Matrilineal pada Sistem Budaya Patriarki

Sebelum saya bertolak ke Jawa, di depan saya, sahabat saya melepaskan kebuncahan di dada yang mungkin sekian tahun ia pendam sendiri. Ayah yang ia banggakan dan yang saya hormati, mengkhianati ibunya tercinta, dirinya, dan adik-adiknya. Tak pernah terbayangkan olehnya kejadian pelik ini menimpa dirinya justru ketika ia tengah menginjak dewasa, awal-awal menjelang, seperti kata banyak orang, masa mempersiapkan pernikahan. Kepala ini, katanya, gila saja yang belum singgah. Ia sahabat saya, kesedihan saya bukan basa basi untuknya.

Sebelumnya, maktuo saya (kakak perempuan ibu saya), dipaksa bersatu kembali dengan mantan suaminya atas desakan anak-anaknya. Ia memiliki lima putra dan dua putri. Sekian tahun ia menolak, tapi tahun ini ia habis daya di depan anak-anak, kakak-kakak sepupu saya, yang selalu menggugunya. Katanya kepada saya, bagaimana mungkin maktuo bisa berbohong dengan hati dan perasaan sendiri? Maktuo saya adalah ibu kedua saya, pengganti mendiang nenek, sekaligus alasan kenapa kami mesti mudik ketika lebaran.

Dua kisah perempuan di atas, secara statistik, adalah segelintir kecil dari onggokan gunung kisah pilu perempuan lainnya di ranah Minang, ranah yang digadang-gadangkan sebagai ranah menjunjung tinggi harkat perempuan-perempuannya. Ranah ini bangga dengan sistem matrilinealnya: asas hubungan kekerabatan melalui garis keturunan ibu. Sementara peran mamak (paman, saudara lelaki ibu) adalah ‘hakim agung’ bagi anak dan keponakannya, yang hari ini keagungan itu bahkan tak layak dijadikan mitos apalagi legenda: lupakan saja.

Bertahun saya mengkaji persoalan perempuan dengan dunianya yang penuh diskriminasi dan opresi ini. Celakanya saya belum mengkaji perempuan Minang. Saya berputar-putar pada persoalan kekerasan, fisik dan psikis, yang dihadapi oleh perempuan-perempuan di Papua, di Aceh, dan di Jawa. Ketika saya menoleh ke kampung kelahiran saya, ke perempuan-perempuan pada keluarga besar saya, ke perempuan-perempuan di sekitar rumah saya, saya seperti ditarik kembali membaca laporan-laporan kekerasan terhadap perempuan yang pilu dan menyakitkan. Tapi kali ini, nyilunya jauh lebih menusuk.

‘Jebakan’ Matrilineal?
Ketika gelombang pengarus-utamaan gender gencar di Indonesia -di ranah Minang sekitar awal 2000an- sayup-sayup beberapa tahun kemudian saya menyimak seorang budayawan mengkritisi dan menolak gerakan ini dengan alasan karena ranah Minang jauh hari sudah menghormati perempuan-perempuannya, buktinya dengan sistem kekerabatan matrilineal yang tersohor itu. Dengan alasan ini pula saya dibantai habis-habisan oleh dosen penguji saya pada sidang akhir skripsi di Padang. Kepada saya, tersirat mereka ingin tegaskan: matrilineal itu sudah pas, elok. Jangan diutak-atik lagi!

Di balik jargon penghargaan tinggi terhadap perempuan itu, adakah yang berani menggugat laki-laki, baik sebagai ayah maupun sebagai mamak, ketika seorang perempuan bercerai (hidup atau mati) yang menanggung sendiri beban hidup ia dan anak-anaknya? Adakah yang bertanya dari mana biaya sekolah dan makan para yatim itu? Jika ayah dan mamak sehat walafiat, sampai di mana mereka meluangkan waktu dan tenaga mengurus anak dan keponakan yang mulai bercerai-berai itu? Seperti janji negara, nyaris nihil melompong.

Jika begitu, lalu sesignifikan apa hubungan kekerabatan melalui garis keturunan ibu dengan penghargaan atas kehidupan perempuan di ranah Minang saat ini?

