Seni Berpanji Aktivisme Sosial

Jumat (22/4), kawan-kawan seniman urun rembug dalam Jagongan Media Rakyat 2016. Bersama para pegiat seni lain, komunitas yang tergabung dalam Ketjil Bergerak, mengadakan diskusi di ruang radio Jogja National Museum, bertajuk Seni dan Aktivisme Sosial. Acara yang dimoderatori oleh Kikie Pea ini turut menghadirkan pembicara Djuwadi Ahwal (Taring Padi), Jamaluddin Latif (Malmime-Ja) dan Venti Wijayanti (Brikolase).

Sepak terjang Taring Padi (TP) sudah tak diragukan lagi. Mereka terlibat dalam banyak aktivisme bareng dengan masyarakat. Terakhir Taring Padi bersama dengan Greenpeace turut terlibat dalam aktivisme masyarakat menolak PLTU di Batang, Jawa Tengah. Warga diajak untuk turut menyuarakan aspirasinya melalui seni.

“Seni turut mendorong dan memicu semangat warga untuk terus melakukan aksinya. Melalui seni, aktivisme mampu mengajak anak-anak muda, serta anak-anak kecil untuk turut berpartisipasi memperjuangkan suara masyarakat”, tutur Djuwadi Ahwal.

Seni juga berperan dalam memicu kesadaran masyarakat untuk peduli dengan kepentingan publik. Malmime-Ja menggagas ide kota untuk manusia.

“Kami memperjuangkan trotoar kota untuk kembali pada fungsinya sebagai tempat pejalan kaki. Trotoar di Jogja sudah banyak yang berubah fungsi, bahkan sesak dengan tempat berjualan. Teman-teman difabel khususnya yang berkursi roda merasa paling dirugikan karena ketiadaan tempat berjalan”, tutur Jamaluddin Latif.

Seni dan Aktivisme Sosial 2-JMR2016

Meskipun seni memiliki andil signifikan dalam aktivisme sosial, tetapi ia bukan berarti tanpa persoalan.

“Beberapa kelompok seni cenderung kurang mampu merawat isu. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan keberlanjutan gerakan dan proyeksi jangka panjang. Kemudian persoalan pendanaan (funding) dari luar yang bisa membuat mereka ketergantungan”, tutur Venti Wijayanti.

Namun komunitas-komunitas seni memiliki cara tersendiri dalam mengorganisir dirinya. Taring Padi, misalkan, mampu bertahan sampai sekarang karena kelenturan sistemnya.

“Kuncinya santai saja. Kita tidak mempunyai sistem organisasi yang ketat. Ketika ada satu isu, kita bicarakan, lalu mengajak orang-orang yang mungkin memiliki kegelisahan yang sama. Solidaritas kemudian terbangun, dituangkan dalam karya, lalu bergerak. Dengan begitu, seni dan aktivisme sosial lebih efektif mencapai tujuannya”, tutur Djuwadi Ahwal sebagai penutup.

(YGP)

 

Leave a Reply