kebetulan mbah saya juga pernah bersumpah bahwa anak keturunannya tidak boleh jadi pegawai negeri. Mungkin karena dulu pegawai negeri itu kerja untuk penjajah.

Terakhir saya bekerja di perusahaan Adiguna Sutowo, sebagai sekretaris, selama 15 tahun. Lalu pindah kerja ikut mantan bos saya yang mendirikan perusahaan penyedia peralatan gas selama 4 tahun, sampai tahun 2009 akhir. Tahun 2010 anak saya, Bimo, sakit.

Terakhir Bu Svet, kemarin pemerintah sudah ada niat baik dengan mengadakan Simposium Sejarah 1965, apa harapan ibu dari niat baik pemerintah itu?

Simposium kemarin, menurut saya, berakhir dengan baik. Pada akhir acara kami berpelukan, menangis bersama. Dari Komnas HAM, Romo Baskoro, semua terharu karena refleksi yang begitu dalam. Tapi saya juga belum tahu bagaimana rekomendasi untuk presiden itu ditindaklanjuti. Kemarin saya baca di media, Presiden Jokowi juga ingin dengar sendiri kesaksian dari penyintas. Saya pikir, semoga ini bisa terselesaikan dengan baik.

Sebenarnya, kalau dari saya dan teman-teman, tidak butuh permintaan maaf. Kita tidak mau memaksa orang untuk minta maaf kepada kita, karena permintaan maaf tidak lahir karena dipaksa, harus keluar dari lubuk hati. Kami cuma ingin ada pengakuan saja dari pemerintah, bahwa telah terjadi sebuah tragedi pada tahun 1965, diikuti dengan penyesalan supaya tidak terjadi hal serupa lagi.

Kalau saya sendiri berpendapat bahwa, meskipun nanti pemerintahan Jokowi bertindak, entah meminta maaf, menyesal atau melakukan rehabilitasi, jika masyarakat tidak diperbaiki pola pikirnya yang sudah sedemikian berkarat –menstigma dan mendiskriminasi– pelaksanaan niat baik itu akan sulit untuk kedepannya. Saya berharap pemerintah, entah bagaimana caranya, mampu mengupayakan dan mengubah pola pikir masyarakat dalam melihat kami.

Kalau saya melihat anak-anak muda sekarang, mereka sudah punya kesadaran yang baik. Saya pernah  mengutarakan, baik di simposium kemarin ataupun di Kiprah Perempuan, kepada anak-anak muda atau para relawan muda untuk memberikan potret, entah bentuknya narasi atau apapun, tentang pendapat dan gambaran kalian tentang kami. Saya ingin mendapatkan masukan dari mereka. Setelah kalian kenal kami, penyintas ini, apa yang ada di benak kalian, dibanding dulu ketika kalian belum tahu, dan mungkin masih berpikiran negatif. Bagaimana kami menurut kalian sekarang? Tetapi saya masih belum mendapatkan jawabannya.

Bagi saya ini adalah kerja yang panjang untuk menghentikan stigma dan diskriminasi di masyarakat. Saya tidak tahu apakah generasi saya nanti masih bisa mengalami tidak adanya diskriminasi dan stigma itu. Tetapi, kalau saya inginnya, sudah, berhenti di sini saja, sampai generasi saya (stigma dan diskriminasi itu). Jangan (berlanjut) sampai kepada generasi berikutnya, karena itu sudah di luar akal sehat.

Saya pernah ditanya, apakah saya mendapatkan pelajaran komunisme dari ayah saya? Saya bilang, saya waktu itu umurnya sembilan tahun, bagaimana bapak saya mengajarkan komunisme pada anak yang masih di bawah umur. Ayah saya bertindak sebagai ayah saja, tidak pernah memberikan doktrin-doktrin tertentu. Jadi saya tidak mengerti apa itu Marxisme, komunisme. Mungkin juga karena saya tidak terlalu pandai untuk memahami itu. Jadi, tidak masuk akal jika saya masih dicurigai sebagai komunis, apalagi anak saya.

Terima kasih Bu Svet atas wawancaranya. Semoga Mas Bimo cepat sembuh.

Ya sama-sama. Amin.

 Catatan Kaki

[1] Gerbong baja kereta api yang berisi para tahanan Belanda, yang berjalan dari Bondowoso ke Surabaya. Perjalanan ditempuh pada siang terik selama sekitar 16 jam, dengan kondisi gerbong yang panas, gelap, tertutup rapat, pengap, dan kekurangan oksigen. Kondisi tahanan menggenaskan. Banyak yang lemas dan mati karena kekurangan oksigen. Kulit mereka terkelupas karena terpanggang panas matahari di gerbong baja.

Leave a Reply