Pengalaman dan Imajinasi Musikal Sigur Ros

Ketika mendengarkan musik, seringkali tanpa sadar kita mengangguk-anggukkan kepala, menghentakkan kaki mengikuti tempo, bergumam, dan bernyanyi spontan. Bahkan terkadang tertawa, menangis, marah, atau bisa juga kombinasi dari perasaan tersebut. Seperti halnya pengamatan saya atas pengalaman seorang teman yang mendengarkan musik. Ketika itu kami sedang nongkrong di sebuah warung kopi daerah perkotaan di Situbondo. Kebetulan pemilik warung sedang memutar radio lokal dan lagu yang diputar saat itu adalah Tentang Aku, Kau, dan Dia dari Kangen Band. Pada saat bagian intro terdengar (melodi piano), teman saya spontan berekspresi agak aneh: senyum-senyum sendiri dengan tatapan kosong. Melihat peristiwa itu, saya langsung menegur dia “Kamu kenapa bro?”, dia menjawab “Gak apa-apa bro”, sembari melanjutkan senyam-senyumnya.

Terlepas dari apa yang dirasakan oleh teman saya, bahwa efek mendengarkan musik dapat menimbulkan emosi dan respon fisik (tersenyum) secara spontan. Lantas pertanyaannya adalah, mengapa musik dapat menciptakan emosi dan respon fisik demikian? Dan bagaimana kerja musik dalam menciptakan emosi dan respon tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini akan diulas melalui pembahasan singkat tentang pengalaman saya ketika mendengarkan musik dari band Sigur Ros.

Sigur Ros dan Musik Ambient-nya

Sebelum membahas karya Sigur Ros, ada baiknya membahas profil singkat band tersebut. Sigur Ros adalah sebuah band yang dibentuk pada 1994 di kota Reykjavik, Islandia. Para personilnya saat ini adalah Jón Þór “Jónsi” Birgisson (gitar dan vokal), Georg “Goggi” Hólm (bass, glockenspiel, piano, keyboard, backing vocal), dan Orri Páll Dýrason (drum dan perkusi). Sigur Ros dikenal sebagai band yang mengusung genre post-rock atau biasa disebut juga ambient soundspace.

Musik ambient adalah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Brian Eno (desainer suara, komposer musik dan produser) pada tahun 1978 dalam sebuah album musiknya yang berjudul Ambient 1: Music for Airports. Liner notes pada music for airports dijelaskan bahwa

“Musik ambient mesti bisa menampung berbagai selera tanpa memaksakannya sebagai satu selera khusus; ia diabaikan sebagaimana ia disukai”.

Secara sederhana, musik ambient cenderung menonjolkan musik instrumental yang menggambarkan sebuah suasana dan nuansa.

Brian Eno menambahkan bahwa musik ambient adalah musik instrumental yang hadir bukan hanya sebagai latar musik namun tampil sebagai bagian inti dari sebuah lagu dan dirancang untuk menciptakan suasana tenang (musik kontemplatif). Suasana musik ambient dimunculkan melalui suara-suara lingkungan (environmental), dalam konteks ini ialah alam dan nuansa Islandia yang sejuk dan tenang. Suasana suara yang unik diciptakan melalui teknik bowing pada permainan gitar (digesek layaknya instrumen biola), penggunaan synthesizer (alat musik suara elektronik), dan teknik efek suara lainnya.

Tidak seperti band pop (terma untuk musik industri) pada umumnya, yang cenderung menitikberatkan karya musik pada lirik lagu. Sigur Ros menawarkan konsep tersendiri terkait lirik lagunya. Sebagian besar karyanya ditulis dengan format instrumental dan sebagian lainnya ditulis menggunakan bahasa Volenska (hopelandic). Volenska adalah sebuah istilah yang diciptakan Jonsi untuk merujuk bahasa dalam lirik lagu ciptaannya. Istilah ini tidak memiliki arti, tidak ada kosa kata, tata bahasa, dan lainnya. Volenska hanya sebagai suara vokal yang dibunyikan untuk mendampingi musik instrumental dan menjadi ciri khas dari Sigur Ros.

Potensi Tanda Musikal dalam Karya Sigur Ros

Festival merupakan karya pertama Sigur Ros yang saya dengar menjelang tidur. Bagi saya, ini menjadi pengalaman yang sangat kompleks dan emosional. Meskipun saya tidak mengerti arti liriknya, pada awal lagu saya merasakan sensasi kekosongan. Saya seakan tengah berada di padang rumput hijau dengan udara yang sejuk. Pola melodi dan lirik yang dinyanyikan secara repetitif semakin lama semakin mempertajam emosi saya. Pada bagian berikutnya, lagu mulai bergerak dengan iringan bass-drum yang konstan dan iringan paduan suara (choir) yang dramatik. Terkadang juga terdengar isak tangisan di sela-sela melodi paduan suaranya. Tanpa terasa, saya sudah terbawa pada perasaan yang dramatis: detak jantung berdegup semakin kencang dan mencapai klimaks pada akhir lagu. Pengalaman saya mungkin saja sama seperti pengalaman yang dialami teman saya ketika mendengar intro lagu Kangen Band.

