Puisi Maulidan Rahman Siregar

Hunting

bu, aku ke laut sebentar
menangguk duyung
menobatkannya sebagai isteri
dalam 5 hari

Pariaman, 31 Januari 2014

Sejak Alif Tak Lagi Berdiri

: Zelfeni Wimra

garin mungkin ingin diwisuda
ia tidur di kamar kost 75 ribu sebulan
bersama puluhan buku, laptop acer dan pangkuan teman
surau harus dikunci, kata pengurus
mesin DAP itu 450 ribu
kalau hilang harus tanggung jawab
garin pergi sejak pagi

spongebob memanggil anak-anak TPA
ibu guru menonton sinetron di rumah sembari memotong cabai buat masak
jamaah yang datang pulang lagi ke rumah
burung gereja menyumbat toa pengeras suara
sebab gotong royong tiap minggu telah tinggal kenangan

remaja mesjid telah dewasa
tak ada lagi perayaan hari besar
surau lengang sepi
pengurus bertindak
harus ada garin baru mulai hari ini

Pariaman, 31 Maret 2014

Doa Masuk Masjid

raqib, apa kabar?
maaf baru datang

Pariaman, 8 Maret 2014

Mengulang Maaf

Tuhan Oh
“wahai kau yang merajai langit”
perihal debu, kepulan asap, dan butiran air berlumpur busuk
yang menghinggapi ruang tamu saudara kami
kami hanya mendapati lukanya di teve pagi, dan
basi ketika mulai sibuk siang hari

Tuhan Oh
“wahai kau yang menguasai bumi”
kami memang benar-benar lupa bagaimana mengkaji hari
lupa bagaimana menyembah
lupa bagaimana mengabdi
hingga resah bila kedatangan musibah
kalut, guncang, takut, kalau-kalau musibah benar-benar datang ke rumah

Tuhan, Oh
“masih bolehkah kami mengulang maaf atas dosa yang kami perbuat hari ini, esok, dan nanti?”

Pariaman, 5 Maret 2014

Ampuni Kami

bagaimanakah cara kami berdoa, menangisi luka, mengeram pilu, bla-bla-bla, agar musibah negeri tak terjadi lagi, Tuhan?

Tuhan, ampuni kami, sebagiannya saja
beritahu kami bila raka’at dan kiblat kami salah

amin

Pariaman, 5 Maret 2014

Bicara Sendiri

bolehkah aku bertanya padamu Tuhan?
di manakah Kau sembunyikan tanda seru atas segala perintah yang masih belum juga ikhlas kutunaikan?
hati ini entah kenapa selalu saja berharap kau turunkan surga secepat-cepatnya untuk mengganti pagiku yang murung dan malam begadang yang selalu sunyi

bolehkah aku sedikit menyeru Tuhan?
memanggilmu atas doa-doa yang pura-pura Kau diamkan
ijabahlah wahai Kau yang Maha Tidak Tuli
jawablah wahai Kau yang Maha Tidak Bisu
sampai kapankah aku harus menjawab doa yang kuucapkan sendiri?

aku tidak menyalahkanmu, Tuhan
mengapa kau pergi
aku tidak menyalahkanmu, Tuhan
mohon kembali

Pariaman, 12 Maret 2014

Musibah

kemarau yang tak sudah-sudah menimpa negeri kami
air begitu mahal, dahaga-dahaga kering telah tertumpuk rapi pada dedaunan kuning membusuk bersama harapan-harapan layu, kami sempat berdoa,
“hujan lebatlah Tuhan, hujanlah”

lalu hujan tetiba datang, derasnya
kami belum sempat bangun dan berterima kasih pada Tuhan yang Maha Baik
air sampai ke kamar mandi kami, menggenangi ruang tamu,
memaksa anak-anak kami untuk pandai berenang
kami menyebutnya dengan sebutan banjir
dari negeri lain kami mendengar kabar yang terjadi di negeri kami adalah musibah
musibah besar
kami bilang padanya, pada penduduk negeri lain itu
“ini negeri kami, kau tak usah ikut. urus masalahmu!”

ini negeri kami
kemarau-hujan kami
tempat di mana kami harus benar-benar siap
memelihara jutaan harap

Pariaman, 18 Maret 2014

Musibah (2)

di negeriku
capung, kodok, bingkaruang, burung, cencorang, dan belalang telah hampir punah
yang ada hanya kupu-kupu penuh warna cantik
kau harus hati-hati, kawan
mulut dan liurnya beracun
sayap indahnya bisa buat kau luka

kau bisa dapati kupu-kupu negeriku malam hari
kupu-kupu itu bisa kau dapati dengan mudah di perempatan jalan
asal kau memang benar-benar mau menangkapnya
kau bisa dapati hari ini atau esok, terserah
sebagai teman buatmu bila malam yang kau dapati terlalu kelam
kau harus hati-hati, kawan
ia tengah dekat dengan seekor badak bertanduk besi
bisa mati kau dibuatnya bila salah-salah bicara

kupu-kupu itu selalu saja menjaga anak dalam kandungannya dengan baik
bahkan ia akan marah kalau badak bertanduk besi itu mengganggu anaknya
anaknya yang sering ia belai-belai perutnya itu
ia beri nama “harapan”

Pariaman, 19 Maret 2014

catatan:

bingkaruang, kadal dalam bahasa Minang