Psikoanalisa, Dongeng Hiburan yang ‘Saintifik’

Jika anda menyaksikan film dokumenter karya Slavoz Zizek tentang analisis film, anda akan menjumpai tebaran teori psikoanalisa beserta istilah-istilah teknisnya. Zizek dengan fasih menerangkan peristiwa-peristiwa psikis dalam berbagai film yang disinggungnya dengan menggunakan teori-teori Freudian dan Lacanian.

Hadirnya psikoanalisa, bidang psikologi pun diperluas cakupan kegunaannya dalam menjelaskan berbagai fenomena kehidupan manusia, sebagai individu maupun masyarakat. Relevansi bidang psikologi diperluas pada hampir ke seluruh sektor eksistensi manusia, termasuk seni. Psikoanalisa digunakan sebagai salah satu alat untuk menjelaskan suatu karya seni maupun subjek seniman. Di dunia seni kontemporer, psikoanalisa memiliki peran cukup mengemuka terutama di kalangan akademik.

Melalui psikoanalisa realitas sebuah karya seni maupun sosok seniman terkesan dapat diterangkan secara tepat dan menyeluruh. Psikoanalisa memiliki kekuatan menjelaskan (explanatory power) yang relatif kuat. Teori-teori psikoanalisa mampu menjelaskan apa yang ada dan terjadi pada karya seni maupun seniman yang sedang dibahas. Realitas-realitas, tenaga-tenaga penggerak, serta motif-motif yang terpendam di balik objek seolah dapat dibongkar dan diperlihatkan atau muncul sendiri. Karya seni dan seniman seperti ditelanjangi atau menelanjangi diri sendiri.

Psikoanalisa lahir dari perkembangan studi tentang keadaan kejiwaan manusia dengan terlebih dahulu diinspirasi oleh perkembangan yang terjadi pada berbagai bidang sains. Sigmund Freud, melalui observasi-observasi klinisnya sampai pada psikoanalisa. Bagi Freud, psikoanalisa perlu memperluas pandangan dunia yang bercorak saintifik.

Psikoanalisa muncul dalam semangat pandangan bahwa jiwa dapat dipelajari secara saintifik: dapat diukur secara kuantitatif. Sains jiwa didudukkan di antara sains-sains alam lainnya. Manusia tunduk pada hukum-hukum sains yang sama sebagaimana, misal, gerak planet-planet pada tata surya. Hukum-hukum kimia dan fisika dapat diterapkan pada manusia pada kehidupan fisik maupun psikis. Prinsip-prinsip sains semaksimal mungkin dijadikan pondasi bagi psikoanalisa.

Salah satu persoalan yang menghinggapi psikoanalisa adalah terkait metode pengumpulan data. Tidak jarang data yang dihimpun terjadi tidak melalui eksperimen terkontrol. Data sulit dapat dikatakan mewakili populasi. Bahkan, objektivitas data bersifat rentan diintervensi oleh subjektivitas yang tidak proporsional dari seorang psikoanalis. Namun kelemahan ini mungkin akan dijawab dengan argumen bahwa kehidupan psikis setiap individu adalah unik dan tidak sama. Pada suasana demikianlah teori-teori psikoanalisa dilahirkan.

Filsuf sains, Karl R. Popper, mengkritik teori-teori psikoanalisa sebagai yang bersifat tidak dapat diuji (non-testable) dan tidak dapat dibantah (irrefutable), yang itu bagi Popper berarti tidak sesuai dengan kriteria status pengetahuan saintifik. Bahkan Popper menganggap bahwa pemikiran Freud tentang id, ego, dan super-ego bukanlah klaim yang lebih kuat status saintifiknya dibandingkan dengan cerita-cerita Homer. Teori-teori tersebut menjelaskan beberapa fakta tapi melalui cara mitos. Mereka berisi sugesti-sugesti psikologis, namun tidak dalam bentuk yang dapat diuji (non-testable).

Uraian psikoanalisa atas suatu karya seni ataupun seniman, mungkin bersifat logis (formal) dan fungsional dalam menjawab kuriositas (keingintahuan) manusia. Namun, soal sifat logis dan fungsional adalah berbeda dengan soal kebenaran. Apa yang logis dan fungsioanl tidak jarang berbeda dengan apa yang benar.

Penjelasan-penjelasan secara mitos pada masa lalu banyak yang bersifat logis dan fungsional menjawab kuriositas manusia. Penjelasan tersebut pada masanya bisa bersifat meyakinkan dan indah. Namun, seiring berjalannya waktu banyak dari penjelasan secara mitos tersebut mengalami kegagalan kebenaran, baik melalui verifikasi maupun falsifikasi.

Hal ini menginformasikan bahwa suatu penjelasan yang bersifat logis, fungsional, juga indah, tidak selalu ekualitas (kesamaan status) dengan kebenaran. Interpretasi terhadap suatu karya seni dapat dilakukan secara logis dan indah, namun belum tentu penjelasan tersebut merupakan pernyataan sebenarnya dari apa yang dijelaskan –apa yang terjadi pada seniman dan karya seni.

