The Insider: Mengupayakan Kebenaran di Tengah Jurnalisme Pasar

Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
Bill Kovach & Tom Rosenstiel

Sebagai film yang diadaptasi dari sebuah kisah nyata, The Insider banyak memberi dampak bukan hanya kepada rakyat Amerika, namun juga wacana keberpihakan media terhadap kepentingan publik di satu sisi dan perdebatan antara rokok versus kesehatan di sisi lain. Roger Ebert, seorang kritikus film, bahkan membandingkan The Insider dengan film bergenre serupa, All The President’s Men, dengan menulis:

Saya menyadari bahwa ada kontradiksi dalam film tentang Jurnalisme yang memanipulasi fakta itu sendiri. Saya berpendapat bahwa film bukanlah ruang pertama untuk mencari fakta. Anda menonton film demi kebenaran psikologis, emosi atau empati dari narasi yang disajikan, bukan catatan faktualnya. Dalam poin yang lebih luas, (film) The Insider sangat akurat: perusahaan besar rokok berbohong, seseorang membocorkan informasi, kepiawaian jurnalisme mengembangkan cerita, strategi intrik membongkar semuanya. The Insider punya efek yang lebih besar, bagi saya, daripada (film) All The President’s Men. Anda tahu kenapa? Karena (skandal) Watergate tidak membunuh orang tua saya, rokokklah yang membunuh mereka.

Film The Insider, mungkin merupakan bukti nyata akan kuatnya pertarungan antara kebenaran dan kebohongan. Bahkan bisa dikatakan jika konflik yang terekam dalam film tersebut merepresentasikan pertarungan antara kepentingan publik dan privat (kelompok). Persisnya, pergulatan yang membenturkan dua kutub: idealisme dan profit. Yang jadi persoalan, jika pertarungan kedua kutub tersebut berlangsung dalam sebuah pakem jurnalisme yang “wajib” mengedepankan kebenaran dan kepentingan publik di atas segalanya.

Pertanyaan yang mengemuka kemudian: benarkah demikian? Apakah praktek jurnalisme yang dilakoni media massa (televisi, koran, radio) selama ini, telah sejalan dengan prinsip-prinsip jurnalisme sebagaimana yang dicita-citakan oleh para praktisinya? Dalam kaitan itu, film ini seolah hendak mengantarkan sebuah pemahaman betapa faktor ekonomi-politik (media) telah menjadi dimensi yang tidak terpisahkan, terutama dalam menganalisis konten sebuah media.

Tanpa “sense of political economy”, film yang mempertemukan dua aktor kelas peraih Oscar (Al Pacino dan Russell Crowe) ini, sekilas hanya akan bercerita tentang perjuangan seorang whistle blower bernama Jeffrey Wigand (Russel Crowe) yang berniat membongkar kebohongan perusahaan rokok tempat ia pernah bekerja, Brown & Williamson Tobacco Company (termasuk beberapa perusahaan rokok lain), ikhwal zat adiktif nikotin yang ada pada rokok. Kendati demkian, rencana Wigand untuk mengungkap borok perusahaan rokok tersebut, terkendala oleh perjanjian rahasia dengan perusahaan. Dalam perjanjian itu, Wigand diminta untuk tidak mengungkap kebohongan perusahaan ikhwal kandungan nikotin yang ada pada rokok. Dan sebagai ganjarannya, Wigand dan keluarga tetap mendapatkan tunjangan kesehatan dan fasilitas lain dari perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan Wigand sanksi untuk membongkar ‘aib’ perusahaan tersebut.

Di saat yang sama, Lowell Bregman (Al Pacino) menerima paket tanpa nama pengirim, berisi dokumen rahasia beberapa perusahaan rokok di Amerika Serikat. Sebagaimana dikisahkan dalam film ini, Bregman adalah seorang jurnalis sekaligus produser acara talk show kondang, 6O minutes, di stasiun TV CBS News. Sebagai jurnalis dengan reputasi internasional, adalah wajar jika Bregman menganggap manipulasi yang dilakukan oleh perusahaan rokok tersebut sebagai perbuatan yang mengancam kepentingan publik. Karenanya, media wajib menyampaikan perihal skandal tersebut ke publik, tanpa tendensi apapun. Apa yang dikatakan oleh para CEO dari tujuh perusahaan rokok di Amerika (The Seven Dwarfs) di hadapan kongres, merupakan skandal terbesar dalam sejarah Amerika modern. Dan dari sinilah ‘pertarungan’ antara idealisme seorang jurnalis dengan kepentingan ekonomi politik media bermula.