Thomas Turino dalam Sign of Imagination, Identity, and Experience: A Piercian Semiotic Theory of Music (1999), membahas perihal musik, identitas, dan emosi berdasarkan teori semiotika Charles Sander Pierce. Baginya musik mengintegrasikan potensial afektif dari ikon maupun indeks dalam cara-cara khusus, dan oleh karenanya ia merupakan sumber pusat dalam kejadian dan propaganda yang ditunjukkan untuk menciptakan persatuan sosial, partisipasi, dan tujuan (Turino, 1999:236).

Ada tiga tipe tanda semiotika berdasarkan teori Pierce: firtsness, secondness, dan thirdness. Tanda firtsness merupakan tanda akan perasaan emosi dan identitas. Tanda secondness merupakan tanda realitas, hubungan sosial, dan pengalaman. Sedangkan thirdness merupakan tanda yang paling termediasai seperti bahasa. Musik merupakan tanda yang berada pada tingkatan firtsness dan secondness.

Tiga tipe tanda tersebut dihubungkan dengan interpretannya (efek). Tanda pada tingkatan yang rendah (firtsness dan secondness) lebih cenderung menciptakan interpretan emosional (efek emosi) dan energetik (respon fisik) karena bersifat langsung dan tidak termediasi. Sedangkan tanda thirdness cenderung menghadirkan respon dan alasan berbasis kebahasaan dan efeknya biasa digambarkan sebagai respon rasional dan respon sadar.

Mengapa saya merasa kosong dan dramatis ketika mendengar musik Sigur Ros? Tanda musikal (melodi, timbre, harmoni, dll) yang terdengar pada saat itu mampu mengindeks pengalaman-pengalaman serta merangsang imajinasi secara simultan. Sebagai contoh, timbre yang dihasilkan dari karakter vokal Jonsi dengan efek reverb (gema) dan delay (suara ulang), memunculkan suasana sabana (padang rumput luas) yang sejuk. Hal ini mungkin saja terjadi karena pengalaman masa lalu saya yang pernah berada di sabana (Kawah Wurung/Ijen) yang sejuk dan ketika berbicara menghasilkan gema atau gaung. Pengalaman atas suara gaung tersebut muncul ketika saya mendengar efek vokal dari Jonsi.

Musik tidak hanya mengindeks pengalaman masa lampau, tapi juga dapat memunculkan imajinasi-imajinasi pada masa sekarang. Tanda timbre bisa memunculkan pengalaman dan imajinasi sekaligus saat itu juga. Turino menyebutnya dengan istilah snowball effect (bola salju semantik). Tentu saja efek yang dirasakan oleh setiap orang tidak akan sama, tergantung dari pengalaman secara personal.

Selain timbre, bunyi vokal dari lirik (volenska) yang dinyanyikan juga memperbesar ruang interpretasi serta kemungkinan-kemungkinan imajinasi yang dimunculkan lewat pengalaman musikal seseorang. Tidak adanya makna yang pasti dari lirik, membuat setiap orang memaknainya secara bebas. Makna hadir melalui pengalaman-pengalaman dan imajinasi personal yang beragam. Bisa dikatakan bahwa Sigur Ros ingin menciptakan musik yang bebas dan setiap orang berhak memaknainya tergantung pengalaman dan imajinasi masing-masing.

Kebanyakan orang ketika mendengar Sigur Ros yang dirasakan adalah nuansa ketenangan, kesejukan, dan kesunyian. Jika dilihat dari komposisinya secara musikal, mungkin saja efek itu muncul karena terindeks oleh beberapa elemen musikalnya. Contohnya penggunaan efek reverb (indeks gema dan gaung), synthesizer/efek ambient (indeks bunyi-bunyian alam), melodi minimalis, tempo lambat (indeks ketenangan), bunyi glockenspiel (musik instrumental) dan flute/seruling (indeks kesunyian), dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa Sigur Ros telah berhasil melakukan pengindeksan kreatif dalam setiap karyanya dengan mensejajarkan dua atau lebih indeks dalam cara baru yang memerankan makna.

Kembali ke soal respon (emosi dan fisik) kita ketika mendengarkan musik. Musik merupakan kumpulan tanda makrolevel yang terdiri atas tanda-tanda mikrolevel (timbre, melodi, harmoni, ritme, dll). Setiap tanda mikrolevel dapat mengindeks beberapa pengalaman sekaligus (snowball). Jadi, dalam sebuah karya musik (makrolevel) bisa menjadi kelipatan-kelipatan dari bola salju semantik (tiap mikrolevel) dalam kaitannya terhadap interpretannya. Ambiguitas dan kekentalan tandanya memperkecil sebuah respon thirdness dan memperbesar perasaan yang tidak teranalisa. Karena potensi inilah mengapa kita sering merasakan respon emosi dan fisik (energetik) ketika mendengarkan musik. Dan karena alasan ini pula mengapa kita membutuhkan musik dalam kehidupan.