Mitos merupakan pengetahuan yang terutama bersandar pada keyakinan, relatif, dan tidak perlu pembuktian empirik secara keras –meski pada batas syarat-syarat tertentu, sains juga memilikinya pada postulat atau aksioma. Pengetahuan berdasar keyakinan dapat bersifat fungsional mengisi kekosongan narasi sebagai jawaban atas kuriositas dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Sebagaimana mitos, ia bisa sangat berfungsi dalam masyarakat, terlepas dari kebenarannya, maka psikoanalisa bisa sangat berfungsi dalam menjelaskan dinamika psikis pada berbagai aspek kehidupan manusia –terlepas dari persoalan di seputar alat-alat saintifik. Keduanya dapat berfungsi sebagai alat penjelas meski tanpa atribut pembuktian saintifik yang keras. Salah satu persoalan yang ada pada penjelasan secara mitos di masa lalu adalah soal pengukuran. Persoalan pengukuran ini pula yang menjadi salah satu masalah dalam psikoanalisa.

Konsep-konsep serta definisi istilah-istilah dalam psikoanalisa tidak jarang bersifat samar, sulit diukur, bahkan ambigu. Misal, konsepsi Freud tentang id, ego, dan super-ego, juga triadik Lacan tentang yang imajiner, yang simbolik, dan yang nyata. Kesamaran dan ambiguitas konsep-konsep dan definisi istilah-istilah tersebut mengakibatkan sulitnya dilakukan pengukuran. Padahal, psikoanalisa mengklaim sebagai dijiwai sains dan sains merupakan soal pengukuran, melakukan kuantifikasi.

Konsep-konsep psikoanalisa tidak jarang bersifat imajinatif dan alegoris (bersifat kiasan) ketika diterapkan pada bidang sosial. Konsep-konsep ini bisa bersifat subyektif baik dalam rangka proses pembentukan maupun penerapan suatu teori. Seseorang bisa lebih suka satu teori psikoanalisa daripada teori psikoanalisa lainnya. Lantas, bagaimana cara pembandingan antara satu teori psikoanalisa dengan teori psikoanalisa yang lain? Apakah bisa obyektif?

Film Pengkhianatan G30S/PKI misalnya, penuh dengan adegan kekerasan fisik maupun psikis. Film ini oleh rezim Orde Baru dimaksudkan sebagai alat propaganda untuk membangun citra negatif terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan marxisme-komunisme. PKI dan marxisme-komunisme diposisikan sebagai pihak antagonis yang memiliki atribut kekerasan.

Film ini dapat ditafsirkan secara apa adanya sesuai dengan narasi yang dibangun oleh Orde Baru: PKI dan marxisme-komunisme adalah pemuja kekerasan. Namun, film ini juga dapat dibaca secara berbeda, bahwa atribut kekerasan yang ditampilkan pada film tersebut adalah sifat yang dimiliki oleh Orde Baru. Film ini merupakan pernyataan diri dari sifat pemujaan terhadap kekerasan yang dimiliki oleh Orde Baru.

Alih-alih adegan-adegan kekerasan dalam film tersebut merupakan penggambaran realitas sifat PKI dan marxisme-komunisme, justru sebaliknya, adegan-adegan tersebut merupakan simtom-simtom (gejala) keinginan dan sifat asli yang dimiliki oleh pembuat film, yakni rezim Orde Baru. Akan tetapi, bisa juga dimunculkan tafsir ketiga, bahwa sifat kekerasan tersebut sama-sama melekat pada pembuat film dan pihak yang difilmkan yang berposisi sebagai antagonis.

Teori-teori psikoanalisa dapat menerangkan masing-masing interpretasi tersebut, sekaligus juga dapat menjelaskan proses psikis dari reaksi sebaliknya atas setiap interpretasi tersebut. Nah, di sinilah letak persoalannya: bagaimana ukuran atau mengukur validitas dan kebenaran dari interpretasi-interpretasi tersebut?

Bagaimana jika ternyata interpretasi-interpretasi tersebut sebenarnya berangkat dari suatu kecenderungan sikap, apriori masing-masing, dan sama-sama hanya mencari konfirmasi dari persitiwa-peristiwa pada film tersebut? Jika demikian, maka psikoanalisa seolah merupakan ramalan yang sedang mencari pemenuhan kebenaran diri sendiri, sehingga selalu benar.

Psikoanalisa boleh jadi kekurangan alat-alat saintifik untuk memeriksa spekulasi-spekulasi yang dibuatnya. Namun, psikoanalisa tampak memperoleh vitalitas dibandingkan dengan beberapa aliran psikologi lainnya karena dapat memberi jawaban yang relatif menyeluruh dan logis, serta fungsional, sebagaimana mitos-mitos pada masa lalu. Mitos dan psikoanalisa yang imajinatif belum tentu lebih dekat pada kebenaran, tapi keduanya bisa fungsional. Lagi pula, beberapa mitos masa lalu pada kemudian hari dibenarkan oleh metode saintifik. Demikian pula tidak tertutup kemungkinan bagi psikoanalisa.

Hanya saja, klaim saintifik oleh psikoanalisa akan bermasalah jika dikaitkan dengan upayanya untuk menerangkan realitas seni dan seniman. Jangan-jangan, apa yang dinarasikan oleh psikoanalisa hanya rekayasa imajinasi dalam mendeskripsikan sesuatu, bukan keadaan yang sebenarnya. Hal ini tentu akan bertentangan dengan tujuan sains. Padahal, psikoanalisa mengklaim dirinya sebagai bagian dari sains. Akibatnya, narasi psikoanalisa bisa jadi merupakan suatu dongeng hiburan daripada penjelasan obyektif atas realitas. Fungsional tapi tidak lebih dekat pada kebenaran.

Leave a Reply