Satu yang hampir mustahil ditampik ialah pewarisan suku (nama kekerabatan) dari ibu kepada putra-putrinya. Suku ibuku jambak, semua anak beliau bersuku jambak. Setiap orang bersuku jambak di jagat raya ini ialah kerabat kami. Jika ia laki-laki dianggap sebagai mamak jauh, jika ia perempuan sebagai saudari jauh. Begitu juga dengan suku-suku lain yang ada di wilayah Minangkabau. Tampak solid, tak jarang sebenarnya rapuh. Selalu ingin bergerombol, karena tak cukup nyali untuk sendiri.

Lainnya? Pembagian harta warisan selalu diutamakan kepada anak perempuan. Tujuannya karena mereka dianggap lebih cakap dalam merawat ibu-bapak serta mamak yang semakin tua dan sakit-sakitan. Jika suami-istri urang awak tidak memiliki anak atau tidak memiliki anak perempuan, warisan gona-gini diatur oleh mereka-mereka yang merasa berhak mengatur: orang tua sendiri, mamak, atau orang-orang tertentu yang dipercaya. Tapi, apa yang bisa diwariskan jika warisan itu sendiri tak ada? Musibah inilah kemudian yang banyak menimpa perempuan-perempuan janda dan anak-anaknya di ranah Minang. Sudahlah tak ada warisan, mantan suami lupa akan anak-anaknya, serta mamak yang hanya pandai berpetatah-petitih tapi abai substansi.

Seperti yang dihadapi oleh perempuan di daerah berkonflik, beragam opresi siap mengancam perempuan di ranah Minang. Diskriminasi dan opresi secara adat dan tradisi; opresi dari suami, mantan suami, dan mamak bahkan anak sendiri; teropresi karena persoalan ekonomi; dan belum lagi menyusul karena kondisi sosial dan logika agama. Adakah yang menggugat? Adakah yang merasa tergugat?

Sendiri, ibu sahabatku menyekolahkan anak-anaknya. Menabung dan berhemat. Sendiri pula ibu sahabatku menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan di tempat kerjanya, di rumah tangganya, dan yang menimpa anak-anaknya yang jauh darinya. Pun begitu dengan maktuo. Sendiri, beliau memulai berkebun jagung yang hasilnya dipergunakan untuk anaknya yang hendak beliau pestakan suatu hari kelak. Sendiri, beliau meredakan kecemasan anaknya yang tengah malang di rantau. Betul, mereka tidak pernah berbicara soal ke-matrilineal-an mereka, mereka hanya fokus pada masa depan cerah anak-anak mereka.

Ibu sahabat saya mencoba tak larut dalam kegundahan. Agaknya, beliau ingin tampak jauh lebih kuat di depan anak gadisnya yang menginjak dewasa. Dan agaknya, beliau ingin memperlihatkan cara-cara lebih bijak, pelajaran berharga, ketika menghadapi persoalan rumah tangga kepada gadis dan bujangnya. Sakit hati tentu, tapi tak ada dendam di sana. Cinta yang begitu besar, kata sahabat saya, yang membuat ibunya selalu bersabar dan penuh sabar. Meski, ia sendiri akui itu sulit.

Maktuo saya akhirnya memenuhi dan memuaskan keinginan anak-anaknya dan sanak familinya. Hari itu beliau mengambil keputusan bukan untuk membahagiakan dirinya, tapi demi kebahagiaan anak-anaknya. Beliau mesti menelan pil pahit yang sekian tahun beliau jauhi. Itu sebuah paksaan, bukan kemauan mandiri. Menjadi perempuan yang semakin menua di tengah anak-anak yang sibuk bekerja, sepertinya bukanlah awal cerita yang manis. Berlapis emosi yang mesti beliau tundukkan untuk sampai pada keputusan yang beliau sendiri enggan untuk mengingatnya. Kata beliau, jika jodoh sudah habis, akan kemana?

Bisakah kita memerdekakan ibu-ibu kita? Atau, jangan-jangan kita perlu mendefinisikan ulang kata ‘merdeka’?

Leave a Reply