Niat Bregman untuk menayangkan testimoni Wigand perihal kebohongan B&W Tobacco Company semula bisa diterima oleh jajaran Direksi CBS News. Namun setelah mendapat masukan dari penasehat hukum perusahaan, Presiden CBS News, Erick Kluster, memutuskan untuk tidak menayangkan secara utuh (mengedit) pengakuan Jeffry Wigand mengenai kebohongan perusahaan rokok B&W Tobacco Company, terkait zat adiktif yang dapat menyebabkan kecanduan pada konsumen.

Jajaran eksekutif CBS News berdalih, keputusan untuk mengedit pengakuan Jeffry Wigand tersebut, semata-mata untuk menghindari tuntutan hukum B&W Tobacco Company, sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian rahasia (confidential agreement), antara B&W Tobacco Company dan Jeffry Wigand. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa jika salah satu pihak membocorkan perihal apa yang menjadi rahasia perusahaan akibat pengaruh pihak ketiga (media), maka pihak ketiga dapat dituntut di depan hukum.

Sekilas, alasan mengedit penayangan testimoni Jeffry Wigand oleh jajaran eksekutif CBS News, memang masuk akal. Namun data yang ditemukan oleh Bergman menunjukkan betapa kuatnya pengaruh ekonomi politik di balik keputusan tersebut. Dalam kesepakatannya disebutkan bahwa baik pihak pertama (B&W Tobacco Company) dan pihak kedua (Jeffry Wigand) dilarang menyampaikan informasi dalam bentuk apapun yang terkait dengan rahasia perusahaan. Jika salah satu pihak melanggar perjanjian tersebut, maka pihak bersangkutan dapat dituntut. Tuntutan serupa juga berlaku terhadap pihak ketiga (media).

Di sini tampak jelas bahwa akibat kepentingan ekonomi politik pemilik media (jajaran eksekutif), kebebasan pers yang seharusnya dimiliki media dalam menjalankan tugas jurnalistiknya harus dikorbankan. Selain itu, tugas untuk menyampaikan kebenaran tersebut, terbentur oleh adanya undang undang yang melarang pihak ketiga (media) untuk mengungkap hal yang telah menjadi kesepakatan rahasia antara pihak pertama dan pihak kedua.

Dengan mengikuti alur logika tersebut, maka keputusan stasiun televisi CBS News untuk membatalkan penayangan hasil wawancara yang sebenarnya (tanpa proses editing) dengan Jeffry Wigand dapat dipahami secara hukum. Namun, di sinilah aspek ekonomi politik sebenarnya ikut bermain. CBS News sendiri merupakan bagian dari CBS Corporate yang memiliki beberapa unit usaha selain media.

Aroma ekonomi politik semakin terkuak saat Bergman menemukan berkas data rencana penjualan saham CBS News ke Westinghouse. Dan inilah sebenarnya yang menjadi alasan jajaran eksekutif CBS News untuk mengedit pengakuan Jeffry Wigand, menyangkut kebohongan pihak B&W Tobacco Company, efek zat adiktif dalam rokok yang mereka produksi, sebelum ditayangkan.

Secara kasat mata, proses editing terhadap testimoni Wigand semakin menguat setelah penasihat hukum CBS News, Helen Caperelli (Gina Gershon), juga memanggil seluruh awak dan produser eksekutif 60 Minutes dan menjelaskan teori hukum yang disebut akan mengganggu hubungan kontrak CBS News dengan perusahaan lain, jika CBS News tetap menayangkan versi asli pengakuan Jeffry Wigand.

Dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa jika dua pihak memiliki perjanjian, seperti perjanjian kerahasiaan, dan jika pihak ketiga menginduksi salah satu dari kedua pihak untuk melanggar kesepakatan, maka pihak yang dirugikan berhak untuk menuntut masing-masing dua pihak lainnya untuk kerusakan atas kerugian yang timbul karena pelanggaran tersebut.

Karena itu menurut Helen, proses editing tersebut adalah untuk menyelamatkan perusahaan dari tuntutan hukum. Semakin banyak kebenaran yang diungkap Wigand dalam pengakuannya, semakin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan. Bersamaan dengan itu kemungkinan yang lebih besar bahwa CBS News mungkin akan menghadapi gugatan jutaan dolar oleh B&W Tobacco Company.

Ketika proses ‘negosiasi’ antara redaksi dan jajaran eksekutif CBS News berlangsung, Bergman juga menyelidiki keberadaan beberapa eksekutif CBS News yang sangat berkepentingan untuk melakukan editing terhadap terstimoni Wigand. Dari keterangan yang diperoleh, Bergman menemukan bahwa ketakutan terhadap kemungkinan gugatan oleh B&W Tobacco Company bukan hanya disebabkan karena adanya ancaman gugatan hukum. Namun secara personal, penayangan testimoni tersebut dianggap membahayakan karena dapat menyebabkan tertundanya penjualan saham CBS News ke Westinghouse Company. Bersamaan dengan itu, ketakutan beberapa petinggi CBS News akan kemungkinan hilangnya keuntungan para eksekutif CBS News.

Dalam berkas yang diungkap Bergman, diketahui bahwa jika CBS News tetap menanyangkan testimoni Wigand yang membeberkan kecurangan B&W Tobacco Company, maka CBS News bukan hanya menghadapi tuntutan hukum saja. Lebih dari itu, beberapa orang dalam jajaran eksekutif CBS News, seperti Hellen Caperelli (pengacara CBS News), Erick Kluster (Presiden CBS News) serta Laurence Tisch (CEO CBS News), akan kehilangan jutaan dolar dari rencana pelepasan saham CBS Corporate ke Westinghouse Company.

Bergman mengutip dari dokumen perusahaan bahwa ada beberapa nama tertentu yang akan mendapat manfaat dari penjualan saham tersebut, termasuk Helen Caperelli sendiri, yang akan menerima keuntungan sebesar 3,9 juta dolar. Adapun Eric Kluster akan mendapatkan sebanyak 1,4 juta dolar. Sedangkan Laurence Tisch akan memiliki hampir 25 persen dari saham yang beredar di CBS. Dokumen yang ditemukan Bergman juga mengungkap bahwa Laurence ternyata adalah pemilik Lorillard Tobacco Company, yang merupakan perusahaan rokok terbesar kelima di Amerika Serikat.

Sejatinya, pengakuan Wigand perihal kecurangan yang dilakukan pihak B&W Tobacco Company sangat bermanfaat untuk diketahui publik. Apa yang diperjuangkan oleh jurnalis seperti Bergman, merupakan tugas yang sudah seharusnya dilakukan oleh media dalam mengungkapkan kebenaran. Persoalannya, logika media (jurnalisme) tidak selamanya selaras dengan logika pemilik modal. Dalam konteks ini, kepentingan publik yang diperjuangkan oleh Bergmen harus takluk di bawah kuasa modal. Dan pada titik inilah, ekonomi politik media menjadi penting untuk diperhatikan. Siapa aktor yang bermain di balik sebuah media? Dan untuk kepentingan apa media menjalankan perannya?

Ada satu adegan dalam film ini yang menggambarkan betapa idealisme seorang Lowell Bergman sebagai jurnalis yang tetap berkukuh untuk menayangkan testimoni Jeffery Wigand meskipun menghadapi risiko pemecatan. Dalam satu kesempatan saat berbicara dengn Eric Kluster, Bergman mengajukan pertanyaan yang tidak kuasa dijawab oleh sang majikan,

Anda seorang jurnalis atau bisnis?

Secara tersirat, pertanyaan Bergman tersebut sebenarnya ingin menegaskan garis demarkasi yang jelas antara ranah jurnalisme dan dimensi lain di luar ranah tersebut. Apa yang ingin digugat oleh Bergman, sejatinya merupakan persoalan klasik yang selama ini telah banyak menyandera obyektifitas dan independensi media massa di belahan dunia manapun. Melalui pertanyaan kritisnya, Bergman seperti hendak berkata: bussines is bussines, journalism is journalism.

Sebagaimana dikatakan pada bagian awal tulisan ini bahwa begitu kuatnya pertarungan antara kepentingan bisnis di satu sisi dengan pakem jurnalistik di sisi lain, memaksa para praktisi media, terutama jurnalis, untuk tidak sekadar teguh memegang idealisme. Mereka pun hendaknya memiliki pemahaman yang memadai perihal ekonomi politik media. Jika tidak, kewajiban media untuk selalu berpihak kepada kepentingan publik, hanya akan jadi pepesan kosong belaka.

Semoga tidak!